• Hijrah Socmed?

    Jadi mungkin masih ada yang inget kalo di tahun 2014 (?) gw sempet ngehapus akun Twitter gw karena gw terlalu stres dengan kondisi timeline yang kacau balau, politik kotor ga karuan fitnah kanan kiri (gimana caranya orang percaya kalo seseorang itu bisa muslim syiah, kristiani, kafir, DAN komunis di saat yang sama? HADEH!), dan banyak teman-teman gw yang… Gini deh, gini. Banyak orang yang gw kenal, dan saat itu di linimasa gw, kebetulan jadi sosok yang berpengaruh. Sebut saja, influencer. Ada dari mereka yang memang menjadi spokeperson untuk partai tertentu, ada yang memang suka beropini — dan sayangnya, berdebat. Oke. Kata ‘berdebat’ terlalu baik. Berantem.

    Yang berdebat berantem ini lho. Jadi lah saat itu macam Perang Kurusetra; gila-gilaan makian kanan kiri, hinaan depan belakang, segala macam tweet penuh kebencian dan kemarahan entah dibalas atau di-retweet. Lelah banget bacanya. Yang ga ikut-ikutan jadi ikutan capek.

    Nggak lama selepas itu gw hapus akun Twitter gw; hanya untuk kembali tahun 2016? 2017? Kisaran itu lah; buka akun Twitter untuk ngobrol dengan teman-teman dan promosi beberapa kegiatan komunitas saat itu (karena mau gimana juga, Twitter masih menjadi media promosi yang efektif, kalo tau kapan dan gimana ngomongnya *uhuk*) Twitter Bagian Kedua, sebut saja begitu, bener-bener gw jaga untuk Following. Untuk follower ya… Ya udah sih ya, ga bisa diatur juga kan.

    Udah seperti itu pun, tetep aja nongol satu-dua tweet politik ga jelas. Sampe gw akhirnya memutuskan untuk mute beberapa keywords.

    Bisa dibilang selepas itu agak santai sih ya jadinya. Gw juga berpikir untuk ngeliat Following gw lagi. Nah, tapi saat ini gw juga pengen memaksimalkan WordPress Reader gw karena ada potensi untuk itu. Gw seneng ada fitur ‘Save for Later’/‘Bookmark’, ‘Like’/‘Favorite’, dan ‘Share’ baik ke akun media sosial ataupun ke blog kita sendiri.

    Yang sebenernya jadi, apa ya, pikiran gw adalah tema WordPress yang cenderung kohesif/sama dari satu bagian ke bagian yang lain. Satu sisi, bagus banget karena memang satu tema dan memberikan jaminan ke pengguna kalo, “oh, gw masih di ranah WordPress.” Satu sisi, karena sama semua, kadang suka kelewat. Seperti forum WordPress yang sebenernya bisa jadi tempat untuk pengguna paket Gratis bertanya (fitur Live Chat dengan Happiness Engineer diprioritaskan untuk pengguna dengan paket Personal dan Premium. Untuk paket Business, malah bisa bikin jadwal chat untuk konsultasi *JIEE GW CERITANYA UDAH PAHAM LHO FITUR LIVE CHAT BUAT SIAPA AJA JIEE MEMANG HAPPINESS ENGINEER NEH KAPKAP NEH *tepuk-tepuk dada* *batuk-batuk*) — walaupun tenang saja, di forum WordPress itu BUANYAK WordPres Volunteers dan staf (Happiness Engineer) yang siap sedia membantu.

    Nah, forum itu kan ngebantu banget ya, sekaligus membangun komunitas. Cuma karena temanya ‘mirip’ dari segi tampilan dan warna (layout), jadi suka kelewat sama pengguna. Apalagi forum itu letaknya di bawah Support, jadi untuk masuk ke forum itu agak tersembunyi (masuk ke en.support.wordpress.com, scroll ke bawah, ada menu Community, nah di bawah Community itu ada tautan Forums.) Kalo lu buka Dashboard WordPress di wordpress.com, ketika lu klik Help (icon tanda tanya di pojokan Dashboard) itu akan diberikan ke laman isinya tips dan dokumen Support. Bagus sih, karena memang ya seharusnya begitu kan untuk bantuan. Cuma gw pribadi merasa kalo untuk tautan ke laman Forum juga ada di bagian Help akan sangat menolong. Di app? Itu juga agak tersembunyi. Tab dan laman Help ada di dalam tab Me. In some ways, I kind of understand the frustration happened among new users when they try to find some help or support documents regarding their new site. Makanya gw ada harapan kalo gw bisa membantu lebih banyak di area situ. Siapa tau, SIAPA TAU, gw juga bisa ngasih masukan untuk membuat tab Help dan Forum lebih mudah diakses oleh pengguna kalo nantinya gw masuk ke Automattic, yekaaaan?

    BTW, balik ke soal WordPress Reader sebagai sosial media. Gw nyium naga-naganya WordPress pengen masuk ke sosial media itu ketika mereka mulai bikin post formatting untuk post dan fitur Bookmark, Like, dan Share di Reader. Bau-baunya mirip Tumblr, tapi kesannya lebih serius, hahaha. 

    Jadi gw ya ngerasa, hey, kenapa nggak? 

    Beneran deh, coba pikirin ini: WordPress menguasai 25-30% CMS Internet. Kepikir nggak, situs apa aja yang ditampung mereka? Cekidot WordPress VIP-nya, kakaaaaak~ (INTERMEZZO: GAEESS, NGETIK PAKE GUTENBERG AJEB BANGET, GAEEEES. LU MAU MASUKIN LINK TINGGAL HIGHLIGHT TEKS TERUS NTAR NONGOL PILIHAN UNTUK NAMBAH LINK, GAEESSS. KAGA USAH SCROLL KE ATAS JAUH-JAUH, GAEEEESSSS!) — Kapkap NGGAK BAKAL MUNGKIN punya WordPress VIP. Terlalu insignificant untuk punya WordPress VIP, huhuhuhu.

    Jadi gw mau ngikutin beberapa situs berita dan situs-situs yang relevan sama minat gw di WordPress Reader (dan lu bisa tetep follow blog atau situs non-WordPress selama mereka punya feed. WordPress Reader ini ya macem feed reader versi rapi, hahaha.) Hu juga cerita dia baca blog gw pake WordPress Reader, dan sepertinya juga lebih enak ya, karena kalo ada tulisan baru ya dia bisa baca langsung.

    Untuk Twitter, ya paling kalo gw butuh meme receh (???) Facebook… YA SUDAH LAH YA.

    Nambah:

    Kalo nulis di Gutenberg (/wp-admin) lalu dibuka/edit di Dashboard web (wordpress.com), line break-nya langsung ngelompat jauh banget/jadi dobel. Semoga aja isu accessibility di Gutenberg segera beres supaya bisa rilis di semua platform.

  • ‘Growing Affection’ — Yuta Tanaka

    Yuta Tanaka ini seorang Jepang yang juga menjadi part-time busker/pengamen. Gw beberapa kali ngeliat Yuta di stasiun LRT Ampang Park dan stasiun LRT Suria KLCC. Nggak banyak pengamen yang pasang informasi akun Spotify, jadi ketika gw liat tanda Spotify di kotak gitarnya Yuta pas nonton dia, gw langsung cari di Spotify, hahaha.

    Nggak banyak juga yang memainkan karya asli/original works dan Yuta ini salah satunya yang punya dan rutin memainkan karya-karyanya sendiri. Yang paling sering gw denger itu ‘Under the Wrong Sky’ (bisa diliat di akun Spotify Yuta juga.)

  • Melukis Pagi

    Tau kan, saat-saat ketika lagi sarapan. Kok ya damai sekali rasanya. Bisa makan roti, minum kopi. Tenang sekali rasanya. Nggak ada suara sekali rasany–

    Lalu panik. Nggak ada suara. NGGAK ADA SUARA.

    Hidup bersama balita, “nggak ada suara” itu artinya “Siaga Satu. Siap Sedia Kotak P3K, lakban, alat pemadam api ringan, obat-obatan, dan senter.”

    Setengah panik dan hampir kesedak kopi, gw langsung noleh ke arah ruang TV. Kuas gambar gw terlihat berayun-ayun dipegang Rey.

    Gw lari ke meja TV.

    Air minum Rey sudah ambyar di atas meja. Tangan mungilnya mencelupkan kuas ke dalam gelasnya, lalu dengan cekatan menggoreskan air ke atas meja.

    Rey menoleh, lalu tertawa. Bangga luar biasa. Lihat nih, aku melukis. Lihat nih, aku pintar.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap