• (Sebelum) Halloween

    Mendekati akhir Oktober, mulai banyak acara pesta Halloween diadakan; salah satunya sekolahnya Wira.

    Karena saya dan Ari sama-sama nggak pernah dateng ke pesta Halloween (oke, saya pernah sekali waktu masih bekerja sebagai konsultan PR dan komunikasi — tapi itu juga bukan Halloween sih; lebih mirip pesta topeng. Tapi saya memilih pake jubah hitam karena saya tergila-gila dengan kostum jaman pertengahan/medieval) jadi kita berdua nggak pernah yang antusias banget “OMG IT’S HALLOWEEN QUICK BREAK OUT THE COSTUMES AND THE FACE PAINTING” gitu. Atau ya bisa dibilang kita berdua nggak pernah yang sangat antusias dengan pesta; kalopun dateng ke pesta, area penyebaran kita biasanya radius satu meter dari meja buffet.

    Lalu ada lah ini acara bertemakan Halloween. Saya dan Ari sama-sama bingung.

    Koreksi, saya doang yang bingung.

    Ari, mendengar “acara Halloween” disebut, langsung ribut.

    “DANDANIN ANAKNYA KAYA STAR WARS.”

    Entah itu menjadi orangtua, entah itu indoktrinasi.

    Karakter yang dipilih adalah karakter baru di Star Wars (Star Wars VII: The Force Awakens) yang bernama Kylo Ren. Saya bilang kalo ke sekolah dengan kostum Kylo Ren, pake kostumnya SAJA. Nggak perlu bawa lightsaber karena 1. Berbahaya, dan 2. Emang dilarang sama pihak sekolah.

    Di foto di atas itu, “jubah” Wira sebenernya cardigan Marks & Spencers saya dan sabuknya dari gaun batik saya. Masalahnya, jubahnya itu memang masih terlalu besar jadi Wira jalannya pun harus diseret-seret. Akhir pekan lalu, Ari akhirnya membeli kostum ninja untuk dipakai Wira, melengkapi kostum Kylo Ren-nya.

    Saya sendiri melihat Halloween ini sebagai perayaan biasa. Malah kalau melihat sejarahnya, Halloween ini lumayan jauh dari kesan ceria ? Tapi yaaa, ini bisa jadi pengenalan kebudayaan yang baik untuk Wira dan anak-anak lainnya.

     

  • Shiseido ‘High School Girls?’ TVC

    Temen saya, Glenn, bertanya begini di Path:

    Ini yang di kepala aku ya, panjang banget.

    1. Ini iklan beneran? Apa scam?
    2. (Pihak) Shiseido mau gitu?
    3. (Gimana) perasaan para perempuan liat ini iklan? Selucu laki yang liat?
    4. Kenapa di headline beritanya dibilang Makeup Ad, bukan Shiseido Ad? (Refer ke http://www.adweek.com/news/advertising-branding/ad-day-remarkable-makeup-ad-high-school-girls-has-one-hell-twist-167710)
    5. When (are) deeper truths hide in plain sight?
    6. Simbol-simbolnya cocok buat remaja?
    7. Kalo iklan beginian dipropose ke klien sini, gimana?
    8. Apa gak “wah itu make upnya banci”?

    Lalu ini yang saya jawab:

    Kalo di Jepang kayanya untuk gender-bender lebih “biasa” buat mereka, terutama karena pengaruh anime manga. Cewek dandan kaya cowok, cowok dandan kaya cewek. Minimal anak mudanya. Untuk dandanan juga cowok-cowok di Jepang sama Korea udah ga “malu” untuk pake make-up (lebih metroseksual?)

    Yang aku penasaran, justru gender-fluid ini di Jepang. Iya, anak mudanya lebih nerima. Tapi generasi tua Jepang itu kan saklek banget ya, belum lagi Jepang adalah salah satu negara yang paling seksis. Hebat juga ya manajemen Shiseido nerima ide iklan begini. Tapi emang iklan Jepang sering aneh-aneh sih ya.

    Eh tapi kabuki aja isinya cowok semua ya. Dan mereka memerankan karakter cewek. Takarazuka itu musikal yang isinya cewek semua dan memerankan karakter cowok. Nrimo-nrimo aja orang Jepang mah.

    1 dan 2. Kayanya beneran. Nongol di akun Youtube resmi Shiseido plus behind the scene. Mau… Ya mungkin ? Udah banyak contoh perusahaan Jepang ambruk karena para manajernya ga mau dengerin input anak muda. Mungkin mereka belajar dari situ. “Bikin yang (setengah) sinting sekalian! Make it viral!”

    3. Aku perempuan dan aku gapapa.

    4. Mungkin karena reporternya murni nemu konten dari viral/buzzwords? Kalo pasang nama Shiseido di judul, dianggep promosi oleh pihak Shiseido? Atau kebijakan lain menurut editor ?

    5. Ketika apa yang tampak tidak seperti yang dikira *tsaaah* #kapkapbijak. Kayanya — KAYANYA — ini sedikit “sindiran” dan “referensi” ke iklan itu. Sempet ada shot sekilas nyorot ke kaki si siswa naik meja, itu ngena banget ke kebiasaan orang Jepang yang rada pervert/peeping-tom/tukang ngintip. Pas cilukbakekok cowok, macem, “hayooooo, salah kaaan?” Terus di artikelnya juga ditulis, shot di awal sengaja gambar cewek untuk “masang” pikiran bahwa yang ada di ruang kelas itu cewek beneran. Pas kenyataannya cowok, baru dibilang deh “apa yang lu liat pertama/first impression belum tentu sama dengan kenyataan”

    6. Mungkin cocok. Temanya anak sekolah, tapi ngena juga ke pasar yang lebih luas. Dan mereka pake kata “cute”, biasanya lebih sering dipake oleh produk make-up untuk remaja. Kalo yang lebih dewasa, biasanya “elegant” atau “pretty”. Ini “cute”. Mungkin Shiseido pengen masuk ke konsumen remaja. Kalo liat bentuk produknya sih mungkin ya. Plus, musiknya. Lebih hip. Dan talent cowoknya pada guanteng-guanteng gitu (jadi kebayang shoujou-manga. Kyaaa, notice me, senpai~)

    7. Mungkin kurang cocok. Bakal rame diomongin dan dianggap kontroversial. Indonesia masih yang “cowok harus keliatan cowok! Cewek harus keliatan cewek!”

    8. Untuk pasar Jepang, mungkin nggak ngaruh. Inti pesannya “COWOK AJA BISA CUANTIK, KENAPA LU NGGAK?” Faktor kawaii/cute di Jepang kan kenceng banget buat anak-anak muda, terutama cewek. Bahkan dari kemasannya aja aku rasa bakal menarik pangsa pasar mereka, pah. Untuk Indonesia, aku ga bisa bilang karena aku bukan target market mereka (ga punya duit, hahaha) tapi kalo dikasih sih ya nggak nolak #mureeee

  • Fee Fi Fo Fum (2015)

    ‘Fee Fi Fo Fum’ (2015)

    Fee-fi-fo-fum,
    I smell the blood of an Englishman,
    Be he alive, or be he dead
    I’ll grind his bones to make my bread

    Monochromatic study. Watercolors.

  • Red Hood (2015)

    ‘Red Hood’ (October 2015)

    Monochromatic study. Watercolors.

  • I Decided to Discontinue My Inktober

    Uh, so… Most of you here might have seen my Inktober’s submissions slowing down even up to a halt.

    Yeah, I decided to discontinue it. I turned my focus on watercolors study instead. I might doing Inktober wrong because I keep doing the same thing over and over again. I don’t feel myself getting better in inking and coloring, and I really want to improve myself — and one of the ways is through watercolors. Watercolors is some kind of my Everest.

    However, I learned one thing from Inktober though. Strictly using one color — black — without any shading from markers. You can clearly see why I love ‘The Raven’ and ‘The Price’ pieces so much. I learned how to limit myself on one color only and express myself in unlimited ways.

    Here’s for my fellow friends still doing Inktober: Keep the good job. Hopefully I will re-join the Inktober forces again on 2016, Insha Allah.

  • I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.

    My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer