• Deactivate IFTTT

    IFTTT (If This Then That) itu semacam… Apa ya, servis kalo “saya melakukan ini, hasilnya ini”. Jadi semacam, aduh bingung ini jelasinnya soalnya saya juga kurang paham teknisnya, oke ini aslinya dari bahasa pemrograman IF THEN. Jadi kalo saya naro foto di Instagram, IFTTT ini akan naro gambar yang sama juga di blog saya ini. Ya sebenernya cukup jelas sih ya, soalnya kan keliatan juga di sini, hahaha.

    Nah lalu kenapa di-deactivate? Sebenernya simpel: Saya ga suka hasilnya di tampilan handphone/mobile. Fotonya nggak bisa menyesuaikan dengan besarnya layar itu lho. Jadi gambarnya guede dan teksnya tetep cuilik-cuilik.

    Selain Instagram, saya juga gunakan fitur IFTTT untuk Pocket – WordPress, tapi sama aja ini saya juga kurang suka. Karena tautan/link-nya nggak kebuka. Sekalinya ada link itu ke websitenya IFTTT. Kan nganuh.

    Jadi sekalian saya hapus aja semua, hahaha. Saya juga ngerasa selain pengulangan/redundant, ini juga seperti saya itu, mmmmm, curang gitu ga sih? Kaya, saya sebenernya ga ngeblog, tapi konten blognya terus ada karena saya apdet dari media sosial lain. Ya sebenernya yang ngerasa gitu sih saya aja ya, hahaha. Kalo ada yang seperti itu (konten ditarik dari media sosial lain) ya nggak apa-apa. Kan masing-masing orang ada pilihan sendiri-sendiri.

    Dan ya, ini seperti janji saya yang ke-83295734203942 kali untuk rajin ngeblog. Saya sendiri suka merasa gimana ya, soal ngeblog ini. Bukannya nggak ada bahan (bahan komentar dari saya mah banyak), tapi saya rasanya kok makin ke sini makin ragu-ragu untuk ngeblog soal banyak hal — terutama soal anak. Saya parnoan, dan saya nggak pengen terlalu ngebuka kehidupan pribadi Wira dan (Insya Allah) adiknya ke blog (walopun saya tau yang baca blog ini juga ga banyak-banyak amat). Ironisnya, saya nulis banyak soal Wira di Path saya, huhu.

    Kadang saya kangen dengan rasa ketidakpedulian saya akan ngeblog soal apapun di blog saya jaman dulu, hahaha. Bahkan hal paling sesepele tugas kuliah pun saya tulis. Opini atau rasa setuju/tidak setuju saya akan satu hal ya saya tulis aja hayu. Mungkin karena makin tua dan makin meluasnya media sosial beserta kasus-kasusnya itu bikin saya makin merasa “udah lah, simpen aja opini lu buat diri lu sendiri, Kap…” Ya memang musti baik-baik milih topik sih ya, hahaha.

  • Ngeblog di… Path? WordPress?

    Kadang saya bertanya-tanya kenapa yang namanya ngeblog itu kok ya malas sekali. Padahal dibilang “nggak nulis panjang-panjang lagi sejak ada Twitter LOL” itu ya nggak juga. Saya tetep nulis puanjang-puanjang di Path dan biasanya bikin saya sendiri ngebatin, “ahelah, sekalian aja ditaro blog, Kap…” Tapi yang bikin saya heran adalah, kenapa kalo nulis panjang di Path itu saya betah sedangkan nulis di WordPress app itu saya ga betah ya?

    Apa karena tampilannya kah… Sotoynya saya, karena font di Path itu lebih kecil — dan buat saya jadi lebih enakan dibaca (saya penggemar ukuran font kecil, hahaha) — dan warna merah. Oke, ini agak ajaib tapi… Entah ya, kalo di app WordPress itu tulisan font gede-gede, warna biru kalem malah bikin saya bingung mau nulis apa, hahaha.

    Sebenernya ada juga sih isu teknis yang bikin saya agak malas menggunakan app WordPress: uploading pictures. Memang lebih enak ya kalo ngeblog dari hape kalo pake foto karena kan kasarnya tinggal cekrek kamera lalu upload. Nah, masalah teknis di app WordPress ini, seringnya foto yang di-upload itu nanti dinyatakan/ada notifikasi ga ke-upload lalu kepaksa lah upload foto yang sama lagi dan pas cek di tab Media… Eng ing eng, nongol dong beberapa file foto yang sama. Kan kesel. Masalahnya, ini masalah udah ada dari lama dan udah sering diangkat di forum para pengguna tapi ya masih ada aja.

    Ya semoga aja nanti isu teknis ini bisa cepet diatasi. Untuk ngeblog, memang musti buka laptop ya, hahaha (lebih nyaman juga sih ngetik pake laptop, karena minim typo, hehe)

  • ‘Everything I Never Told You’ – Celeste Ng

    img_0476-1

    Kelupaan. Selesai dibaca (akhirnya!) pas mudik kemarin, di Jakarta.

    Ga pengen bilang “INI BUKU HARUS DIBACA SEMUA ORANG TUA” tapi… Bisa dibilang begitu sih. Topik utamanya itu tentang sebuah keluarga, dan dinamika dari orang tua ke anak dan sebaliknya itu tertulis jelas di sini. Bersama dengan ambisi dan harapan masing-masing karakter di cerita ini.

    Ya tapi kalo bukan orang tua juga tetep bagus dan gapapa baca buku ini ? Buku bagus lho *lho kok jadi promosi*

    Buat yang pernah baca atau nonton ‘Lovely Bones’, ini novelnya mirip-mirip lah nuansanya. Jadi ada satu karakter yang meninggal dan dicari tahu penyebabnya, tapi bukan dalam bentuk cerita detektif atau thriller. Lebih ke flashback yang lama-lama bikin kita ngerasa, “… Oh gitu…”

    Ada lima karakter utama di sini: ayah, ibu, dan tiga anak. Masing-masing dengan harapan, ambisi, ketakutan, dan jiwa masing-masing.

    Yang gw tertarik: karakter si ibu.

    Pertama, karena gw seorang ibu.

    Kedua, karena penulisnya, Celeste Ng, jago banget menangkap harapan dan problem yang dihadapi wanita pada tahun 1950-an; dan sedikit banyak, karakter ibu ini mengingatkan akan diri gw.

    Dan semua ketakutan dan ambisi karakter ibu ini mirip dengan gw; ketika gw melihat “kejatuhan” si ibu, rasanya itu seperti ditampar dan diingatkan, “ini yang bakal kejadian kalo lu ga ati-ati sama diri lu, Kap.

    Buku ini mengajarkan bahwa dua orang yang terluka jiwanya kemungkinan besar akan memproyeksikan itu ke anak-anaknya; dan membuat anak-anak itu bingung, takut, dan tidak bahagia.

    It reminds me of some wise words when Wira was still a baby.

    “Seperti anjuran keselamatan saat situasi darurat, Kap. Selamatkan diri lu dulu sebelum lu mau menyelamatkan orang lain. Orang tua aja dianjurkan untuk pake masker oksigen dulu baru pakein masker oksigen ke anaknya kalo di pesawat.

    You have to save yourself before you save your family.

    Untuk membentuk Wira sebagai pribadi yang utuh dan baik, gw harus bisa memperbaiki diri gw dulu.

    Dengan cara memaafkan diri gw.

    … And I hope I’m doing a good job on that…

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap