• Shiseido ‘High School Girls?’ TVC

    Temen saya, Glenn, bertanya begini di Path:

    Ini yang di kepala aku ya, panjang banget.

    1. Ini iklan beneran? Apa scam?
    2. (Pihak) Shiseido mau gitu?
    3. (Gimana) perasaan para perempuan liat ini iklan? Selucu laki yang liat?
    4. Kenapa di headline beritanya dibilang Makeup Ad, bukan Shiseido Ad? (Refer ke http://www.adweek.com/news/advertising-branding/ad-day-remarkable-makeup-ad-high-school-girls-has-one-hell-twist-167710)
    5. When (are) deeper truths hide in plain sight?
    6. Simbol-simbolnya cocok buat remaja?
    7. Kalo iklan beginian dipropose ke klien sini, gimana?
    8. Apa gak “wah itu make upnya banci”?

    Lalu ini yang saya jawab:

    Kalo di Jepang kayanya untuk gender-bender lebih “biasa” buat mereka, terutama karena pengaruh anime manga. Cewek dandan kaya cowok, cowok dandan kaya cewek. Minimal anak mudanya. Untuk dandanan juga cowok-cowok di Jepang sama Korea udah ga “malu” untuk pake make-up (lebih metroseksual?)

    Yang aku penasaran, justru gender-fluid ini di Jepang. Iya, anak mudanya lebih nerima. Tapi generasi tua Jepang itu kan saklek banget ya, belum lagi Jepang adalah salah satu negara yang paling seksis. Hebat juga ya manajemen Shiseido nerima ide iklan begini. Tapi emang iklan Jepang sering aneh-aneh sih ya.

    Eh tapi kabuki aja isinya cowok semua ya. Dan mereka memerankan karakter cewek. Takarazuka itu musikal yang isinya cewek semua dan memerankan karakter cowok. Nrimo-nrimo aja orang Jepang mah.

    1 dan 2. Kayanya beneran. Nongol di akun Youtube resmi Shiseido plus behind the scene. Mau… Ya mungkin ? Udah banyak contoh perusahaan Jepang ambruk karena para manajernya ga mau dengerin input anak muda. Mungkin mereka belajar dari situ. “Bikin yang (setengah) sinting sekalian! Make it viral!”

    3. Aku perempuan dan aku gapapa.

    4. Mungkin karena reporternya murni nemu konten dari viral/buzzwords? Kalo pasang nama Shiseido di judul, dianggep promosi oleh pihak Shiseido? Atau kebijakan lain menurut editor ?

    5. Ketika apa yang tampak tidak seperti yang dikira *tsaaah* #kapkapbijak. Kayanya — KAYANYA — ini sedikit “sindiran” dan “referensi” ke iklan itu. Sempet ada shot sekilas nyorot ke kaki si siswa naik meja, itu ngena banget ke kebiasaan orang Jepang yang rada pervert/peeping-tom/tukang ngintip. Pas cilukbakekok cowok, macem, “hayooooo, salah kaaan?” Terus di artikelnya juga ditulis, shot di awal sengaja gambar cewek untuk “masang” pikiran bahwa yang ada di ruang kelas itu cewek beneran. Pas kenyataannya cowok, baru dibilang deh “apa yang lu liat pertama/first impression belum tentu sama dengan kenyataan”

    6. Mungkin cocok. Temanya anak sekolah, tapi ngena juga ke pasar yang lebih luas. Dan mereka pake kata “cute”, biasanya lebih sering dipake oleh produk make-up untuk remaja. Kalo yang lebih dewasa, biasanya “elegant” atau “pretty”. Ini “cute”. Mungkin Shiseido pengen masuk ke konsumen remaja. Kalo liat bentuk produknya sih mungkin ya. Plus, musiknya. Lebih hip. Dan talent cowoknya pada guanteng-guanteng gitu (jadi kebayang shoujou-manga. Kyaaa, notice me, senpai~)

    7. Mungkin kurang cocok. Bakal rame diomongin dan dianggap kontroversial. Indonesia masih yang “cowok harus keliatan cowok! Cewek harus keliatan cewek!”

    8. Untuk pasar Jepang, mungkin nggak ngaruh. Inti pesannya “COWOK AJA BISA CUANTIK, KENAPA LU NGGAK?” Faktor kawaii/cute di Jepang kan kenceng banget buat anak-anak muda, terutama cewek. Bahkan dari kemasannya aja aku rasa bakal menarik pangsa pasar mereka, pah. Untuk Indonesia, aku ga bisa bilang karena aku bukan target market mereka (ga punya duit, hahaha) tapi kalo dikasih sih ya nggak nolak #mureeee

  • Fee Fi Fo Fum (2015)

    ‘Fee Fi Fo Fum’ (2015)

    Fee-fi-fo-fum,
    I smell the blood of an Englishman,
    Be he alive, or be he dead
    I’ll grind his bones to make my bread

    Monochromatic study. Watercolors.

  • Red Hood (2015)

    ‘Red Hood’ (October 2015)

    Monochromatic study. Watercolors.

  • I Decided to Discontinue My Inktober

    Uh, so… Most of you here might have seen my Inktober’s submissions slowing down even up to a halt.

    Yeah, I decided to discontinue it. I turned my focus on watercolors study instead. I might doing Inktober wrong because I keep doing the same thing over and over again. I don’t feel myself getting better in inking and coloring, and I really want to improve myself — and one of the ways is through watercolors. Watercolors is some kind of my Everest.

    However, I learned one thing from Inktober though. Strictly using one color — black — without any shading from markers. You can clearly see why I love ‘The Raven’ and ‘The Price’ pieces so much. I learned how to limit myself on one color only and express myself in unlimited ways.

    Here’s for my fellow friends still doing Inktober: Keep the good job. Hopefully I will re-join the Inktober forces again on 2016, Insha Allah.

  • 🔖 “Who is The Architect?”

    Keliaran di blog-nya Fikri, nemu fan theory soal The Matrix (ini lho enaknya blogwalking. Ayo pada ngeblog plis *kaya sendirinya rajin ngeblog aja…*)

    In The Matrix Reloaded, who is the Architect, and what’s he talking about?

    (Saya baru ngeh kalo konten Quora di sini malah ga nongol. Trims Natalixia karena udah ngasih tau saya)

readme.txt

This is my personal blog, so anything goes. This blog has been around since 2014, which means you would, and could, see my past writings with different perspectives and mindsets at that time. This blog is a record-keeping of what I was, what I am, and what I will be. What I wrote in the past might not reflect who I am right now, nor me revisiting the topic.

While things here are generally PG-13, I must remind you that I’m an adult, which means some topics might be too heavy for younger readers.

Listening