• img_0476-1

    Kelupaan. Selesai dibaca (akhirnya!) pas mudik kemarin, di Jakarta.

    Ga pengen bilang “INI BUKU HARUS DIBACA SEMUA ORANG TUA” tapi… Bisa dibilang begitu sih. Topik utamanya itu tentang sebuah keluarga, dan dinamika dari orang tua ke anak dan sebaliknya itu tertulis jelas di sini. Bersama dengan ambisi dan harapan masing-masing karakter di cerita ini.

    Ya tapi kalo bukan orang tua juga tetep bagus dan gapapa baca buku ini ? Buku bagus lho *lho kok jadi promosi*

    Buat yang pernah baca atau nonton ‘Lovely Bones’, ini novelnya mirip-mirip lah nuansanya. Jadi ada satu karakter yang meninggal dan dicari tahu penyebabnya, tapi bukan dalam bentuk cerita detektif atau thriller. Lebih ke flashback yang lama-lama bikin kita ngerasa, “… Oh gitu…”

    Ada lima karakter utama di sini: ayah, ibu, dan tiga anak. Masing-masing dengan harapan, ambisi, ketakutan, dan jiwa masing-masing.

    Yang gw tertarik: karakter si ibu.

    Pertama, karena gw seorang ibu.

    Kedua, karena penulisnya, Celeste Ng, jago banget menangkap harapan dan problem yang dihadapi wanita pada tahun 1950-an; dan sedikit banyak, karakter ibu ini mengingatkan akan diri gw.

    Dan semua ketakutan dan ambisi karakter ibu ini mirip dengan gw; ketika gw melihat “kejatuhan” si ibu, rasanya itu seperti ditampar dan diingatkan, “ini yang bakal kejadian kalo lu ga ati-ati sama diri lu, Kap.

    Buku ini mengajarkan bahwa dua orang yang terluka jiwanya kemungkinan besar akan memproyeksikan itu ke anak-anaknya; dan membuat anak-anak itu bingung, takut, dan tidak bahagia.

    It reminds me of some wise words when Wira was still a baby.

    “Seperti anjuran keselamatan saat situasi darurat, Kap. Selamatkan diri lu dulu sebelum lu mau menyelamatkan orang lain. Orang tua aja dianjurkan untuk pake masker oksigen dulu baru pakein masker oksigen ke anaknya kalo di pesawat.

    You have to save yourself before you save your family.

    Untuk membentuk Wira sebagai pribadi yang utuh dan baik, gw harus bisa memperbaiki diri gw dulu.

    Dengan cara memaafkan diri gw.

    … And I hope I’m doing a good job on that…

  • #catatanemak. Trimester Kedua

    Hola~!

    Setelah sekian lama dijejali entri dari Instagram (dan menjadi amat sangat redundant apabila kalian mengikuti saya di Instagram juga), akhirnya saya menulis lagi, ngoahahahaha.

    Sedikit cerita soal kehamilan saya dan si adek ini (saya agak bingung mau manggil dia dengan “si adek” atau “Kunyil” tapi saya seringnya manggil dia ini “si adek” jadi yawdalahya…), sejauh ini Alhamdulillah berjalan lancar. Trimester pertama saya dihantam sinusitis super parah selama 2 bulan, bahkan sampai saat saya mudik ke Indonesia. Di Purwokerto, saya sempet terapi akupunktur (diajak mama saya) dan agak takjub karena sakit di pipi dan dahi (yang awam terjadi saat sinusitis) menghilang. Kembali ke KL, saya ke dokter THT (yang ternyata bergelar dato’ dan biaya periksanya mehel bener *kapkap dan dompet kraying bersama*) dan diberi obat antibiotik dan decongestant yang… Saya nggak abisin. Perut, tenggorokan, dan selera makan saya jadi amburadul gara-gara kombinasi dua itu dan salah satunya. Jadi cukup lah selama lima hari saja saya meminum antibiotik (dari resep 10 hari).

    Trimester kedua… Nah ini agak aneh. Sewaktu saya hamil Wira, nafsu makan saya itu ga terkontrol bukan main. Inhumane. Saya bisa lho ngabisin nasi sebakul beserta gurame goreng seekor SENDIRIAN. Langganan rumah makan Padang ‘Sederhana’ setiap dua hari sekali.

    Jadi saya mengira hal yang sama akan terjadi dengan kehamilan yang ini. Brace for impact, ceritanya.

    Kenyataannya… Lebih mirip suara jangkrik.

    Si adek ini… Apa ya… Cuek. Iya, saya laper, iya saya musti makan setiap dua jam tapi lebih karena saya dipaksa asam lambung yang memang menggila saat kehamilan ini. Si adek tetep lebih memilih makan sayur dan buah, menghindari SEMUA yang saya suka (gorengan, coklat, es krim, apapun yang berlemak dan kolesterol tinggi dan enaknya kaya dosa OMG *kraying*) tapi untuk nafsu makan menggila… Nggak terlalu. Malah kalo saya makan terlalu banyak berujung muntah.

    Ya sisi baiknya sih wasir saya nggak kumat.

    Kehamilan kali ini juga saya ingin lebih aktif. Terutamanya memang karena saya ga ada ART di sini, dan sekali lagi saya ga pengen berat badan naik sampe 20 kilo dan susah turunnya kecuali saat bulan Ramadhan. Lucunya, kadang saya ngerasa “perut gw gede yaaa, hamil banget keliatannya yaaa,” kadang saya juga ngerasa “why perut terlihat kempes why si adek baik-baik aja kan OMG nak mamakmu ini paranoid lho why why why.”

    Tapi ya sejauh ini Alhamdulillah baik-baik saja dan banyak teman-teman saya di grup WhatsApp #buibuksocmed menyemangati saya dan meyakinkan saya bahwa Insya Allah si adek baik-baik dan sehat-sehat saja. “Rahim sama, tapi tiap kehamilan pasti beda-beda.”

  • Wira dan Sekolah

    “Over-confidence.”

    Saya denger itu bengong.

    Tapi kata itu, “over-confidence”, diucapkan oleh TIGA guru kelas Wira dengan yakinnya.

    “Wira is… Over-confident. I don’t know if it’s good or, errr, bad. He always say, “it’s okay, miss. I can do it,” and in the end he will ask, “miiiissss! Heeeelp!” kata gurunya Wira dua hari lalu saat saya bertemu mereka di sekolah untuk pertemuan orang tua dan guru dua kali dalam setahun.

    Sifat orang tua kali ya? Susah move on, hahaha. Saya keinget jelas ketika Wira hari pertama sekolah. Takut-takut, suka menangis, ga percaya diri, sangat pendiam, minim inisiatif…

    Malah setiap pertemuan dengan guru, saya selalu diberitahu, “Wira needs more work on his confidence and initiatives…

    Selalu dan selalu, sampe nempel di kepala.

    Anak saya butuh lebih pede, butuh belajar inisiatif, anak saya kurang pede, anak saya pemalu, anak saya musti dibilangin…

    Sampe barusan tadi.

    Kelewat pede, mendekati sotoy (?), kelewat perhatian sama temen-temennya (sampe gurunya komentar kalo seolah-olah Wira ini mau kudeta kelas), suka cerita dan kalo ga direm kebablasan lama banget, dan suka tampil.

    Saya setengah ngerasa karena ini faktor “abang” di Wira, dan ternyata itu bener iya ditunjukkan di kelas ? Jadi Wira itu suka ngerasa, gimana ya, ngeliat anak-anak lain itu kaya “GUE abang, kalian bukan. Gue tau apa yang terbaik buat kalian” ? Jadi kalo Wira denger nasihat dari gurunya, dia bakal ulangin itu nasihat ke temen-temennya (tanpa ditanya, tentu aja.)

    Kalo kata Ari, “… Sotoynya nurun dari aku ya?”

    Dan buat saya, bossy-nya itu dan kecenderungan kudeta kayanya nurun dari saya.

    Alhamdulillah, ALHAMDULILLAH, anaknya nggak ada kecenderungan bullying (?) Itu saya lega banget.

    You continue to surprise me, nak.

    Keep it up.

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

Part of blogroll.org

  • Urban rainbow