Ini “makan malam” gw kemarin; ketika Rey hari pertama preschool, Wira masih demam dengan suhu di atas 38.7°C setelah tiga hari, dan emosi gw kacau balau.
Makan malam jam 12 malam; ketika para kurcaci itu udah pada tidur.
Dan entah lah efek umur atau apa, akhir-akhir ini kalo makan mie instan pasti ujungnya perut gw kembung dan begah.
Gw penasaran deh; berapa banyak sih dari pengunjung blog yang masih membaca blog harus pake laptop/PC?
Kalo gw liat, sekarang itu yang namanya blog themes/layouts gitu-gitu biasanya selalu responsive. Jadi ketika diliat dalam bentuk mobile, tampilannya nggak nggilani gitu. Tetep apik dan rapi.
Berujung lah ke blog themes yang gw suka sebut, “WordPress banget.”
Iya, kesannya gimana gitu ya, hahaha. Buat gw, terlepas gw saat ini emang pake WordPress, WordPress itu kesannya resmi, minimalis, dan serius. Nah, themes yang ada di WordPress itu ya rata-rata begitu semua kan? Ini gw ngomong dari ngebandingin blog themes tahun 2000-an, yang penuh bling bling, kursor bisa kelip-kelip, pokoknya heboh deh tampilannya.
Iya heboh, iya makan data banyak, iya ribet.
Tapi lucu, hahaha.
Gw sendiri sampe sekarang masih terobsesi tulisan berukuran kecil di blog. Gw sebel banget sebenernya sama ukuran tulisan yang default di blog themes; soalnya seringnya gede. Macem in yo face banget. Kaya, “NIH GUE NIH LU MUSTI BACA GUE NIH NIH NIH!” Sementara kenapa gw pengennya tulisannya ukuran kecil aja, karena gw pengennya ya blog itu macem, apa ya, buku harian. Yang emang personal dan ga penting isinya. Sesuatu yang lu baca karena lu lagi mager atau gabut. Lu ga tau musti gimana dan ngapain lagi di lautan penuh informasi dalam satu klik bernama Internet, jadi lu mutusin untuk ngabisin waktu lu di sebuah catatan harian seorang netijen yang lu bahkan ga kenal dia siapa selain dari tulisan dia dan ocehan dia yang sebenernya ga penting banget. Dalam beberapa menit, lu seolah diundang ke dalam isi kepala dia, yang selepasnya lu lupakan lagi.
Sementara tulisan gede itu macem, “READ ME NOW AND READ ME LOUD,” tulisan kecil itu macem, “read me at your own conveniences; and quietly, if possible.” Tulisan kecil itu macem, “hai semua, gw mau curhat soal kerja kelompok yang biasa lah ada member yang cabutan ga jelas, lalu nongol pas mau presentasi doang. Ini ga penting sama sekali; gw cuma mau ngelepas emosi aja.”
Bahkan sekarang kalo mau nulis kaya gitu musti mikir-mikir lagi deh. Makin banyak orang ga beres di dunia maya, dan kalo lu berbagi hal-hal personal di publik ya resikonya juga gede banget. Dari dihujat sampe tindakan kriminal. Kan ya ngeri kan.
Iya sih, namanya juga resiko, tapi ya kadang ada rasa ingin berbagi (riya’ dikit gitu kali ya? Hahaha,) cuma kalo bisa penontonnya juga jangan kebanyakan.
Ya itu omelan gw doang; yang seperti biasa nostalgia jaman ngeblog dulu.
Nah, masalahnya blog themes yang responsive kaya gitu itu ya gitu… Tulisannya gedenya sak monoh gitu. Kalo dulu, karena orang make Internet itu sehari-harinya di laptop atau PC dan penetrasi pasar handheld gadget belum segila sekarang, ukuran teks yang kecil-kecil gitu masih enak diliat melalui layar laptop/PC. Kalo sekarang ya gw paham, musti ngikutin ukuran layar. Kalo di laptop/PC ukuran teksnya kecil, apa kabar yang di layar handphone?
Makanya gw bertanya sih, apa pembaca blog sekarang udah lebih sering baca blog lewat handheld gadget kah? Makanya blog themes sekarang itu setipe semua kesannya, ga centil kaya bertahun-tahun lalu, jihahaha.
“Kids are actually built like trucks. They are stronger than we thought.“
Itu ucapan temen gw ketika Wira cilik jatuh menggelinding dari tangga.
Saat itu, usia Wira baru 1.5 tahun. Mungkin sedikit lebih tua dari Rey saat ini.
Dia sudah bisa berjalan, tapi belum mahir naik turun tangga.
Singkat cerita, gw baru keluar toilet ketika Wira ternyata sudah bisa membuka pintu kamar sendiri dan mencoba turun tangga rumah di Jakarta. Gw awalnya mau mendekati dia pelan-pelan agar tidak kaget, ternyata anaknya terpeleset dan jatuh menggelinding.
Ketika gw dan suami panik luar biasa dan membawa dia ke dalam mobil untuk langsung melaju ke Unit Gawat Darurat di rumah sakit terdekat, yang pertama disebut anak itu adalah, “DUIT!” ketika dia melihat beberapa koin di dashboard mobil. Bahkan ketika dia akhirnya bertemu dokter di rumah sakit, dia, “nampaknya baik-baik saja, bu. Anak ini masih ada energi untuk berantem sama saya,” ucap dokter jaga sambil menatap Wira yang menangis marah, protes, dan mendesis ke dokter karena pak dokter berani-beraninya pegang-pegang kaki dan kepala dia.
Teman gw berkata begitu.
Anak-anak itu sebenernya kaya truk. Hantam bleh.
Orang tuanya yang panikan (saya, misalnya.)
Usia Wira saat ini 6 tahun, dan apakah 6 tahun itu mengajarkan gw untuk lebih chill?
Bisa dibilang… Nggak.
Tetep sih kalo namanya mamak parno ya.
Seperti saat ini; Wira demam tinggi sejak hari Sabtu. Anak itu mengeluh sakit kepala dan sakit perut. Bahkan bisa demam sampai menggigil.
Bonus? Suami dinas ke luar kota selama seminggu.
Hore.
Demam berlanjut selama tiga hari.
Ada semacam… “Konvensi” di antara orang tua; apabila anak demam, tunggu selama tiga hari. Biasanya selepas itu, demam sudah turun. Kecuali kalau demam si anak sampai 39-40 derajat Celcius. Apabila demam mencapai 39-40 derajat Celcius, walaupun belum tiga hari, langsung bawa ke dokter. Berlaku juga bila si anak kejang-kejang atau kondisi medis lainnya yang mengkhawatirkan.
Semalam, demam Wira sempat sampai 39 derajat Celcius. Gw masih berusaha optimis dengan berharap besok demam turun. Paginya, badan dia mencapai suhu 38.7 derajat Celcius.
Keputusan: langsung ke dokter.
Saat diperiksa, dokter sempat agak khawatir. “Demam dan sakit kepala,” ucap dokter, “takutnya dengue.”
Apabila dengue, musti opname.
Jantung rasanya seperti dicengkeram.
Ini bukan pertama kalinya padahal lho. Pernah Rey kejadian juga begini, di musim pancaroba begini, ada kemungkinan dengue. Woelah, itu gw udah mau nangis di ruang tunggu. Ga kebayang anak bayi musti opname plus infus segala macem.
Akhirnya Wira diambil darah untuk cek laboratorium.
Gw udah mau nangis aja rasanya saat itu. Gw ga bisa ngebayangin anak di rumah sakit sendirian karena gw musti megang adiknya di rumah. Gw jadi inget ucapan temen gw, “doa paling tulus dan paling kuat terdengar di antara bangsal dan lorong rumah sakit.” Itu bahkan “baru” anak gw yang demam. Belum yang lain (duh, naudzubillah…)
Ketika hasil laboratorium keluar, ternyata Wira negatif dengue. Dia kena infeksi bakteri dan musti istirahat di rumah selama seminggu.
Sebagai orang tua, kadang rasanya lu berharap untuk bisa melakukan, menjaga, mengawasi, dan mengatur semuanya; tapi lu tau betul kalo dunia ga seperti itu.
Cepat sembuh ya Wira.
Nindya’s quick blurbs
A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.