• Sally. Bebek atau Ayam.

    Awalnya sederhana.

    Wira ijin nggak masuk sekolah karena infeksi bakteri yang mengakibatkan demam tinggi sejak Sabtu lalu.

    Hari ini Alhamdulillah dia udah agak mendingan. Pagi-pagi, selepas gw antar Rey ke preschool dan beliin Wira sarapan beserta titipan jus buah, Wira nonton serial ‘LINE Toon’ di Disney XD. Kalo familiar dengan app LINE Chat dan app-app game bikinan LINE Corp. pasti familiar dengan para karakter di ‘LINE Toon’.

    46DFA9DB-3FF0-47F5-926B-09965C3EDD8D

    Lalu anaknya bertanya, “ibu, itu yang kuning itu… Siapa namanya?”

    ”James? Yang cowok itu? James.”

    ”Bukan. Yang kecil itu.”

    ”Oh? Sally. Namanya Sally.”

    ”Iya. Sally.

    Sally itu anak ayam atau anak bebek ya bu?”

    Buka Google dong gw.

    Gw selalu ngira Sally itu anak bebek. Secara anatomi SEHARUSNYA dia anak bebek, terutama paruhnya.

    Jawabannya?

    Anak ayam, sodara-sodara.

    Sally (サリー Sarī) is a female chick who is the fifth main member of LINE friends.

    http://line.wikia.com/wiki/Sally

    Masih penasaran kan; gw cek lah apa iya Sally itu anak ayam. Gw ga pengen sumbernya dari Wikia doang karena selain itu bukan jalur media resmi, bisa banget kontennya diedit kan.

    img_0938

    Liat di kotak teks paling bawah: “Brighten up your LINE experience with everyone’s favorite cute little chick Sally.”

    Nah, ternyata ada penjelasan “logis” dari Tyas soal status Sally sebagai anak ayam, bukannya anak bebek.

    Jawabannya ada di ban renang.

    //BUKAN

    Mbak Dita ternyata udah lama tau Sally itu ayam, tapi dia memilih denial.

    Di beberapa obrolan, jadinya agak… mmm, kurang terkontrol.

    Sampe sini gw bertanya hal apa lagi yang ngebuat persepsi dan memori masa kecil gw rada dikhianati (yes, I’m looking at you RCTI’s Saint Seiya. WTF did you do to Shun Andromeda hhhhhhh) setelah pihak Sanrio ngomong kalo Hello Kitty bukan kucing.

  • Shin Ramyun + Keju + Telur

    Ini “makan malam” gw kemarin; ketika Rey hari pertama preschool, Wira masih demam dengan suhu di atas 38.7°C setelah tiga hari, dan emosi gw kacau balau.

    Makan malam jam 12 malam; ketika para kurcaci itu udah pada tidur.

    Dan entah lah efek umur atau apa, akhir-akhir ini kalo makan mie instan pasti ujungnya perut gw kembung dan begah.

  • Ngomel Soal Blog ep. 7403054930

    Gw penasaran deh; berapa banyak sih dari pengunjung blog yang masih membaca blog harus pake laptop/PC?

    Kalo gw liat, sekarang itu yang namanya blog themes/layouts gitu-gitu biasanya selalu responsive. Jadi ketika diliat dalam bentuk mobile, tampilannya nggak nggilani gitu. Tetep apik dan rapi.

    Berujung lah ke blog themes yang gw suka sebut, “WordPress banget.”

    Iya, kesannya gimana gitu ya, hahaha. Buat gw, terlepas gw saat ini emang pake WordPress, WordPress itu kesannya resmi, minimalis, dan serius. Nah, themes yang ada di WordPress itu ya rata-rata begitu semua kan? Ini gw ngomong dari ngebandingin blog themes tahun 2000-an, yang penuh bling bling, kursor bisa kelip-kelip, pokoknya heboh deh tampilannya.

    Iya heboh, iya makan data banyak, iya ribet.

    Tapi lucu, hahaha.

    Gw sendiri sampe sekarang masih terobsesi tulisan berukuran kecil di blog. Gw sebel banget sebenernya sama ukuran tulisan yang default di blog themes; soalnya seringnya gede. Macem in yo face banget. Kaya, “NIH GUE NIH LU MUSTI BACA GUE NIH NIH NIH!” Sementara kenapa gw pengennya tulisannya ukuran kecil aja, karena gw pengennya ya blog itu macem, apa ya, buku harian. Yang emang personal dan ga penting isinya. Sesuatu yang lu baca karena lu lagi mager atau gabut. Lu ga tau musti gimana dan ngapain lagi di lautan penuh informasi dalam satu klik bernama Internet, jadi lu mutusin untuk ngabisin waktu lu di sebuah catatan harian seorang netijen yang lu bahkan ga kenal dia siapa selain dari tulisan dia dan ocehan dia yang sebenernya ga penting banget. Dalam beberapa menit, lu seolah diundang ke dalam isi kepala dia, yang selepasnya lu lupakan lagi.

    Sementara tulisan gede itu macem, “READ ME NOW AND READ ME LOUD,” tulisan kecil itu macem, “read me at your own conveniences; and quietly, if possible.” Tulisan kecil itu macem, “hai semua, gw mau curhat soal kerja kelompok yang biasa lah ada member yang cabutan ga jelas, lalu nongol pas mau presentasi doang. Ini ga penting sama sekali; gw cuma mau ngelepas emosi aja.”

    Bahkan sekarang kalo mau nulis kaya gitu musti mikir-mikir lagi deh. Makin banyak orang ga beres di dunia maya, dan kalo lu berbagi hal-hal personal di publik ya resikonya juga gede banget. Dari dihujat sampe tindakan kriminal. Kan ya ngeri kan.

    Iya sih, namanya juga resiko, tapi ya kadang ada rasa ingin berbagi (riya’ dikit gitu kali ya? Hahaha,) cuma kalo bisa penontonnya juga jangan kebanyakan.

    Ya itu omelan gw doang; yang seperti biasa nostalgia jaman ngeblog dulu.

    Nah, masalahnya blog themes yang responsive kaya gitu itu ya gitu… Tulisannya gedenya sak monoh gitu. Kalo dulu, karena orang make Internet itu sehari-harinya di laptop atau PC dan penetrasi pasar handheld gadget belum segila sekarang, ukuran teks yang kecil-kecil gitu masih enak diliat melalui layar laptop/PC. Kalo sekarang ya gw paham, musti ngikutin ukuran layar. Kalo di laptop/PC ukuran teksnya kecil, apa kabar yang di layar handphone?

    Makanya gw bertanya sih, apa pembaca blog sekarang udah lebih sering baca blog lewat handheld gadget kah? Makanya blog themes sekarang itu setipe semua kesannya, ga centil kaya bertahun-tahun lalu, jihahaha.

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

  • Urban rainbow