• Rey Anissa Sarasvati

    *memasuki blog dengan tampang kurang tidur*

    Hmm, jadi tanggal 5 Januari 2017 kemarin, Alhamdulillah sudah lahir si bayi yang diberi nama Rey Anissa Sarasvati. Proses lahirannya lumayan cepat (Alhamdulillah?) walopun seluruh prosesnya itu lebih ke format audio ke saya, ketimbang audio visual, hahaha.

    Jadi awalnya itu jam 12-setengah 1 pagi saya dan Ari masih cekakakan di social media dan grup WhatsApp. Jam setengah 1 pagi, Ari ke kamar mandi untuk wudhu shalat Isya’, sementara saya masih gegoleran sambil ngeliat tab grup WhatsApp #buibuksocmed. Nggak lama, saya ngerasa seperti ada semburan air mendadak dari vagina. Saya langsung ngebatin, “nah lho, apaan nih.” Beda lho ya dengan urin/air kencing dari saluran kencing. Ari keluar kamar mandi, saya langsung masuk ke kamar mandi. Perasaan saya udah deg-degan. Obgyn sudah wanti-wanti di “sesi akhir” trimester tiga ini: Segera ke rumah sakit bila: 1. Terjadi pendarahan, 2. Kontraksi secara teratur atau rasa sakit di rahim yang amat sangat, 3. Ketuban pecah.

    Beda anak, beda kondisi dan situasi.

    Saat Wira lahir, saya mengalami pendarahan. Bukan pendarahan yang gimana, tapi mucus plug udah lepas dan terlihat jelas darah menggumpal (pendarahan, selama jumlahnya nggak banyak, normal terjadi di trimester akhir kehamilan.)

    Nah, saat di kamar mandi, saya mencoba buang air kecil terlebih dahulu. Oh oke, ternyata buang air kecil.

    Eh tapi kok airnya merembes terus ya?

    Sambil berdiri, saya mengoleskan tangan ke rembesan air di kaki saya. Saya cium, nggak ada bau urin. Saya melihat ke arah pakaian dalam saya, air itu berwarna pink. Air bercampur darah.

    “HAH…” saya berseru kaget.

    Ari bilang, saat itu dia baru shalat Isya’ rakaat ketiga ketika dia mendengar seruan kaget saya; dan alarm di kepala dia mulai berbunyi. “Kenapa, Sayang?”

    “Ketuban pecah.”

    “… Oke.”

    Tas yang isinya pakaian saya, pakaian bayi, dan perlengkapan bayi langsung diangkut. Saya berpamitan dengan orang tua saya yang sengaja datang ke KL untuk kelahiran Rey ini sekaligus menemani Wira. Wira saat itu sudah tidur. Kami langsung menuju rumah sakit.

    Sampai di RS, Ari langsung menuju UGD. Suster UGD langsung dengan sigap menyiapkan kursi roda untuk saya dan mengajak saya mengobrol supaya saya lebih tenang sambil mendorong saya ke arah bangsal bersalin.

    “How is your feeling?”

    “Confused…”

    “*tertawa* Kenape ke?”

    “Tak rasa kontraksi langsung pun. I’m afraid this is some sort of false alarm.”

    “Tak lah. Memang begitu pun. Your water broke but you didn’t feel any contraction. It’s normal. You will feel the contraction later on.”

    Di bangsal bersalin, saya dipegang oleh suster lain. Saya disuruh berganti pakaian dan rebahan untuk scan CTG. Suster berkata bahwa mereka akan memonitor hasil CTG selama satu jam, lalu mereka akan mengontak obgyn saya.

    Rasanya… Membosankan. Hanya bisa berbaring melihat langit-langit sementara Ari terkantuk-kantuk di sebelah saya. Saya hanya bisa berdoa supaya proses kontraksi Rey ini nggak memakan waktu hingga 24 jam seperti abangnya, hahaha.

    Selepas satu jam, ada dua hal yang terjadi: Obgyn saya sudah dikabari, dan saya sudah mulai merasakan kontraksi. Rasa nyut-nyutan dan pegal yang menjalar dari rahim ke punggung mulai terasa walaupun lembut. Saya lirik jam dinding di ruang bersalin; “15 menit sekali,” batin saya. “Oke, beneran nih…”

    Suster mengajak saya mengobrol sambil melihat hasil scan CTG. “Is this your first pregnancy?”

    “No. My second.”

    “Ooh, congratulations! Did you have any pain killer or gas when you deliver the first baby?”

    “… Uh… No?” Saya berusaha mengingat apakah obgyn saya saat kelahiran Wira memberikan saya semacam penghilang rasa sakit… Dan saya yakin nggak.

    Suster memandang saya dengan kaget. “Oh. You must be really strong, then.”

    “… … Thank you?”

    “We do have pain killers and gas, just in case if you need it. Just call me if you want to use the gas mask.”

    “Uh. Okay.”

    Lalu saya menatap Ari ketika suster pergi meninggalkan ruangan. “Gas? GAS? KOK PAS LAHIRAN WIRA AKU GA DAPET YA YANG GITU-GITU?” Ari juga sama bingungnya, hahaha. Ya kita kira kalo selama ini ya emang ga ada yang namanya penghilang rasa sakit atau gas gitu pas lahiran.

    Suster melongok kembali ke ruang bersalin dan berkata, “you better sleep. The contraction is still mild. Just go to sleep so you can have energy later on.” Jadi dengan rasa kontraksi pelan yang berdenyut-denyut di perut saya, saya berusaha tidur. Ari juga tidur di sofa yang disediakan di sebelah tempat tidur saya.

    Pukul tujuh pagi, suster kembali masuk. Dia memberikan saya obat suppository (dimasukkan lewat lubang anus) untuk mengencerkan feses. Jadi proses bersalin itu biasanya, jaman dulu, juga membuat perut berkontraksi untuk mengeluarkan feses/buang air besar; sehingga banyak bayi yang memang dilahirkan bersamaan dengan kotoran perut si ibu. Di perobatan medis modern sekarang, si ibu diberikan obat pencahar suppository agar lebih cepat bekerja di badan untuk membersihkan isi perut terlebih dahulu.

    Dan APAPUN itu obatnya, SAYA MAU DAN SAYA BUTUH #KapkapDutaWasir #KapkapDutaSembelit Gile, ga sampe 10 menit saya langsung ke toilet dan bersihin isi perut saya. Buat pelanggan sembelit DAN wasir parah seperti saya, itu berkah lho, BERKAH.

    Pukul sembilan pagi, obgyn saya tiba. Dia mengecek bukaan, “baru bukaan empat. Kita tunggu empat jam lagi. Kalau sudah bukaan delapan, kita bisa mulai. Kalau belum, bisa induksi.” Saya hanya bisa mengangguk. Kontraksi mulai sedikiiiiiiiiit mengganggu. Mulai pegel, mulai bikin kzl, mulai bikin pengen ngamuk.

    Nggak lama, suster kembali datang membawa infus. Infus oxytocin, katanya. Oxytocin adalah hormon yang biasa muncul saat menyusui (breastfeeding) dan/atau sedang jatuh cinta. Makanya disebut “love hormone”/”cuddle hormone”; dan oxytocin ini fungsinya untuk mempercepat kontraksi.

    Setelah dipakaikan infus, nah itu deh… Mulai…

    Dari saya masih bisa diem aja ketika kontraksi menjalar, mulai masuk ke dzikir. Dari dzikir, mulai masuk ke takbir. Dari takbir, mulai marah-marah di dalam kepala kenapa dunia brengsek bener sih ada pula ini flat ert sosiyeti sama para fasis macem Trump bikin susah orang dan rusak dunia GILA LU GW BERJUANG KONTRAKSI DAN LAHIRAN ANAK MANUSIA KE MUKA BUMI BUKAN BUAT DIRUSAK SAMA GELOMBANG SENG KARATAN MACEM LU PADA HIH.

    Sampe saya akhirnya minta gas ke suster. Gasnya adalah Nitrous Oxide — alias “gas tertawa”. Tapi nggak ada tertawa-tertawanya sama sekali saya. Sekali hirup, rasanya amburadul. Kepala melayang, tapi di saat yang sama, badan terasa beraaaaat sekali. Begitu mulai terasa kontraksi, saya langsung memegang topeng gas dan menghirup gas itu. Aduh, bisa dibilang saya giting secara legal deh (?)

    Nah, kirain udah nih ya, kelar aja nunggu kontraksi.

    Ternyata nggak. Suster dateng lagi dan menyuntikkan entah apa — saya menangkap kata “epidural” — yang katanya, “this will relax your muscle to open up the cervix.”

    NAH ABIS ITU DAH…

    Semuanya versi audio di saya.

    Seperti mimpi.

    Kontraksi mulai menghebat, saya udah nggak bisa lagi liat jam untuk ngitung berapa kali kontraksi terjadi. Dari yang saya masih bisa pegang topeng gas, sampe topeng gas saya mesti dipegangi orang lain di wajah saya — saya yakin Ari. Saya hanya bisa memejamkan mata sambil mengeluarkan suara menggeram macam hewan setiap kontraksi terjadi. Suara Ari di samping saya kadang terdengar jelas, kadang terdengar jauh sekali.

    Selepas itu, saya dengar suara-suara lain. Suara suster, suara Ari. Saya lupa-lupa ingat, tapi rasanya saya sempet menggeram, “bayi sudah mau keluar!” Saya nggak tau juga kenapa saya ngomong gitu. Hanya rasanya sebadan-badan itu ngasih teriakan di kepala saya, “siap-siap Nin!”

    On another note, yes, nggak teriak “MAU BERAK!” lagi!

    Saya hanya bisa mendengar seruan dari suster, “wait for the doctor! Wait for the doctor!” Dan saya hanya bisa merespon secara otomatis dari sekujur badan saya. Mulut saya seperti protes sendiri, “HOW?” GIMANA CARANYA WA NUNGGUIN DOKTER SEMENTARA INI BOCAH UDAH MAU BEDOL DESA?

    Mata saya masih terpejam, tapi pendengaran saya jelas mendengar seruan-seruan di dekat saya. Nggak lama saya mendengar suara obgyn saya memberikan instruksi. Suara Ari dekat saya. Suara suster meminta saya memegang paha saya. Lucunya ya, waktu saya disuruh pegang kaki saya untuk posisi lahiran, di kepala saya itu kaya yang, “AJIB GIMANA CARANYA GW INI DI PENGARUH GAS GERAKIN TANGAN AJA GA BISA!” tapi entah gimana… Tangan saya bisa bergerak. Tangan saya bisa menahan kaki saya. Ari cerita, saat dokter mengecek, ternyata saya sudah bukaan 10. Jadi prosesnya memang cepat sekali.

    Dan terdengar lah itu suara perintah yang selalu ada di bangsal bersalin.

    “PUSH!”

    Lalu seruan-seruan berikutnya menyusul yang hanya saya bisa dengar.

    “OK. Wait. Don’t push yet. Save your energy. Now… PUSH!”

    “Ayo Sayang, Sayang bisa…”

    “PUSH!”

    Saya hanya bisa memejamkan mata sambil megap-megap menarik nafas dengan topeng gas di wajah saya. Saya yakin Ari yang memasang topeng gas dan memegangi kuat-kuat. Setiap tarikan nafas saya, rasanya kepala makin melayang dan badan makin berat. Tapi badan saya rasanya “HAJAR WEH!” untuk mendorong bayi itu keluar. Saat itu saya baru paham yang namanya gerakan reflek dan insting.

    “OK. Wait until the next contraction– NOW PUSH!”

    Lalu terdengar suara tangisan bayi memecah kehebohan suara-suara orang dewasa. Saya masih memejamkan mata dan hanya bisa bergumam, “Rey. Anakku,” berkali-kali. Berat banget rasanya mau membuka mata.

    Beberapa menit kemudian, yang rasanya seperti berjam-jam di kepala saya, saya merasakan ada gumpalan beban di badan saya. Saya membuka mata, dan tampaklah muka Rey yang super kesal di depan mata saya. Seolah-olah dia protes, “KENAPA KAMU BANGUNIN SAYA KETIKA SAYA SEDANG TIDUR, HAH?”

    Persis abangnya, hahaha.

    Ari langsung mengadzani Rey sementara saya menggendong Rey untuk beberapa lama. Selepasnya, Rey kembali dibawa suster untuk diperiksa dan dites.

    Saya kembali memejamkan mata. Tertidur.

    Tetapi pendengaran saya masih terjaga. Saya mendengar Ari memanggil-manggil saya dengan nada khawatir, lalu saya mendengar obgyn saya berkata, “it’s okay. She’s really tired and she inhaled a lot of gas before. It’s okay. Let her rest.”

    Saya tertidur yang rasanya itu lamaaaa sekali. Rasanya seperti tidur berhari-hari.

    Ketika saya membuka mata, Ari berkata saya tidur selama satu jam.

    Bisa dibilang, itu tidur terenak saya sebelum akhirnya saya terbangun setiap 2 jam untuk menyusui bayi malam-malam, hahaha.

    Selamat datang, Rey Anissa Sarasvati.

     

  • [Review Ala-Ala] Rogue One: A Star Wars Story a.k.a DONNIE YEEEEEEEN ASDFASDFASDF

    Kalo saya sedang menghadap ke layar kosong untuk menulis entri blog, saya suka ngerasa bingung mau nulis apa. Seringnya, saya berpikir, “yaelah, nulis soal hamil lagi? Anak lagi?

    Dan saya suka ngerasa agak sedih setiap hal itu terjadi. Karena iya, soal hamil lagi. Soal anak lagi.

    Label saya saat ini, dan saya sadar betul, adalah sebagai seorang ibu.

    Ya emang udah otomatis juga sih; saya ini ya seorang ibu. Mau digimanain juga nggak bisa diganti.

    Tapi kangen juga rasanya ya menulis hal-hal “nggak penting” atau selewat kegiatan saya sehari-hari yang sebenernya sampah banget, hahaha. Seperti waktu saya masih kuliah. Curhat nggak jelas soal tugas kuliah, temen-temen sekampus, anime yang ditonton, dan segala macemnya. Tapi ya itu kan udah lewat. Saat ini kondisi saya ya seperti ini.

    Saat ini saya menulis ini sambil mendengarkan lagu ‘All Time Low’-nya Human Condition. Ceritanya menghidupkan ‘kenangan’ jaman kuliah, hahaha. Ngeblog sambil dengerin lagu.

    Omong-omong tontonan, film terakhir yang saya tonton itu ‘Rogue One: A Star Wars Story‘ alias ketika keluarga Skywalker nggak bikin masalah sak galaksi — eh, oke, masih sih. Tapi ya… Gitu lah.

    Saya selalu ngerasa, dan saya yakin saya bener, kalo Disney ini sebenernya ya masalah ngeruk uang dari para fans. Setelah meledaknya Star Wars VII: The Force Awakens tahun 2015 lalu, Disney mengumumkan akan ada Star Wars VIII DAN Star Wars IX untuk dua tahun ke depan. Gila dong?

    Nah, lalu awal tahun mereka mengumumkan, “oh sori, Star Wars VIII nggak jadi tahun 2016. Kita lagi ngejar jadwal syuting dan produksi nih. LOL.

    Tapi kita punya kisah prekuel Star Wars IV lho. Namanya ‘Rogue One’. LOL.

    Star Wars VIII? 2017 dunk. LOL.”

    CETAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNN.

    Kebayang tiap taun dipastikan akan ada antrian para fans dengan lightsaber masing-masing yang pendapatan per filmnya udah nutup biaya produksi dan balik modal?

    Bahkan film yang sukses seperti ‘Moana’ itu saya yakin “cuma sempalan”. Ibaratnya, basah-basahin dompet dikit lah. Ngasih tau kalo Disney masih punya lini bisnis utama berupa animasi.

    BTW, soal Rogue One, banyak yang ngasih opini macem-macem. Antara “ya emang harusnya gitu” dan “OMG KOK GITU SIH?” Nah, saya masuk ke kategori “ya emang harusnya gitu,” plus di bagian akhir film itu saya jerit-jerit liat karakter kesayangan kita semuaaaaah tampil, ahahaha (requiescat in pace, Carrie Fisher. You will always be missed.)

    Jadi gimana Rogue One menurut saya?

    Bagus, walaupun dibandingkan dengan hebohnya The Force Awakens itu masih jauh lebih heboh The Force Awakens. Di awal film, malah rada keteteran buat saya. Ngantuk banget bray. Keteteran tapi berusaha “ngebut” dengan lompat-lompat setting planet dan itu bikin saya bingung (“eh ini di penjara? Lho terus kok udah di markas Rebels? LHO INI DI MANA SIK?”) Pengenalan karakter yang lumayan banyak dengan lompat-lompat lokasi itu bikin otak ibu hamil ini macet sekejap. Bandingkan dengan The Force Awakens ketika Captain Phasma muncul dan bikin saya kejet-kejet di kursi CAPTAIN PHASMA AKU PADAMUUUUUHHH (eh tapi di The Force Awakens, beliau ini birokrasi banget ga sih? Padahal kapten gitu, tapi lebih banyak ke “EH KOK LOE KAGA PAKE HELM HAH?”)

    Yang saya agak sayangkan itu humornya agak “tersendat”. Kaya… Apa ya, restrained humor? Aduh, gimana sih ngomongnya. Iya, karakter K-2SO itu emang nyeletuk celetukan yang lucu-lucu dan sinis, tapi ya gitu. Bandingkan dengan The Force Awakens yang lawak banget.

    Finn: Okay. Stay calm. Stay calm.
    Poe Dameron: I am calm.
    Finn: I’m talking to myself.

    You just knew that with the same franchise, somehow the effort is not as maximum as the previous one(s).

    Lalu… Musiknya.

    Michael Giacchino adalah musisi hebat, itu saya akui. Hasil karya dia dia banyak film Disney/Pixar udah banyak banget dan selalu ngubek-ngubek perasaan.

    Nah. Masalahnya. Ini. Star. Wars.

    Saya akan terdengar seperti fan elitis sombong, tapi ada pakemnya dalam mengisi musik Star Wars; dan kebetulan Michael Giacchino agak keteteran megang tugas segede ini dengan fanbase serewel ini, hahaha.

    Ada beberapa bagian ‘Imperial March’ yang dipotong dan itu bisa dibilang ngerusak mood film ini. Yang juga saya sayangkan adalah kenapa tiap lokasi nggak pake lagu tema khusus. Soalnya, itu cirinya Star Wars, makanya ada lagu ‘Cantina Band’. Padahal saya suka banget lagu ketika adegan awal di planet Jedha — rada-rada mirip lagu biksu Tibet.

    Kelebihan Rogue One adalah, eng ing eng, makin memantapkan betapa pentingnya adegan pembukaan di Star Wars IV. Saya pernah nyeletuk ke Ari waktu adegan awal Star Wars IV, ketika pesawat Princess Leia ditembakin Star Destroyer. “Kaya Karimun lagi di-bully Humvee…”

    *Kapkap dimaki-maki sak fanbase in 3, 2, 1…*

    Di Rogue One juga ditunjukin kejinya Darth Vader; dan itu sangat saya hargai. Karena gini deh, di Star Wars IV-VI itu Darth Vader “jahat”nya kaya gimana sih? “Imma force choke everywhere, LOL.” Di Star Wars I-III… Pemuda alay lari-lari di padang rumput. Ada bagian yang memang kejam, ketika Anakin Skywalker membantai murid di sekolah Jedi, tapi ya sudah. “Itu saja”.

    Di bagian akhir film, woah, bener-bener Darth Vader yang asli nebas lightsaber kanan kiri depan belakang. Force choke dan lightsaber ngayun kanan kiri. Bengisnya bengis banget. Saya yakin tim produser Disney udah yang, “udalah, kita kurang keji apa lagi di The Force Awakens dengan First Order yang eksekusi penduduk desa? Darth Vader dibikin kejem dikit juga ga masalah. Lha wong dia yang mulai kok.”

    Lalu makin banyak karakter yang bervariasi. FAVORIT SAYA TENTU SAJAH CHIRRUT IMWE OLEH DONNIE YEN, AHAHAHA. Saya suka karakter Chirrut Imwe karena dia ini bukan Jedi sama sekali, tapi dia yang paling ngotot percaya The Force sampe bikin dzikir The Force-nya. Yang saya suka, ucapan “I’m one with The Force and The Force is with me,” yang awalnya seperti lawakan justru berperan jadi ucapan paling penting — dan paling menguras air mata — di bagian akhir. In many context, for me, he’s the truest Jedi ever. Dinamika hubungan dia dengan Baze Malbus juga kocak.

    Chirrut Imwe: “The Force protected me”
    Baze Malbus: “I PROTECTED YOU!”

    Buat saya, Rogue One: A Star Wars Story ini nilainya 8/10. Sebaiknya ditonton setelah menonton Star Wars IV untuk lebih memahami konteks Star Wars secara keseluruhan.

    May The Force be with you on 2017.

  • Kebahagiaan Dalam Bungkus Burger

    Saat saya tumbuh besar, ibu saya selalu berkata bahwa “kebahagiaan itu ketika anak-anakmu menikmati masakanmu” — dan jujur aja, hal itu mau nggak mau dan sedikit banyak terpatri di kepala saya.

    Nah, kebetulan saya ini 100% ibu rumah tangga, dan ya… Saya memang memasak untuk Ari dan Wira. Ya habisnya ngapain lagi dong kalo nggak memasak dan mengurus rumah? Hahaha. Walaupun kesannya “domestik banget sih!” atau mungkin, “wah, nggak feminis!” Saya bisa bilang bahwa saya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan saya tetaplah seorang feminis, hahaha. Menjadi seorang ibu rumah tangga, wanita Jawa, muslim, dan seorang feminis? Kenapa nggak?

    Oke, balik ke soal kebahagiaan yang sama dengan memasak untuk keluarga.

    Saya rasa hal itu juga sering menjadi sorotan publik — paling tidak, “kehangatan keluarga” itu yang sering jadi bahan jualan produsen makanan di media. Seorang ibu yang memasak sambil tersenyum dengan make-up sempurna dan rambut tertata rapi lalu menghidangkan hasil masakannya yang berupa ayam panggang utuh plus sayuran dan daging dan intinya mah menu kendurian sekampung yang entah gimana caranya bisa dimasak ibu itu dalam waktu satu hari saja dan dinikmati oleh si ayah beserta (biasanya) dua anaknya (karena KB, yes…)

    Saya mengakui, bahwa, iya, menyenangkan kok memakan masakan rumah. Jujur ya, kadang bukan soal rasa. Malah ada temen saya berkomentar, “gue suka kangen masakan rumah saking nggak enaknya, hahaha. Malah rasa nggak enak itu yang bikin gue kangen masakan nyokap gue.” Tapi ya karena rasa masakan itu lah yang lekat di kita dari kita kecil sampai besar. Rasa yang akrab, yang mengingatkan akan rumah.

    Soal kebahagiaan.

    Hari ini, badan saya nggak karuan kondisinya. Kemarin sakit kepala dan pusing, hari ini mendadak wasir kambuh jam 6 pagi — bener-bener kambuh nggak ada angin nggak ada ujan mendadak sakit aja. Eh ya bagus sebenernya sih (?) soalnya bikin saya kebangun dan shalat Subuh (adzan Subuh di Malaysia itu pukul 05:45 pagi) — badan pegel semua, dan sindrom piriformis saya kumat.

    Akhirnya, untuk makan siang, saya memutuskan untuk memesan makanan fast food. Awalnya, saya memesan KFC untuk saya sendiri. Wira bilang kalau “aku makan roti coklat aja deh…” Tapi mengingat anak ini bisa banget kelaparan dalam waktu 15 menit berikutnya, jadi saya tawari, “Wira mau McDonalds Happy Meal?”

    Wira bengong. Ngeliat saya nggak percaya.

    Happy Meal? Buat Wira?

    Lho ya iya. Buat kamu makan siang, jadi ga laper.

    Bener buat Wira? Happy Meal?

    Iya. Mau yang mana? Ada burger, ada bubur, ada nuggets…

    Anak itu meloncat-loncat saking senengnya. “Wira mau burger! Mau burger yang pake keju! Asik! Makasih ibuuuu!” Lalu selama 60 menit menunggu staf McD dateng, dia bolak-balik dari kamar dia ke pintu depan untuk nungguin pesenannya tiba, hahaha. Ketika pesanan kami berdua tiba, kami makan bersama di meja TV sambil rebutan kanal saluran TV (Wira maunya nonton Disney Channel, saya maunya nonton LiTV).

    Dari situ saya belajar bahwa… Ya, masakan rumah memang menyenangkan kok. Tapi kalo keadaan nggak memungkinkan ya nggak apa-apa. Nggak usah dipaksa juga. Bahkan dari hal sesimpel makanan fast food, kebahagiaan itu tetap ada.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap