• Kue Ulang Tahun

    Insya Allah dalam waktu dekat ini Wira akan merayakan ulangtahunnya yang ke-tiga; Ari dan saya sama-sama setuju untuk mengadakannya di sekolah. Sebelumnya saya pernah melihat beberapa orangtua yang mengadakan perayaan ulangtahun anak mereka di sekolah, dan biasanya mereka membawa kue ulangtahun.

    Awalnya saya berpikir, “kue ulangtahun bisa beli saja kali ya?” tetapi saya… Salah besar.

    Iya, sebenernya bisa beli, hanya saja mungkin sedikit lebih rumit, hahaha.

    Jadi saat saya mengutarakan niat saya untuk merayakan ulangtahun Wira di sekolah, pihak sekolah memberikan saya surat informasi untuk perayaan ulangtahun Wira. Jadi nantinya akan diadakan “Culture Walk”, ketika guru dan/atau orangtua menjelaskan negara asal si anak — untuk Wira, Indonesia — ke teman-teman sekelas. Ada juga tiup lilin dan potong kue ulangtahun.

    Nah, untuk kue ulangtahun, ada beberapa spesifikasi:

    1. Less sugar. Pernah melihat anak-anak makan permen terlalu banyak? Nah, itu salah satu hal yang sebaiknya DIHINDARI. Jadi tertulis jelas di surat informasi bahwa kue ulangtahun sebaiknya nggak mengandung terlalu banyak gula ataupun permen.
    2. Krim segar untuk hiasan kue sangat dianjurkan. Karena lebih aman untuk anak-anak dibandingkan krim instan kalengan yang mungkin mengandung pengawet dan/atau pemanis.
    3. Tidak mengandung kacang. Untuk menghindari reaksi alergi kacang di antara anak-anak (apabila ada yang mempunyai alergi.)

    Masalahnya, kue ulangtahun itu biasanya ya… Errrr… Mengandung gula. Krimnya sendiri PASTI mengandung gula; dan tentu saja fondant.

    Bingung lah saya ini sebaiknya gimana, hahaha. Kalau beli, artinya saya bakal rewel luar biasa dengan spesifikasi macam-macam.

    Jadi cara paling “mudah” adalah memanggang kue sendiri, hahaha.

    Ini resep yang rencananya saya akan gunakan:

    Karena saya jarang sekali memanggang kue, saya memutuskan untuk latihan terlebih dahulu. Kemarin malam saya mencoba memanggang kue dengan hiasan krim dan buah peach. Hasilnya? Yaaaaaa, lumayan lah, hahaha.

    IMG_3111

    Jelas banyak hal yang perlu dibetulkan, tapi saya pribadi cukup senang ๐Ÿ™‚ Doakan saya semoga nanti hasilnya memuaskan dan enak ya, hahaha.

  • Mimpi

    Mimpi saat tidur itu bisa dibuat nggak ya?

    Maksud saya, bener-bener ngebuat mimpi. Jadi sebelum tidur secara spesifik berpikir “nanti harus mimpi kaya gini” atau ngeliat foto dan/atau video yang berhubungan dengan mimpi itu.

    Karena ada satu mimpi yang saya kangen sekali.

    Setahun yang lalu, saya bermimpi melihat langit malam penuh bintang galaksi Bimasakti (saya tahu betul itu setahun yang lalu karena tertera di app Timehop saya). Dan saya ingat betul perasaan saya ketika saya bangun: Bahagia. Lega.

    Dan saat ini saya butuh sekali mimpi itu. Saya sangat membutuhkannya.

    Featured image: One Big Photo

  • Suara dan Cahaya

    Sudah agak lama, beberapa minggu sebelum ini, kami sekeluarga sedang berjalan-jalan di Suria KLCC. Ketika sedang berjalan di lobby mall, ada anak laki-laki, kira-kira berumur 8-10 tahun, mendadak berteriak dengan kencang berkali-kali. Wira otomatis menoleh ke anak laki-laki itu (yang langsung dibawa pergi secara terburu-buru oleh orangtua dan saudaranya) dan bertanya, “kakak berteriak?”

    “Iya. Kakak berteriak.”

    “Kakak berisik?”

    Dan untuk saya, ini saat yang tepat untuk menjelaskan satu hal ke Wira: Autisme.

    “Iya, berteriak memang menimbulkan suara berisik. Tapi kakak berteriak karena sekitar dia berisik dan kakak merasa nggak nyaman dan ketakutan.”

    “Kakak takut?”

    “Iya. Ada beberapa kakak, adik, dan teman-teman Wira yang lebih sensitif terhadap cahaya dan suara. Beberapa dari mereka belum terbiasa dan suara-suara itu membuat mereka takut. Kalo Wira takut, Wira biasanya ngapain?”

    “Nangis.”

    “Nah itu. Kakak itu berteriak karena takut dan nggak nyaman.”

    “Kakak udah nggak apa-apa sekarang?”

    “Insya Allah kakak udah nggak apa-apa. Ayah ibunya si kakak dan adeknya si kakak itu hebat. Mereka tau gimana biar kakak ga takut lagi.”

    “Kakak juga hebat?”

    “Kakak juga hebat.”

    Sumber gambar: Wikihow – How to Reduce Sensory Overload: 8 Steps

    Links: 5 Autism Simulations to Help You Experience Sensory Overload

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see โ€œFeatured Sitesโ€. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

Part of blogroll.org

  • Urban rainbow