• #catatanemak. 09:42 AM. Morning sickness, acid reflux/heartburn, dan posisi tidur

    Salah satu ciri yang kesannya “hamil banget” itu muntah-muntah di pagi hari/morning sickness — yang sebenernya nggak bener-bener tepat.

    Kan suka ada becandaan geje tu, kalo ada cewek pagi-pagi bilang, “ih, gw kok mual ya…” lalu ada yang nyeletuk, “hamil kali, hihihi.”

    Penyebab utama mual-mual saat hamil itu karena hormon HCG dan progesteron yang mendadak melejit naik sehingga ngeganggu keseimbangan hormon di badan, dan direspon dengan reaksi alami: Muntah dan mual. Hormon-hormon ini sendiri ada untuk melindungi si bayi dan si ibu karena janin yang ada di dalam rahim masih mengambil nutrisi makanan dari darah si ibu di trimester pertama (jadi buat para ibu-ibu yang khawatir, “aduh, ini kok gw muntah-muntah terus ya? Bayi gw bakal dapet nutrisi ga ya?” karena masih muntah di trimester pertama, Insya Allah si bayi gapapa. Kecuali kalo udah sampe hyperemesis dan sangat mengganggu, bisa minta obat dari dokter.)

    Nah, morning sickness ini belum tentu kejadiannya di pagi hari aja — walopun umumnya terjadi di pagi hari ketika si ibu bangun tidur karena perutnya masih kosong/belum ada makanan. Morning sickness bisa terjadi di jam apapun dalam satu hari.

    Penyebab lainnya, yang biasanya jadi pemicu mual, adalah acid refluxAcid reflux ini seperti asam lambung yang “naik” ke organ esophagus (apa tu ya… Tenggorokan?) Karena ini asam, jadi ada rasa panas dan seperti terbakar di leher. Bahasa lain dari acid reflux ini adalah heartburn.

    Apakah acid reflux ini bisa dialami orang-orang lain yang nggak hamil? Bisa. Makanya ada ucapan, “jangan tiduran selepas makan” atau “jangan makan sambil tiduran”. Asam dari lambung bisa kedorong sampe ke tenggorokan dan itu bikin perasaan ga nyaman/mual. Hal ini juga biasa terjadi ke penderita maag.

    Untuk para ibu hamil, acid reflux terjadi karena katup dari lambung ga sekenceng biasanya. Kenapa ga kenceng, karena hormon progesteron yang dihasilkan saat hamil itu membuat otot-otot di organ dalam menjadi lebih lemas supaya mudah digeser oleh rahim saat si adek bayi makin membesar. Ini juga yang bikin penyebab susah BAB/konstipasi di ibu hamil karena usus besar jadi “malas” bekerja.

    Omong-omong morning sickness, saya ingin berbicara soal kebiasaan masyarakat yang cenderung “menghakimi” ibu-ibu hamil.

    “Ditahan aja dong! Emang harus ya mual gitu?”

    “Ah, cemen lu muntah-muntah. Sabar aja, ntar juga lewat!”

    Paling menyebalkan ketika yang ngomong gitu belum pernah hamil. Wah, udah deh combo sebelnya. Langsung didoain dapet jalan tol blong kosong ke neraka.

    Teman saya, Icha, cerita pengalaman pribadi dia. “Dulu gw suka ngomong gitu ke temen-temen gw yang hamil — “sabar aja, ntar juga lewat…” — nah giliran gw hamil, gw muntah-muntah hebat dua bulan, bok! Diem deh gw sekarang.

    Percayalah ya, kalo boleh memilih, SEMUA ibu-ibu hamil di dunia ini pasti menginginkan kehamilan yang bebas-muntah-bebas-mual-bebas-khawatir. Tapi kenyataannya nggak begitu, bukan? Hormon, fisik, dan psikis ibu berperan penting di sini, dan setiap individu itu berbeda-beda. Ada yang nggak pake mual dan muntah sama sekali, ada yang SELAMA KEHAMILAN (iya, sampe si bayi lahir) itu mual dan muntah terus-terusan.

    Nah, jadi apa yang kita bisa katakan atau bantu ke ibu hamil yang mengalami mual dan muntah?

    Pertama, nggak usah komentar. Ini kasar dan seksis, tapi saya mau bilang: Terutamanya kalo anda ini laki-laki dan/atau belum pernah hamil. (Iya, ada kok cowok-cowok yang mulutnya mesti dijejelin cabe rawit sekilo karena doyan komentar, “mualnya ditahan aja lah! Gitu aja kok ga bisa!”) Iya, mungkin ibu/sodara/adik/kakak/tetangga/buyut/cicit/cucut/cecet/cocot anda pas hamil nggak mual-mual hebat apalagi muntah, tapi jangan samaratakan semua wanita di lingkungan anda. Bersimpatilah, wanita itu sedang membawa calon manusia di dalam tubuhnya. Bukan hal yang nggak mungkin ibu anda juga mengalami hal yang sama saat sedang mengandung anda.

    Kedua, lebih baik langsung membantu. Mungkin anda tahu bahwa sepupu anda saat hamil mengurangi rasa mualnya dengan meminum air hangat dengan perasan lemon. Ketika ada wanita di dekat anda yang mengeluh soal mual dan muntah di kehamilannya, anda bisa membantu dengan berkata, “mbak, coba konsumsi air anget pake lemon. Sepupuku nyobain itu dan sukses sih…” atau membantu mengambilkan air hangat. Itu jauh jauh jauh lebih membantu. Bahkan ucapan ‘simpel’ seperti, “aduh, pasti rasanya nggak enak banget ya mual-mual gitu. Semoga mual dan muntahnya cepet hilang yaaaa, semoga adek di perut dan mbak tetep sehat selama kehamilan,” itu sangat menyenangkan lho. Insya Allah doa yang baik akan didengar dan kembali ke si pengucap doa.

    Nah, kemarin itu rasanya… Ya Rabbi, pengen marah tapi ya gatau mau marah ke siapa.

    Di saya, acid reflux ini otomatis memicu rasa mual dan muntah. Jangankan sampe muntah, rasa terbakar di tenggorokan udah cukup bikin saya sebal dan terganggu.

    Akhirnya saya iseng cari di Google dan tanya-tanya ke teman-teman saya di group WhatsApp ibu-ibu. Alhamdulillah banyak saran yang saya terima dan sangat membantu. Minum air putih hangat, coba hindari makanan pedas dalam jangka waktu sementara, dan hindari makanan yang menyebabkan acid reflux. Nah, di saya, makanan/minuman yang menyebabkan acid reflux rupa-rupanya kopi dan teh. Untuk kopi, saya udah stop dari awal kehamilan (karena saya mendadak mual meminum kopi), tapi untuk teh… Whoaaa, agak berat rasanya, hahaha.

    Posisi tidur dan duduk juga sangat menentukan. Untuk menghindari gerakan asam dari lambung ke tenggorokan, sebaiknya posisi badan bagian atas/dada saat tidur lebih tinggi dari perut dan kaki. Jadi lah saya menumpuk empat bantal di tempat tidur untuk mengganjal punggung saya. Alhamdulillah agak mendingan rasanya tadi pagi saat bangun.

    Saya juga berusaha mengatur pola makan untuk menekan rasa mual dan acid reflux ini. Jadi kalau biasanya makan besar tiga kali sehari, saya saat ini bener-bener seperti sapi: Ngunyah terus. Tapi tetep makanan yang saya konsumsi juga nggak bisa seenak saya, hahaha. Biskuit gandum tawar dan buah itu pilihan utama, terutama pepaya. Pepaya dingin yang diberi perasan air jeruk nipis cukup mendinginkan tenggorokan saya yang kadang terasa panas, plus pepaya itu cukup netral untuk saya. Ingin beli semangka, tapi saya terlalu malas memotongnya kecil-kecil. Jadi pola makan saya saat ini cukup sering, bisa setiap dua jam sekali saya makan sesuatu — tapi dalam porsi yang kecil.

    Semoga aja mual dan muntah ini segera berhenti ya, hahaha. Teman saya, saat saya ceritakan kekhawatiran saya karena harus makan terus, berkata, “Insya Allah ini untuk trimester pertama aja. Nggak usah dipikirin masalah makanan yang dimakan. Nanti trimester kedua ketika udah bisa makan banyak, bisa mulai diatur asupan gizi dan nutrisinya.” Amiiiin, semoga kehamilan ini berjalan lancar dan sehat.

  • #catatanemak 10:35 AM. Mual dan Nggak Mual.

    Waktu saya liat hasil tes kehamilan yang menyatakan positif, saya kaget.

    “… ha gw hamil nih?”

    Soalnya seperti yang saya bilang di tulisan terdahulu, saya nggak merasakan tanda-tanda hamil; dan jujur aja, selepas itu saya ketakutan (sampe curhat di Snapchat coba ya…)

    “Ini bener ga sih hamil? Kok nggak mual? Kok bisa makan segala macem makanan? Kok biasa aja? Aduh jangan-jangan ovarian cyst?”

    Nah, ada satu hal yang saya lupa: Be careful with what you wish for.

    Baru deh beberapa hari ini saya mual-mual, hahaha. Kemarin masak sop buntut untuk makan malam berujung saya mual-mual hebat dan membuat saya sadar kalo saat ini saya nggak bisa makan daging (kecuali ayam dan ikan).

    “Lho kalo nggak mual pas hamil bukannya enak ya Kap?”

    Iya. Dan itu bikin parno, hahaha. Ya itu, “gw hamil ga sih?”

    Agak masokis juga keliatannya ya, hahaha. Justru ga enak mual-mual dan perasaan energi sampe minus itu malah bikin rasa tenang di hati.

    Yang baru ketauan ya si kunyil di perut ini nggak suka sama daging, bau Lifebuoy warna kuning (lemon), dan ayahnya. Tapi sayang banget sama abangnya (Wira).

    “Di perut aja ga suka sama ayah. Ntar kalo udah lahir juga nyariinnya ayah terus!” — Ari. Lagi kesel karena anak di perut ga suka sama dia (lagi. Iya, lagi. Waktu hamil Wira juga saya sebel banget sama mukanya Ari, apalagi kalo dia lagi tidur, hahaha.)

  • “Wira punya adek bayi!”

    Wira: “Di perut ibu ada adek bayi?”

    Gw: “Iya.”

    *Wira langsung angkat kaos gw*

    Gw: “WOY GA KELIATAN WOY”

    Wira: “Mana adek bayi ga keliatan…”

    Gw: “… Gini deh. Wira punya paru-paru kan?”

    Wira: “Iya.”

    Gw: “Nah, paru-parunya kan di dalam badan Wira. Ga keliatan dari luar. Ya kaya gitu.”

    Wira ngangguk-ngangguk.

    Ga lama, dia ke kamar.

    Keluar kamar, bawa-bawa boneka teddy bear dia.

    Boneka teddy bear dimasukin dalam kaosnya.

    Wira: “IBUK! WIRA JUGA PUNYA ADEK BAYI DI PERUT KAYA IBUK!”

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap