Oh iya, sebenernya di ceritanya mas Adhitya itu malaikat Izrail memegang pundak (rohnya?) Kalis. Tapi entah kenapa saat saya visualisasikan, rasanya lebih ‘ngena’ (di saya ?) kalo malaikat Izrail duduk menatap badan Kalis yang masih koma dan mata Kalis terpejam. Lebih seperti hubungan batin antara Kalis dan malaikat Izrail yang bahkan ga membutuhkan tatapan mata — sekedar mengingatkan diri sendiri: Kematian itu dekat. Sangat dekat.
Catatan singkat: Sejak baca ‘Ada Kue Pukis di Surga’, saya jadi senang membaca karya-karya mas Adhitya. Alurnya nggak ngebut, tapi juga bukan berarti jadi bertele-tele. Setiap kalimat saling melengkapi; dan karena menggunakan bahasa sehari-hari, rasanya bisa ikut merasakan perasaan para karakter yang ditulis. Kalau ingin baca-baca, bisa menyambangi laman mas Adhitya di Suami Gila.
Catatan: Tulisannya agak kurang jelas dibaca ya ? Saya lagi coba spidol baru, dan ternyata agak mbleber tintanya. Insya Allah untuk komik berikutnya makin terbiasa ?
Disclaimer: Tulisan berikut ini merupakan murni pendapat saya pribadi dan bukan merupakan sponsor dari merek tertentu. Produk yang saya gunakan saya beli dengan uang sendiri dan bukan merupakan pemberian atau hadiah dari merek tertentu.
Jadi udah beberapa hari ini, sejak saya memutuskan stop menggambar untuk Inktober tepatnya, saya penasaran dengan pen. Fountain pen, tepatnya. Beberapa ilustrator yang saya ikuti di Instagram menggunakan pen merek LAMY, dan ketika saya lihat harganya di toko buku… Mundur teratur.
Kemarin saya iseng mampir ke Kinokuniya Suria KLCC, dan saya sedang melihat-lihat bagian spidol karena spidol saya sudah hampir habis tintanya, dan spidol saya satu lagi tintanya suka mbleber di kertas (?) lalu saya melihat pen ini, Pilot VPen.
Saat saya buka tutupnya, eh ternyata ini fountain pen! Hahaha. Kaget sekaligus senang. Dan yang pentingnya lagi, harganya MURAH. RM 4.90. Jadi buat saya yang bener-bener baru belajar menggunakan pen, Pilot VPen ini lumayan lah ya untuk jadi “pen pertama” atau “pen latihan”.
Saya baca-baca review di Google, banyak yang bilang pen ini bagus. Tintanya lancar, nggak gampang kering walopun tutup nggak dipasang, dan ya itu… Murah ?
Tapi untuk berharap Pilot VPen ini hasilnya sama seperti fountain pen mahal yang tintanya bisa tebal tipis seperti kaligrafi, ya jelas nggak ya… ? Pilot VPen ini adalah “disposable fountain pen“; jadi kalo tintanya habis ya dibuang. Nggak ada isi ulangnya (eh, atau ada ya? Biasanya Pilot suka punya tinta isi ulang.)
Nah, kesan saya setelah menggunakannya?
Saya suka. Suka sekali.
Tintanya lancar, nggak macet, dan nyaman dipegang. Sama seperti fountain pen umumnya, Pilot VPen ini sistemnya nggak seperti ballpoint pen yang tintanya konstan mengalir walopun posisi menulis atau menggambar seaneh apapun. Posisi pen harus agak miring dan yang jelas nggak bisa ngegambar sambil tiduran kalo pake VPen ini, karena tinta langsung nggak keluar ? Tapi ini memang perbedaan utama antara ballpoint pen dan fountain pen, jadi ya emang dari sononya. Bukan sebuah kekurangan.
Tintanya tebal, dan cepat kering di kertas. Jadi tangan nggak cepet kotor juga.
Nah, pertanyaannya, apakah produk ini layak beli? Untuk saya, iya. Apalagi untuk yang masih pemula dalam menggunakan pen seperti saya. Saya malah kepikiran jadinya, hahaha. Pengen beli lagi.
Sebagai kesimpulan, ini pro dan kontra untuk produk Pilot VPen.
Pro.
Murah. Enak dipegang/grip nyaman. Tinta lancar. Sesuai untuk pemula. Tersedia dalam tiga warna (hitam, biru, dan merah.) Tinta tidak cepat kering walaupun pen tidak ditutup.
Kontra.
Tidak bisa tebal dan tipis dalam satu tarikan garis. Pen sekali pakai lalu buang/disposable.
Buat yang sedang belajar menggambar menggunakan fountain pen, Pilot VPen ini bisa dicoba. Nggak terlalu mahal, cukup tahan banting, enak dipegang, dan tinta mengalir lancar.
Setelah beberapa lama coret-coret, saya memutuskan untuk membuat gambar saya dicetak di kaos, sarung bantal, ataupun tote bag. Siapa tahu berbuah hasil ya, hahaha.
Untuk teman-teman yang ingin membeli produk-produk yang disebut di atas dengan gambar saya, silakan layari “toko” saya di website Tees: http://www.tees.co.id/store/Lapaknya-Kapkap
Atau tinggal klik ‘Store’ di menu atas.
Quick blurbs
I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, itβs, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!
Iβm still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).