• (Insya Allah) Adiknya Wira

    Eeeeh, jadi mulainya dari mana ya…

    Sebenernya saya pengen nulisnya ini setelah hari Sabtu aja, setelah meyakinkan diri di dokter. Tapi setelah ngetes dua kali dan hasilnya sama, jadi saya mutusin buat nulis di sini aja.

    Insya Allah, saat ini saya sedang mengandung. Usia lima minggu jalan ke minggu ke-enam.

    Iya. Insya Allah adiknya Wira.

    Rencana untuk mempunyai anak kedua sebenernya udah sejak akhir tahun lalu (November 2015) ketik saya memutuskan untuk melepas IUD. Proses melepasnya pake acara curhat dulu sama obgyn, hahaha. Ketika saya bilang bahwa umur Wira (saat itu) 3 tahun, dia agak kaget.

    “What took you so long?”

    Saya rasa, mungkin karena tergolong wajar banget di Malaysia untuk nggak pake KB terlalu lama sampe tahunan ya. Untuk keluarga Melayu yang otomatis muslim, wajar banget untuk mempunyai anak lebih dari dua ataupun tiga. Jadi mungkin, mungkin lho yaaa, si ibu juga nggak terlalu lama menggunakan KB.

    Nah, ditanya gitu gimana kita ga curcol ya dijeeeeee. Jadi lah saya cerita bahwa setelah kelahiran Wira, saya mengalami baby blues; bahkan saya curiga masih ada sisa-sisanya sampe sekarang. Belum lagi dengan adaptasi dari saya yang dulunya bekerja (working mom) lalu menjadi ibu rumah tangga (stay at home-mom) di KL. Mau gimana juga pasti ‘kaget’.

    Alhamdulillahnya, si dokter sabar banget gitu dengerinnya. Kayanya dia juga seneng ada emak-emak yang curhat ke dia, hahaha. Dia bilang, “I’m glad you tell me this. Mothers usually suffer in silence.” Hiks *peluk emak-emak sedunia* Sampe dokternya bilang ke saya kalo dia siap dan bersedia bikin surat rekomendasi siapa tau gw mau ngobrol ke psikolog.

    Nah, karena curhat gitu juga, dokternya sampe nanya tiga kali ke saya: “Are you sure?” Hahaha.

    … Dan, yaaa, Insya Allah saya hamil sekarang.

    Terus kaget gitu pas tau.

    Bukan kaget gimana macem “HA KOK BISA?” tapi karena Alhamdulillah saya nggak merasa mual sama sekali. Kaget juga karena udah masuk itungan minggu ke-lima, karena sebulan sebelumnya itu saya nggak ngerasa apa-apa. Bahkan sempet mudik ke Jakarta.

    Saking ga kerasanya, saya sampe panik sendiri dan bertanya, “eh ini bener ga sih gw hamil?” Mana pake ngebaca soal ovarian cyst kan yaaaa, makin bubar jalan lah pikiran emak-emak paranoid ini. Tapi setelah ngetes lagi pake testpack, Alhamdulillah hasilnya sama. Positif.

    Ada temen cerita kalo dia pas awal hamil itu ga mual, tapi baru mulai minggu ke-delapan. Nah, saya ini mulai ngerasa agak mual, apalagi kalo nggak/telat makan. Pusing eneng ini gimana masa harus ngunyah terus TIMBANGAN APA KABAR TIMBANGAN. Tapi disaranin juga sama temen-temen sesama ibuk-ibuk di grup WhatsApp buat ngemil biskuit polos sama air putih aja biar ga heboh-heboh amat naik berat badannya. Kalo bisa juga ngemil buah.

    Nah, karena ini Insya Allah anak kedua, Wira juga udah kita siapin mentalnya dari awal. Dimulai dengan memanggil dia dengan sebutan “abang Wira” (anaknya sendiri yang mau. “Wira, nanti mau dipanggil dengan sebutan mas, kakak, atau abang?” “Abang ajah”) dan suka saya ajakin dia ngomong, “sayang adek di peruuut. Sayaaaang…” sambil tangannya ngelus-ngelus perut saya.

    Pas awal pertama kami bilangin soal adek di perut, anaknya emang bingung sih. Kaos saya langsung ditarik dan dibuka, “mana ga ada adek bayi di perut ibu,” katanya. Heh.

    Saya sendiri lagi berpikir-pikir apa perlu nulis semacem jurnal kehamilan di sini. Saya melakukan hal yang sama saat hamil Wira, tapi… Kontennya udah ilang ditelan bumi, hiks. Nanti gimana kalo anaknya udah gede liat blog emaknya ini lalu sebel kenapa kok yang dicatet cuma adeknya, bukan dia — ntar jadi berantem kakak adek coba ya.

    Mohon doa restunya ya teman-teman.

  • JTUG Formasi Awal

    It’s like 2007 all over again

  • 09:05 AM. Kabut Asap (Lagi)

    Beberapa hari ini, KL dan area Klang Valley dilanda lagi dengan kabut asap. Sepertinya sekarang ini saya yang kena efek jerebu, dari kemarin sakit tenggorokan dan batuk-batuk — rasanya ada yang nyangkut di tenggorokan. Padahal seluruh jendela rumah sudah ditutup.

    Penyebab kebakaran berasal dari dalam negeri. Kemungkinan besar perkebunan sawit di Sepang (area bandara KLIA/KLIA2) terbakar. Sudah dua kali KL hujan deras sih, tapi kabut asap tetap membandel; jadi mungkin di Sepang nggak turun hujan.

    Kebakaran terjadi karena dipicu oleh cuaca panas dan heatwave 2 minggu ini. Kabarnya malah ini heatwave terparah dalam 10 tahun ini. 

    Semoga kebakaran ini cepat dapat dipadamkan dan nggak menambah korban.

  • Ayo hujan dong…

    Seharian ini KL puanasnya naudzubillahhi min dzalik.

    Barusan ini denger suara gemuruh geluduk. Ayo dong hujan, huhuhu.

  • 02:58 PM. Halo Singapura!

    Awal April lalu (tanggal 2 dan 3 April) kami sekeluarga berkunjung ke Singapura untuk liburan. Akhir Maret – awal April itu sebenernya juga karena Wira sedang libur sekolah sampai dua minggu *krik krik krik* Plus, bulan Februari lalu sebenernya kami juga berencana ke Singapura namun batal karena saya dan Wira tumbang karena virus dan sakit tenggorokan.

    Ari sudah sangat familiar dengan Singapura. Saat kami masih pacaran, kami sempat menjalani hubungan jarak jauh dengan dia di Singapura dan saya di Jakarta. Paling tidak saat kami mampir ke sana, nggak buta-buta amat lah ya, hahaha.

    Satu-satunya hal yang familiar di saya mengenai Singapura adalah Merlion. Dan kotanya yang katanya super bersih. Saya juga penasaran dengan angkutan umumnya, karena bahkan warga Kuala Lumpur pernah berkomentar ke saya kalau angkutan umum di KL itu masih kalah jauh dibandingkan oleh Singapura.

    (Yang tentu saja saya terbengong-bengong dengernya. Untuk saya yang dari Jakarta ini, angkutan umum di KL itu SURGA. Kalau angkutan umum di KL dianggep bapuk, ya apakabar Transjakarta dan Commuter Line dong? *hiks*)

    Kami tiba di Singapura siang hari — dengan penerbangan pagi. Satu hal yang saya pertama sadari saat di Singapura — terutama di antrian imigrasi — adalah: Garis pembatas antrian tidak dibutuhkan. Secara otomatis orang akan mengantri di depan loket yang tersedia. Tapi untuk selebihnya, tetap ada garis antrian. Kalau boleh dibilang, namanya juga bekas negara kolonial InggrisIf one man stood still long enough, a queue would form behind him.

    Selama di Singapura, kami lebih sering menggunakan angkutan umum — terutama MRT. Saya sempet bingung apa bedanya MRT dan LRT, karena saya lebih sering menggunakan LRT di KL; dan buat saya, “lah dua-duanya sama-sama kereta kok…” Ternyata bedanya memang hanya di skala ukuran saja. MRT lebih besar, namanya juga “Mass Rapid Transit“; sedangkan LRT lebih kecil (Light Rapid Transit).

    Untitled

    Kesan pertama? Singapura itu.. Panas. Bener-bener PANAS.

    Saya kira saya sudah cukup tahan banting dengan panasnya Malaysia yang macam matahari ada tujuh di langit (ada becandaan orang Malaysia, kalo “here in Malaysia we have four seasons la: Hot, Really Hot, Damn Hot, and Fucking Hot“), tapi oh men, Singapura datang dengan gegap gempita macem nantangin, “SIAPA TADI YANG BILANG TAHAN PANAS HAH? SIAPA?

    Tips pertama: Bawa dan gunakan sunscreen/sunblock. Nggak usah tanya. Pokoknya iyain aja.

    Saya jadi kepikiran deh, hari ini Malaysia sedang heatwave begini gimana di Singapura ya…

    Nah, untungnya, Singapura juga punya banyak objek wisata dalam ruangan (indoor) berupa museum dan galeri seni yang rata-rata menggunakan AC, huhuy. Kalopun jalan-jalan di luar, banyak juga para uncle yang jualan es krim potong yang lehendaris itu. Harga masih sama, SNG$ 1. Kalau menggunakan roti, ditambah 20 sen. Sedap!

    Untitled
    Untitled

    Karena hanya dua hari satu malam, kami nggak banyak berkesempatan berkunjung ke banyak tempat. Untuk area Orchard Road, saya pribadi nggak tertarik (tepatnya, karena nggak ada duit). Kami berkesempatan berkunjung ke Universal Studio di Sentosa Island dan Asian Civilizations Museum.

    Untitled
    Untitled
    Untitled
    Untitled

    Sayang sekali saat di Asian Civilizations Museum, untuk sayap bagian Asia Tenggara sedang diadakan perbaikan; padahal saya penasaran sekali bagaimana kehidupan saat jaman pra-Sriwijaya.

    Untitled
    Untitled
    Untitled

    Yang saya perhatikan, banyak sekali karya seni yang dipajang di ruang publik di Singapura — terutama stasiun MRT. Salah satu favorit saya adalah karya keramik di stasiun MRT Esplanade yang bertemakan Youth Olympic Games 2010.

    Untitled
    Untitled

    Tentu saja, kunjungan ke Merlion adalah kunjungan wajib. Plus, saya mewakili WordPress di Singapura, hahahaha *hush!*

    Untitled
    Untitled
    Untitled
    Untitled
    Untitled

    Semoga saja dapat berkunjung kembali ke Singapura bila ada rejeki. Terima kasih, Singapura!

     

  • I have been stepping away from social media (Threads) little by little recently, starting with registering on Mastodon, and I genuinely enjoy their non-algorithm timeline. You will only see stuff from folks that you follow. That’s it.

    I am still around on Threads, though, but I limit myself to 10 minutes only.

    Earlier, I tried checking Threads. Trying to see what’s up.

    My goodness.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

Status Cafe Profile
  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer