• Sambel

    Sebelum menikah, saya bukan orang yang doyan makanan pedas. Sambel sih ya masih bisa lah dimakan, tapi bukan yang “OMG HARUS ADA SAMBEL” gitu.

    Ketika udah menikah — apalagi pas hamil — jadi doyan banget sama sambel. Faktor utamanya itu Ari, hahaha. Dia doyan sambel, dan otomatis saya juga jadi doyan sambel. Waktu hamil juga senengnya makan makanan yang berbumbu dan pedas.

    Kemarin, saya beli dua mason jar di supermarket deket rumah. Rencananya mau diisi sambel jadi ga bolak-balik bikin sambel tiap hari.

    Sambel favorit saya itu sambel matah — sedangkan Ari lebih suka sambel terasi. Buat saya, sambel matah itu kaya salsa dari cabe, hahaha.

    Bikin sambel matah itu gampang. Cuma butuh cabe, tomat, bawang merah, lemon atau jeruk nipis, terasi/belacan, garam, dan minyak goreng sedikit.

    Cabe dan bawang diiris lalu dicampur dengan air jeruk nipis. Terasi digoreng lalu dicampur ke cabe dan disiram minyak goreng. Udah deh jadi.

    Nah, yang ini udah dicampur.

    Sambel matah setoples kecil ini bisa saya habisin dalam waktu 2-3 hari. Enak banget soalnya. Sebenernya saya pengen campur pake kecombrang/bunga jahe, tapi Ari ga suka. Ish.

    Buat Ari, saya bikinin sambel dadak — isinya sama, bedanya cabenya direbus dan diblender jadi satu.

    Saya juga tetep kasih minyak goreng bekas ngegoreng terasi biar ga kering dan gurih.

    Dan tentu aja, buat nemenin sambel kita bikin ayam ungkep goreng doooong.

    Saya pernah iseng nyari resep ayam ungkep di Malaysia ini, dan sebenernya isinya sama.

    Cuma…

    Ga digoreng.

    Padahal kalo digoreng jadi uenak banget lho.

    Untuk resep ayam ungkep, cuma butuh: bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, biji ketumbar, dan garam. Blender sampe halus deh.

    Udah halus, campur ke ayam.

    Campur sampe rata, lalu bisa didiamkan selama satu jam. Karena kemarin saya waktunya kepepet, saya langsung masak. Tutup wajan dan letakkan di atas api kecil selama 45-60 menit sampai bumbu menyusut dan diserap ayam. Sebagai tambahan, bisa tambahkan serai dan daun salam.

    Sebenernya ga perlu dikasih air, tapi kalo pas ngeblender bumbu dikasih air sedikit biar hasilnya alus, juga gapapa. Intinya mah pas diungkep itu bumbunya keserap semua.

    Begitu bumbu terserap semua (wajan ga ada sisa air lagi), bisa disimpan (kalo di rumah sih, paling lama seminggu) atau langsung digoreng. Dimakan pake nasi anget dan sambel, sedaaaap.

  • Menghindari Bosan

    Highlight obrolan di grup Telegram pagi ini: Menghindari rasa bosan.

    Karena saya ibu rumah tangga, saya sedikit lebih “mudah” karena cara saya adalah “drop everything and go.” Kalo saya udah mulai jenuh, pagi hari setelah mengantar Wira sekolah saya menuju taman KLCC dan berjalan mengelilingi taman. Kadang saya sambung ke Kinokuniya (yang berujung deg-degan takut dompet jebol kalo aja ada rilis buku atau komik baru) atau supermarket Cold Storage (yang juga berujung deg-degan takut kalap beli tanaman untuk rumah. Murah sih murah, tapi kalo mendadak beli 20 pot ya piye…)

    Siang hari, baru jemput Wira dan kembali ke rumah. Siap beraktifitas.

    Agak sulit memang untuk teman-teman yang bekerja kantoran atau harus selalu siap siaga. Semoga selalu semangat menghadapi rutinitas sehari-hari.

  • Berbicara mengenai postpartum depression

    I know the reason I waited was actually quite simple: stigma. Women are supposed to love motherhood and embrace it with unbridled enthusiasm. So what, I thought at the time, was wrong with me?

    My Postpartum Depression Did Not Make Me A Bad Mom

    Saya mengalaminya juga. Belum sampai tahap postpartum depression (saya rasa lebih ke baby blues) tapi saya merasa bahwa hal seperti ini jarang, atau malah tidak pernah, dibicarakan oleh masyarakat.

    Seorang ibu HARUS bahagia saat melahirkan anaknya.

    Seorang ibu HARUS bahagia saat menyusui anaknya.

    Seorang ibu HARUS tampak menyayangi anaknya.

    Karena itu yang sering ditampilkan di media, bukan? Foto ibu yang tersenyum penuh mesra ke bayinya di iklan produk bayi atau apalah itu.

    Padahal itu juga bukan ibu dan anak betulan. Hanya model iklan.

    Iya, ada ibu yang bahagia luar biasa saat melahirkan si bayi.

    Tetapi ada juga ibu yang ketakutan. Tidak tahu harus bagaimana.

    Dan masyarakat tanpa kenal ampun akan menuding ibu itu bahwa “KAMU BUKAN IBU YANG BAIK. KAMU IBU YANG JAHAT. KAMU BINATANG.”

    Benarkah begitu?

    Seorang ibu bisa tertekan. Seorang ibu bisa menangis. Seorang ibu bisa merasa buntu dan tidak tahu harus bagaimana. Seorang ibu bisa merasa kesepian saat dia harus mengasuh anaknya sedangkan si suami pergi ke luar rumah dan bekerja — bersosialisasi. Seorang ibu bisa melihat dirinya telanjang di depan cermin — melihat semua bekas parut-parut stretch mark — dan merasa dirinya sangat buruk rupa serta berpikir “kalau saya tidak hamil, ini tidak akan terjadi.” Seorang ibu bisa melihat anaknya dan berpikir andaikan saja si anak tidak ada mungkin hidup dia akan baik-baik saja dan lebih bebas. Seorang ibu bisa melihat ke anaknya dengan penuh amarah dan berteriak, “andaikan kamu tidak ada, aku bisa menggapai cita-citaku!”

    Dan itu normal. Sungguh.

    Dan setelah mengalami semua itu, tetaplah si ibu memasang wajah dan jiwa yang gagah berani untuk mengasuh anaknya dengan penuh kasih sayang dan percaya bahwa dia bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi.

    Rasanya saya ingin memeluk jiwa-jiwa hebat itu. Sungguh.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap