Ini salah satu kanal Youtube favorit gw, hahaha. Gw sangat suka dengan acara/tontonan yang semacam home renovation atau ya efisiensi dalam penggunaan ruang di sebuah rumah.
Gw dulu sempet ngikutin acara ‘bedah rumah’ Jepang yang judulnya ‘Before & After’ di LiTV (kalo di Indonesia, temen gw cerita adanya di Waku-Waku Japan) — sampe entah kenapa berhenti dan ga lanjut lagi, hhhhh.
Jadi bertanya-tanya, Netflix atau iFlix gitu-gitu adain konten kaya gini dong, jangan dokumenter dan kuliner aja, hahaha.
‘Elementary’ is not a series that I want. It’s a series that I need.
Kapan ya gw pertama kali denger kabar soal serial TV ini… Bertahun-tahun lalu, kalo ga salah. Pas gw kuliah (?) — ada rumor soal serial TV yang berdasarkan Sherlock Holmes dengan “sedikit variasi” dan setting jaman modern. ‘Variasi’nya adalah: John Watson menjadi Joan Watson.
Iya, dokter Watson adalah seorang perempuan di serial ‘Elementary’.
Diperankan oleh Lucy Liu.
Pas itu, gw ngamuk. I was — OK, still is, actually. But I was obnoxious– OK, still obnoxious — an obnoxious purist. Kok John Watson jadi cewek? Apa-apaan? Terus jadi love interest-nya Holmes? APA-APAAN?
I mean, I’m not even a fan of BBC’s ‘Sherlock’. The huge part of my disdain comes from the majority of the fans who goes, “kyaaaa~ Holmes pacaran sama Watson kyaaaa~” //fight me
Jadi gw lebih mirip kakek-kakek tukang marah-marah yang suka nongkrong di teras depan rumah sambil mengokang senapan angin buat nembakin siapapun yang niat nerobos halaman rumah, sampe gw ngeliat serial ini nongol di daftar ‘Recommended’ di IFLIX gw.
Jadi gw nonton satu episode. No harm in that. Lets try. If it’s that bad we can always close the window and rant on the Internet so lets give it a try.
Dari satu episode, menjalar sampe lima season.
And one of the best feelings in the world is to see Netflix (yes, Netflix Asia got ‘Elementary’ too) notification: “Season 5 ‘Elementary’ is here!” while you’re at the airport, waiting for your flight to take you home. Kaya… “asik, bisa istirahat abis mudik sambil nonton” gitu.
I. LOVE. IT.
Gw sangat suka dengan dinamika antara Sherlock Holmes (Jonny Lee Miller) dan Joan Watson (Lucy Liu). Tentu aja ada sedikit variasi di sana sini (di serial TV, Watson awalnya adalah sober companion Holmes dalam proses melepaskan diri dari ketergantungan narkotika) dan banyak hal yang diganti untuk mengikuti jaman modern; tapi, hubungan Watson dan Holmes tetap menarik dan kocak. Holmes yang eksentrik dan Watson yang awalnya bingung tapi lama-lama bodo amat ngebuat Holmes dan Watson di ‘Elementary’ ini emang partner yang sangat cocok. You can see that they are there for each other but they can stand on their own to support one another.
Dan yang juga gw suka: Watson TIDAK digambarkan lebih bodoh atau lebih dungu daripada Holmes. Watson-nya Lucy Liu itu cerdas dan tangguh; dan sering Holmes mengakui itu.
Salah satu sisi komedi dari serial TV ini hubungan Holmes dengan Everyone, sebuah grup hacker dan ahli IT. Hubungan Holmes dengan Everyone ini benci tapi rindu. Holmes sering minta tolong bantuan mereka (mirip seperti Baker Street Irregulars) dan Everyone sering minta hadiah sebagai imbalannya. ‘Hadiah’nya itu ya macem-macem; dari Holmes musti nyariin figurine langka yang harganya mahal banget sampe Holmes harus nari pake tutu dan leotard sambil nyanyi ‘Let It Go’ dan direkam oleh ‘Everyone’.
Buat yang suka serial TV detektif ringan, serial ‘Elementary’ ini bisa coba ditonton.
Ari sedang nonton bola sambil makan nasi goreng kotak beli di RS Gleneagles barusan.
“Eh, eh,” ada tangan gembil nepuk-nepuk kakinya Ari.
“… Kamu mau nasi goreng?”
Rey ngeliatin nasinya Ari dengan penuh minat.
Jadi menurut keputusan per 31 Agustus 2017; selain Pajak Wira dengan jumlah yang tidak ditentukan, mulai hari ini berlaku pula Pajak Rey. Adapun untuk jumlah, juga tidak ditentukan.
Ari lagi makan potato chips. Rey, seperti biasa, ngeliatin.
Lama-lama merangkak mendekati ayahnya.
Tepok-tepok kaki ayahnya.
Lalu ngangkat badan.
Ari ngelirik ke Rey.
“No,” ucapnya pendek. Lalu bungkus keripik kentang ditaro di meja depan TV.
Anak bayi malah makin jadi. Pegangan sisi meja, dan — HUP! — ngangkat badan untuk bertumpu pada lutut dan tangan meraih bungkus keripik kentang dan hampir samp–
“ADEK. NO.”
Ari ngambil bungkus keripik kentang dari meja.
Ah, sialan. Ketauan ayah.
Jurus Ngeliatin Ayah kembali dilancarkan. Kali ini berusaha menarik perhatian ibu yang sedang melipat baju.
“Aku sebenernya ga setuju. Garamnya itu luar biasa banyak,” ibu komentar.
Maju terus pantang mundur, Indonesia baru saja merayakan hari kemerdekaan dari penjajah, masa saya generasi muda ga bisa hah? Hah? DIASPORA INDONESIA DI NEGERI JIRAN BERSATU MEMBELA BANGSA DAN PANTANG MENYERAH.
“… coba kasih dikiiiiit aja, Sayang. Sekali aja deh.”
Yes! Ibu luluh!
Sambil melengos, Ari nyoba ngasih secuil keripik kentang rasa saus BBQ. Mulut kecil terkatup, gigi mengunyah, lidah mengolah informasi rasa baru.
Mata kembali ngeliatin Ari.
“SAYANG, INI ANAKNYA MINTA LAGI!”
Mendadak, di depan mata muncul sepotong Heinz chocolate biscotti.
Wow.
Kata ibu, “adeek. Ini biscotti. Enak lhooo. Rasa cokelat!”
Biscotti diterima jari-jari mungil. Diliatin. Diendus. Digigit sedikit.
LALU DILEMPAR.
Tangan dan kaki kembali merangkak mendekati ayah yang membawa sebungkus Lays potato chips BBQ.
Nindya’s quick blurbs
Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.
Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.