• Merasa Lebih Baik

    Tahun 2016 ini agak ‘mengejutkan’ buat saya. Bukan yang “dor! Kaget!”, tapi ada hal-hal yang saya lakukan dan membuat saya kaget karena eh ternyata kok menyenangkan, eh ternyata kok bisa dijalankan.

    Pertama, menulis jurnal. Saya selalu mengira saya bukan orang yang rajin menulis. Ya, saya suka membaca, tapi itu pun mulai menurun karena saya lebih memilih berkeliaran di media sosial. Saya lupa kapan tepatnya saya mulai berminat menulis jurnal; kalo ga salah awalnya saya ngobrol sama Dian lewat WhatsApp skala prioritas dan dia beberapa kali nyeletuk soal kebiasaannya nulis jurnal. Saya mulai coba-coba menulis jurnal, dan dia memberikan informasi mengenai bullet journal. Setelah dicoba, eh kok ya bisa dijalani ya buat orang pemalas dan kacau balau seperti saya, hahaha. Sejak itu, mulai membiasakan menulis jurnal — dan nggak hanya hal-hal rutinitas seperti to-do list; tapi juga catatan-catatan “kurang penting” (Miss Colombia nggak jadi dapet mahkota karena MC Miss Universe 2015 salah sebut negara pemenang oh-em-geeeeeee) atau “rangkuman” hari saya, terutama keadaan emosi. Lumayan lah, jadi nggak berantakan lagi kegiatan sehari-hari, hahaha.

    Kedua, aktifitas yang berhubungan dengan kesehatan alias olahraga. Saya dulu aktif berolahraga — saat sekolah dan kuliah. Sekarang? Errrrr.

    Oke. Setelah sakit punggung setiap rebahan di tempat tidur, kaki pegal-pegal setiap pagi, perasaan mau mati dengan masa kecil saya terpampang jelas di depan mata setiap saya berjalan kaki tiap 100 meter, dan merasa seperti gumpalan lemak yang hanya bisa bersendawa dan menghabiskan oksigen terlalu banyak dan menghasilkan karbondioksida lebih banyak lagi lalu merasa tidak bahagia, tertekan, dan bosan, saya memutuskan untuk bergerak.

    Saat itu pun jiwa pemalas saya masih lebih kuat. Saya memilih yoga.

    Dan bukan yoga yang dilakukan di gym ataupun di studio yoga. Yoga untuk pemula, di Youtube. Paling tidak, saat itu saya bilang ke diri saya sendiri: “Ini supaya nggak sakit punggung lagi.”

    Setiap hari, Insya Allah, saya melakukan rutin yoga ini selama 15 menit. Baru beberapa hari ini saya menambahkan gerakan-gerakan yang pernah saya pelajari saat saya masih di klub beladiri saat sekolah dan kuliah dulu. Saya agak kaget karena gerakan senam pemanasan di klub yang saya ikuti itu ya dasarnya adalah gerakan yoga, hahaha. Menyenangkan juga melihat bahwa yoga ini juga banyak ada di sehari-hari kita dan sebenernya cukup mudah dilakukan, sadar ataupun nggak.

    Setelah yoga, saya melakukan satu hal yang baru saya lakukan 3 hari lalu.

    Ke gym, menggunakan treadmill.

    Iya. 31 tahun hidup di muka Bumi ini, belum pernah sekalipun saya ke gym; sampai 3 hari lalu. Saya tulis di jurnal saya saat itu: Hari ini, coba pergi ke gym. Karena plis deh, gym tersedia GRATIS di apartemen. Terbuka setiap saat. Lokasi di lantai bawah. Sudah begitu masih malas? Ya ampun.

    Sama seperti saya pertama kali menggunakan mesin dryer saat baru pindah ke Kuala Lumpur (karena satu-satunya metode mengeringkan baju yang saya tahu saat itu adalah menjemurnya di bawah sinar matahari), hal pertama saat saya melihat mesin treadmill adalah: “Ini gw mencet yang mana?”

    Saya keinget satu dialog di seri TV The Big Bang Theory saat Leonard mencoba menyalakan mesin fitness, dan salah satu orang berkata, “press Start…

    Ya memang tinggal pencet tombol Start sih, hahahaha.

    Lima menit pertama, saya sibuk adaptasi dengan kecepatan dan belajar satu istilah baru: incline. Saya sempet bingung, “incline itu apa… Apa ya gw badannya maju ke depan? Pencet pencet pencet, eh kok nggak ngaruh apa-apa sih…” Ari baru menjelaskan ke saya saat dia pulang kerja bahwa incline itu artinya posisi menanjak di treadmill. “Itu kan bisa diset kemiringannya berapa, makin tinggi ya makin menanjak.”Oh begicu… Hahaha.

    Untuk treadmill, saya sendiri nggak berani langsung kalap berjam-jam lalu langsung lari. Pertama, saya nggak kuat lari. Kedua, saya nggak kuat nafas karena nggak kuat lari. Ketiga, saya nggak kuat nafas karena nggak kuat lari apalagi berjam-jam. Jadi saya hanya sekedar jalan cepat selama 30 menit. Beruntungnya, salah satu teman saya di group WhatsApp yang saya ikuti pernah berkata bahwa “untuk membakar lemak sebaiknya berjalan kaki atau berlari secara konstan minimal 20 menit. Di bawah 20 menit, hanya gula darah yang dihabiskan.”

    Saya bertanya ke diri saya sendiri, sebenernya kaya gini ini buat apa; dan buat saya, mungkin ini bisa membuat saya merasa bahagia.

    Untuk saya, kebahagiaan dan merasa bahagia itu beda. Kebahagiaan itu ya… Pola pikir. Mental. Bukan sebuah gol. Kasarnya, “lu mau bahagia? Ya… Bahagia.” Hal ini yang sayangnya sering diucapkan ke teman-teman yang sedang tertekan dan depresi, dan percayalah, itu nggak nolong sama sekali. Yang bisa kita lakukan adalah, menjelaskan dan membantu mereka untuk merasa bahagia. Bisa dengan mendengarkan mereka, memahami rasa takut mereka, menemani, atau mengajak mereka melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka merasa lebih baik. Salah satu teman saya pernah bercerita saat dia merasa depresi, lalu dia berpikir hal yang sangat ‘sepele’, tapi justru menolong dia. “Waktu itu gw berpikir, “besok sarapan apa ya?” karena sebelumnya gw makan pancake enak banget. Hal itu ternyata ngebuat gw menjadi sedikit lebih kuat dan mempunyai harapan untuk hidup lagi keesokan harinya. Gw berpikir bahwa gw nggak akan bisa menikmati game yang akan rilis, film animasi dari Ghibli, atau pancake pake bacon yang gw suka banget kalo gw mutusin stop. Saat itu gw berpikir: Oke, kita jalanin satu hari lagi. Liat nanti kaya gimana.

    giphy

    Olahraga membuat saya merasa lebih baik. Terutamanya karena saya mendengarkan Fall Out Boy saat jogging dan percayalah, kombinasi jogging, keringat, dan ‘Centuries’-nya Fall Out Boy membuat kamu merasa bisa menguasai dunia dan mendirikan tirani dengan namamu sebagai diktator.

    Salah satu sisi positif olahraga rutin seperti ini adalah saya bisa mengeluarkan energi berlebih yang kalau disimpan terlalu lama akan membuat saya uring-uringan. Kalau saya uring-uringan, saya biasanya pergi berjalan-jalan ke mall dan berujung membeli benda-benda yang saya nggak butuhkan. Sekarang, mungkin sebelum berolahraga saya berpikir, “ah nanti jalan-jalan ke Suria KLCC ah…” Tapi setelah berolahraga dan mandi, saya lebih memilih rebahan di tempat tidur sambil bergumam “capek”, hahaha.

    Memang ini masih awal sekali. Masih bulan Januari, yang biasanya memang orang-orang penuh dengan harapan dan janji-janji untuk menjadi lebih baik — dan biasanya harapan dan janji itu langsung punah di bulan Februari. Makanya saya nggak berani memasang janji atau harapan yang terlalu muluk.

    Saya hanya ingin merasa hepi dan lebih baik setiap hari. Kalau bisa 366 hari seperti itu ya Alhamdulillah.

  • WordPress Swags!

    Kemarin sore, Ari pulang kantor sambil nyerahin selembar kertas ke saya.

    “Apa ni? Kok ditempel di pintu?”

    Saya bingung, hahaha. Lha saya juga nggak tau. Pas saya liat, ternyata itu surat notis/surat peringatan dari PosLaju mengenai paket untuk saya yang harus diambil di kantor pusat PosLaju. Saya bingung karena saya nggak tau itu paket apa dan dari mana; tapi ya akhirnya saya memutuskan untuk ke kantor pusat PosLaju untuk mengambil paket tersebut tadi pagi.

    Yang kirain “hanya” naik LRT, ternyata saya salah turun stasiun dan nyasar di NU mall (soalnya buat saya mall-nya itu gede banget,) akhirnya sampai juga saya di kantor PosLaju. Nggak lama menunggu, akhirnya paket saya terima.

    Ternyata, paket itu adalah paket dari Automattic!

    Saya akhirnya keinget kalo beberapa minggu lalu, teman kami (group Telegram) Hafiz yang bekerja di Automattic sebagai salah satu Happiness Engineers di WordPress, tiba-tiba bertanya, “ada yang mau punya apparel WordPress?”

    Tentu saja kami di group langsung rusuh. Langsung panik buka website online store WordPress dan memilih produk yang diinginkan. Hafiz yang memesankan dan produk langsung dikirimkan ke alamat masing-masing.

    Saya memesan kaos WordPress.org dengan tulisan /wp-admin/ di depan dan jaket hoodie dengan lambang WordPress di depan.

    SENANG SEKALIIIIII!

    Faktor utama saya sangat senang adalah ukurannya yang pas di saya, hahaha. Untuk jaket memang adanya unisex, namun untuk kaos saya memesan model kaos wanita karena unisex sudah habis. Pengalaman saya yang sudah-sudah, kaos wanita tidak pernah muat di saya — terutama bagian pundak. Beruntungnya, pihak merchandise WordPress yang bekerjasama dengan American Apparel mempunyai ukuran sampai 2XL. Saya memesan kaos ukuran 2XL dan kaosnya pas dan nyaman di saya.

    Bagian lengan jaketnya sangat nyaman dan cukup panjang — saya jarang lho dapat pakaian yang bisa memenuhi ukuran panjang lengan saya, huhuhu.

    Di bagian belakang kaos ada lambang WordPress beserta URL wordpress.org

    Kalo temen-temen berminat, bisa cek online store merchandise WordPress di mercantile.wordpress.org

    Terima kasih, Hafiz dan tim Automattic!

  • Sewaktu awal masuk sekolah, gurunya Wira berkomentar bahwa Wira adalah anak paling kecil dan pemalu.

    Sekarang, Alhamdulillah nggak terlalu pemalu, hahaha. Masih malu-malu (mirip saya sewaktu saya TK) tetapi sudah mulai berani “tampil”. Menggemari olahraga dan musik; dan mulai paham yang namanya “eksis/tampil”.

    “Wira mau ikut les musik. Nanti Wira main drum terus ayah ibu tepuk tangan hore hore.”

    Yang setahun lalu masih lumayan pilih-pilih makanan (benci setengah mati dengan pasta dan makanan barat lainnya), sekarang sudah berani bilang makanan favoritnya adalah spaghetti (dan di sini ibunya bernafas lega karena nggak repot bikin menu makan malam mingguan) karena dibiasakan makan makanan yang lebih beragam di sekolah.

    Bersekolahlah yang baik dan amanah ya nak. Sesungguhnya menuntut ilmu dengan penuh amanah dan niat baik adalah sebagian dari perjuangan dan kelebihan yang kita miliki. 

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

Part of blogroll.org

  • Urban rainbow