• Halo!

    Setelah Inktober, saya sempet bingung akun Youtube saya mau diapakan, hahaha. Rasanya agak sayang kalau dibiarkan menganggur lagi setelah sudah beberapa video saya upload. Jadi saya memutuskan untuk mengaktifkan akun Youtube saya terus dengan video timelapse sketsa saya πŸ˜€

    Ini adalah sketsa dari salah satu pesanan teman saya. Dia meminta tema berupa batik Pekalongan.

    Karena ini sketsa, jadi belum versi final ya, hahaha. Rencananya akan saya gambar ulang di kertas yang lebih besar πŸ™‚

    Ini pertama kali saya menggambar batik dan tangan sedang membatik. Saya baru tau lho kalau cara memegang canting itu berbeda sekali dengan cara memegang pena atau pensil. Mungkin karena di canting itu ada wadah untuk menampung tinta malam kali ya? Sehingga harus hati-hati juga.

    Iseng saya coba praktekin cara memegang canting sambil memegang pensil saya, dan sepertinya sih cara memegang canting itu membuat tangan seniman batiknya jadi lebih luwes dan halus dalam membatik. Makanya motif batik seringnya melingkar-lingkar ya? XD

    Selamat hari Kamis, semua πŸ™‚

  • Kertas

    Kapan pertama kali dirimu berkenalan dengan sebuah benda bagus?

    Misalnya, selama ini pake lipstik merek biasa-biasa saja/drugstore, lalu pertama kali nyobain lipstik merek mewah seperti Dior atau Chanel yang tersohor itu.

    Misalnya, selama ini pake baju biasa-biasa aja — diskonan dari supermarket biasa-biasa saja juga — lalu pertama kali nyobain pake baju dengan kualitas tinggi dan kain yang halus dan adem.

    Misalnya, selama ini makan ya alakadarnya yang penting bisa tergapai tangan dan dompet, lalu pertama kali nyobain makan di restoran super mewah dengan kualitas makanan yang luar biasa dengan rasa yang sangat enak.

    Ketika sudah “berkenalan” seperti itu, biasanya memorinya terpatri di kepala, ya nggak? Hihi. Standar naik beberapa senti (atau beberapa meter), dan jadi bisa membandingkan. Jadi tau kalo ada hal-hal yang “lebih” di luar sana.

    Ini sebenernya mau ngomongin… Kertas.

    Pertama kali saya berkenalan dengan kertas bagus itu ketika saya masih kuliah. Adik saya mengenalkan saya dengan kertas Canson. Kertas yang spesifik untuk menggambar. Variannya ada banyak, dan dia memberikan saya yang varian untuk cat air (watercolor paper).

    Saya pernah bilang di sini kalau cat air adalah musuh terbesar saya?

    Saya benci setengah mati dan cinta setengah mati dengan cat air. Saya sangat mengagumi kebeningan warnanya, kehalusan hasilnya, dan aura mimpi yang selalu terpancar dari karya-karya cat air (film-filmnya Ghibli rata-rata menggunakan cat air untuk menggambar latar belakangnya. Jadi mohon bersabar kalo saya sudah mulai teriak-teriak, “TUWAEK, ITU CAT AIR SEMUA??” setiap saya menonton film-filmnya Ghibli.)

    Dan saya membenci cat air karena kehalusan ilmunya itu.

    “Cat air ini harus sabar,” kata guru kesenian saya saat saya masih SD. Namanya Pak Syamsudin. Beliau sangat sangat sangat mencintai seni. Menggambar, musik, menari… Pernah sekali pak Syam ini memegang wayang golek milik SD kami dan mendadak beliau, iya, ngewayang. Merubah suaranya menjadi cempreng lalu mengajak anak-anak SD berinteraksi dengan si wayang. Kami semua tertawa terbahak-bahak.

    Saat itu ada lima anak berada di teras rumah pak Syam. Kami semua suka ngumpul di rumah pak Syam, karena beliau juga membuka sanggar seni di rumahnya. Ada anggota sanggar beneran, ada yang sekedar nongol buat ngegambar aja, hahaha.

    “Cat air ini harus sabar,” kata pak Syam, sambil memandangi saya yang sedang frustrasi mewarnai biru langit. “Kamu harus menunggu sampai catnya dalam situasi yang pas untuk memberi warna lain. Kalau tidak, tidak berhasil.”

    Ucapan beliau saya ulang-ulang seperti mantra di kepala saya setiap saya berada dalam medan perang melawan cat air.

    Cat air ini harus sabar.

    Nggak ada namanya bisa menguasai cat air dalam sekejap.

    Harus sabar.

    Harus rendah hati.

    Rajin liat tutorial di Youtube, coba cari tips dan trik di Pinterest atau dari FB sesama teman yang suka menggambar.

    Walaupun kadang rasanya ingin melempar kepala adik laki-laki saya yang ngeloyor di depan saya saat saya bersusah payah menggunakan cat air dan dia bergumam dengan entengnya, “cat air kan gampang…”

    Maaf ya, saya bukan mahasiswa jurusan Desain yang dapet nilai A di skripsinya. Nggak kaya kamu 😐

    Ketika saya menggunakan kertas Canson yang diberikan adik saya untuk menggambar dengan cat air, asli, saya… Terkejut.

    Nggak, saya tetep NGGAK AKAN bilang itu gampang.

    Tetapi memang nggak bikin otak saya jadi keriting dalam hitungan detik.

    Kertas tidak jadi lembab ga jelas, kertas yang tebal dan kokoh, warna yang timbul tetap cemerlang.

    OH EM JI. INILAH SURGA DUNIA.

    Sejak saat itu, saya jadi rewel luar biasa soal kertas. Setiap buku sketsa habis — atau sengaja beli buku sketsa karena saya boros — saya bisa jongkok lama banget di depan rak yang penuh buku sketsa dan buku gambar. Tangan saya sibuk mengelus kertas.

    “Nggak, ini terlalu licin. Nggak, ini terlalu kasar — ini buat arang atau pastel, biasanya. Nggak, ini bukan buku sketsa. Nggak, ini kualitasnya kurang bagus.”

    Suami saya sekarang sudah kenyang setiap denger saya merengek mau ke toko buku untuk membeli buku sketsa.

    “Buku sketsa yang seperti apa lagi? Cat air?”

    “Nggak. Buku sketsa biasa aja. Buat pensil sama pena.”

    Suami saya udah nggak mau lagi berargumen “bedanya apah?” daripada saya kuliahin bedanya kertas khusus cat air dengan kertas untuk pena dan pensil yang bisa berpuluh-puluh menit. Dan dia ogah untuk bertanya lebih lanjut, “buku biasa emang ga bisa ya?

    Semalam, saya mencoba menggambar di kertas HVS biasa. Kertas A4 untuk fotokopi. Menggunakan pensil.

    Dan saya kaget.

    SUSAH rupanya. Pensil saya terasa sangat licin dan tidak mantap di kertas. Saya berkali-kali menghapus, dan saya takut kertasnya akan robek karena tipisnya.

    Tetapi ini bukan soal kertas mana yang superior.

    Saya keinget, dulu sebelum kenal dengan kertas Canson, saya toh sudah senang menggambar. Iseng membuat komik sendiri karena ibu saya tidak suka saya membaca komik, hahaha.

    Dan saat itu saya menggambar di mana saja. Buku bekas, buku tulis bergaris… Apalagi kertas HVS biasa. Habis langsung.

    Dan saat itu, saya sangat… Senang.

    Bodoamat jenis kertas apa. Saya senang bisa menggambar. Saya senang ada pensil di tangan saya dan kertas di depan saya.

    Semalam, saya senang bisa diingatkan kembali dengan perasaan itu. Perasaan senang menggambar. Apapun kertasnya. Tetapi keinginan untuk menggambar dan menggambar selalu ada.

    Dan dengan kertas yang jauh lebih baik, kualitas gambar seharusnya jadi lebih baik kan?

    Selamat hari Jumat, semua πŸ™‚

  • Saya ga pernah berani bilang saya ini ilustrator atau pelukis.

    Lha gimana, hasil karya dibandingin ilustrator dan pelukis beneran yang lain kalah jauh.

    Nggak, ini bukan soal humble-bragging atau sok merendah. Sama sekali nggak.

    Karena kalo ngeliat karya orang lain, saya selalu ngerasa iri, marah, terus sebel sendiri. Kenapa ga bisa sebagus itu. “Kok ga kepikiran ya?” “Kok dia bisa ya?” “Itu gimana caranya?”

    Saya lebih suka bilang saya ini tukang coret-coret. Karena emang awalnya selalu itu; coret-coret.

    Tapi kalo ditanya, “Kap, mau jadi ilustrator profesional ga?” Wooooh, tentu aja pengen sekali.

    Waktu Inktober kemarin, sebenernya terbersit sedikiiiiiiiiiit keinginan; siapa tau bawa rejeki saya dapet commission, hahahaha.

    Tapi dari sekian banyak saya menggambar, sering juga saya ngerasa kalah dan bete sendiri. Ngeliat karya sendiri yang udah jadi, dibilangin sih bagus, tapi saya sendiri yang jadi rese. Ih ini anatominya salah, ih ini bayangannya salah, ih ini perspektifnya kok ngaco, AAARGH APAAN INI KENAPA INK-NYA NGASAL?? KOK BISA BANGGA SAMA GINIAN SIH?! *banting kuas* *patahin pensil* *ngesot menuju ujung dunia*

    Apalagi kalo udah berurusan sama cat air. Aduh, ampun deh. Pernah satu kali saya robek kertas sambil nangis. Jengkel kenapa kok ga bisa-bisa, kok kepala ga sinkron, kok cat air ini susah sekali, kok saya bodoh banget.

    Lalu sore ini, saya lagi keliaran di Twitter, nemu komik ini oleh mas Erfan (@ArigatoMacaroni).

    Judulnya sederhana.

    Teh Manis

    B1lGDNRCQAACRI1
    B1lGGwACcAE1dfM
    B1lGNCqCEAAC9n8
    B1lIJvqCUAAQatG
    B1lILSBCIAAHQWk
    B1lIci6CcAAJILP

     

    “Sementara gw meratapi keterbatasan yang gw ciptakan sendiri, anak ini dengan gagahnya menghapus batasan-batasannya sendiri.”

    Teh gw harus manis rasanya.

    Elo juga ya…

    “It’s not whether you get knocked down; it’s whether you get back up” – Vince Lombardi

    Selamat hari Selasa, semua πŸ™‚

    P.S. Trims, mas Erfan, untuk ijinnya publikasikan komik ini di blog saya πŸ˜€

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see β€œFeatured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

English is not my first language, my English teacher gave up on my grammar skills back in high school, and I refuse to use AI, so expect weird and confusing run-on sentences on this blog.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • Urban rainbow