• Mood: ‘Set Adrift on Memory Bliss’ – P.M. Dawn

    Hore ngeblog lagi, hahaha.

    Dua minggu ini adek gw mampir ke KL dan nginep di rumah. Jadi ya jalan-jalan, makan-makan, ghibah-ghibah //eh

    Adek gw ini dari kecil kan suka beres-beres ya; jadi selama dia nginep di rumah gw ya sering mendadak dia nanya, “eh itu lemari baju di kamar tamu gw beresin ya?” Gw ya seneng ada tambahan bantuan untuk beberes, jadi ya hayo aja, hahaha.

    Adek gw juga baru-baru aja ini tau soal Konmari. Sebelumnya gw udah kasih dia buku Monk’s Guide. Sambil beberes, sambil ngobrol soal Konmari, dan dia sempet baca bukunya juga di sini.

    Dari beberes, keliatan dong barang-barang yang udah ga kami pake lagi; terutamanya itu barang-barang bayi. Baju bayi, mainan, sama beberapa kursi macem booster seat dan car seat.

    Nah, di apartemen yang dulu, di area parkir mobilnya itu disediain semacem… Donation box. Bukan kotak kecil gitu sih; tapi semacem kotak gedeeee dari bahan besi (setipe dengan kotak sampah), ada logo daur ulang dan kegiatan/organisasi amal. Nah, di situ kita bisa taro barang-barang yang pengen kita sumbangin atau ingin didaur ulang. Kalo mau Tahun Baru Cina/Imlek tuh, wuidih, langsung penuuuuuh itu kotak. Isinya bisa dari majalah, botol kaca, botol plastik, piring, pakaian, boneka, sampe kasur dan bantal.

    Di apartemen yang baru ini, sayangnya, ga tersedia. Kurang tau kenapa. Gw udah kepikiran sih mau nanya ke pihak manajemen gedung untuk nyediain kotak donasi seperti itu. Tapi ya bisa jadi masalah perawatan juga sih. Kadang ada aja yang naro barang donasinya serampangan; jadinya ya mubazir dan barang-barang yang seharusnya masih layak pakai dan bisa didonasiin ya jadi sampah (istilahnya, “terkontaminasi”/udah ga bisa dibersihin lagi.)

    Omong-omong soal donasi ini; di KL ini lumayan banyak organisasi amal seperti ini. Beberapa juga menerima panggilan ke rumah, kalo mau donasi barang-barang yang gede kaya mebel dan kasur. Tiap-tiap organisasi punya ketentuan dan standar kualitas barang sendiri. Waktu kami pindahan apartemen, ada lemari punya suami sejak dia jaman bujang yang dia pengen donasikan karena ya… Emang udah ga kepake lagi sama kami. Gw sempet ngontak organisasi amal yang waktu itu kebetulan truknya lewat deket rumah; dan dari ngobrol sama CS mereka, ternyata lemari yang rencananya kami mau berikan itu ga memenuhi standar kualitas mereka. “Gagang pintunya sudah kurang baik,” kata mereka. Gw paham banget sih, dan memang seharusnya begitu lah kalo ingin donasi dan membantu orang. Ngasih barang yang masih layak pakai, bukan sampah. Kalo lu dikasih barang ini, lu mau terima ga? Kaya gitu lah kira-kira. Mikirin perasaan orang yang akan menerima. Nguwongke uwong. Memanusiakan manusia.

    Gw sama suami akhirnya setuju kalo sebaiknya lemarinya itu dibuang aja, jadi kami ngontak jasa pembuangan/disposal service.

    Balik ke soal donasi.

    Bulan lalu, gw nerima majalah promo sebuah perusahaan pengembang properti Malaysia di kotak surat.

    DA8C7794-1D56-46DF-9FC2-D272420318EE

    Gw suka lho baca-baca majalah promo gini, atau brosur gitu-gitu, hahaha. Gw suka baca teksnya (copywriting), sekalian belajar bahasa yang menjual gitu. Menarik ngeliat penggunaan kata dan diksi tertentu untuk menjual sebuah barang atau jasa ke konsumen.

    Nah, di majalahnya itu, gw nemu artikel promo/advertorial CRC Box.

    9339B987-3EFA-46A4-A510-2E54E42EBF4D

    Gw cek Instagram mereka, banyak foto kegiatan beserta ajakan untuk 3R (Reduce, Reuse, Recycle,) dan donasi barang. Dari situ, gw kontak CS mereka lewat telepon. Awalnya nanya, mereka melayani pengambilan barang ke area gw ga (tentu saja mereka melayani) dan barang-barang seperti apa yang mereka terima. Mereka ngasih tau supaya ngontak lewat WhatsApp aja beserta alamat gw untuk ngatur jadwal truk pengambilan barang ke rumah.

    Setelah gw ngasih alamat, ga lama mereka ngabarin lagi ke gw jadwal truk pengambilan barang. Di hari pengambilan barang, mereka ngirim SMS ke gw yang isinya nama pengemudi truk, nomor hapenya pakcik pengemudi, beserta plat nomer truk. Gw ngobrol sama pakcik pengemudi dan janjian pengambilan barang pukul 12 siang.

    Pukul 12 siang, pakcik pengemudi dateng dan ambil barang-barang donasi.

    Oh ya, dan semuanya itu gratis tentu saja, hahaha. Biasanya organisasi amal begini ya emang ga memungut biaya sama sekali.

    Lega rasanya bisa ngelepas beberapa barang dan rumah bisa “nafas” sedikit.

    Kesan gw selama pake CRC Box? Seneng, hahaha. Tinggal WhatsApp, ngasih alamat, lalu mereka ngasih jadwal. Cepet pun, nunggu respon ga lama. Bahkan mereka lumayan aktif di Instagram, jadi ga khawatir untuk komunikasi gimana. Kalo-kalo ada barang lain yang perlu didonasikan, gw bakal kontak mereka lagi.

    Terima kasih, tim CRC Box! Terima kasih banyak.

  • Lagi ngecek headphone baru beli di Minigood (tetangganya Miniso?) pake Spotify dan lagu ini keluar.

    Ini lagu sering banget gw dengerin tahun 2007-2008; kok inget, ya karena itu tahun-tahun emo bittersweet gw, hahaha.

    And I’m not sure what this is all about,
    As we watch the waves crashing in and out,
    And only they know what we’ve found
    And it almost feels like day time now

    Pas itu gw lagi di kondisi… Gimana ya, ketika lu dalam hubungan yang udah berakhir sebelum selesai. “It’s already over before it’s even ended,” ceunah.

    Berusaha mempertahankan, tapi kerasa kalo udah ga bisa ke mana-mana lagi.

    Somehow we gonna make it through
    I’ll break every single rule for you
    Well I’ll try to least anyway

    Masih ada bagian optimis. Macem, “bisa kok, bisa,” tapi perasaan, “HADEH” jauh lebih kenceng. Malah jadinya kaya terperangkap. Ketika udah tau mau pisah, malah kaya makin posesif. That, “no! Nononono!”-attempt.

    We decided to turn our world around,
    We can drive away from this loser town
    Have to escape or go insane,
    A thousand miles an hour through the rain

    Bedanya cuma mungkin pas itu usahanya ga sekeras ini ya. Posesif iya, panik iya, tapi ga berusaha untuk keluar juga. Mungkin karena ya udah ngeh itu, kalo udah selesai sebenernya.

    And we’re not sure if we even know
    Just where we are or where we’re gonna go
    But we’re not afraid, not tonight
    Gonna try all we can to get it right

    In the end, it didn’t went as expected. It wasn’t right.

    And it’s okay.

  • ‘Elementary’ dan Netflix

    Mood: ‘SUBSTREAM’ — Kyoto Jazz Massive

    Peringatan: #firstworldproblem topik hari ini.

    Baru-baru ini gw mulai ngerasa beberapa hal “ga enak” muncul di layanan yang sepatutnya memudahkan konsumen. Ya namanya juga bisnis dan kompetisi ya.

    Tau Netflix kan? Layanan streaming untuk serial TV dan film yang namanya beken di kalangan menengah dan menengah atas. Selain memudahkan akses nonton secara legal dan nyaman, Netflix juga punya banyak serial dan film produksi sendiri (in-house production) yang banyak dipuji-puji publik dan kritik.

    app entertainment ipad mockup
    Photo by Pixabay on Pexels.com

    Selain Netflix, muncul juga layanan streaming lainnya seperti Iflix, Hulu, dan lain-lainnya (gw ga apal, hahaha.)

    Banyak yang bilang kalo Netflix ini, bahasa innovation marketing-nya, “mengganggu pasar”. Disruptive. Terutama pasar TV dan TV kabel. Pilihan tontonan di Netflix jauh lebih banyak, minim (bahkan ga ada) iklan, dan lebih lowong dari segi waktu (bisa ditonton kapan aja; mau jarang-jarang/kalo sempet atau kalo mau marathon/binge watching.) Nah, itu bikin perusahaan TV ketar-ketir karena artinya jumlah penonton berkurang yang bikin jumlah perusahaan/sponsor pasang iklan juga berkurang.

    Akhirnya muncul beberapa layanan streaming yang disediakan si TV kabel itu sendiri. CBS Access, contohnya.

    Nah.

    CBS Access.

    Hmm.

    The bane of my existence.

    Oke, ga seekstrim itu; tapi sekarang gw lagi sebel banget.

    Jadi gw kan ngikutin serial TV ‘Elementary’ di Netflix kan. Sampe saat ini, baru ada season 1-5 di Netflix Asia. Season 6 entah lah udah selesai belum di Amerika, tapi berita bahwa ‘Elementary’ season 7 akan mulai produksi sudah santer beredar (dan dikonfirmasikan di Instagram ‘Elementary’, Lucy Liu, dan Jonny Miller.)

    CBS_ELEMENTARY_514_CLEAN_IMAGE_thumb_Master
    Source: CBS

    Pertanyaannya: Kapan season 6 ‘Elementary’ akan tiba di Netflix Asia?

    Gw penasaran, dan nemu beberapa artikel soal serial TV produksi CBS ini dengan Netflix.

    In the United States where the streaming war is well and alive, Netflix only manages to get a handful of CBS shows and sadly, Elementary isn’t one of them.

    The reason for this is because CBS and Hulu have an exclusive arrangement whereby all the new and old episodes stream there exclusively. You can also catch up using CBS All Access and the CBS website but only the previous 5 episodes can be found there.

    Link: Is Seasons 1 to 6 of ‘Elementary’ on Netflix?

    Jadi ada kemungkinan, walopun gw ga tau apakah Netflix Asia terpengaruh atau nggak, kalo ‘Elementary’ ga lanjut di Netflix selepas season 5.

    Iya, masih belum ada kepastian. Tapi ini kejadian juga di ‘How To Get Away With Murder’. Bahkan setelah HTGAWM udah selesai tayang season 4 di TV, sampe sekarang masih suara jangkrik di Netflix Asia. Gw makin ngeri kalo HTGAWM bakal ditarik dari Netflix karena afiliasi ABC, Disney, dan Hulu.

    It’s important to point out that not all ABC shows are currently on Netflix. Despite the deal between Netflix and ABC, some shows, like Designated Survivor, are only available to stream on Hulu. This could be the way other ABC shows go in the future, especially in the U.S. Since Disney has a stake in Hulu, it’s possible that it will pull all its content from other streaming services onto its own place. That’s especially the case now that Disney is taking over FOX, which also has a stake in Hulu.

    Link: Is How to Get Away with Murder Season 4 on Netflix?

    Sejauh ini berita yang ada baru seputar Netflix US (ah, orang Amerika dan tendensi mereka untuk menganggap Amerika adalah pusat alam semesta~) dan belum ada banyak kabar soal Netflix luar US.

    Gw bener-bener berharap kalo Netflix non-US bakal terus dapet update karena itu salah satu cara untuk sebuah serial TV mendapatkan fanbase. Ga tau sih kalo soal rating ya; karena buat gw rada konyol. Kejadian di serial TV ‘Timeless’. Serial TV ‘Timeless’ akhirnya ga lanjut karena alasan “rating rendah”; yang pertanyaannya: Ngitung dari mana? Karena kalo soal jumlah penonton, yang menonton dari layanan streaming seperti Netflix itu keitung ga? Yang jelas fans luar Amerika nonton ‘Timeless’ banyakan dari Netflix.

    Hidup jauh lebih mudah dan simpel ga sih, ketika informasi ga seluas ini dan ga semasif ini, sehingga kita ga perlu tau serial TV bagus dari luar negeri dan tetep nonton sinetron ga jelas; jadi kalo ada kabar bakal lanjut atau ga ini ga bikin hati ketar-ketir? //sarkas

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

  • Urban rainbow