• Suara Berderak dan Kelereng Bergulir (di Apartemen/Rumah Susun)

    Mood: ‘Face the Dive’ – Sparkle

    77FCE6A4-3582-4EC4-ADB5-BF71868F2ECE

    Yang domisili/biasa tinggal di apartemen/rumah susun biasanya ngeh.

    Jadi ini gw tulis soalnya gw sering baca keluhan temen-temen gw yang tinggal di gedung apartemen soal bunyi-bunyian. Gw pun ngalamin.

    Bunyi-bunyian apa?

    Biasanya ada dua bunyi yang paling sering didengar kalo lu tinggal di apartemen; satu, bunyi seperti mebel/furnitur berat digeser/orang berjalan dengan langkah diseret dan entah gimana kok kaya mereka itu pake alas kaki dari batu kaya gambar di atas, dan dua, suara kelereng bergulir di lantai.

    Seperti biasa, pasti lah ada ya penjelasan-penjelasan horor kan ya. Bukan apa-apa, soalnya suara-suara itu paling sering dan paling jelas terdengar di malam hari.

    Nah, gw ini orang penakut yang skeptis — jadi gw suka “ah masa sih ah masa dong” kalo soal hantu gini tapi gw jerit-jerit nonton film horor dan otomatis baca Ayat Kursi tiap lewat tempat sepi — dan gw bertanya: “Temen gw di Jakarta ngalamin, gw di Kuala Lumpur ngalamin, orang-orang bule di luar negeri — Amerika dan Eropa dan negara lain — ngalamin, jadi apakah ini setannya satu tipe? Apakah artinya gw bisa nemu pocong di Amerika Serikat? Atau itu hanya eksklusif di negara-negara mayoritas umat Islam seperti Indonesia? Lalu kenapa hanya terjadi di apartemen/tempat tinggal? Kenapa ga pernah kedengeran di hotel? Setannya ga bisa di hotel karena biaya inap per malam mahal belum termasuk pajak dan musti bayar lagi buat dapet sarapan?”

    Penasaran, gw Google kan. Kebetulan nemu beberapa artikel soal suara kelereng dan suara mebel digeser di beberapa apartemen/rumah susun Singapura.

    Ini menurut gw. Sotoy, karena gw bukan arsitek apalagi insinyur apalagi ahli bangunan apalagi ahli akustik:

    Insulasi gedung.

    insulation

    the act of covering something to stop heat, sound, or electricity from escaping or entering, or the fact that something is covered in this way:

    The animal’s thick fur provides very good insulation against the arctic cold.

    material that is used to stop heat, sound, or electricity from escaping or entering:

    Glass fibre is often used as roof insulation.

    Yang gw perhatiin, biasanya keluhan-keluhan suara begitu muncul di gedung-gedung apartemen tua/usia gedung di atas 10 tahun. Temen gw cerita ada hostel di Bali yang juga begitu — suara furnitur digeser kalo malem — dan buat gw, itu artinya insulasi gedung itu tipis atau malah ga ada (pengembang/kontraktornya bisa jadi kurang paham insulasi untuk gedung bertingkat).

    Gw sendiri ngalamin kok; di gedung apartemen lama. Gedung apartemen lama kami itu usianya udah… 20 tahun? 30 tahun? Tipe gedung yang kalo lu liat, bakal komentar, “pernah jaya pada masanya,” gitu deh.

    Nah, itu ya bisa tiap malem suara “drrrrggg drrrrg” macem furnitur berat digeser atau suara kelereng nggelinding. Kadang malah ada kaya suara orang lagi ngebor dinding atau maku dinding malem-malem di lantai atas. Pas ditanya ke manajemen bangunan, katanya unit atas kosong. Eng ing eng kan.

    Jadi kalo baca-baca kan, insulasi gedung itu ya ngaruh banget ke suara-suara yang kita denger sehari-hari di gedung apartemen atau gedung bertingkat. Gedung, walopun terbuat dari benda mati macem beton, semen, kaca, gitu-gitu, ya bisa memuai. Makanya kalo lu liat jendela di rumah atau kantor, biasanya ada ruang beberapa mili di kusen jendela. Tujuannya itu kalo udara panas dan kaca memuai, ada ruang untuk kaca supaya ga pecah. Pernah kejadian di kampus BINUS Anggrek, pintu kaca di restoran anak-anak Perhotelan mendadak pecah. Gw pas di situ pula. Jadi terdengar macam suara letusan balon – “POP!” – lalu pintu kaca sak pintu-pintunya itu udah retak aja.

    Suara seperti furnitur digeser itu suara bangunan. Rangka, bata, intinya bangunan itu memuai atau menyusut akibat perubahan suhu. Biasanya terjadi kalo suhu mendadak naik atau turun dengan drastis. Sering terdengar saat musim kemarau, karena udara kering dan suhu suka berubah dengan cepat dari panas mentereng siang hari jadi dingin banget di malam hari.

    “Lha kok kedengeran banget?! Kenceng lho, Kap, suaranya!”

    Iya, karena insulasi gedungnya jelek.

    brick brickwall brickwork cement
    Photo by Pixabay on Pexels.com

    Ini efek suka nonton acara renovasi rumah, terutama acara TV Jepang ‘Before After’, hahaha. Gw perhatiin kalo ada rumah tua direnovasi (usia rumah di Jepang itu juga bisa puluhan tahun), suka ditambahin insulasi dinding dari busa (yang terbaru ini dari buih busa/foam yang ketika disemprot bisa mengeras) yang tujuannya itu selain insulasi panas (supaya rumah tetap hangat saat musim dingin) dan juga insulasi suara.

    Insulasi gedung/rumah di negara tropis gw perhatiin biasanya tipis (soalnya emang ga ada kebutuhan untuk insulasi tebal supaya gedung tetap hangat) atau ga ada sama sekali. Efek tinggal di negara tropis yang iklimnya cenderung sama tiap tahun.

    Tapi gw percaya kalo para insinyur dan arsitek itu pasti belajar soal insulasi juga kan; nah, bisa jadi insulasi gedung itu emang udah tipis/keropos karena dimakan usia.

    Suara-suara yang selama ini teredam karena insulasi ya mulai bocor kedengeran karena insulasinya juga udah tipis/ga ada.

    “Kalo suara kelereng?”

    Sistem pipa.

    Dari artikel yang gw baca-baca; biasanya sistem pipa di apartemen itu sentral dari satu pipa utama. Karena banyaknya penggunaan air, baik air panas maupun air dingin, belum lagi pertimbangan pipa memuai dan menyusut, pipa itu salah satu bagian penting dari gedung yang musti dijaga supaya ga gampang pecah. Nah, di dalam sistem pipa itu ada kaya katup dengan kelereng kecil untuk menjaga ketika pipa memuai jangan sampe pecah. Suara kelereng itu suara benturan kelereng di pipa ketika ukuran pipa berubah akibat suhu.

    Gini deh. Kalo memang suara kelereng itu dari lantai atas, harusnya udah sejak lama gw diomelin tetangga di unit bawah mengingat gw punya dua bola bekel dikasih napas dan nyawa. Kalo iya suara kelereng dari unit atas bisa nembus ke unit bawah, gw nonton TV harusnya kedengeran juga kan sampe unit bawah?

    ”Kenapa di hotel ga pernah kedengeran?”

    Karena biasanya insulasi suara hotel itu bagus. Malah suka ada “tambahan” insulasi berupa gorden tebel dan lantai berkarpet. Perhatiin deh lantai hotel, biasanya berkarpet kan. Lalu gordennya juga tebel-tebel. Itu sendiri bisa jadi insulasi suara yang bagus.

    ”Tapi gw tinggal di rumah — bukan apartemen/rumah susun — dan rumah gw tingkat dua, ga pernah denger tuh.”

    Karena ukuran bangunannya terlalu kecil sehingga bunyinya ga signifikan. Apartemen dan rumah susun itu kan tuinggi ya; gede pula. Jadi kalo memuai atau menyusut gitu ya emang bisa kedengeran.

    ”Kenapa cuma kedengeran pas malam hari?”

    Karena kalo di siang hari, antara kita lagi di kantor/sekolah/luar rumah, suara-suara yang ada teredam karena suara dari luar. Kalo ada yang pernah/terbiasa/sedang tinggal di apartemen, biasanya ngeh kalo siang hari itu suara jalanan lumayan kenceng walopun di lantai atas. Kenapa? Karena suhu udara makin panas, gelombang suara bergetar lebih cepat, dan suara terbawa ke atas.

    Malam hari, suasana lebih tenang, suara lebih mudah didengar. Apalagi kalo malam hari perubahan suhu lumayan drastis, langsung deh itu brak bruk brak bruk sak gedung kaya lagi ngulet bunyinya bukan main. Gw awal pindah ke KL ada lah beberapa malam ga bisa tidur. Karena suara dan parno ketakutan sendiri, hahaha. Nah, begitu pindah ke gedung apartemen baru (yang dibangun tahun 2009), gw udah ga pernah denger suara-suara itu lagi.

    Mungkin, mungkin ya, para pengembang dan arsitek di negara tropis ga terlalu mikirin insulasi karena dulu ya iklim tropis cenderung stabil. Ga yang ekstrim poanas atau duingin banget. Tapi makin ke sini, perhatiin deh perubahan cuaca bahkan di negara tropis aja lumayan ekstrim. Jadi gw liat, kebutuhan untuk lebih perhatian ke masalah insulasi itu musti mulai dipikirin dalam skala jangka panjang dan cara renovasi insulasi tanpa mengganggu penghuni. Repot jadinya untuk para penghuni apartemen/rumah susun di gedung tua dengan insulasi yang udah tipis.

    Nah! Semoga cukup menjelaskan ya. Insya Allah ada penjelasan “ilmiah”nya, dan siapa tau bisa minta ke pihak pengembang untuk bikin gedung/rumah susun dengan kualitas insulasi yang lebih baik lagi nantinya.

    Lain cerita kalo mendadak nyium bau kemenyan.

    Nah itu.

  • Heatwave

    Mood: ‘In A Sentimental Mood’ – Duke Ellington

    Hari Jumat kemarin, Wira mendadak demam 38 derajat Celcius. Gw sempet kepikiran, apa jangan-jangan infeksi bakteri lagi; tapi kalo infeksi bakteri, biasanya demamnya itu langsung melejit antara 39-40 derajat Celcius dan macam ga mempan selepas konsumsi paracetamol. Sementara Wira itu demam, pas dikasih paracetamol suhu badannya turun ke kisaran 36-37 derajat Celcius, dan ngeluh sakit kepala. Bahkan di hari Sabtu, demam turun, anaknya masih ngeluh sakit kepala.

    Sempet bingung, ini kenapa. Mungkin gejala selesma/batuk pilek, tapi baru kali ini liat sakit kepala kok sampe dua hari.

    Terus ketauan kenapa, karena dari label botol air mineral, hahaha. Jadi di botol air mineral itu, ada satu merek yang labelnya itu macem… apa ya, iklan layanan masyarakat (?) Ngasih tau fungsi dan kelebihan konsumsi air untuk ibu hamil dan menyusui, menjaga kesehatan, dan… dehidrasi.

    Iya. Wira dehidrasi.

    Demam, sakit kepala berkepanjangan, dan bibir pecah-pecah.

    Udah beberapa hari ini emang Kuala Lumpur panasnya luar biasa. Iya sih, sempet hujan, tapi suhu udara tetap panas dan lembab luar biasa. Mungkin banget terjadi heatwave.

    sunset sunshine travel wings
    Photo by Julian Jagtenberg on Pexels.com — and no, I’m not THAT enthusiastic with the sun

    Besoknya, Rey demam. Hadeh.

    Sama. Dehidrasi ringan. Mirip kaya dulu waktu kami liburan ke Ipoh. Cuaca panas luar biasa plus udara lembab bukan main. Rey cilik sempet nangis menjerit tengah malem karena sakit kepala dan demam selama dua hari waktu di Ipoh. Selepas itu, setiap liburan kami ini udah macem khilafah nyeberang gurun. Botol minum berbotol-botol. Tiap tiga menit udah macem kaset rusak; “Wira, minum! Rey, mana botol airnya? Jangan lupa minum! Udah minum belum?”

    Alhamdulillah, Rey ini tergolong yang kalo makan dan minum itu ga susah. Jadi demam hanya sehari. Terus kami kasih asupan minum dan buah-buahan yang tinggi kadar airnya (semangka) dan kami pasang kompres dingin tempel macem Bye Bye Fever di dahinya, supaya suhu badannya nggak naik. Wira ya tentu aja kami omeli terus supaya mau minum. Asli deh; ada apa sih dengan bocah dan malasnya minum air putih? Hhhhhh. Wira juga ya setelah kami tau anak itu kena dehidrasi ya langsung kami paksa minum air banyak-banyak dan makan semangka.

    person holding key smartphone and plastic bottle
    Photo by i love simple beyond on Pexels.com

    Awalnya gw kira cuma kami aja yang kena dehidrasi kaya gini; tapi ternyata temen-temen yang di Jakarta juga kena. “Anak-anak gw, bahkan sampe anjing-anjing peliharaan, pada lesu gitu juga. Anak-anak sampe demam dan muntah.”

    Fix ini heatwave; dan ternyata tahun ini emang lagi buruk banget heatwave-nya. Di Jepang sampe ada anak-anak meninggal dan masuk kategori bencana alam, masa. Eropa juga terkena dampaknya, bahkan sampe suhunya di kisaran 48 derajat Celcius. Maaaak, gw suhu 40 derajat Celcius di Kuala Lumpur aja jerit-jerit, apa lah ini 48 derajaaaaat.

    Satu hal yang gw syukuri: Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya selama tiga tahun ini, tidak ada kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan. Luar biasa tim BPBN dan pemadam kebakaran beserta tentara memang nih. Ya Allah. Semoga selalu diberi sehat, diberi berkah, dimudahkan segala urusan ya bapak, ibu, abang, kakak, mas, dan mbak sekalian.

    Buat temans di mari, jaga-jaga ya kondisi badan. Gw sempet liat kalo di area Jawa Timur itu suhu udara malah rendah ya? Dieng sampe berapa minus derajat Celcius gitu.

    Kalo udara mulai kerasa panas banget dan badan reaksi aneh-aneh macem demam, sakit kepala berkepanjangan, mual-mual sampe muntah, sekujur badan/persendian sakit, bisa jadi efek heatstroke. Jangan karena kita berpikir, “ah, kan tinggal di negara tropis. Udah kebiasa kok sama matahari,” terus jadi cuek sama badan. Cuaca dan iklim makin nggilani.

    food healthy red summer
    Photo by Pixabay on Pexels.com

    Jangan lupa minum yang banyak, asupan mineral terus dijaga (minum minuman isotonik), makan buah dan sayuran yang mengandung kadar air tinggi, dan sebisa mungkin kurangi kegiatan luar ruangan yang nggak diperlukan. Kalo musti beraktifitas di luar ruangan, sebisa mungkin pake topi. Tetep: Jangan lupa minum.

  • CRC Box (Community Recycle for Charity)

    Mood: ‘Set Adrift on Memory Bliss’ – P.M. Dawn

    Hore ngeblog lagi, hahaha.

    Dua minggu ini adek gw mampir ke KL dan nginep di rumah. Jadi ya jalan-jalan, makan-makan, ghibah-ghibah //eh

    Adek gw ini dari kecil kan suka beres-beres ya; jadi selama dia nginep di rumah gw ya sering mendadak dia nanya, “eh itu lemari baju di kamar tamu gw beresin ya?” Gw ya seneng ada tambahan bantuan untuk beberes, jadi ya hayo aja, hahaha.

    Adek gw juga baru-baru aja ini tau soal Konmari. Sebelumnya gw udah kasih dia buku Monk’s Guide. Sambil beberes, sambil ngobrol soal Konmari, dan dia sempet baca bukunya juga di sini.

    Dari beberes, keliatan dong barang-barang yang udah ga kami pake lagi; terutamanya itu barang-barang bayi. Baju bayi, mainan, sama beberapa kursi macem booster seat dan car seat.

    Nah, di apartemen yang dulu, di area parkir mobilnya itu disediain semacem… Donation box. Bukan kotak kecil gitu sih; tapi semacem kotak gedeeee dari bahan besi (setipe dengan kotak sampah), ada logo daur ulang dan kegiatan/organisasi amal. Nah, di situ kita bisa taro barang-barang yang pengen kita sumbangin atau ingin didaur ulang. Kalo mau Tahun Baru Cina/Imlek tuh, wuidih, langsung penuuuuuh itu kotak. Isinya bisa dari majalah, botol kaca, botol plastik, piring, pakaian, boneka, sampe kasur dan bantal.

    Di apartemen yang baru ini, sayangnya, ga tersedia. Kurang tau kenapa. Gw udah kepikiran sih mau nanya ke pihak manajemen gedung untuk nyediain kotak donasi seperti itu. Tapi ya bisa jadi masalah perawatan juga sih. Kadang ada aja yang naro barang donasinya serampangan; jadinya ya mubazir dan barang-barang yang seharusnya masih layak pakai dan bisa didonasiin ya jadi sampah (istilahnya, “terkontaminasi”/udah ga bisa dibersihin lagi.)

    Omong-omong soal donasi ini; di KL ini lumayan banyak organisasi amal seperti ini. Beberapa juga menerima panggilan ke rumah, kalo mau donasi barang-barang yang gede kaya mebel dan kasur. Tiap-tiap organisasi punya ketentuan dan standar kualitas barang sendiri. Waktu kami pindahan apartemen, ada lemari punya suami sejak dia jaman bujang yang dia pengen donasikan karena ya… Emang udah ga kepake lagi sama kami. Gw sempet ngontak organisasi amal yang waktu itu kebetulan truknya lewat deket rumah; dan dari ngobrol sama CS mereka, ternyata lemari yang rencananya kami mau berikan itu ga memenuhi standar kualitas mereka. “Gagang pintunya sudah kurang baik,” kata mereka. Gw paham banget sih, dan memang seharusnya begitu lah kalo ingin donasi dan membantu orang. Ngasih barang yang masih layak pakai, bukan sampah. Kalo lu dikasih barang ini, lu mau terima ga? Kaya gitu lah kira-kira. Mikirin perasaan orang yang akan menerima. Nguwongke uwong. Memanusiakan manusia.

    Gw sama suami akhirnya setuju kalo sebaiknya lemarinya itu dibuang aja, jadi kami ngontak jasa pembuangan/disposal service.

    Balik ke soal donasi.

    Bulan lalu, gw nerima majalah promo sebuah perusahaan pengembang properti Malaysia di kotak surat.

    DA8C7794-1D56-46DF-9FC2-D272420318EE

    Gw suka lho baca-baca majalah promo gini, atau brosur gitu-gitu, hahaha. Gw suka baca teksnya (copywriting), sekalian belajar bahasa yang menjual gitu. Menarik ngeliat penggunaan kata dan diksi tertentu untuk menjual sebuah barang atau jasa ke konsumen.

    Nah, di majalahnya itu, gw nemu artikel promo/advertorial CRC Box.

    9339B987-3EFA-46A4-A510-2E54E42EBF4D

    Gw cek Instagram mereka, banyak foto kegiatan beserta ajakan untuk 3R (Reduce, Reuse, Recycle,) dan donasi barang. Dari situ, gw kontak CS mereka lewat telepon. Awalnya nanya, mereka melayani pengambilan barang ke area gw ga (tentu saja mereka melayani) dan barang-barang seperti apa yang mereka terima. Mereka ngasih tau supaya ngontak lewat WhatsApp aja beserta alamat gw untuk ngatur jadwal truk pengambilan barang ke rumah.

    Setelah gw ngasih alamat, ga lama mereka ngabarin lagi ke gw jadwal truk pengambilan barang. Di hari pengambilan barang, mereka ngirim SMS ke gw yang isinya nama pengemudi truk, nomor hapenya pakcik pengemudi, beserta plat nomer truk. Gw ngobrol sama pakcik pengemudi dan janjian pengambilan barang pukul 12 siang.

    Pukul 12 siang, pakcik pengemudi dateng dan ambil barang-barang donasi.

    Oh ya, dan semuanya itu gratis tentu saja, hahaha. Biasanya organisasi amal begini ya emang ga memungut biaya sama sekali.

    Lega rasanya bisa ngelepas beberapa barang dan rumah bisa “nafas” sedikit.

    Kesan gw selama pake CRC Box? Seneng, hahaha. Tinggal WhatsApp, ngasih alamat, lalu mereka ngasih jadwal. Cepet pun, nunggu respon ga lama. Bahkan mereka lumayan aktif di Instagram, jadi ga khawatir untuk komunikasi gimana. Kalo-kalo ada barang lain yang perlu didonasikan, gw bakal kontak mereka lagi.

    Terima kasih, tim CRC Box! Terima kasih banyak.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap