• Wira dan Berenang

    IMG_0489

    Sewaktu Wira bayi — oke, bukan bayi BANGET sih, kisaran usia 1-2 tahun lah. Toddler. Batita — dia sempat ikut les berenang di rumah temannya Ari yang kebetulan istrinya ini membuka les renang. Si istri sendiri ini sudah mempunyai sertifikat sebagai pengajar renang, terutama untuk anak-anak.

    Sebab utama kami menginginkan Wira bisa berenang adalah karena berenang itu kemampuan bertahan hidup/life skill. Salah satu dari kemampuan bertahan hidup yang musti dan wajib dimiliki.

    Ya namanya juga les berenang, otomatis ya anak-anak piyik-piyik itu dicebur-ceburin ke kolam renang. Diajak menyelam selama beberapa detik dan menggapai tepi kolam renang. Dan saat itu, Wira sangat menikmatinya. Ya saya juga (terpaksa) menikmati karena saya harus ikut berenang mendampingi Wira, hahaha.

    Flash forward to today, ketika kami pindah ke KL, Malaysia, otomatis Wira berhenti les berenang. Proses adaptasi yang nggak mudah dan berbagai hal baru yang membuat kami bertiga jadi nyadar, “nyet, we only have the three of us lho…” membuat Wira sempet jadi menempel lebih posesif ke saya, hahaha. Jadi bisa ditebak: Dia takut kolam renang.

    Jangankan berenang seperti dulu, masuk ke kolam renang saja harus menjerit-jerit dahulu. Yang stres ya saya dan ayahnya. Di satu sisi sebal kenapa anak ini penakut sekali, di satu sisi juga maklum karena namanya juga takut.

    Sekian lama kami mencoba melatih Wira — dan selalu gagal. Sampai ada satu hari saya bertemu dengan sesama orang tua di sekolahnya Wira. Ibu ini mempunyai anak perempuan yang merupakan teman sekelas dan teman baik Wira. Saat itu kami sedang mengobrol kegiatan sehari-hari anak-anak, terutama olahraga, dan sempet lah tercetus soal berenang. Rupanya ibu itu juga mempunyai masalah yang sama: Anaknya takut air, apalagi berenang. Dia cerita kalau dia sedang mencari-cari guru renang dan menawarkan ke saya untuk mengikutkan Wira les berenang bersama anaknya supaya biaya les renang juga jadi lebih murah.

    Saya setuju. Anaknya?

    Awalnya Wira semangat banget. Karena dia kira hanya sekedar cipak-cipuk main air.

    Begitu bertemu dengan guru renangnya dan diajak ke kolam renang, saya mulai deg-degan. Ibu teman Wira juga. “Aduh nangis nggak nih, nangis nggak nih, nangis nggak nih…”

    Anaknya bolak-balik menatap ke arah saya. Dia sendiri ga yakin dan ragu-ragu. Tapi dia udah janji mau ikut les renang dan ga menangis (hahaha). Guru renangnya meyakinkan dia bahwa dia akan baik-baik saja.

    Nah, teman sekolahnya Wira ini, ternyata adaptasi ke air jauh lebih mudah. Sebabnya? Dia ingin jadi putri duyung/mermaid, hahaha. Jadi begitu dibilang, “nanti bisa berenang seperti mermaid!” langsung nyebur lah dia. Wira, ngeliat temennya berani, mencoba berani dan ikut berenang. Awalnya masih takut-takut, namun pelan-pelan dia sudah mau ikut berenang. Kemarin, saat sedang berjalan-jalan di mall, Wira meminta dibelikan kacamata renang. “Biar mata Wira nggak perih pas berenang,” katanya. Ari belikan, dengan janji Wira akan rajin berenang dan senang berenang. Anaknya seneng banget, sampe kacamatanya nggak mau dilepas semaleman, hahaha.

    Selamat berenang, nak. Latihan yang rajin ya.

  • Deactivate IFTTT

    IFTTT (If This Then That) itu semacam… Apa ya, servis kalo “saya melakukan ini, hasilnya ini”. Jadi semacam, aduh bingung ini jelasinnya soalnya saya juga kurang paham teknisnya, oke ini aslinya dari bahasa pemrograman IF THEN. Jadi kalo saya naro foto di Instagram, IFTTT ini akan naro gambar yang sama juga di blog saya ini. Ya sebenernya cukup jelas sih ya, soalnya kan keliatan juga di sini, hahaha.

    Nah lalu kenapa di-deactivate? Sebenernya simpel: Saya ga suka hasilnya di tampilan handphone/mobile. Fotonya nggak bisa menyesuaikan dengan besarnya layar itu lho. Jadi gambarnya guede dan teksnya tetep cuilik-cuilik.

    Selain Instagram, saya juga gunakan fitur IFTTT untuk Pocket – WordPress, tapi sama aja ini saya juga kurang suka. Karena tautan/link-nya nggak kebuka. Sekalinya ada link itu ke websitenya IFTTT. Kan nganuh.

    Jadi sekalian saya hapus aja semua, hahaha. Saya juga ngerasa selain pengulangan/redundant, ini juga seperti saya itu, mmmmm, curang gitu ga sih? Kaya, saya sebenernya ga ngeblog, tapi konten blognya terus ada karena saya apdet dari media sosial lain. Ya sebenernya yang ngerasa gitu sih saya aja ya, hahaha. Kalo ada yang seperti itu (konten ditarik dari media sosial lain) ya nggak apa-apa. Kan masing-masing orang ada pilihan sendiri-sendiri.

    Dan ya, ini seperti janji saya yang ke-83295734203942 kali untuk rajin ngeblog. Saya sendiri suka merasa gimana ya, soal ngeblog ini. Bukannya nggak ada bahan (bahan komentar dari saya mah banyak), tapi saya rasanya kok makin ke sini makin ragu-ragu untuk ngeblog soal banyak hal — terutama soal anak. Saya parnoan, dan saya nggak pengen terlalu ngebuka kehidupan pribadi Wira dan (Insya Allah) adiknya ke blog (walopun saya tau yang baca blog ini juga ga banyak-banyak amat). Ironisnya, saya nulis banyak soal Wira di Path saya, huhu.

    Kadang saya kangen dengan rasa ketidakpedulian saya akan ngeblog soal apapun di blog saya jaman dulu, hahaha. Bahkan hal paling sesepele tugas kuliah pun saya tulis. Opini atau rasa setuju/tidak setuju saya akan satu hal ya saya tulis aja hayu. Mungkin karena makin tua dan makin meluasnya media sosial beserta kasus-kasusnya itu bikin saya makin merasa “udah lah, simpen aja opini lu buat diri lu sendiri, Kap…” Ya memang musti baik-baik milih topik sih ya, hahaha.

  • Ngeblog di… Path? WordPress?

    Kadang saya bertanya-tanya kenapa yang namanya ngeblog itu kok ya malas sekali. Padahal dibilang “nggak nulis panjang-panjang lagi sejak ada Twitter LOL” itu ya nggak juga. Saya tetep nulis puanjang-puanjang di Path dan biasanya bikin saya sendiri ngebatin, “ahelah, sekalian aja ditaro blog, Kap…” Tapi yang bikin saya heran adalah, kenapa kalo nulis panjang di Path itu saya betah sedangkan nulis di WordPress app itu saya ga betah ya?

    Apa karena tampilannya kah… Sotoynya saya, karena font di Path itu lebih kecil — dan buat saya jadi lebih enakan dibaca (saya penggemar ukuran font kecil, hahaha) — dan warna merah. Oke, ini agak ajaib tapi… Entah ya, kalo di app WordPress itu tulisan font gede-gede, warna biru kalem malah bikin saya bingung mau nulis apa, hahaha.

    Sebenernya ada juga sih isu teknis yang bikin saya agak malas menggunakan app WordPress: uploading pictures. Memang lebih enak ya kalo ngeblog dari hape kalo pake foto karena kan kasarnya tinggal cekrek kamera lalu upload. Nah, masalah teknis di app WordPress ini, seringnya foto yang di-upload itu nanti dinyatakan/ada notifikasi ga ke-upload lalu kepaksa lah upload foto yang sama lagi dan pas cek di tab Media… Eng ing eng, nongol dong beberapa file foto yang sama. Kan kesel. Masalahnya, ini masalah udah ada dari lama dan udah sering diangkat di forum para pengguna tapi ya masih ada aja.

    Ya semoga aja nanti isu teknis ini bisa cepet diatasi. Untuk ngeblog, memang musti buka laptop ya, hahaha (lebih nyaman juga sih ngetik pake laptop, karena minim typo, hehe)

  • img_0476-1

    Kelupaan. Selesai dibaca (akhirnya!) pas mudik kemarin, di Jakarta.

    Ga pengen bilang “INI BUKU HARUS DIBACA SEMUA ORANG TUA” tapi… Bisa dibilang begitu sih. Topik utamanya itu tentang sebuah keluarga, dan dinamika dari orang tua ke anak dan sebaliknya itu tertulis jelas di sini. Bersama dengan ambisi dan harapan masing-masing karakter di cerita ini.

    Ya tapi kalo bukan orang tua juga tetep bagus dan gapapa baca buku ini ? Buku bagus lho *lho kok jadi promosi*

    Buat yang pernah baca atau nonton ‘Lovely Bones’, ini novelnya mirip-mirip lah nuansanya. Jadi ada satu karakter yang meninggal dan dicari tahu penyebabnya, tapi bukan dalam bentuk cerita detektif atau thriller. Lebih ke flashback yang lama-lama bikin kita ngerasa, “… Oh gitu…”

    Ada lima karakter utama di sini: ayah, ibu, dan tiga anak. Masing-masing dengan harapan, ambisi, ketakutan, dan jiwa masing-masing.

    Yang gw tertarik: karakter si ibu.

    Pertama, karena gw seorang ibu.

    Kedua, karena penulisnya, Celeste Ng, jago banget menangkap harapan dan problem yang dihadapi wanita pada tahun 1950-an; dan sedikit banyak, karakter ibu ini mengingatkan akan diri gw.

    Dan semua ketakutan dan ambisi karakter ibu ini mirip dengan gw; ketika gw melihat “kejatuhan” si ibu, rasanya itu seperti ditampar dan diingatkan, “ini yang bakal kejadian kalo lu ga ati-ati sama diri lu, Kap.

    Buku ini mengajarkan bahwa dua orang yang terluka jiwanya kemungkinan besar akan memproyeksikan itu ke anak-anaknya; dan membuat anak-anak itu bingung, takut, dan tidak bahagia.

    It reminds me of some wise words when Wira was still a baby.

    “Seperti anjuran keselamatan saat situasi darurat, Kap. Selamatkan diri lu dulu sebelum lu mau menyelamatkan orang lain. Orang tua aja dianjurkan untuk pake masker oksigen dulu baru pakein masker oksigen ke anaknya kalo di pesawat.

    You have to save yourself before you save your family.

    Untuk membentuk Wira sebagai pribadi yang utuh dan baik, gw harus bisa memperbaiki diri gw dulu.

    Dengan cara memaafkan diri gw.

    … And I hope I’m doing a good job on that…

  • #catatanemak. Trimester Kedua

    Hola~!

    Setelah sekian lama dijejali entri dari Instagram (dan menjadi amat sangat redundant apabila kalian mengikuti saya di Instagram juga), akhirnya saya menulis lagi, ngoahahahaha.

    Sedikit cerita soal kehamilan saya dan si adek ini (saya agak bingung mau manggil dia dengan “si adek” atau “Kunyil” tapi saya seringnya manggil dia ini “si adek” jadi yawdalahya…), sejauh ini Alhamdulillah berjalan lancar. Trimester pertama saya dihantam sinusitis super parah selama 2 bulan, bahkan sampai saat saya mudik ke Indonesia. Di Purwokerto, saya sempet terapi akupunktur (diajak mama saya) dan agak takjub karena sakit di pipi dan dahi (yang awam terjadi saat sinusitis) menghilang. Kembali ke KL, saya ke dokter THT (yang ternyata bergelar dato’ dan biaya periksanya mehel bener *kapkap dan dompet kraying bersama*) dan diberi obat antibiotik dan decongestant yang… Saya nggak abisin. Perut, tenggorokan, dan selera makan saya jadi amburadul gara-gara kombinasi dua itu dan salah satunya. Jadi cukup lah selama lima hari saja saya meminum antibiotik (dari resep 10 hari).

    Trimester kedua… Nah ini agak aneh. Sewaktu saya hamil Wira, nafsu makan saya itu ga terkontrol bukan main. Inhumane. Saya bisa lho ngabisin nasi sebakul beserta gurame goreng seekor SENDIRIAN. Langganan rumah makan Padang ‘Sederhana’ setiap dua hari sekali.

    Jadi saya mengira hal yang sama akan terjadi dengan kehamilan yang ini. Brace for impact, ceritanya.

    Kenyataannya… Lebih mirip suara jangkrik.

    Si adek ini… Apa ya… Cuek. Iya, saya laper, iya saya musti makan setiap dua jam tapi lebih karena saya dipaksa asam lambung yang memang menggila saat kehamilan ini. Si adek tetep lebih memilih makan sayur dan buah, menghindari SEMUA yang saya suka (gorengan, coklat, es krim, apapun yang berlemak dan kolesterol tinggi dan enaknya kaya dosa OMG *kraying*) tapi untuk nafsu makan menggila… Nggak terlalu. Malah kalo saya makan terlalu banyak berujung muntah.

    Ya sisi baiknya sih wasir saya nggak kumat.

    Kehamilan kali ini juga saya ingin lebih aktif. Terutamanya memang karena saya ga ada ART di sini, dan sekali lagi saya ga pengen berat badan naik sampe 20 kilo dan susah turunnya kecuali saat bulan Ramadhan. Lucunya, kadang saya ngerasa “perut gw gede yaaa, hamil banget keliatannya yaaa,” kadang saya juga ngerasa “why perut terlihat kempes why si adek baik-baik aja kan OMG nak mamakmu ini paranoid lho why why why.”

    Tapi ya sejauh ini Alhamdulillah baik-baik saja dan banyak teman-teman saya di grup WhatsApp #buibuksocmed menyemangati saya dan meyakinkan saya bahwa Insya Allah si adek baik-baik dan sehat-sehat saja. “Rahim sama, tapi tiap kehamilan pasti beda-beda.”

  • I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, it’s, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!

    I’m still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer