• Resepsi Pernikahan Malaysia

    Tadi siang pertama kali saya menghadiri acara pernikahan di Malaysia. Sebenernya pernah dapet undangan pernikahan teman kantornya Ari, tapi bentrok dengan acara keluarga — dan itu pernikahan keluarga India! Jadi ga bisa ikutan joget kan, hahaha.

    Yang menikah ini teman kantor Ari. Akad nikah sudah dilaksanakan hari Jumat lalu, baru hari ini resepsinya. Dan buat saya, pernikahan khas Malaysia ini menarik juga.

    Pertama, SEMUA tamu perempuan memakai baju kurung dan berjilbab ? Jadi lah saya saja yang mengenakan rok “pendek”, itu pun di bawah lutut (termasuk sangat konservatif). Tapi pihak keluarga pengantin ga terlalu mempermasalahkan itu dan mereka jadi ngeh kalo kami bukan orang Malaysia ? Langsung disapa dengan bahasa Inggris, hahaha.

    Catatan: lain kali kalo ada nikahan, pake baju kurung ya. Iya.

    Kedua, tidak ada model pesta prasmanan/standing party. Malaysia SANGAT menjunjung sunnah Rasul, yaitu makan sambil duduk dan (diusahakan) langsung menggunakan tangan kanan. Ga hanya pesta pernikahan; acara sunatan sampe open house Idul Fitri sebisa mungkin pesta round table. Sekalinya prasmanan, itu juga kemarin saya lihat di acara open house Petronas yang pesertanya banyak sekali sehingga disediakan meja-meja tinggi untuk meletakkan piring dan makan. Sebenernya pesta dengan model meja kursi ini masih umum banget di kampung-kampung atau kota kecil di Indonesia. Kalo udah kota besar, apalagi Jakarta, rata-rata standing party. Jujur ya, lebih enak pesta model duduk di meja kursi begini, hahaha. Makanan lebih bisa dinikmati, anak-anak bisa duduk dan makan, dan lebih nyaman.

    Ketiga, karena model pesta round table begitu, jumlah tamu yang datang juga ga membludak. Dan ini juga didukung dengan tata cara pesta pernikahan Malaysia ketika pasangan pengantin dan orangtua yang turun menghanpiri tamu-tamu; sedangkan kalo di Indonesia, terutama pesta adat Jawa, kan biasanya pengantin jadi “pajangan” di depan, ehuehe.

    Keempat, ga ada signage atau tanda resepsi pernikahan di depan lokasi pernikahan, hahaha. Kalo pernikahan di Indonesia udah awam banget pake janur kuning di depan gedung resepsi karena menurut arti simbol (yang kembali ke jaman Hindu dahulu kala), janur kuning melambangkan cahaya pernikahan yang diharapkan selalu terang. Waktu kami ke lokasi, sempet ga sengaja kebablasan, hahaha. Saya komentar, “ga ada janur kuning ya?” *YA MENURUT LOOOEEEE?*

    Kelima, budaya amplop berisikan uang untuk diberikan ke pengantin di sini rupanya nggak, atau belum, dikenal di sini. Ari sempet nanya ke temennya soal pemberian amplop ke pengantin dan apakah ada kotak amplop. Temannya Ari berkomentar bahwa mereka ga pernah tau yang kaya gitu dan balik nanya, “apa tu kotak amplop?” Kalo mau ngasih hadiah kado sih bisa, tapi itu juga ga wajib.

    Menarik juga lho melihat acara pernikahan negara lain ? Sangat menyenangkan dan menambah wawasan.

  • (Mengaku) Anak Hilang

    Kapan hari gitu kan saya pernah nulis soal digital kidnapping ya. Terus saya keinget satu kejadian di Path.

    Jadi namanya social media itu ya ada gunanya juga lah ya. Dari nyari pacar *eeeeeh* sampe laporan tindak kriminal ke pihak terkait atau laporan langsung (citizen journalism). Salah satu yang sering dipake itu laporan orang hilang.

    Biasanya disebar di Twitter, dan kadang untuk versi sedikit lebih panjang lewat Facebook atau Path. Walopun Path itu private, biasanya pengguna Path (yang mayoritas orang Indonesia) itu nge-repath foto atau screen capture teks lalu diunggah dari akun dia sendiri. 

    Nah, beberapa bulan lalu sempet nyebar nih di Path informasi anak hilang. Anak perempuan, ciri-ciri begini, hilang di area mana dan jam berapa, serta orang yang bisa dihubungi.

    Awalnya ya biasa lah ya; temen saya yang kebetulan punya temen Path banyak banget mengunggah informasi itu di akun Path-nya. Respon mulai muncul — dari simpati sampai doa. 

    Lalu ada satu komentar.

    “Lho, ini kan ponakan gue?! Lho, kok dibilang hilang sih?? Ini anaknya ada kok sama orangtuanya di rumah gue!”

    Eng ing eng.

    RUSUH LAH ITU LANGSUNG YA SODARA-SODARA.

    Yang komentar langsung klarifikasi.

    “Iya, ini anak kakak gue! Gimana sih, anaknya gapapa kok! Ini sama orangtuanya di rumah gue, lagi ada acara keluarga!”

    “Terus ini contact number nomernya siapa?”

    “Lah itu nomer hape suami kakak gue…”

    Lhoh.

    Bingung ga sih jadinya.

    Entah apa maksudnya individu yang ngambil foto anak orang lalu dibilang “anak hilang” dan entah kenapa kok pake nomer handphone si ayah. Kalo dibilang iseng, itu kelewatan. Pernah lho, tahun 2008-2009 gitu ada film horor Indonesia bikin “promosi” dengan cara nyebarin berita anak hilang — yang ternyata anaknya hilang karena diculik pocong. Bzzzzt. Habis lah itu pihak promosinya dimaki-maki sama pengguna Twitter.

    Jadi ya tetep sih maksud saya nulis kaya gini. Hati-hati sama informasi pribadi mengenai diri kita dan orang terdekat kita. Kasarnya, Allah udah nutupin aurat dan aib kita, jangan lah malah kita yang mengumbar kemana-mana.

  • Kap’s Indoor Plants

    Beberapa hari ini saya tertarik dengan tanaman dalam rumah (indoor plants) karena Snapchat teman saya yang beberapa kali menunjukkan tanaman di apartemennya.

    Masalahnya, saya itu nggak bakat nanam tanaman ? Udah lah beberapa kali ngebunuh tanaman herba, ini lagi pake pengen punya taneman lagi segala.

    Tapi temen saya bilang kalo taneman indoor itu ada banyak yang gampang banget perawatannya (“pada susah mati kok”) dan ga butuh banyak air — nah ini salah satu faktor yang bikin saya kepikiran. Saya kepikirnya gimana kalo saya mudik ke Indonesia untuk beberapa minggu? Gimana ngasih air ke tanamannya? (sementara Hafiz dengan semangatnya ngomong, “pake robot, Kap! PAKE ROBOT!”)

    Cari-cari informasi di Internet, nemu banyak. Ada beberapa tanaman yang saya suka. Dan ketika minggu lalu ke IKEA di Damansara, saya sempet beli tanaman lidah mertua (mother-in-law-tongue) *namanya ga enak banget ya, hahaha*

    Satu hal yang saya sayangkan, tanaman ini ga terawat di IKEA. Iya sih, tanaman ini tanaman yang perawatannya super mudah (tahan banting, ga butuh banyak air), tapi tetep namanya juga makhluk hidup ya, pasti bisa sakit. Dan tanaman ini bisa kena penyakit jamur — dan yang saya beli ini ada jamurnya ? Saya berusaha supaya jamurnya ga nyebar dengan cara menyemprotkan area yang terkena jamur dengan larutan air dan pembersih alami (serai wangi). Lumayan berhasil sih. Tapi ada juga yang ga ketolong dan jamurnya nyebar. Kepaksa daunnya saya potong pake pisau. Hiks.

    Bahkan kalau dilihat di foto, ada bercak coklat di daun bagian bawah, nah itu jamurnya. Menyebalkan. Semoga tanaman ini cepat sembuh ya. Amiiin.

    Nah, barusan hari ini saya membeli tanaman lagi, namanya jade plant. Kata temen saya juga, tanaman ini juga yang susah matinya.

    Yang saya suka, tanaman ini sudah terawat sejak di toko. Saya sering liat staf toko membersihkan dan mengelap daun-daun tanaman yang dijual. Jadi memang tanamannya keliatan bagus dan sehat.

    Jade plant ini termasuk succulent, alias sodaranya kaktus. Jadi memang menyiramnya ga boleh sering-sering. Kata ibu penjual tanaman, “dua kali seminggu.”

    Sudah terpikir ingin membeli tanaman lagi, hahaha. Belum tahu sih mau beli tanaman apa.

  • Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.

    Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.

English is not my first language, my English teacher gave up on my grammar skills back in high school, and I refuse to use AI, so expect weird and confusing run-on sentences on this blog.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • Urban rainbow