• Jogja dan Mbok-Mbok Penjual

     

    Kalo gw perhatiin ya, di Jogja itu banyaaaaaaaaaaak banget mbok-mbok penjual yang udah sepuh. Bener-bener udah ringkih dan berumur banget. Tapi tetep berjualan dan pembelinya juga udah lintas generasi gitu. Berjualannya selalu di tempat yang sama selama puluhan tahun.

    Mereka itu kaya tumbuh bersama Jogja. Tapi sementara Jogja tumbuh dengan wajah seperti anak muda (mall dan hotel banyak banget), mbok-mbok penjual ini kaya beneran mukanya Jogja — ngegambarin bahwa aslinya Jogja itu kota yang tua dan kuno, penuh sejarah dan cerita serta sebab jalan-jalan di kotanya itu kecil-kecil. Ya aslinya jalanan buat manusia dan kuda kok. Paling banter gerobak atau becak. Sotoynya gw ya, Jogja menolak tua, mbok-mbok ini menolak muda.

    Suka deh liatnya. Kaya ada sejarah yang bentuknya abstrak itu tampil di depan mata kita dalam bentuk manusia yang sudah berumur, berkerut, dan bungkuk, tapi dengan tenang dan sigap melayani pelanggannya yang sudah entah berapa generasi.

  • Guling bernama Spidol

    Wira : “Ini namanya Spidol.”

    Gw : “Huh? Guling, bukan?”

    Wira : “Bukan. Spidol.”

    Gw : “Oke. Bukan guling?”

    Wira : “Bukan.”

    Wira : “Spidolnya bisa terbang.”

    Gw : “… Jadi ini guling yang namanya Spidol dan bisa terbang?”

    Wira : “Iya bener.”

  • Eunoia

    This is pretty

The Blogger

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Recent posts

Listening