• Wira dan (Mild) Tantrum

    Wira jarang sekali yang namanya nangis sambil berteriak dan marah (mild tantrum). Kenapa? Karena gw dan Ari galak (hahaha) Dia ngeh kalo dianya mulai ehek-ehek, ortunya ga bakal peduli.

    Nah, barusan dia mild tantrum.

    Dan entah kenapa, entah kenapa ya, gw memutuskan untuk ngelayanin dia. Gw liat dia menangis sambil ingus meler ga karuan plus keringetan. Komplit dengan menjerit dan memukul kaki gw (pelan sih, kaya cuma ditepok aja, hahaha). Alasannya dia nangis? Ga mau tidur siang (iya klasik bener ya…)

    Jadi gw liatin aja muka dia menangis, dan itu bikin gw pengen ketawa sekaligus terharu.

    Udah beberapa hari ini gw sering liat video dan foto Wira ketika bayi. Terutama video dia nangis ngoaaaa ngoaaaa. Kayanya suediiiiih banget, kaya idup itu beban nestapa dunia akherat.

    Dan liat dia nangis tadi itu kaya… Gimana ya, kaya bikin gw ngeh, “this is my baby boy.” Mau nanti kamu udah segede apa atau setua apa, nak, mamakmu ini tetap posesif dan tukang khawatiran ga karuan.

    (Plus gw tau anak ini nangis buat ngetes aja. Dan dia sebenernya kepanasan dan kecapean)

    Gw pangku dia sambil berkali-kali bilang, “Wira harus bobo siang biar ga kecapean…”

    Lalu gw tanya deh, “Wira lebih milih bobo siang terus main atau menjerit dan kepanasan gini?”

    “Menjerit dan kepanasan”

    “Ya udah. Silakan menjerit sampe puas.”

    “… WAAAAAAAAA.”

    “… Udah?”

    “Udah”

    “Udah menjeritnya? Gitu aja?” (Ini bener gw bertanya dan ga ada nuansa menyindir)

    Anaknya ngangguk.

    Gw ke kamar sambil gandeng anaknya. Tutup gorden biar adem. Ga lama, anaknya tidur.

    Bocah, bocah…

    (Terus kalo dipanggil gitu, anaknya suka protes, “WIRA BUKAN BOCAH!” Lah, jadi apaan dong?)

  • Wira dan Berenang

    IMG_0489

    Sewaktu Wira bayi — oke, bukan bayi BANGET sih, kisaran usia 1-2 tahun lah. Toddler. Batita — dia sempat ikut les berenang di rumah temannya Ari yang kebetulan istrinya ini membuka les renang. Si istri sendiri ini sudah mempunyai sertifikat sebagai pengajar renang, terutama untuk anak-anak.

    Sebab utama kami menginginkan Wira bisa berenang adalah karena berenang itu kemampuan bertahan hidup/life skill. Salah satu dari kemampuan bertahan hidup yang musti dan wajib dimiliki.

    Ya namanya juga les berenang, otomatis ya anak-anak piyik-piyik itu dicebur-ceburin ke kolam renang. Diajak menyelam selama beberapa detik dan menggapai tepi kolam renang. Dan saat itu, Wira sangat menikmatinya. Ya saya juga (terpaksa) menikmati karena saya harus ikut berenang mendampingi Wira, hahaha.

    Flash forward to today, ketika kami pindah ke KL, Malaysia, otomatis Wira berhenti les berenang. Proses adaptasi yang nggak mudah dan berbagai hal baru yang membuat kami bertiga jadi nyadar, “nyet, we only have the three of us lho…” membuat Wira sempet jadi menempel lebih posesif ke saya, hahaha. Jadi bisa ditebak: Dia takut kolam renang.

    Jangankan berenang seperti dulu, masuk ke kolam renang saja harus menjerit-jerit dahulu. Yang stres ya saya dan ayahnya. Di satu sisi sebal kenapa anak ini penakut sekali, di satu sisi juga maklum karena namanya juga takut.

    Sekian lama kami mencoba melatih Wira — dan selalu gagal. Sampai ada satu hari saya bertemu dengan sesama orang tua di sekolahnya Wira. Ibu ini mempunyai anak perempuan yang merupakan teman sekelas dan teman baik Wira. Saat itu kami sedang mengobrol kegiatan sehari-hari anak-anak, terutama olahraga, dan sempet lah tercetus soal berenang. Rupanya ibu itu juga mempunyai masalah yang sama: Anaknya takut air, apalagi berenang. Dia cerita kalau dia sedang mencari-cari guru renang dan menawarkan ke saya untuk mengikutkan Wira les berenang bersama anaknya supaya biaya les renang juga jadi lebih murah.

    Saya setuju. Anaknya?

    Awalnya Wira semangat banget. Karena dia kira hanya sekedar cipak-cipuk main air.

    Begitu bertemu dengan guru renangnya dan diajak ke kolam renang, saya mulai deg-degan. Ibu teman Wira juga. “Aduh nangis nggak nih, nangis nggak nih, nangis nggak nih…”

    Anaknya bolak-balik menatap ke arah saya. Dia sendiri ga yakin dan ragu-ragu. Tapi dia udah janji mau ikut les renang dan ga menangis (hahaha). Guru renangnya meyakinkan dia bahwa dia akan baik-baik saja.

    Nah, teman sekolahnya Wira ini, ternyata adaptasi ke air jauh lebih mudah. Sebabnya? Dia ingin jadi putri duyung/mermaid, hahaha. Jadi begitu dibilang, “nanti bisa berenang seperti mermaid!” langsung nyebur lah dia. Wira, ngeliat temennya berani, mencoba berani dan ikut berenang. Awalnya masih takut-takut, namun pelan-pelan dia sudah mau ikut berenang. Kemarin, saat sedang berjalan-jalan di mall, Wira meminta dibelikan kacamata renang. “Biar mata Wira nggak perih pas berenang,” katanya. Ari belikan, dengan janji Wira akan rajin berenang dan senang berenang. Anaknya seneng banget, sampe kacamatanya nggak mau dilepas semaleman, hahaha.

    Selamat berenang, nak. Latihan yang rajin ya.

  • Deactivate IFTTT

    IFTTT (If This Then That) itu semacam… Apa ya, servis kalo “saya melakukan ini, hasilnya ini”. Jadi semacam, aduh bingung ini jelasinnya soalnya saya juga kurang paham teknisnya, oke ini aslinya dari bahasa pemrograman IF THEN. Jadi kalo saya naro foto di Instagram, IFTTT ini akan naro gambar yang sama juga di blog saya ini. Ya sebenernya cukup jelas sih ya, soalnya kan keliatan juga di sini, hahaha.

    Nah lalu kenapa di-deactivate? Sebenernya simpel: Saya ga suka hasilnya di tampilan handphone/mobile. Fotonya nggak bisa menyesuaikan dengan besarnya layar itu lho. Jadi gambarnya guede dan teksnya tetep cuilik-cuilik.

    Selain Instagram, saya juga gunakan fitur IFTTT untuk Pocket – WordPress, tapi sama aja ini saya juga kurang suka. Karena tautan/link-nya nggak kebuka. Sekalinya ada link itu ke websitenya IFTTT. Kan nganuh.

    Jadi sekalian saya hapus aja semua, hahaha. Saya juga ngerasa selain pengulangan/redundant, ini juga seperti saya itu, mmmmm, curang gitu ga sih? Kaya, saya sebenernya ga ngeblog, tapi konten blognya terus ada karena saya apdet dari media sosial lain. Ya sebenernya yang ngerasa gitu sih saya aja ya, hahaha. Kalo ada yang seperti itu (konten ditarik dari media sosial lain) ya nggak apa-apa. Kan masing-masing orang ada pilihan sendiri-sendiri.

    Dan ya, ini seperti janji saya yang ke-83295734203942 kali untuk rajin ngeblog. Saya sendiri suka merasa gimana ya, soal ngeblog ini. Bukannya nggak ada bahan (bahan komentar dari saya mah banyak), tapi saya rasanya kok makin ke sini makin ragu-ragu untuk ngeblog soal banyak hal — terutama soal anak. Saya parnoan, dan saya nggak pengen terlalu ngebuka kehidupan pribadi Wira dan (Insya Allah) adiknya ke blog (walopun saya tau yang baca blog ini juga ga banyak-banyak amat). Ironisnya, saya nulis banyak soal Wira di Path saya, huhu.

    Kadang saya kangen dengan rasa ketidakpedulian saya akan ngeblog soal apapun di blog saya jaman dulu, hahaha. Bahkan hal paling sesepele tugas kuliah pun saya tulis. Opini atau rasa setuju/tidak setuju saya akan satu hal ya saya tulis aja hayu. Mungkin karena makin tua dan makin meluasnya media sosial beserta kasus-kasusnya itu bikin saya makin merasa “udah lah, simpen aja opini lu buat diri lu sendiri, Kap…” Ya memang musti baik-baik milih topik sih ya, hahaha.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap