Timelapse Sketch — Nyai Dasima (Inktober Day 28)

Untuk #inktober hari ini, saya ngegambar Nyai Dasima — yang juga dipesen sama temen saya, Billy.

Sebenernya ngegambar Nyai Dasima ini saya sempet ragu-ragu. Pertama, saya baru tau nama Nyai Dasima dari buku karangan Susan Blackburn “Jakarta: Sejarah 400 Tahun”; dan kedua, saya belum pernah membaca novelnya ataupun menonton filmnya.

Hal itu penting buat saya karena kalo saya ga kenal karakternya, saya susah ngegambarnya. Iya, beberapa tukang gambar (termasuk saya) itu kadang (“KADANG”?) riwil. Kalo ga kenal, ga bisa gambar. Takut salah gambar. Takut salah gambar letak tangan, takut salah gambar tarikan muka. Mau gambar satu orang aja riweuhnya setengah mati sampe nyari-nyari di Google.

Jadi lewat Google juga saya cari tau soal Nyai Dasima. Dan dari tulisan Susan di bukunya mengenai kehidupan para nyai, saya jadi tertarik dengan kehidupan para nyai secara keseluruhan.

Pada jaman penjajahan Belanda, banyak orang Belanda (VOC) yang ditempatkan di Indonesia mengambil wanita setempat sebagai istri simpanan (mistress) karena biaya untuk membawa keluarga dari Belanda ke Indonesia jaman itu luar biasa mahal dan repot. Belum lagi mungkin ada peraturan untuk tidak boleh membawa keluarga dari negara asal.

Maka muncullah satu bagian dalam masyarakat yang bergelar “nyai”. Nyonya. Istri Belanda, tapi pribumi.

Dan jaman itu juga, posisi sebagai istri orang Eropa dipandang rendah. Dianggap “pengkhianat”. Bahkan anak-anaknya pun — yang secara alamiah adalah orang Indo (keturunan campuran Eropa – Indonesia) — juga dianggap rendah. Indonesia bukan, Eropa juga bukan.

Dan hal itu yang saya ingin tahu. Bagaimana perasaan para nyai saat itu? Tidak peduli dengan cibiran orang? Apakah cibiran orang sekitar justru sebenarnya adalah perwujudan rasa iri mereka yang tidak bisa mendapatkan suami Belanda kaya dengan banyak pelayan? Apakah para nyai itu sedih karena dicibir? Atau malah bangga karena merasa orang lain iri terhadap mereka?

Apapun perasaannya, mungkin yang hanya bisa kita lihat sekarang, di tahun 2014, adalah foto-foto para nyai itu dengan tatapan tajam ke kamera dengan sedikit senyum tipis. Khas orang kaya.

Khas orang-orang yang mengetahui posisinya yang sedikit lebih tinggi dari orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: