• Kap’s Brain Fart 10:42 PM

    Waktu gw lahiran anak-anak, nyokap bilang ke gw kalo, β€œAri harus ada mendampingi kamu.” Banyak dokter obgyn yang juga berprinsip sama, bahwa ayah harus ada saat ibu melahirkan supaya β€œlebih menghargai si ibu” (walopun otak riwil gw berkata, β€œso basically most men will respect women when the women went through heavy labor between life and death rather than respecting them as human being on the first placeMMmmmmMMMMmmmOKay...”)

    Dan selama lahiran bocah dua kali, ya gw taunya kontraksi, ngomelin Ari, dan ngeden.

    Nah, gw barusan liat video lahiran normal di Twitter. Tanpa sensor dan tanpa warna hitam putih. Detik-detik ketika si bayi keluar dari vagina.

    Jadi, ngeliat yang benernya terjadi di bawah sana kan.

    Holy macaroni.

    Gw sampe jerit, β€œHANJIR,” pas liat si bayi akhirnya keluar sebadan-badan.

    Sekarang PAHAM BANGET arti, β€œkaya ngeluarin bola dunia dari dalem perut.”

  • WordPress Ulang Tahun

    OK, ini telat BANGET, cuma gw baru ngeh kalo WordPress berusia 15 tahun di tahun 2018 ini.

    Dan yang bikin gw bangga nggak penting?

    Tahun 2018 ini gw 11 tahun di WordPress. Di bulan yang sama pula, hahaha. Bulan Mei. Ini rasanya seperti ngeliat seorang teman dari kecil (oke, jeda 4 tahun, tapi NGGAK APA-APA LAH YAAAA,) ngikutin perjalanan dia, bahkan ketika temen baik lu satunya lagi ikutan bergabung, tahun ini blingsatan kenapa kok ga ada featured WordPress theme seperti biasa (ternyata karena tim WordPress sedang sibuk mengerjakan Project Gutenberg), nyobain WordPress.org lalu balik lagi ke WordPress.com karena aku sobat qizmin dirasa belum butuh punya domain sendiri, dan ngeliat betapa berkembangnya WordPress sekarang ini.

    Gw yang, “UWUWUWUWUWU~” pas gw baca artikel ini, hahahaha (From Kubrick to Twenty Sixteen: A History of WordPress Default Themes) Apalagi ketika ngeliat themes jadul Kubrick. Gw pribadi suka banget (IYA, agak kontradiktif dengan keluhan gw dulu kalo WordPress terlalu “serius”) dengan default themes dari WordPress karena secara umum bisa diutak-atik sendiri dan, apa ya, seperti foolproof gitu (?) Gw sendiri ya balik-balik lagi pake Twenty Eleven karena secara keseluruhan ini theme aslinya udah memenuhi keinginan gw. Gambar ga nggilani, ukuran font sesuai, dan mendukung post formatting.

    Happy really belated birthday, WordPress. Congratulations for what you had and having, and best wishes for what you are going to be.

  • Terima Kasih Lagi, Zi!

    Dikirimin kartu pos lagi sama Zi! Why and how are you so nice, it’s beyond comprehension. Terima kasih banyak ya Zi. Ailopyupuuuuul!

  • Categories dan Tags

    Jadi hari ini gw mutusin beberes Categories dan Tags di blog ini; lalu gw baru ngeh kalo konten pindahan/import dari blog lama itu masih di kategori default. Rada males sebenernya mau beresinnya, siwer satu-satu, hahaha.

  • Kaktus Pindah Rumah

    Jadi kaktus ini sebenernya bukan punya gw, tapi punya Wira. Entah gimana, anak ini suka ikut semangat kalo liat kaktus, jadi dia pengen punya tanaman juga. Tapi namanya juga bocah ya, ujung-ujungnya emaknya juga yang ngerawat, hahaha.

    Nah, kaktus ini udah agak gede kan ukurannya. Menurut banyak anjuran soal berkebun, tanaman apapun itu saat sudah terlihat tumbuh melebihi ruang tanam/pot, sebaiknya dipindahkan ke pot yang lebih besar/repotting.

    Masalahnya satu:

    Gw terlalu takut.

    Bukan apa-apa, gw takut kalo batang kaktus itu pada kepotek/putus gitu kan. Masalahnya, udah ada empat hingga lima batang kaktus yang patah.

    Nah, ya daripada kaktusnya tambah tumbang kaya gitu karena rumahnya kekecilan, jadi lah gw memutuskan untuk repotting si kaktus.

    Tanya-tanya dulu ke temen-temen yang lebih paham soal kaktus di Instagram. Alhamdulillah ada bang Acep dan Iing yang langsung ngasih saran. Yang harus disiapkan atau digunakan itu lap/kain dan sarung tangan tebal. Kaktus diletakkan miring/tidur di atas kain yang sudah dibentangkan lalu potnya ditekan-tekan agar tanahnya melonggar. Begitu kaktus sudah bisa dikeluarkan, tanamannya ditutup kain dengan lembut supaya nggak melukai tangan sekaligus melindungi si kaktus. Pindahkan kaktus ke pot baru, lalu isi dengan media tanam/tanah.

    Gw juga nyediain alas supaya lebih mudah membersihkan nantinya karena kegiatan berkebun gw selama ini terbatas di balkon apartemen; jadi supaya tetep resik dan nyaman juga.

    Biasanya untuk repotting itu gw menyediakan: Media tanam, pot, alas, sarung tangan, sekop kecil, gunting tanaman, dan botol spray isi air.

    Alhamdulillah, proses pemindahan tanaman berjalan dengan baik; potongan kaktus juga gw tanam di media tanam — kabarnya sih tanaman kaktus dan succulent ini mudah berkembang biak.

    Gw rasa ga butuh waktu lama untuk si kaktus ini tumbuh makin besar dan musti pindah rumah lagi, hahaha. Sehat-sehat ya kalian para kaktus.

  • I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, it’s, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!

    I’m still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer