• 01:30 AM

    Iseng hari ini saya baca-baca entri saya di akun social media, dan saya ngeliat bahwa banyak tulisan saya di Path yang panjang-panjang, bahkan bisa jadi entri blog sendiri.

    Saya jadi berpikir, “kenapa ini nggak gw taro di blog aja ya?” dan jujur, saya belum nemu jawabannya.

    Apakah karena blog itu harus sangat serius? (Jawabannya: nggak) Atau masalah interaksi?

    Interaksi di social media itu sangat cepat. Hitungan detik, atau menit. Opini, pendapat, bahkan foto taman deket komplek rumah bisa mendapatkan respon/feedback dari teman-teman kita. Kalaupun tidak ada komentar, ada emoji atau reaction buttons (“inovasi” Facebook yang sudah dimulai Path sejak bertahun-tahun lalu). Kita membuat suara kita didengar dan mendengar suara orang lain dalam waktu nyaris real-time.

    Mungkin itu sebabnya WordPress, yang menurut saya termasuk paling depan dalam dunia blogging, mempunyai “bau” social media — paling tidak di app-nya. Ada tombol ‘Follow’ dan ‘Like’. Blog yang kita ikuti/follow akan muncul dalam dashboard setiap ada entri baru. Bahkan kita bisa langsung menuliskan komentar atau respon dari dashboard kita. Semacam RSS reader yang lebih interaktif.

    Tapi saya rasa, WordPress juga nggak bisa mendorong diri mereka terlalu jauh. Dasarnya WordPress adalah blogging, bukan semacam platform untuk bite-sized updates dengan jumlah karakter terbatas atau sekedar dua kalimat atau tiga kalimat. Iya sih, bisa dibuat seperti itu, tetapi dari tab New Post tidak dikondisikan untuk ketak ketik ketak ketik lalu klik ‘Send‘.

    Apakah itu hal yang buruk? Ya tentu aja nggak. Memang itu bidang yang WordPress kuasai: blogging. Dan WordPress nggak bergantung di blogging saja. WordPress adalah content management system. Selama ada orang atau perusahaan membuat website baru, di situlah WordPress mempunyai potensi.

    Sebenernya sih intinya masalah saya rajin ngeblog atau nggak.

  • Steller

    Beberapa hari lalu, mamin Dita ngobrol soal app Steller dan mengajak kami-kami (jie, “kami-kami”… Anak mudah sekaleeee, hahaha) yang suka gambar-gambar, nulis-nulis, dan foto-foto untuk mendaftar dan membuka account di Steller.

    Jadi Steller ini seperti apa ya… Seperti fitur Stories di Google Photos (pengguna Google Photos pasti sudah tahu). Jadi foto-foto itu disusun atau dikumpulkan seperti dalam album. Bedanya, GPhotos mengumpulkan foto-foto itu secara otomatis berdasarkan geolocation dan tanggal foto-foto itu diambil (harus diakui, algoritma Google untuk mengenali penggunanya itu agak mengerikan dan George Orwell-ish) sedangkan Steller itu ya untuk konten tinggal kita yang pilih. Kasarnya, seperti album portfolio per project.

    Yang saya suka dari Steller adalah tampilannya yang hipster sekali, hahahaha. Gimana ya, sangat cantik gitu. Siapa sih yang nggak pengen hasil karyanya dipresentasikan dengan cantik? Nah, Steller mengakomodir keinginan itu.

    Sayangnya, app Steller baru bisa diunduh di beberapa App Store di negara-negara tertentu — dan Indonesia nggak termasuk (!) Setahu saya, baru bisa diunduh di App Store US, UK, dan Belanda. App Store Indonesia dan Malaysia belum ada. Saya bela-belain deh bikin akun iCloud baru untuk App Store US, hahaha. Untung kalau bikin akun iCloud baru, ada pilihan ‘None’ untuk metode pembayaran (saya nggak punya kartu kredit, hahaha)

    Saya sendiri jadi semangat banget menggambar, hahaha. Seneng bisa mendokumentasikan proses sekaligus pamer karya, apalagi saya barusan beli meja untuk menggambar (selama ini saya menggambar di lantai yang berujung punggung dan pinggang sakit, kaki pegal dan kesemutan, serta resiko gelas air kobokan kuas ketendang) jadi lebih nyaman menggambar.

  • Mbandi is one of my favorite artists and his covers on many hits songs are awesome. I hope I can see his works on iTunes soon.

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

English is not my first language, my English teacher gave up on my grammar skills back in high school, and I refuse to use AI, so expect weird and confusing run-on sentences on this blog.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • Urban rainbow