• Musim Pancaroba, Musimnya Sakit

    Karena masih dalam semangat ayo ngeblog, saya kembaliiiiiii~ Uhu uhu.

    Kali ini ada kaitannya sama musim pancaroba dan musimnya orang-orang pada tumbang, tua ataupun muda. Terutama yang muda sih. Yang ngaku (masih) muda ya… Iya tapi dikit. Banget.

    Anyway

    Jadi kan belum lama ini Wira dan saya tumbang tuh. Pake drama anaknya demam mendekati 40 derajat Celcius pula. Plus saya demam ringan dan sakit kepala.

    Nah, sekarang kok ya kejadian lagi ? Jadi tadi pagi, Wira seperti biasa makan sereal pake susu lalu nonton Pocoyo. Tapi ini anak nonton Pocoyo gayanya kaya lagi akrobat — aneh-aneh. Nungging lah, ndelosotan di sofa lah, kadang sampe guling-guling. Ari sempet nanya, “kenapa tuh anaknya?” Saya jawab kalo saya juga nggak tahu. Iseng tanya ke Wira, “Wira sakit perut?” Lah, anaknya ngangguk. Lalu dia mendekati saya, minta gendong. Saya gendong, mendadak anaknya bersendawa keras banget lalu gumoh/muntah sedikit. Saya sempet komentar, “udah lama ga digumohin Wira, hahaha” — soalnya terakhir dia gumoh itu ya pas dia masih bayi.

    Awalnya kita kira masuk angin biasa ya. Soalnya malem sebelumnya kita sempet makan burger di Johnny Rockets di Avenue K dan AC di situ rada ga kira-kira. Negara tropis sih negara tropis, tapi ya masang AC jangan macem ambisi mau bikin kutub di mari dong. Sesudah mandi, Wira saya gosokin minyak kayu putih. Selepasnya, anaknya cengar-cengir lagi.

    Nah. Ini saya inget banget. Jam 09:15 pagi, Wira jatoh dari sofa. Anaknya lompat-lompat di sofa, dan yawdalahya umur bandel-bandelnya, saya kasih tau jangan lompat-lompat malah ngeyel. Lompat rada tinggi ke arah bantal, mantul, lalu jatuh deh terlentang ke lantai.

    Anaknya nangis sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Saya gendong. Lalu… Muntah.

    Eng ing eng ?

    Kalo dalam artikel-artikel kesehatan anak, terutama bayi dan balita, kalo si anak jatuh dari ketinggian lalu muntah, itu alarm orangtua harus udah bunyi kenceng. Tapi saya perhatiin anaknya masih biasa-biasa aja — dan saya sebenernya agak jengkel karena dia ngeyel nggak mau dengerin nasehat saya jadi saya sempet ngomel sebentar. Bebersih sebentar dan kirim pesan WhatsApp ke Ari soal Wira jatuh, saya sempet ngebatin, “coba observasi selama 48 jam kali ya…” Saya tanya ke Wira, “kepala Wira yang sakit yang mana?” Dia malah ngegeleng. “Nggak sakit!” jawabnya. “Ini yang sakit!” Dia nunjuk ke… Perut.

    … … … Okeeeee ?

    Jam satu, kita makan siang. Nasi pake sup (soalnya ini anak riwil deh urusan makan pake sayur. Baru mau makan sayur kalo makan sup) — dan ga seperti biasanya yang ini anak tukang ngemil dan buka tutup lemari es, dia ga semangat makan.

    Nggak lama, Ari pulang. Dia emang kerja setengah hari karena sorenya harus pergi lagi ke luar kota untuk dinas offshore. Ngeliat Wira makannya sedikit, Ari coba ngebujuk sambil nyuapin Wira — sementara itu saya cerita ke Ari kejadian Wira jatuh tadi pagi. Selama ini kalo Wira nolak makan, biasanya gaya merajuk ngeselin. Tapi kali ini bener-bener ga mau dengan mulut dikatup rapat-rapat lalu memejamkan mata.

    Mendadak, dia buka mata lalu muntah lagi.

    Hyah.

    Udah lah, kita langsung mikir, “ke rumah sakit. SEKARANG.” Selama bersiap-siap, saya dan Ari bolak-balik nanya ke Wira, “Wira mana yang sakit?” Dan selalu Wira menjawab (dengan rada kesel karena orangtuanya bolak-balik nanya hal yang sama), “perut Wira! Tummy! Perut Wira yang sakit!”

    Jadi lah kita mikir, “… … Ini anak muntah karena tadi jatuh atau karena masuk angin?”

    Sesampainya di rumah sakit, Wira keliatan biasa-biasa aja. Kaya jatuh tadi ga ngefek apa-apa ke dia. Main-main dan jalan-jalan seperti biasa. Ketemu dokter, dokter cek di sensorik dia (menyorotkan sinar senter ke mata) dan mendengarkan bunyi perut Wira dengan stetoskop — yang mengharuskan anaknya terlentang di tempat tidur ruang dokter dan berujung anaknya ngamuk dan protes keras.

    Dokter komentar, “his sensory reception is okay. I see that his fall doesn’t affect anything. Him vomiting before might be caused by bloating.” Jadi anak ini sebenernya gapapa setelah jatuh tadi, tapi muntahnya itu justru sebenernya karena masuk angin. Dan dokter menambahkan kalo itu bukan masuk angin aja — tapi kembung.

    Yailah.

    Saya keinget banget waktu SD dulu saya pernah kembung. Itu asli ga enak banget. Perut kalo diketuk-ketuk atau ditepuk-tepuk bunyinya “tung tung”, dan perut sakit. Tante saya pernah nyaranin, “nungging aja biar kentut!” Ya antara sukses dan nggak. Dan emang iya, perut sakit yang berujung males makan — semua-semuanya jadi nggak enak.

    Dokter juga nambahin bahwa kembung ini normal banget dan biasanya karena perut nerima makanan yang kurang sehat atau juga karena pengaruh cuaca. “Make sure that you give him warm water.” Siap, dok.

    Wira dikasih resep obat anti mual, anti kembung/anti-colic, dan obat diare. Yang obat diare ini diberikan hanya ketika anaknya diare. Kalo ga diare ya jangan.

    Di rumah, pas jam makan malam Wira masih ga semangat makan. Saya tanya beberapa kali, dia selalu jawab, “nggak mau makan.”

    “Wira belum mau makan?”

    “Wira NGGAK mau makan.”

    “Belum mau makan?”

    Ini saya yakin banget anaknya udah ngerti konsep “nggak” dan “belum”. Kalo “belum”, artinya “nanti iya (makan)”. Kalo “nggak”, ya artinya “kalo bisa sampe besok ga usah makan deh, bu…” ?

    Anaknya diem sebentar, dan kayanya dia mikir daripada debat ga penting sama saya, dia ngejawab, “… Iya. Wira belum mau makan.”

    Saya diem. Ngeliat dia. Anaknya masih ogah-ogahan makan. Akhirnya saya tanya, “Wira mau makan apa?”

    “Mie instan kuah,” jawabnya pendek.

    Biasanya sih, kalo anaknya lagi sehat, ga bakal deh saya turutin, hahaha. Tapi karena anaknya lagi sakit, apapun yang dia lagi pengen dan bisa masuk perut, ya udah lah saya bikinin. Jadi saya bikinin dia semangkuk mie instan Maggi lalu saya hidangkan ke dia.

    Anaknya makan. Sedikiiiit banget. Cuma semangkuk kecil (mangkuk makan dia), itu juga nggak abis. Tapi lumayan daripada dia nggak makan sama sekali.

    Barusan saya gosokin perutnya dengan minyak kayu putih, perutnya buncit dan berbunyi “tung tung” pas saya tepuk-tepuk. Anaknya cekikikan sendiri denger bunyi perutnya.

    Padahal baru kemarin dia makan empat potong keju Kraft Singles, dua mangkuk sereal, dan nyaris menghabiskan sekotak strawberry.

    Cepet sembuh ya nak. 

  • On some past memories

    OK. So I’m going to write something that has been bugging me since yesterday (and along with my pledge to be more active in blogging dammit).

    Years and years ago, I was in this toxic relationship with a guy. This guy was a no stranger for me before we started the relationship. Actually, he was my ex-boyfriend back in junior high school. We broke up before because he was this violent manipulative guy and at that time, my mother decided that enough is enough and pulled me from that whole… Hijinks.

    Now, if you asked me, “if you know how he was, why did you went back to him again?” My answer is: I was stupid. In Indonesian language, we have this saying “keledai tidak akan jatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama” — a donkey won’t fall down on the same hole twice. So yeah, I was stupider than a donkey.

    So I was still in my undergraduate studies when this guy popped up in front of my dorm house — six years later after we last saw each other in junior high school. So to cut story short, we dated, he went SNAFU — even worse — and yet again my mother — a Super Mom, she is — saved the day. Yeah, you can say I was too stupid and too coward to pull myself out from that fucked up situation. But I have to tell you this: I was too afraid.

    So I think it’s fair to see that victims of domestic abuse usually got too afraid because of how manipulative the perpetrator could be. Yes, the victim’s mind is being toyed and manipulated up to a very sickening point. We were threatened and got insults hurled to us up to a point that we THINK we were worse than animals and “unworthy”; and that’s how emotional abuse works: make the victim feels unworthy and powerless so the victim will have nobody to depend to except one: the abuser — aaaand the circle goes again.

    So never ask a victim/survivor, “why don’t you just get away from it?” Oh, we wish we could, you know. We wish we could.We managed to see things clearly and realized how shitty it was just when we finally managed to get free from it. It’s like that “a-ha” moment when we saw it, and followed with “HOW CAN I BE SO STUPID?”

    Now, one thing that bugged me is:

    How the hell could he find my dorm house?

    I never inform my dorm house address publicly, especially on the Internet. I realized that I might spilled some information here and there (“oh, it’s near this building”, “oh, you can see so and so from my place”) — and I think that what gave it all away. Just put the puzzles together and voila.

    So not only I was dated a violent manipulative guy, he’s (“is”. Maybe. He always has this stalker-ish trait on him) a chronic stalker too.

    Daaaaaaamn.

    So. I know this entry is just some sort of a passing, a random writing and sort. But, anyway, I really hope you guys my dear readers won’t ever have to be in a position like I was in domestic violence.

    You feel like you need permission to make decisions or go out somewhere. Please differ this one between emotional abuse AND a healthy communication.

    I ALWAYS tell Ari whenever I have intention to go outside all by myself; because I don’t want him to get worry for me. By telling him — “hey, I am going to KLCC Park later on” — I’m letting him know where I am and should I need him, he will know where to find me. And a person in a healthy relationship will usually permit it, unless on life-threatening situation (“going to KLCC Park right when Godzilla is having a battle with Mothra in the EXACT SAME SPOT? ARE YOU CRAZY?” “AW COME ON, MAN. INSTAGRAM AND PERISCOPE-MATERIALS! IMAGINE THE THUMBS UP I CAN GET”) Being in a healthy relationship means that you give some space to your partner.

    Now, a toxic relationship is different. When I was with that ex-boyfriend, I even had to tell him whenever I need to go to the toilet. It’s true. I had to SMSed him that I will not be in my classroom because I have to go to the toilet. He would patronized me; “are you really going to the toilet? With whom? After the toilet, where are you going next? Don’t you dare to go to any other places without my permission!”

    So, yeah, you get the differences.

  • How To Use Leftover Shampoo

    I got this leftover shampoo from my not-yet-concluded quest of “searching the perfect shampoo” (for now, “the chosen one” is Unilever’s Sunsilk Clean and Lively) and I was wondering what can I do with the leftover shampoo then I found these two links:

    I tried the cleaning-the-toilet one, and the shampoo actually did a good job — it’s a cleaner, after all.

  • Oke, hmmm, sebelumnya saya minta maaf dulu karena foto yang ada sedikit banget.

    Akhir minggu kemarin, Ari ngajak jalan-jalan ke Royal Floria Putrajaya. Royal Floria Putrajaya ini acara tahunan (?) Putrajaya, Malaysia yang berupa pameran tanaman dan taman. Untuk saya, acara ini agak ambisius juga karena mendatangkan tanaman-tanaman khusus musim dingin ? Kebayang Malaysia panasnya kaya apa padahal tanaman-tanaman ini butuh suhu yang dingin. Tapi ya kalo emang niat ya niat lah ya, hahaha. Beneran didatengin (katanya) dari Jepang.

    Rasa-rasanya banyak banget keriaan dan festival di Malaysia tahun ini. Rasa-rasanya emang sejalan dengan motto Malaysia tahun 2015 ini: The Year of Festival. Jadi lah satu negara ini heboh bikin keriaan. Dari yang bersifat religius, kebudayaan, sampe apapun. Hot air balloon lah, bunga dan tanaman lah. Seru luar biasa ?

    Kami ke sana jam 8 malam. Lho kok malam hari? Iya, acaranya itu seharian penuh, dan kalo akhir pekan buka sampe tengah malem. Awalnya kita mikir, “kalo malem kan udah ga panas tuh, terus ga terlalu rame kali yeee…”

    TERNYATA KITA SALAH, SODARA-SODARA.

    Ga panas sih iya. Namanya juga udah malem, dan lokasi Anjung Flora itu sebelah danau/tasik, jadi udaranya lumayan sejuk.

    Tapi untuk jumlah pengunjung… Ya mungkin pada berpikiran yang sama plus malam Minggu? ? Jadi waktu mau masuk beli tiket itu sempet bingung, “eh ini belinya gimana sih? Mana tempat jualan tiketnya?” lalu “EINI TICKET BOX-NYA– ohmaygod, antri rupanya yaaaaaaa.” Antriannya lumayan panjang, tapi cepet sih. Ga lama banget juga nunggunya, maksimum 20 menit lah, hohoh. Plus panitianya lumayan sigap dengan ngebuka satu kounter lagi, ihiy. Mari budayakan antri!

    Pas masuk ke dalam, wow menakjubkaaaaan~

    Asli keren dengan hiasan kain-kain yang dibentang warna-warni pelangi plus lampu-lampunya ? Sesuai dengan tagline tahun ini: The Tapestry of Hues. Anyaman warna-warni.

    Di dalam, pameran ini terbagi menjadi beberapa area. Area jual tanaman, arts and crafts, pertunjukan musik dan DJ, taman internasional, dan tentu aja bagian makanan, ihihi. Plus ga ketinggalan wisata menaiki kapal pesiar mengelilingi danau Putrajaya DAN HOT AIR BALLOON *histeris*

    DSC_0006
    DSC_0007
    DSC_0008

    BANYAK BANGET tanaman-tanaman yang cantik-cantik dan keren-keren. Dari tanaman hias, kaktus, sampe bumbu dapur. Saya yang panik. Pengen beli semua SOALNYA HARGANYA MURAH-MURAH GIMANA DONG. Tapi saya nggak beli; soalnya kalo dipikir-pikir, posisi apartemen kami kurang ciamik untuk tanaman. Apartemen kami baru mendapatkan sinar matahari langsung di siang hari dan sore hari. Itu juga panasnya amit-amit. Udah beberapa kali saya nyoba nanam basil dan oregano yang berujung tewas secara mengenaskan ? Jelas saya butuh masukan dan wejangan dari ahli tanaman; jadi kalo ada yang tau tanaman apa yang cocok dengan minim sinar matahari dan (kalo bisa) ga perlu banyak air, mohon diinfokan ? (lama-lama nanam jamur aja kali ya…)

    Nah, kan tadi saya bilang di awal ya kalo foto-foto yang ada itu sedikit banget. Jadi penyebab utamanya adalah kami udah kemalaman dan udah pada cape (plus masuk angin *faktor umur*) jadi kami ga bisa lama-lama di acara Floria. Agak sedih karena sebenernya masih pengen lebih lama lagi. Kalo datang lagi pas akhir minggu ini sepertinya nggak bisa karena Ari ada dinas ?

    Semoga aja tahun depan masih ada rejeki untuk datang ke Floria Expo 2016 ?

     

  • Playing God

    So I had this question for my friends (or anyone who care to listen, anyway).

    “Why does it feel addictive to create new blog? I’m talking about making new blog, looking at that “Hello, world!” WP-generated post — not typing new blog entries.”

    My friend responded with, “because human’s creativity is unlimited.”

    We are blessed with our ability to create; and for some, creating new things can be somewhat… Addictive. It’s like playing God, you know ? You have new “creations” and it feels like you give life to them.

    Speaking of playing God, I remember this iOS app called GodFinger — so we play as a, obviously, God and we can give some kind of blessings or curses to our minions. It might be not far from the truth that one time I played it while laughing maniacally.

    Now I wish I had the same addiction on maintaining my current blog (hint: THIS blog) Hmmm.

  • I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.

    My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer