• Peter Rabbit v. Hollywood

    Sejak beli buku The Further Tale of Peter Rabbit karya Emma Thompson (iya, Emma Thompson aktris), kami jadi tertarik dan menyukai Peter Rabbit karya Beatrix Potter. Kelinci bandel yang ga pernah dengerin ucapan ibunya, suka nyelonong masuk ke kebun petani dan makanin sayuran, dan — seperti kisah kanak-kanak Inggris — petualangan.

    Waktu ke toko buku kemarin, sempet beli beberapa buku Peter Rabbit yang versi board book (kertasnya karton tebal) supaya bisa dibaca Rey juga dan buku The Spectacular Tale of Peter Rabbit karya Emma Thompson. Ada yang seri koleksi, harganya lumayan, huhu. Nabung dulu, hahaha.

    Waktu denger soal film Peter Rabbit dalam bentuk animasi 3D, Ari dan gw semangat. Berpikir mau nonton sama anak-anak nanti bulan Februari.

    Lalu nonton trailernya:

    *insert hantu air Jepang RAAAAAAGGGEEEEEEEE here*

    BIKIN MARAH.

    Apa-apaan sih kok jadi komedi slapstick Ameriki banget macem Alvin and The Chipmunks hhhhhhhhhhhh THANKS BUT NO THANKS FOR BUTCHERING YET ANOTHER CHARMING KID STORIES, HOLLYWOOD.

  • ~

    Boook, gonta-ganti template sampe botak juga tetep aja baliknya ke template lamaaaa, huahuahua~

  • Bekerja

    Gw kangen kerja, hahaha.

    Bukannya ibu rumah tangga itu bukan pekerjaan ya (NGURUS ANAK PIYIK DOYAN BERANTAKIN DAN NGEJEBOL CHILD LOCK ITU KERJA BERAT, JENDERAL!) cuma pekerjaan yang ada uwit gituuuu~

    Berkesan nggak bersyukur ya, huhuhu.

    Alhamdulillah, sebenernya, kalo rumah tangga Ari dan gw masih bisa single income. Penggambaran rumah tangga tradisional macem di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia jaman Orba, huahahaha. Ayah bekerja, ibu di rumah. Penghasilan Insya Allah masih lebih dari cukup untuk sehari-hari.

    Tapi saya kangen berkarya *halah*

    Gimana ya… I’ve been on the two sides of the coin. Gw pernah dulu kerja kantoran yang berangkat pagi pulang malem, sementara anak dijaga sama mbaknya di rumah. Pernah juga ya kerja kantoran sementara anak di daycare. Pulang kantor itu udah lelah luar biasa dan lebih sering makan di luar juga pernah. Kerja setengah hari (jaman masih ngajar/jadi dosen ga tetap) juga pernah — ADOH INI PALING ENAK NIH. GAJI LUMAYAN, GW GA LUMANYUN. Anak waktu itu dipegang sama mbaknya di rumah.

    Lalu semenjak pindah ke Kuala Lumpur, ya murni jadi ibu rumah tangga. Selain masalah visa (gw pake dependent pass, yang artinya gw ga boleh bekerja di negara tujuan), biaya pekerja domestik di mari mihil bingits.

    Ya… Enak ga enak. Gimana ya, gw jadi bisa bener-bener ngurus bocah-bocah dan megang rumah itu megang banget — mengingat gw ini sebenernya control freak dan posesif banget urusan rumah. Urusan asisten rumah tangga ini sebenernya selalu berkecamuk (jie, berkecamuk) di batin gw karena gw ini antara “aduh, enak kali yeee ada mbak gitu yang apa-apa dikerjain dia gw tinggal ongkang-ongkang kaki doang” (kok ya jadi mental penjajah sih) sama “GW GA NGIJININ ORANG LUAR MASUK KE RUMAH GW DAN TAU PERINTILAN IDUP GW DAN SUAMI DAN ANAK-ANAK POKOKNYA GABOLEH INI WILAYAH KEKUASAAN GW.”

    Tapi ya gitu, gw antara jadi emak super tapi juga stres karena POKOKNYA™ semua musti gw yang urus. Ga keitung berapa kali gw kena tekanan mental semenjak jadi ibu rumah tangga. Mau jalan-jalan aja kepikiran ini bawa bocah piyik pake stroller atau gendongan — kalo stroller, repot jek. Ada beberapa stasiun yang ga nyediain elevator dan musti heboh angkat-angkat stroller di eskalator YANG ITU BAHAYA BANGET YES. Kalo gendongan, PUNGGUNG MAMAK BISA PATAH INI ANAK BAYI BULET PECICILAN GABISA DIEM DIGENDONG AJA MASIH BERONTAK NGAMUK PADAHAL JALAN SENDIRI AJA BELUM BISA HHHH SYARAF EMAK MAU PUTUS INIH.

    Apa? Naik Grab?

    NGGAK. LIMA RINGGIT BISA BUAT NAIK LRT LIMA KALI.

    (Medit. Default mode emak rumah tangga yang sangat kedekut urusan uwit demi uang belanja berlimpah~)

    Sebenernya (selalu) ada gitu keinginan buat bekerja, apalagi bekerja dari rumah. Cuma ya tentu aja namanya juga kerja, tantangan ya selalu ada; dari faktor anak yang doyan ngrusuin sampe gw meragukan kemampuan gw sendiri. Bukan apa-apa, udah tiga tahun lebih gw ninggalin dunia kerja. Gw ga tau dan gw ga yakin apakah gw masih relevan untuk dunia kerja sekarang ini. Banyak anak-anak muda yang lebih cergas, lebih cerdas, lebih sigap, lebih berenergi (TIM JOMPO TIDUR JAM SEMBILAN MALEM MANA SUARANYAAAAAA?) dan gw ga tau apakah gw bisa bersaing di situ.

    Gw tau, kesempatan untuk berkarya selalu ada. Soal kerja ini pun, kasarnya gini deh… I miss doing something not solely for my family, but things that I really like. Gw pengen balik ke kerjaan ilustrasi. Gw sebenernya cukup optimis untuk ini karena gw selalu bisa bikin portfolio. Rey usianya udah 1 tahun, dan Insya Allah, semoga saja, makin bisa mandiri (ga nemplok ke gw mulu). Bismillah yes. Bismillah.

  • Meal Plan

    Nyari-nyari resep buat menu seminggu. Lebih susah lagi untuk memperkirakan anak-anak bakal mau atau nggak.

  • Status Sosial

    Beberapa hari lalu, baca status FB (lokasi di sini) seorang ayah yang cerita anaknya pulang sekolah dan bertanya, “kita miskin ya pak?”

    Kaget, si ayah nanya ke anaknya kenapa kok bisa bertanya begitu.

    “Karena aku nggak punya (stationery) Smiggle. Teman-temanku bilang kalo aku miskin karena nggak mampu beli Smiggle.”

    Smiggle itu merek perlengkapan alat tulis dari Australia yang pangsa pasarnya anak-anak hingga remaja. Desain-desainnya memang sangat heboh dan selera bocah-remaja banget. Salah satu tokonya di Suria KLCC itu nggak pernah sepi.

    Harganya juga nggak murah-murah amat.

    Ternyata ya Smiggle itu emang jadi semacam simbol status di kalangan anak-anak; dan seperti simbol status jaman kita piyik yes, kalo lu ga punya ya bisa dibilang lu kuper, lu ga gaul, atau ya… Miskin.

    Kita udah gede, bisa banget bilang “ahelah apaan sih.” Untuk anak-anak, mereka ya belum ada kemampuan dan kebijaksanaan untuk itu. Dunia hancur lebur ketika teman-teman di sekeliling mereka ngelirik mereka dengan sinis sambil berbisik, “ih, miskin. Ih, kuper.” Misalnyapun teman-teman mereka nggak seperti itu, si anak yang nggak punya barang status sosial itu ya hanya bisa melihat dengan iri dan sedih.

    Jaman kita, mungkin buku tulis Kiky kali ya? Buku tulis warna-warni dan wangi, pensil mekanik warna-warni, kotak pensil bertingkat dan ada mainannya, penghapus cantik wangi (TAPI GA BISA DIPAKE BUAT NGAPUS), sepatu DocMart, sepatu Air Nike, atau sepatu dengan lampu yang menyala di tumit.

    Komentar yang masuk ke status itu rata-rata membesarkan hati si ayah. Anak-anak perlu belajar menjaga hati orang lain. Nggak ada yang salah dengan membeli produk terkenal seperti Smiggle, tapi bukan berarti jadi menghina orang yang nggak punya.

    Produk status sosial mah selalu ada; bentuk dan mereknya aja yang berbeda seiring kita tumbuh besar.

  • I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, it’s, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!

    I’m still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer