• ‘Sour Grapes’ (2016)

    Abis nonton ‘Sour Grapes’ di Netflix sambil ngelipet baju (penting yeee diceritain) terus abisannya bengong.

    Gw orangnya baperan, jadi ya kalo abis baca buku atau nonton film ya pasti… bengong. Kaya butuh waktu beberapa menit kembali ke dunia nyata, heuhe.

    Gw pernah baca sekilas banget soal kasus penipuan anggur ini. Kenapa sekilas, karena artikelnya, ummm, panjang. Ya, saya udah masuk ke generasi malas-baca-panjang-panjang dan short attention span; thanks but no thanks to the Internet (lha iki piye malah nyalahin Internet.)

    Ini artikel yang dimaksud:

    A Vintage Crime

    Collecting vintage Burgundies, Rudy Kurniawan drove the rare-wine market to new heights, then began selling his treasures. Or so it seemed. Michael Steinberger uncorks what may be the largest case of fine-wine fraud in history.

    Yaaa awalnya baca juga karena, “WAH! ORANG INDONESIA!” (we tend to feel closer to our fellow countrymen, yes) terus bengong juga. Eanjir itu bisa nipu anggur mihils bingits sampe jutaan dolar itu manusia beneran dan duit beneran? Bukan modal nyabut bulu ketek? TERUS ORANG INDONESIA?

    Gw pribadi suka sekali dengan kisah/cerita, film, dan/atau serial TV yang berhubungan dengan penipuan (scam/hustle). Gimana ya… Ada sebabnya kenapa para pelaku ini disebut con-artist. Penipuan sendiri ada short con, ada long con. Penipuan jarak pendek itu ya biasanya tipu-tipu yang sering didenger di media kaya orang pura-pura ga punya duit buat mudik lalu minta duit ke orang lain mengandalkan belas kasihan, dan lain sebagainya. Penipuan jarak panjang itu lebih detil, lebih punya “cerita” — kasarnya, lebih serius nipunya. Penipuan investasi bodong itu termasuk long con buat gw sih ya.

    Untuk gw yang paranoid, tentu aja kisah-kisah penipuan gini bisa dibilang bikin gw makin parno. Ya ga juga sih yaaa… Apa ya, lebih skeptis mungkin? That “are you fucking kidding me”-attitude. Tapi ya kemungkinan besar gw toh tetap bisa jadi target penipuan juga ya.

    Kembali ke dokumenter ‘Sour Grapes’ ini. Awalnya adalah seorang anak muda, Rudy, yang mendadak muncul di acara lelang anggur mahal/vintage dan membeli anggur lelangan dengan harga tinggi. Rudy ini menarik perhatian banyak orang, bahkan termasuk media, karena kenekatannya membeli anggur mahal — rata-rata burgundy — dan pengetahuannya yang sangat luas mengenai anggur di kalangan wine connoisseurs. Konsumsi anggur saat itu tergolong cukup tinggi dikarenakan kondisi ekonomi sedang sangat baik — dan anggur menjadi salah satu sarana untuk menunjukkan gengsi/prestige

    Banyak hal abstrak di dunia ini yang untuk menentukan sebuah kualitas kadang ga pake standar/kualifikasi secara saklek; dan kalopun ada, ga semua orang bisa. Misalnya, kopi. Gw ini orang yang ga bisa bedain kopi blas. Jadi jangan kasih gw kopi mahal, sayang soalnya. Kemungkinan besar gw ga bisa menghargai kopi mahal karena gw ga tau bedanya dengan kopi-kopian (ya tiap pagi gw juga minumnya kopi instan jeh.)

    Anggur, salah satunya. Wine connoisseur, kolektor, dan pemilik kebun anggur tau betul jenis anggur yang bagus dan emang otentik. Tapi sebagian besar dari konsumen anggur banyak yang awam atau ya sekedar penikmat anggur kasual.

    Paling parah; ga tau apa-apa tapi demi gengsi berusaha gembar-gembor (keeping up with the Joneses)

    Nah, ini yang sering diincar oleh penipu.

    Rudy sering berbicara bahwa dia punya koleksi anggur klasik yang berharga tinggi yang dia jual melalui lelang; dan itu ga masalah kalo bener.

