• Wira dan Puasa Ramadhan

    Kemarin abis dari Ampang Park, Ari ketemu temen kantornya (yang juga tetangga kami di apartemen — beda lantai) di minimarket. Si bapak itu bawa anak laki-lakinya, kisaran usia SD lah ya.

    Nah, Wira ini kucluk-kucluk jalan sambil minum susu coklat dingin.

    Si anak SD ini langsung jalan menjauh dong, sambil memalingkan muka dari Wira (?) Gw langsung ngeh kalo anak ini puasa Ramadhan, dan pasti dia haus banget. Sedangkan anak gw unyil tengil banget keliaran sambil minum air dingin (?)

    Gw bilang ke Wira, “Wira, stop dulu minumnya, nak. Abang sedang puasa. Atau Wira berdiri di samping ibu supaya nggak minum di depan abang.” Ayah si anak itu ketawa sambil bilang, “takpe (arti: Tidak apa/tidak apa-apa) la. Budak kecil pon, belum faham. Takpe. Tu pun jadi pelajaran buat abang untuk sabar puasa.”

    Si anak itu juga senyum-senyum aja.

    Nah, Wira ini… Gimana ya, dia sebenernya mau ajak main si anak SD ini. Jadi lah Wira jalan deketin dia… DENGAN MULUT MASIH MINUM ES COKLAT. Kesel banget ga tuh? Si abang ini ya lari-lari kabur dari Wira lah ya. Lha wong godaan. Wira yang masih belum ngeh juga (ampun dah anak siapa sih ini ucrit satu…) malah ngejar si abang. Absurd banget liat dua anak kejar-kejaran ga puguh kaya gitu.

    Di lift, Ari bilang ke Wira kalo Insya Allah tahun depan Wira mulai belajar puasa Ramadhan — dan biar paham rasanya puasa. Pas dibilang, “nggak makan dan minum,” anaknya melotot sambil teriak, “NANTI WIRA LAPEEER!”

    YA ITU TUJUANNYA, NAK *gemes*

  • (Kelewat) Mandiri

    Ini kejadian kemarin.

    Sebenernya udah bermula dari hari Rabu.

    Jadi hari Rabu lalu, teman Ari dan saya — Alderina (a.k.a. Popon) — mampir ke Kuala Lumpur dalam rangka transit perjalanan dia menuju Amerika Serikat (le Poponita memang heits™?) Karena Ari sedang di kantor dan saya nggak bisa nyetir mobil (ihik…) jadi saya berencana menjemput Popon di stasiun LRT Ampang Park sambil berjalan kaki; toh stasiunnya juga nggak begitu jauh (hanya sekilo dari rumah) dan Popon juga bisa melihat-lihat bazaar Ramadhan (semacam pasar jualan makanan berbuka puasa yang biasanya ada saat bulan Ramadhan) yang rutin diadakan di mall Ampang Park.

    Sore, saya bersiap menjemput Popon. Wira sedang terkantuk-kantuk baru bangun tidur.

    Saya: “Wira, jemput tante Popon yok!”

    Wira: “Hah?” *masih ngantuk*

    Saya: “Jemput tante Popon di Ampang Park. Sama ibu. Yuk!”

    Wira: “Nggak mau

    Saya: “Hah?”

    Wira: “Wira nggak mau”

    Saya: “Lho tapi ibu harus jemput tante Popon…”

    Wira: “Ya ibu aja yang jemput. Wira di rumah. Nanti Wira bisa main iPad sambil nunggu ibu”

    Saya: “AMPANG PARK, Wira. AMPANG. PARK. Ibu ke AMPANG PARK” *gemes*

    Wira: “Iya Wira tauuuuu. Wira nggak mau ikut. Ibu aja.”

    … Dan begitulah. As dangerous as it looks and sounds and feels, I left my 4-year old son alone in our apartment unit while I walked to Ampang Park.

    Sekembalinya di rumah, Wira tampak biasa-biasa aja (dia malah keliatan seneng menyambut saya) dan rumah masih utuh.

    Nah, kejadian serupa terjadi hari Sabtu kemarin.

    Ari dan saya bersiap-siap akan pergi ke bazaar Ramadhan untuk membeli makanan berbuka puasa/ta’jil.

    Dan anaknya, dengan santainya bilang, “Wira nggak mau ikut.”

    “Ayah dan ibu mau pergi. Wira ikut”

    “Wira. Nggak. Mau.”

    Saya sering komentar kalau keluarga kami ini Firstborn Club. Ari ya anak sulung di keluarganya, saya ya juga anak sulung di keluarga saya, Wira juga ya Insya Allah anak sulung di keluarga (?)

    Ciri-ciri utama anak sulung? Keras kepala.

    Jadi ketebak dong gimana kesetrumnya kami bertiga.

    Yang berujung Wira dorong-dorong saya dan Ari sambil mengoceh, “ayah dan ibu aja sana yang pergi. Go, go, go.

    Kami didorong sampe ke luar unit apartemen, lalu nutup pintu DAN MENGUNCI PINTU APARTEMEN tepat di muka kami (iya. Anaknya sudah bisa mengoperasikan kunci pintu rumah…)

    Dan hari itu adalah hari beli ta’jil paling ga sante buat kami berdua.

    Biasanya: “liat-liat dulu yoook, ih itu kayanya enak deeeh… Mikir dulu deh mau beli apa…”

    Saat itu: “Kamu mau apa? Kwetiaw? Oke. Aku nasi kukus dan ayam. Beli. Pulang. Buruan.”

    Saya sempet bercerita soal kejadian ini ke teman-teman saya di Path; dan teman-teman saya banyak memberikan masukan yang berguna untuk saya. Mbak Nuke dan Ismet menyarankan untuk kami menjelaskan mengenai health and safety issue ke Wira. Apapun yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan itu nggak bisa diganggu gugat; termasuk Wira HARUS ikut orang tuanya ke manapun mengingat umur dia masih terlalu muda untuk ditinggal sendiri.

    Mamin Dita ikut memberikan informasi kalau pemerintah Amerika Serikat (dia berdomisili di NYC) memberikan himbauan ke para orang tua mengenai batasan umur minimum anak bisa ditinggal sendiri di rumah (usia 7-8 tahun) dan itu pun tetap ada batasan-batasannya (tidak ditinggal lebih dari 2-3 jam, misalnya.)

    Nah, kemarin juga saya ajak Wira mengobrol. Saya bilang ke dia, bahwa apa yang ayahnya dan ibunya lakukan itu salah: meninggalkan dia sendirian di apartemen. Padahal resiko dan bahaya juga ada (kepleset, terluka, gas, listrik, orang asing mengetuk pintu.)

    Anaknya menjawab, “… Tapi Wira mau tutup pintu terus ayah ibu pulaaaang…”

    Ah.

    Jadi itu rupanya.

    Sebenernya yang dicari itu sensasi dia menyambut orang tuanya pulang ke rumah.

    Ari akhirnya menyarankan untuk mengambil jalan tengah. “Kalo kita pulang jalan-jalan, Wira bisa masuk duluan lalu bukain pintu untuk ayah ibu deh…”

    Selanjutnya saya jelaskan mengenai health and safety issue dan dijawab oleh anaknya dengan “iyaaaaaaaa…” panjang sambil ngeloyor ke luar kamar (Ismet berkomentar, “itu bagornya anak Betawi banget. Salahin si Ari aja, itu kelakuan anak Betawi banget, hahahaha” ?)

    Kadang saya suka bingung anak ini umur 4 tahun atau 14 tahun… *heuh*

  • #catatanemak. 06:59 PM. Proses Mengandung.

    Saya kepikiran ya… Baby blues/post-partum depression itu mudah nempel ke ibu karena memang dasarnya kehamilan itu ga enak.

    Paling tidak 70-80% deh dari seluruh proses kehamilan itu nggak bisa dibilang menyenangkan. Muntah mual ga karuan di trimester pertama, badan membengkak di trimester kedua dan ketiga, belum lagi dengan kaki bengkak, varises, heartburn, paranoid setiap saat, pantangan makan, dan segala macem.

    Si ibu selalu selalu selalu diingatkan supaya selalu sabar, selalu senang, dan yang saya sangat salut akhir-akhir ini, ajakan dan nasihat dari ibu-ibu lain bahwa NGGAK DOSA buat si ibu untuk membahagiakan diri dia sendiri terlebih dahulu sebelum membahagiakan suami dan anaknya. Malah sangat dianjurkan.

    Nah, tapi apakah kehamilan itu menyenangkan? Ya memang sisa 20-30% itu ketika si bayi bergerak-gerak dalam perut yang membuat si ibu berpikir, “ada manusia di dalam badanku.”

    Apabila dijalankan dengan benar dan baik, stresnya kehamilan bisa dilalui.

    Kalau tidak (si ibu usianya masih terlalu dini dan belum siap mempunyai anak, kehamilan yang dipaksakan, dll), stresnya itu nempel terus bahkan sampe anak gede.

    Jadi ga usah heran dengan berita ibu membuang anak.

    Saya… Saya berusaha nggak kebawa perasaan, hahaha. Karena masih trimester pertama, memang masih mual begah ga karuan. Gampang banget untuk berpikir, “and why did I want this on the first place?” lalu jadi menyalahkan si janin.

    Yang saya syukuri adalah saya dikelilingi teman-teman dan keluarga yang hebat dan mendukung sekali. Yang udah melek baby blues dan post-partum depression. Bikin saya sadar bahwa ini “hanya” salah satu proses dari sekian banyak proses di dunia dan hidup.

    Terima kasih.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap