Awalnya saya pengen nulis soal ini di buku jurnal saya, tapi saya lalu berpikir, “… Well, screw that,” jadi saya menulis ini di blog.
Dua hari ini saya rasanya… Apa ya, dibilang tertekan juga nggak. Dibilang apatis/bodo amat juga nggak. Tapi rasanya nggak ada semangat untuk melakukan aktifitas sehari-hari.
Kemarin, saya menerima kabar bahwa salah satu mahasiswa saya meninggal dunia. Dari yang saya dengar bahkan sejak berbulan-bulan lalu, mahasiswa saya ini bisa dibilang bekerja terlalu keras. Divisi tempat dia bekerja mempunyai jumlah staf yang sangat terbatas, dan berujung dia dan rekan-rekannya bekerja nggak kenal waktu. Akhirnya fisiknya tumbang, sakit, opname, sakit memburuk, lalu… Ya kemarin itu. Berita yang saya baca di bagian komentar di profil FB-nya. Di foto yang bergambar tulisan tangan dia yang berisi perasaan dia yang takut dan nggak tentu; tapi dia berusaha berani karena dia yakin bahwa kondisi akan menjadi lebih baik.
And it was.
Tapi tetap lah… Yang namanya sedih itu ada. Pengajar mana sih yang nggak pengen liat anak didiknya sukses sampai tua? Atau mengetahui bahwa mereka mempunyai kehidupan yang baik dan tenang. Lalu mendengar kabar bahwa seseorang yang masih muda sudah harus dipanggil pulang oleh Allah. Gone too young and gone too soon.
Lalu hari ini saya mendapati bahwa Wira menderita bronkitis. Wira sudah sebulan ini batuk-batuk, tapi seperti pasang surut. Kadang membaik, kadang kumat lagi. Dokter sendiri berkomentar bahwa hal itu dapat dipahami. “You got confused and thought it was just a common cold.“
Dokter telah memberikan resep dan pengingat untuk secara rutin membersihkan rumah dari debu (karena debu adalah penyebab utama dari bronkitisnya Wira) namun tetap saya khawatir.
Untuk saya, umur semuda Wira dengan badan yang masih mungil begitu terbatuk-batuk tak berhenti cukup membuat saya senewen.
Tahun 2016 ini agak ‘mengejutkan’ buat saya. Bukan yang “dor! Kaget!”, tapi ada hal-hal yang saya lakukan dan membuat saya kaget karena eh ternyata kok menyenangkan, eh ternyata kok bisa dijalankan.
Pertama, menulis jurnal. Saya selalu mengira saya bukan orang yang rajin menulis. Ya, saya suka membaca, tapi itu pun mulai menurun karena saya lebih memilih berkeliaran di media sosial. Saya lupa kapan tepatnya saya mulai berminat menulis jurnal; kalo ga salah awalnya saya ngobrol sama Dian lewat WhatsApp skala prioritas dan dia beberapa kali nyeletuk soal kebiasaannya nulis jurnal. Saya mulai coba-coba menulis jurnal, dan dia memberikan informasi mengenai bullet journal. Setelah dicoba, eh kok ya bisa dijalani ya buat orang pemalas dan kacau balau seperti saya, hahaha. Sejak itu, mulai membiasakan menulis jurnal — dan nggak hanya hal-hal rutinitas seperti to-do list; tapi juga catatan-catatan “kurang penting” (Miss Colombia nggak jadi dapet mahkota karena MC Miss Universe 2015 salah sebut negara pemenang oh-em-geeeeeee) atau “rangkuman” hari saya, terutama keadaan emosi. Lumayan lah, jadi nggak berantakan lagi kegiatan sehari-hari, hahaha.
Kedua, aktifitas yang berhubungan dengan kesehatan alias olahraga. Saya dulu aktif berolahraga — saat sekolah dan kuliah. Sekarang? Errrrr.
Oke. Setelah sakit punggung setiap rebahan di tempat tidur, kaki pegal-pegal setiap pagi, perasaan mau mati dengan masa kecil saya terpampang jelas di depan mata setiap saya berjalan kaki tiap 100 meter, dan merasa seperti gumpalan lemak yang hanya bisa bersendawa dan menghabiskan oksigen terlalu banyak dan menghasilkan karbondioksida lebih banyak lagi lalu merasa tidak bahagia, tertekan, dan bosan, saya memutuskan untuk bergerak.
Saat itu pun jiwa pemalas saya masih lebih kuat. Saya memilih yoga.
Dan bukan yoga yang dilakukan di gym ataupun di studio yoga. Yoga untuk pemula, di Youtube. Paling tidak, saat itu saya bilang ke diri saya sendiri: “Ini supaya nggak sakit punggung lagi.”
Setiap hari, Insya Allah, saya melakukan rutin yoga ini selama 15 menit. Baru beberapa hari ini saya menambahkan gerakan-gerakan yang pernah saya pelajari saat saya masih di klub beladiri saat sekolah dan kuliah dulu. Saya agak kaget karena gerakan senam pemanasan di klub yang saya ikuti itu ya dasarnya adalah gerakan yoga, hahaha. Menyenangkan juga melihat bahwa yoga ini juga banyak ada di sehari-hari kita dan sebenernya cukup mudah dilakukan, sadar ataupun nggak.
Setelah yoga, saya melakukan satu hal yang baru saya lakukan 3 hari lalu.
Ke gym, menggunakan treadmill.
Iya. 31 tahun hidup di muka Bumi ini, belum pernah sekalipun saya ke gym; sampai 3 hari lalu. Saya tulis di jurnal saya saat itu: Hari ini, coba pergi ke gym. Karena plis deh, gym tersedia GRATIS di apartemen. Terbuka setiap saat. Lokasi di lantai bawah. Sudah begitu masih malas? Ya ampun.
Sama seperti saya pertama kali menggunakan mesin dryer saat baru pindah ke Kuala Lumpur (karena satu-satunya metode mengeringkan baju yang saya tahu saat itu adalah menjemurnya di bawah sinar matahari), hal pertama saat saya melihat mesin treadmill adalah: “Ini gw mencet yang mana?”
Saya keinget satu dialog di seri TV The Big Bang Theory saat Leonard mencoba menyalakan mesin fitness, dan salah satu orang berkata, “press Start…“
Ya memang tinggal pencet tombol Start sih, hahahaha.
Lima menit pertama, saya sibuk adaptasi dengan kecepatan dan belajar satu istilah baru: incline. Saya sempet bingung, “incline itu apa… Apa ya gw badannya maju ke depan? Pencet pencet pencet, eh kok nggak ngaruh apa-apa sih…” Ari baru menjelaskan ke saya saat dia pulang kerja bahwa incline itu artinya posisi menanjak di treadmill. “Itu kan bisa diset kemiringannya berapa, makin tinggi ya makin menanjak.”Oh begicu… Hahaha.
Untuk treadmill, saya sendiri nggak berani langsung kalap berjam-jam lalu langsung lari. Pertama, saya nggak kuat lari. Kedua, saya nggak kuat nafas karena nggak kuat lari. Ketiga, saya nggak kuat nafas karena nggak kuat lari apalagi berjam-jam. Jadi saya hanya sekedar jalan cepat selama 30 menit. Beruntungnya, salah satu teman saya di group WhatsApp yang saya ikuti pernah berkata bahwa “untuk membakar lemak sebaiknya berjalan kaki atau berlari secara konstan minimal 20 menit. Di bawah 20 menit, hanya gula darah yang dihabiskan.”
Saya bertanya ke diri saya sendiri, sebenernya kaya gini ini buat apa; dan buat saya, mungkin ini bisa membuat saya merasa bahagia.
Untuk saya, kebahagiaan dan merasa bahagia itu beda. Kebahagiaan itu ya… Pola pikir. Mental. Bukan sebuah gol. Kasarnya, “lu mau bahagia? Ya… Bahagia.” Hal ini yang sayangnya sering diucapkan ke teman-teman yang sedang tertekan dan depresi, dan percayalah, itu nggak nolong sama sekali. Yang bisa kita lakukan adalah, menjelaskan dan membantu mereka untuk merasa bahagia. Bisa dengan mendengarkan mereka, memahami rasa takut mereka, menemani, atau mengajak mereka melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka merasa lebih baik. Salah satu teman saya pernah bercerita saat dia merasa depresi, lalu dia berpikir hal yang sangat ‘sepele’, tapi justru menolong dia. “Waktu itu gw berpikir, “besok sarapan apa ya?” karena sebelumnya gw makan pancake enak banget. Hal itu ternyata ngebuat gw menjadi sedikit lebih kuat dan mempunyai harapan untuk hidup lagi keesokan harinya. Gw berpikir bahwa gw nggak akan bisa menikmati game yang akan rilis, film animasi dari Ghibli, atau pancake pake bacon yang gw suka banget kalo gw mutusin stop. Saat itu gw berpikir: Oke, kita jalanin satu hari lagi. Liat nanti kaya gimana.“
Olahraga membuat saya merasa lebih baik. Terutamanya karena saya mendengarkan Fall Out Boy saat jogging dan percayalah, kombinasi jogging, keringat, dan ‘Centuries’-nya Fall Out Boy membuat kamu merasa bisa menguasai dunia dan mendirikan tirani dengan namamu sebagai diktator.
Salah satu sisi positif olahraga rutin seperti ini adalah saya bisa mengeluarkan energi berlebih yang kalau disimpan terlalu lama akan membuat saya uring-uringan. Kalau saya uring-uringan, saya biasanya pergi berjalan-jalan ke mall dan berujung membeli benda-benda yang saya nggak butuhkan. Sekarang, mungkin sebelum berolahraga saya berpikir, “ah nanti jalan-jalan ke Suria KLCC ah…” Tapi setelah berolahraga dan mandi, saya lebih memilih rebahan di tempat tidur sambil bergumam “capek”, hahaha.
Memang ini masih awal sekali. Masih bulan Januari, yang biasanya memang orang-orang penuh dengan harapan dan janji-janji untuk menjadi lebih baik — dan biasanya harapan dan janji itu langsung punah di bulan Februari. Makanya saya nggak berani memasang janji atau harapan yang terlalu muluk.
Saya hanya ingin merasa hepi dan lebih baik setiap hari. Kalau bisa 366 hari seperti itu ya Alhamdulillah.
Kemarin sore, Ari pulang kantor sambil nyerahin selembar kertas ke saya.
“Apa ni? Kok ditempel di pintu?”
Saya bingung, hahaha. Lha saya juga nggak tau. Pas saya liat, ternyata itu surat notis/surat peringatan dari PosLaju mengenai paket untuk saya yang harus diambil di kantor pusat PosLaju. Saya bingung karena saya nggak tau itu paket apa dan dari mana; tapi ya akhirnya saya memutuskan untuk ke kantor pusat PosLaju untuk mengambil paket tersebut tadi pagi.
Yang kirain “hanya” naik LRT, ternyata saya salah turun stasiun dan nyasar di NU mall (soalnya buat saya mall-nya itu gede banget,) akhirnya sampai juga saya di kantor PosLaju. Nggak lama menunggu, akhirnya paket saya terima.
Saya akhirnya keinget kalo beberapa minggu lalu, teman kami (group Telegram) Hafiz yang bekerja di Automattic sebagai salah satu Happiness Engineers di WordPress, tiba-tiba bertanya, “ada yang mau punya apparel WordPress?”
Tentu saja kami di group langsung rusuh. Langsung panik buka website online store WordPress dan memilih produk yang diinginkan. Hafiz yang memesankan dan produk langsung dikirimkan ke alamat masing-masing.
Faktor utama saya sangat senang adalah ukurannya yang pas di saya, hahaha. Untuk jaket memang adanya unisex, namun untuk kaos saya memesan model kaos wanita karena unisex sudah habis. Pengalaman saya yang sudah-sudah, kaos wanita tidak pernah muat di saya — terutama bagian pundak. Beruntungnya, pihak merchandise WordPress yang bekerjasama dengan American Apparel mempunyai ukuran sampai 2XL. Saya memesan kaos ukuran 2XL dan kaosnya pas dan nyaman di saya.
Bagian lengan jaketnya sangat nyaman dan cukup panjang — saya jarang lho dapat pakaian yang bisa memenuhi ukuran panjang lengan saya, huhuhu.
Di bagian belakang kaos ada lambang WordPress beserta URL wordpress.org
Kalo temen-temen berminat, bisa cek online store merchandise WordPress di mercantile.wordpress.org
Sewaktu awal masuk sekolah, gurunya Wira berkomentar bahwa Wira adalah anak paling kecil dan pemalu.
Sekarang, Alhamdulillah nggak terlalu pemalu, hahaha. Masih malu-malu (mirip saya sewaktu saya TK) tetapi sudah mulai berani “tampil”. Menggemari olahraga dan musik; dan mulai paham yang namanya “eksis/tampil”.
“Wira mau ikut les musik. Nanti Wira main drum terus ayah ibu tepuk tangan hore hore.”
Yang setahun lalu masih lumayan pilih-pilih makanan (benci setengah mati dengan pasta dan makanan barat lainnya), sekarang sudah berani bilang makanan favoritnya adalah spaghetti (dan di sini ibunya bernafas lega karena nggak repot bikin menu makan malam mingguan) karena dibiasakan makan makanan yang lebih beragam di sekolah.
Bersekolahlah yang baik dan amanah ya nak. Sesungguhnya menuntut ilmu dengan penuh amanah dan niat baik adalah sebagian dari perjuangan dan kelebihan yang kita miliki.
KonMari adalah metode pengaturan barang (organizing) dan membuang barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi (decluttering) yang mempunyai satu prinsip: Does this thing spark joy?
Saya sendiri belum baca bukunya (dan saya penasaran — jadi keliaran di Google membaca berbagai artikel dan review) tapi dari potongan-potongan artikel kanan kiri, KonMari ini menjadi salah satu metode hits dalam membersihkan dan mengatur barang-barang yang ada di sekitar kita. KonMari disusun oleh Marie Kondo yang menggunakan prinsip dari gaya hidup orang Jepang untuk menjaga rumah tetap rapi dengan pendekatan minimalis. Salah satu blogger favorit saya, Jenny, menggunakan metode KonMari untuk mengatur isi rumahnya — dan saya akui, rumahnya tampak bersih, rapi, dan menyenangkan.
Saya sendiri sebagai ibu rumah tangga suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan rumah yang rapi, hahaha. Hanya secara pribadi saya kurang yakin apakah KonMari ini cocok untuk rumah dengan anak balita/anak-anak. Teman saya, Dian Ara, pernah komentar, “tanteku pernah ngasih tau: kalo anak masih di bawah 6 tahun, rumah berantakan itu masih bisa dimaafkan. Ketika anak sudah berumur 6 tahun ke atas, seharusnya rumah sudah bisa rapi karena anak sudah paham untuk membereskan mainannya sendiri dan bahkan membantu pekerjaan rumah — terutama membereskan barang-barang.”
Dan sejauh ini, itu yang saya pegang. Saya sendiri nggak ada metode khusus untuk membereskan dan membersihkan rumah, tapi saya menggunakan jadwal untuk membersihkan rumah (misal, hari Senin membersihkan kamar mandi, hari Selasa mengelap mebel, dan seterusnya.)
Kembali ke metode KonMari.
Dari yang saya baca, saya sendiri banyak menyetujui prinsip dari KonMari; dan prinsip utama metode ini — apakah benda ini membuat saya senang? — saya aplikasikan sejak setahun pertama saya dan Ari menikah.
Penyebab utamanya adalah karena kami berdua sering sekali pindah rumah. Saya pernah bercanda ke Ari bahwa kami tidak pernah tinggal di sebuah rumah selama lebih dari satu tahun. Satu tahun pertama pernikahan tinggal di Depok, lalu setahun berikutnya tinggal di rumah kontrakan di BSD, dan setahun berikutnya pindah ke rumah yang telah dibeli di BSD. Rumah yang kami kira akan ditempati bertahun-tahun ternyata harus kami tinggalkan setahun berikutnya (lagi!) untuk pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Proses pindah rumah berkali-kali itu lah yang membuat saya lebih “mudah” melepaskan barang. Setiap saya membereskan barang, saya akan berpikir, “apakah barang ini membuat saya hepi? Membuat saya jadi lebih baik? Masih berguna? Membuat kondisi rumah dan keluarga jadi lebih baik?” Kenapa? Yakali tiap pindahan barang-barang bawaan selalu bertumpuk dua kali lipat.
Jebakan yang sering ada dalam proses “membuang” itu biasanya ada dua:
“Aduh, itu kan harganya mahal!” (biasanya di produk kecantikan/make-up)
“Aduh, itu kan penuh kenangan!”
Untuk produk kecantikan yang harganya mahal… Nah, ini yang sekarang saya jadikan tolak pikiran: “Begitu produk itu saya beli, produk itu otomatis sudah ‘terbuang’. The goods I bought are immediately consumed and decreased in value — or even lost its value — right when I paid for it.” Begitu *srek* kartu debit digesek dan produk dibayar, sebenarnya produk itu langsung kehilangan nilai materialnya. Bisa langsung dianggap “habis”/”terbuang”. Depresiasi. Jadi ketika produk itu ternyata malah lebih sering membuat saya frustrasi (ternyata masker malam yang dibeli nggak cocok dengan kulit, dan lain-lain) jadi ya lebih baik saya singkirkan. Bisa saya berikan ke teman atau keluarga yang mungkin lebih cocok, atau kalau ternyata sudah kadaluarsa (ya, produk kecantikan juga mempunyai masa kadaluarsa) ya saya buang.
Dan pendekatan itu akhirnya mendidik saya untuk lebih perhatian dengan kondisi kulit saya sendiri — alias nggak asal beli produk yang klaimnya macam-macam. Saya tetap bisa membeli produk kecantikan, namun saya bisa memastikan bahwa produk itu memang cocok untuk saya dan membuat saya menjadi lebih baik. Proses ini juga menjadi terapi ke saya. Setiap saya melihat satu produk make-up yang saya punya dan saya nggak suka, saya suka berpikir, “lah ini kenapa gw beli ya…?” Di situ saya sadar; kalau saya terlalu lama berdiam di rumah, biasanya saya bosan dan stres. Kalau saya bosan dan stres, saya PASTI membeli produk make-up (misalnya, lipstick atau eyeshadow) terlepas saya butuh atau nggak. Impulsif. Jadi dari situ saya berusaha mengenali tanda-tanda ketika saya mulai bosan dan mencari cara untuk mengalihkan energi saya supaya nggak numpuk di badan dan berujung stres. Bisa dengan cara jalan-jalan di taman (sekalian memenuhi target 10,000 langkah per hari) atau melanjutkan membaca buku.
Untuk barang-barang yang penuh kenangan…
Nah ini.
Di sini saya juga setuju dengan Marie Kondo bahwa proses bersih-bersih dan membuang barang-barang yang tidak digunakan itu sebenarnya adalah proses yang sangat pribadi dan sebaiknya nggak ada campur tangan dari orang lain, apalagi keluarga.
Saya punya banyak barang yang “diturunkan” ke saya karena “barang ini dulunya punya eyang/tante/bude/sodara yang saya bahkan nggak tau namanya dan mukanya/sudah ada di keluarga selama puluhan tahun.”
Panggil saya cewek materialistis, tapi kebanyakan barang kenangan yang saya punya itu tidak mempunyai nilai yang tinggi (bukan berlian atau emas murni *uhuk* Dan untuk perhiasan pun saya pilih-pilih — untuk aksesoris, saya malah lebih senang aksesoris nuansa kayu atau batu. Saya benci setengah mati dengan perhiasan logam karena buat saya emas atau perak yang digunakan sudah nggak murni. Lebih baik saya minta berlian murni atau emas murni dalam bentuk batangan, hoahahahaha~) Lebih sering pakaian yang nyaris sobek karena kainnya rapuh puluhan tahun disimpan di lemari dan bahkan nggak muat dipakai saya atau malah membuat umur saya bertambah 150 abad ketika saya pakai.
Kalau saya bilang ke si pemberi bahwa saya akan mendonasikan pakaian-pakaian itu, bisa kena amuk massa saya. Jadi apa yang saya lakukan? Ya saya nggak bilang. Kalau ditanya? Ya baru saya bilang. Atau ya yang biasanya terjadi sih… Udah pada lupa juga.
Satu lagi barang-barang “penuh kenangan”. Buku harian dan foto mantan! Hahahahaha.
Apakah benda-benda itu memberikan perasaan senang?
OH HELL, NO.
Yang ada perasaan macem perut ditonjok lalu keinget memori yang nggak enak lalu akhirnya berujung memaki diri sendiri kenapa saat itu begitu bodoh.
Masukkan kardus, tutup dengan lakban, buang. Selesai.
Atau kalo punya barang-barang dari mantan, ya bisa dibuang atau dijual atau dikasih. Seinget saya pernah ada semacam garage sale barang mantan di Jakarta, hahaha. Tagline-nya “duitin kenangan pahit lu!”
Bukan berarti ini saya nyuruh “HAYO BUANG SEMUA BARANG KENANGAN!” Sekali lagi, pilah dan pilih barang yang kita miliki. Ada kenangan dari almarhumah eyang berupa foto saat liburan dan merupakan kenangan manis, bisa kita simpan. Ada perangko langka dari buyut yang kita miliki bisa kita simpan (bisa menjadi barang bersejarah dan kalau harganya tinggi bisa dijual! *eh*) Pastikan bahwa barang-barang yang kita miliki, tua ataupun baru, memberikan manfaat dan membuat kita merasa dan menjadi lebih baik. Jangan jadikan barang-barang yang kita miliki menjadi semacam rantai dan bola beban takkasatmata yang menahan kita menjadi manusia yang lebih baik.
Bagaimana dengan koleksi (ini saya sebut karena saya sendiri mengakui Ari mengoleksi produk Star Wars dan Lego)? Sekal lagi, apakah itu membuat diri pribadi senang? Apabila iya, ya nggak apa-apa. Nggak ada yang salah dengan mengoleksi barang-barang kesukaan/hobi.
Ujungnya, membuang barang-barang yang nggak membuat kita bahagia adalah salah satu proses kita menjadi pribadi yang lebih tenang dan, yah, bahagia. Membuat kita sadar bahwa kita mempunyai begitu banyak barang dan mengetahui bahwa kebiasaan konsumsi kita bisa diatur lebih baik dan bijaksana.
Quick blurbs
I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, itβs, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!
Iβm still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).