    Seringnya: “The consignment included one bottle of 1929 Ponsot Clos de la Roche, a grand cru (Burgundy’s highest designation) that the domaine did not produce under its own label until 1934.”

    Ngakunya punya Ponsot Clos de la Roche keluaran tahun 1929. Padahal kebun anggur Ponsot di Burgundy sendiri BARU PUNYA label sendiri (Ponsot) tahun… 1934.

    Laurent Ponsot, pemilik kebun anggur Ponsot (usaha turun temurun keluarganya), memutuskan menyelidiki asal muasal anggur-anggur palsu ini. Ketika dia tiba di New York, dia menghentikan pelelangan 97 botol Ponsot karena dia percaya bahwa semuanya itu anggur palsu.

    Ponsot sempet bertemu Rudy beberapa kali, dengan niat baik untuk ngasih tau Rudy bahwa anggurnya palsu dan Ponsot ingin tau dari mana Rudy dapet anggurnya itu.

    Setelah diputer-puterin sama Rudy, dan setelah pihak FBI ikut menyelidiki, akhirnya ketauan lah kalo Rudy sendiri yang memalsukan anggur-anggur itu. 

    Menariknya, masih ada beberapa orang yang meyakini kalo Rudy ga bersalah; bahwa apa yang Rudy lakukan itu ‘cuma’ “reliving the experience.” Entah denial atau apa ya, hmmm.

    Gw merekomendasikan film dokumenter ini untuk siapapun yang tertarik dengan kisah penipuan. Untuk generasi X ke atas — terutama yang tau kejadian 1998 — gongnya itu ketika dijelasin Rudy itu keponakannya siapa. Four out of five stars.


  • H-1 “Money Talk and Garage Sale” with #buibuksocmed

    Di event kedua kita kali ini ada yang beda loh. Akan ada interactive talkshow tentang pentingnya kesadaran finansial bagi wanita yang disampaikan Janus Indonesia. Yang tidak kalah menarik, ada garage sale barang-barang kece starts from 25K! Yeay!

    FREE ENTRY!

    Jadilah 100 orang pertama yang beruntung bisa ikutan seminar bareng kita, dapet goodie bags menarik dan lunch. Daftar di bit.ly/buibuksocmedform dan tunggu email konfirmasi dari kami ya. Pendaftaran ditutup jam 17.00 hari ini

    Sabtu, 29 April 2017
    10.00 – 17.00 WIB
    Gedung Bursa Efek Indonesia (IDX), Jakarta Selatan

    Save the date ya, buibuk. See you there! #WanitaMelangkah

    P.S.

    – Ada giveaway menarik yang bisa kamu dapetin juga loh. Cek timeline twitter @buibuksocmed yuk!

    – Dresscode: Rapi, Sopan dan Nyaman

    Love, #buibuksocmed

  • ‘Sour Grapes’ (2016)

    http://www.vanityfair.com/culture/2012/07/wine-fraud-rudy-kurniawan-vintage-burgundies

    Currently watching on Netflix. ‘Sour Grapes’ (2016)

    (Post di Path malah itu app crash — udah kejadian beberapa kali. Yowes lah, memang sudah musti mengaktifkan blog kembali yekan?)

  • Leap 1. The World of Changing Sensations

    Saya memutuskan untuk nulis perkembangan Rey bukan per bulan, tapi per-leap (lompatan).

    Lompatan? Lompatan apaan Kap?

    Jadi ada fase dalam tumbuh kembang anak dari usia 0-2 tahun yang menandakan perkembangan mental (dan kadang fisik) dia. Fase ini bisa dibilang “anak mau pinter.” Buat orang Indonesia, kadang kalo anak sumeng/demam ringan kan orang tua suka bilang ya, “wah, mau pinter tuuh…” Tanda-tandanya emang kaya gitu. Kadang sumeng, rewel, sering menyusu, dan pengennya digendong/kontak fisik dengan orang tua/pengasuh terus.

    Istilah enggres untuk fase ini adalah wonder weeks. Nah, kalo udah masuk fase ini ya siap-siap deh anak rewel.

    Saya sendiri menyiapkan diri saya melalui app The Wonder Weeks. Saya tau soal app ini dari Hafiz, dan pas itu saya sempet berpikir, “waah, Wira udah gede nih, huhu. Ga kepake deh…” Eh kok ya kepake juga di adeknya, hahaha.

    Yang ada simbol awan badai itu adalah fase “wonder weeks”, hahaha. Kok awan badai? Ya karena si anak lagi rewel, persis hujan badai. Kenapa rewel? Karena dunia sekitar si bayi berubah sangat drastis dan itu menakutkan buat si bayi. Jadi ya untuk mencari rasa aman dan nyaman, si bayi menempel terus ke orang tua ataupun pengasuhnya.

    BTW, buset dah itu dari minggu 14 sampe minggu 19 ujan badai muluk… *emak menyingsingkan lengan baju*

    Nah ya seperti yang bisa dilihat, Rey saat ini sedang rewel-rewelnya, huhu. Tadi pagi seharian sampe sore, aduh, bukan main rasanya. Biasanya Rey tidur jam 11 siang sampai jam 2 siang lalu tidur lagi jam 5 sore sampai jam 7 malam, ini blaaasss seharian nggak tidur. DAN NANGIS. Dari nangis “ehek ehek” sampe nangis menjerit keras, dijalanin semua. Digendong baru anteng, ditaro di tempat tidur? Woelah, jerit lagi. 

    Aduh, rasanya itu frustrasi. Capek fisik dan pikiran. Satu sisi ya saya mengerti kalo ini fase, satu sisi ya KOK GINI AMAT DAH JADI EMAK. Kaya gini ini lho yang tiap liat wajah bocah lagi tidur atau kalo lagi mood-nya bagus, rasanya sayaaaaang banget. Kalo lagi rewel? Sayang aja. Ahuehaheuaheuah.

    Untuk fase pertama ini, bisa dibilang lumayan drastis buat Rey. Terutamanya karena jarak pandang dia tiba-tiba meluas; dari 20-30 centimeter lalu *BLAR* meluas jadi 75 centimeter. Mungkin ibaratnya orang minusnya udah parah terus pake kacamata kali ya? Wow. Semua tampak cerah. Wow.

    Jadi ya… Bisa dibilang anaknya kaget mungkin (?) Mendadak dia liat dunia sekitar dia ternyata luas dan gede banget sedangkan dia ngangkat pantat aja belum bisa, jadi rada panik, “IBUK MANA IBUUUKKKKK!”

    Yaaa bocahnya panik, maknya ketempelan macem sapi perah yang ga bisa gerak ke mana-mana.

    Omong-omong soal rewel, nah ini ada lagi nih yang saya juga agak khawatir. Jadi di badan Rey sebelah kiri itu merah dan bruntusan. Takutnya ini ya keringet buntet/heat rash/prickly heat. Pertolongan pertama, saya pakein Bepanthen. Sorenya, Ari pulang kantor sekalian beli Calamine dan Sebamed.

    Saya sih berharapnya rewelnya ini cuma di fase aja, jadi jangan dobel-dobel sama ruam, huhuhu.

    Bismillah. Gusti Allah paringono kesabaran dan kekuatan. Amiin!

  • Kembali Melalui Baby Blues?

    Saya pernah bercerita di sini mengenai 3-6 bulan pertama kelahiran Wira dan baby blues yang saya alami. Entah lah kalo bisa dibilang sudah mendekati post partum depression atau belum, tapi saya sempat membenci Wira di masa-masa itu — dan bahkan menyalahkan dia akan situasi yang saya alami; stuck, nggak bisa berkarir, ‘terpaksa’ menjadi susu perah ASI, dan segala macemnya label negatif yang saya tempelkan ke diri saya.

    Dengan Rey, secara kejiwaan bisa dibilang saya sudah lebih stabil dan lebih tenang. Minimal saya tahu apa yang saya hadapi dan akan saya hadapi.

    Tetapi ya namanya juga perasaan negatif psikis ya, itu nggak bisa 100% hilang. Lebih ke “tidur” di dalam pikiran saja.

    Sabtu lalu, orang tua saya kembali ke Indonesia setelah sebulan penuh di KL untuk menemani saya sebelum dan setelah kelahiran Rey. Hari ini, pertama kalinya saya di rumah bersama Rey dan Wira saja sementara Ari bekerja di kantor (Malaysia long weekend Jumat-Senin dalam rangka tahun baru cina). Jujur, momen seperti ini — hanya ada saya dan anak-anak di rumah — yang membuat saya ketakutan beberapa hari ini. Mengingat bagaimana kondisi saya dengan Wira saat itu, saya nggak ingin hal itu terjadi lagi ke Rey.

    Alhamdulillah, semua berjalan — yaaa, paling tidak ya… — lancar. Wira, sebagai abang, membantu sebisa dia dan bermain sendiri sementara saya mengurus Rey yang sedang kembung dari semalam makanya agak rewel. Tapi ya secara keseluruhan semua berjalan dengan baik dan saya bahkan bisa memasak makan siang untuk Wira dan makan malam.

    Tadi sore, ketika saya sedang menyusui Rey, nah di situ mendadak rasanya seperti… Apa ya, seperti ngeh perasaan yang pernah familiar (perasaan yang pernah ada #halah) Tau nggak sih, pas lagi bengong atau gimana gitu, terus mendadak ngerasa “ih kok gw ngerasa gini ya?” Rasanya itu seperti rasa kesepian yang sepiiiii banget dan rasa sedih. Rasa “duh kok gini amat ya gw…” dan rasa frustrasi yang merayap di kepala.

    Nah, itu rasa familiar di saya ya karena saya rasain ketika saya dengan Wira. Takut? Takut dong. Jangan sampe kejadian lagi, jangan sampeeee *ketok kayu*

    Saya coba inget-inget lagi seharian ini ngapain dan gimana di rumah, kok bisa saya ngerasa gini. Rasaan nggak ada yang aneh-aneh, toh hanya saya dan Wira dan Rey di rumah…

    Sampe saya ngeh: Hanya saya dan Wira dan Rey di rumah.

    Bisa dibilang, perasaan melankolis itu — yang biasanya jadi awal semua baby blues — dimulai karena saya nggak komunikasi/ngobrol dengan sesama orang dewasa. Sebelumnya, saya baik-baik aja karena saya biasa ngobrol dengan papa dan mama saya. Sekarang, begitu mereka udah kembali ke Indonesia, saya ngobrol dengan Ari. Itu juga ketika dia di rumah. Kalo nggak? Lawan bicara saya adalah bocah berusia 4 tahun dan bayi berusia 3 minggu.

    Nah, bayangin deh tuh gimana ngobrol sama dua jenis manusia itu. Yang satu ya macem “ibu ibu ibu ibu ibu liat ini bu main sama aku bu ibu ambilin aku snack bu ibu aku mau kue bu ibu ibu ibu ibu ibu” dan yang satu boro-boro nganggep saya ibu; dia mah masih nganggep saya mesin ASI, tukang ganti popok, dan tukang gendong.

    Dua-duanya memberikan label “IBU” ke saya; dan itu nggak salah karena mereka memang anak-anak saya. Saya ibu mereka.

    Tapi komunikasi saya dengan orang yang melihat saya sebagai “Nindya” itu ya minim sekali. Itu lah yang bikin, mungkin ya, saya frustrasi dengan keadaan saya — suka nggak suka. Karena peran sebagai ibu itu, jujur ya, capek lho. Keinginan untuk teriak “BODO AMAT!” itu selalu ada, tapi ya nggak bisa diucapkan juga, hahaha. Toh ini pilihan yang sudah diambil, beserta resikonya.

    Pertanyaan “duh kok gw gini amat ya?” ditanyakan bukan saya sebagai ibu, tapi saya sebagai Nindya.

    Jujur, rasanya “lega” untuk tahu apa penyebab perasaan nggak enak yang bercokol di kepala. Minimal saya tahu bahwa ini penyebab utama baby blues di saya sehingga saya bisa ngacungin jari tengah dan ngomong ke otak saya, “not now, Satan.”

    Tinggal gimana cara mengatasinya sih… Sebelumnya, saya “menekan” baby blues saya (walopun ya… Alakadarnya sih hasilnya) dengan ngeblog. Bismillah.

  • Next project: Intermediate Theme Developer

    I want to develop themes that sing praises for the 2000s. I always feel we could have a bit more 2000s-era whimsy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Post-Rock. Gregorian. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre. “Love is Love“.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com