• Neil Gaiman x Eddie Campbell

    Le brain: “Treat yo self”

    Le moi: “I don’t think I really should–“

    Le brain: “TREAT. YO. SELF.”

    *nabung dulu*

  • Logat Medok Saya

    Waktu saya kuliah S1, saya satu-satunya mahasiswa dari kota kecil yang orang (Jakarta) “heits” nggak tau. Cilacap. Kota super kecil yang penduduknya mata pencaharian berupa petani, nelayan, atau karyawan pabrik semen dan Pertamina. Lokasi dekat sekali dengan Jawa Barat walaupun masuk ke region Jawa Tengah. Makanya ada bahasa Sunda yang sedikit nempel di bahasa sehari-hari di Cilacap.

    Di Jakarta, logat medok saya sangat kentara; dan selama satu semester awal saya suka dicela-cela karena logat saya itu. Satu hari di WC cewek ada temen sekelas yang bilang saya “seperti pembantu” — dan dia ga tau ada saya di situ. Sinetron banget? Banget.

    Malu.

    Akhirnya mati-matian berusaha menghilangkan logat. Sampe dikira saya orang Bandung.

    Lalu ada temen kantor waktu masih di Maverick. Pas itu lagi makan siang. Kita ngobrol soal logat.

    It’s a shame you tried to get rid your accent, Kap. Your accent is a part of your identity. In a way, it’s something you grow up with.

    Saya diem.

    Malu.

    Kalo sebelumnya malu karena apa yang orang lain liat dari diri saya sendiri, kali ini malu karena apa yang saya liat dari diri saya sendiri.

    Mati-matian megang penghapus raksasa untuk ngehapus satu bagian besar dalam hidup saya yang udah bersama saya selama 18 tahun.

    Sekarang ketemu banyak temen-temen yang hebat-hebat. Yang rendah hati. Yang rame. Yang seru. Yang ngerti kalo Indonesia itu bukan Jakarta doang. Yang dengan terbahak-bahak setuju dengan slogan “BERSATU KITA NGAPAK APALO MAU GUE DEPAK SAMPE DEPOK”.

    Semoga, dan Insya Allah, saya bisa meniru kerendah-hatian mereka, hebatnya mereka, dan lapangnya jiwa mereka.

    Soalnya kayanya itu aja yang penting.

  • Congratulations, Neil Gaiman!

    Trigger Warning: Short Fictions and Disturbances (Goodreads Choice Awards 2015: Best Fantasy)

    YAAAAAAAAAAAASSSSSSSSSS!

  • Blogger yang rewel

    Nemu satu theme bagus dan cucok, ternyata nggak punya ‘Post Format’.

    *keliaran lagi di halaman themes WordPress*

    *BTW, WordPress 4.4 udah responsive images! Horeeee!*

    *kalo ada yang nanya kenapa dengan theme sebelumnya (Adelle): Tulisannya kekecilan*

    Edit: Ternyata paling bener emang ‘Adelle’.

  • Paket dari Printerous dan Tees

    Beberapa minggu lalu, saya memesan produk dari Tees dan Printerous. Dari Tees, saya memesan produk saya sendiri: tote bag dan kaos dari desain ‘Gerombolan Kucing’. Dari Printerous, saya memesan dua notebook karya teman-teman saya: The Babybirds dan Galih Sakti.

    Agak cerita dulu ya, jadi yang Printerous ini sempet drama sedikit. Karena dua perusahaan ini belum melayani pengiriman ke region ASEAN *uhuk* terutama Malaysia *uhuk uhuk uhuk* *jadi kapan dong?* jadi saya menggunakan alamat tujuan rumah adik-adik saya di Palmerah.

    Maksud saya, apa susahnya? Alamat di Jakarta, pasti sampai dengan selamat dan cepat, bukan?

    Nah.

    Paket Tees sampai dengan cepat dan selamat.

    Paket Printerous… Nah ini. Malah sebenernya saya kaget karena pengiriman dari Printerous ini yang bermasalah karena selama ini denger dari temen-temen, paket selalu tiba dengan cepat dan aman.

    Jadi sudah dua minggu paket belum datang juga. Saya kontak Printerous untuk data paket saya, dan staf CS mereka membantu saya dengan data paket dan jasa kurir yang mereka gunakan. Saya cek di website kurir, lho kok paket dibilang sudah sampai. Diterima oleh “Rizky. Security.”

    … … … Rumah Jakarta nggak punya sekuriti.

    Nah, buat saya pribadi, sebenernya pihak Printerous ga salah sama sekali dalam hal ini. Toh kurirnya yang langsung naro barang di alamat orang gapake nanya nama si penerima atau crosscheck ke adik saya. Malah sebaliknya, pihak Printerous baik banget mau bantuin saya tektokan dengan pihak kurir.

    Saya coba kontak perusahaan kurir dan Printerous di hari yang sama. Pihak kurir merespon lebih awal, dan mengatakan bahwa mereka akan konfirmasi dengan si kurir mengenai alamat. Pihak Printerous menghubungi saya nggak lama kemudian dan memastikan bahwa mereka sudah meminta pihak kurir untuk mengecek ulang.

    Siangnya, adik saya bilang bahwa pihak kurir menghubungi dia untuk kepastian alamat.

    Dua hari kemudian, paket sudah diterima.

    Semoga aja ini bisa jadi pembelajaran untuk selalu crosscheck alamat saat mengirimkan barang ya. Kan jadi repot gini kalo bermasalah.

    Okeeeeee, jadi berikutnya ini kita lihat dua paket dari Tees dan Printerous.

    Untuk Tees, paketnya cukup “terus terang”. Di bungkus paket tertera alamat tujuan dan pengirim beserta keterangan produk yang dibeli.

    Untuk Printerous, sedikit lebih mewah. Di dalamnya ada bubble wrap; sementara di bagian luar paket ada desain untuk menunjukkan identitas perusahaan.

    Untuk Printerous, mereka juga menambahkan kartu bertuliskan ucapan terima kasih dan promosi diskon untuk pembelian selanjutnya. Saya pribadi sangat suka dengan pendekatan dari Printerous karena lebih… Apa ya, “jelas” gitu sebagai perusahaan yang jualan. Tetap berpromosi tapi ya nggak yang intrusif/memaksa. Sekedar mempercantik tampilan paket ketimbang warna coklat biasa. Kartu ucapan terima kasih yang ditambahkan juga mempermanis kiriman.

    Untuk produk, baik Tees maupun Printerous membungkus produk yang dibeli dengan plastik.

    Nah, ini barang-barang yang saya beli.

    Untuk tote-bag, sebenernya saya agak kaget warnanya putih krem karena di website ditampilkannya warna agak kuning. Tapi saya lebih suka warna putih krem, jadi bisa dibilang ini kejutan yang menyenangkan, hahaha.

    Apakah saya akan membeli produk dari Tees dan Printerous lagi? Tentu saja! Malah kalau bisa saya juga jadi kontributor desain di Printerous, hahaha.

  • I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, it’s, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!

    I’m still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer