Pajak Rey


Ari sedang nonton bola sambil makan nasi goreng kotak beli di RS Gleneagles barusan.

“Eh, eh,” ada tangan gembil nepuk-nepuk kakinya Ari.

“… Kamu mau nasi goreng?”

Rey ngeliatin nasinya Ari dengan penuh minat.

Jadi menurut keputusan per 31 Agustus 2017; selain Pajak Wira dengan jumlah yang tidak ditentukan, mulai hari ini berlaku pula Pajak Rey. Adapun untuk jumlah, juga tidak ditentukan.

Ari lagi makan potato chips. Rey, seperti biasa, ngeliatin.

Lama-lama merangkak mendekati ayahnya.

Tepok-tepok kaki ayahnya.

Lalu ngangkat badan.

Ari ngelirik ke Rey.

No,” ucapnya pendek. Lalu bungkus keripik kentang ditaro di meja depan TV.

Anak bayi malah makin jadi. Pegangan sisi meja, dan — HUP! — ngangkat badan untuk bertumpu pada lutut dan tangan meraih bungkus keripik kentang dan hampir samp–

“ADEK. NO.”

Ari ngambil bungkus keripik kentang dari meja.

Ah, sialan. Ketauan ayah.

Jurus Ngeliatin Ayah kembali dilancarkan. Kali ini berusaha menarik perhatian ibu yang sedang melipat baju.

“Aku sebenernya ga setuju. Garamnya itu luar biasa banyak,” ibu komentar.

Maju terus pantang mundur, Indonesia baru saja merayakan hari kemerdekaan dari penjajah, masa saya generasi muda ga bisa hah? Hah? DIASPORA INDONESIA DI NEGERI JIRAN BERSATU MEMBELA BANGSA DAN PANTANG MENYERAH.

“… coba kasih dikiiiiit aja, Sayang. Sekali aja deh.”

Yes! Ibu luluh!

Sambil melengos, Ari nyoba ngasih secuil keripik kentang rasa saus BBQ. Mulut kecil terkatup, gigi mengunyah, lidah mengolah informasi rasa baru.

Mata kembali ngeliatin Ari.

“SAYANG, INI ANAKNYA MINTA LAGI!”

Mendadak, di depan mata muncul sepotong Heinz chocolate biscotti.

Wow.

Kata ibu, “adeek. Ini biscotti. Enak lhooo. Rasa cokelat!”

Biscotti diterima jari-jari mungil. Diliatin. Diendus. Digigit sedikit.

LALU DILEMPAR.

Tangan dan kaki kembali merangkak mendekati ayah yang membawa sebungkus Lays potato chips BBQ.

%d bloggers like this: