
“Because when you’re scared but you still do it anyway, that’s brave” — Neil Gaiman (‘Coraline’)
not a food blog

Kalo diliat-liat ya, sepertinya negara yang sering bikin game memelihara hewan itu Jepang deh. Liat aja Tamagotchi. Ditargetkan untuk orang-orang yang pengen pelihara hewan tapi ga bisa pelihara hewan hidup (mungkin ga dibolehin di apartemennya atau ruang terbatas) komplit dengan keribetannya ngasih makan, ngajak main, dan ngurus kotoran.
Ada satu lagi, aplikasi/app namanya Neko Atsume [? ??] (Cat Collected). Jadi… Intinya kita ini mengumpulkan kucing. Kita menyediakan makanan dan mainan kucing, nanti kucing-kucing sekitar akan mampir ke rumah kita. Game ini dulunya hanya ada versi bahasa Jepang; tapi mungkin karena populer di negara lain juga, akhirnya dirilis yang berbahasa Inggris.
Game ini nggak punya misi atau reward points; paling-paling hanya memento dari kucing yang sering mampir — karena kebiasaan kucing memberikan hadiah ke majikannya/orang yang merawatnya. Entah apa yang membuat game ini sangat menarik, tapi ya memang… Menarik. Apalagi kalo liat kucing baru di koleksi.

Game ini nggak punya grafik yang wah. Ya 2D saja. Seperti kartun sederhana. Paling kucingnya gerak-gerak alakadarnya saat bermain bola. Sisanya ya tidur atau duduk.
Ketika bermain game ini, kita sebagai pemilik rumah bisa membeli makanan kucing dan mainan kucing. Di awal permainan, seperti game lainnya, kita akan mendapatkan tutorial juga.

Sedikit tips: Saat awal bermain/tutorial, kita memang diberikan makanan gratis; tapi sedikit/nyaris nggak ada kucing yang suka — ketika uang (dalam bentuk ikan asin warna abu-abu atau emas) sudah terkumpul, sebaiknya beli makanan yang agak mahal seperti Frisky Blitz.
Uang bisa didapatkan dari ‘gifts‘ oleh para kucing. Kucing-kucing yang mampir dan bermain biasanya meninggalkan ‘gifts‘ berupa ikan abu-abu atau, kalau beruntung, ikan emas. Semakin banyak mainan yang disediakan, semakin banyak pula uang yang didapatkan.

Kita bisa memotret para kucing yang sedang beraksi di halaman rumah kita dan mendatanya di dalam Cat Book. Di situ kita bisa melihat profil masing-masing kucing beserta kepribadian mereka (yang menurut saya agak aneh. Kepribadian: Hot and Cold. … … … Maksudnya?)

Kita juga bisa merubahsuai desain rumah kita sesuai yang kita mau — tentu saja dengan harga ikan emas yang agak mahal, hahaha.

Beberapa kucing ada yang tergolong spesial. Biasanya karena desain mereka. Lucu-lucu dan macam-macam. Ada Tubbs, kucing gendut yang biasanya sekali makan menghabiskan sepiring Frisky Blitz (tapi memberikan gifts juga cukup banyak: 25-30 ikan abu-abu). Ada Joe DiMeowgio, kucing pemain baseball — kalau ingin melihat Joe, beli bola baseball dan letakkan di rumah. Yang di atas itu Billy The Kitten — caranya, beli topi cowboy.

Bahkan untuk game geje begini, orang Jepang serius lho membuat panduannya, hahaha. Saya pernah liat buku panduan Neko Atsume di Kinokuniya KLCC — sayangnya dalam bahasa Jepang — yang berisi profil tiap kucing, tips dan trik, walkthrough, komik, dan bonus stiker.


Kalau ingin ikut bermain Neko Atsume juga, kalau nggak salah app-nya tersedia dalam versi iOS dan Android.
Selamat bermain!
Ari:
“Malaysians love mee curry. It’s like Indian boyfriend to Chinese girlfriend. I’m the curry to your noodles, so we can have mee curry.”
Saya:
“… Rasanya pengen ketemu Nabi Adam lalu bilang ke dia, “you spend, like, some years in heaven. Plis lah belajar pick-up lines yang lebih mendingan selama di surga sebelum ditendang ke bumi. Your sons need that. A lot.””
Satu hari saya lagi ngelipet baju dan Wira lagi main sendiri. Anaknya lagi berkhayal pura-pura jadi bajak laut (abis nonton Disney Junior ‘Jake and the Neverland Pirates‘). Jadi dia lagi loncat sana, loncat sini, lari sana, lari sini, sambil ngoceh macem “aye aye, captain!”, “this is emergency!”, “look alive, matey!”, “it’s a treasure box!” dan semacemnya.
Di deket saya, ada tumpukan baju bersih lagi mau dilipet. Anaknya langsung lompat dari sofa sambil nunjuk-nunjuk ke tumpukan baju.
Wira : “LOOK! A BROD! A BROD!”
Saya : *ngebatin “… ‘Brod’ itu apasi… Tapi mungkin bahasa anak-anak kali ya” tapi tetep diem aja sambil ngelipet baju*
Wira : *masih nunjuk tumpukan baju* “LOOK, IBU! A BROD!”
Saya : *ngeliat Wira dengan tampang bingung* “… ‘Brod’ itu apa sih?”
Wira : *diem bentar* “… … LOOK, IBU! IT’S A BATU!”
Saya : “Owalah… A ROCK. Batu itu ‘rock’!”
Wira : “Rock?”
Saya : “Rock.”
Wira : “LOOK, IBU! A… … … …” *ngeliat saya dengan pandangan bingung dan sambil nyengir*
Saya : “Rock.”
Wira : “– ROCK!”
Lalu anaknya lari-lari lagi main lagi.
Di grup WA pada cerita horor, terus ada yang bilang, “gw suka ngerasa gw itu ga “peka”, tapi ternyata gw sering kesurupan…”
Saya jadi inget kejadian pas masih kuliah.
Saya sendiri juga ngerasa bukan orang yang peka sama gaib-gaiban gitu. Malah kadang saya jatuhnya ke “ah, apaan sih…” (Tapi njuk tetep penakut. Paling ga berani nonton film horor.)
Jadi pas kuliah, saya itu sekelas sama Bambang ‘Samsons’ itu. Si Bams. Pas itu ya dia belum beken.
Dan iya, dia ini emang tajir melintir. Rumahnya itu dua. Maksudnya dua itu… Jadi gini. Ada pintu gerbang, yes? Terus ada pagar tinggi, yes? Nah, di balik pagar tinggi itu ada dua rumah guede banget. Kata Bambang, itu satu rumah ditinggalin dia sama adeknya dan neneknya. Satu lagi ditinggalin sama ortunya. Jadi kalo rakyat jelata macem kita nanya, “eh, adek di mana?” Jawabannya, “oh, di kamar sebelah…” Dia itu mungkin macem, “eh, adek di mana?” Jawabannya, “oh, tuh di rumah sebelah.” Antara dua rumah itu dipisahin kolam renang. Aslik. Gede.
Satu hari, beberapa dari kita mampir ke rumahnya Bams ini buat ngerjain kerja kelompok. Jadi Bams ini… Dia tau dia kaya, tapi ga jadi anak kaya yang sengklek gimana gitu. Rendah hatinya luar biasa. Satu hari dia pernah ngomong ke saya, “Ret, kalo anak-anak kelompok butuh apa-apa tinggal bilang ke gw. Gw bukan yang pinter banget kaya yang lain, jadi gw ga bisa bantu kecuali dikit-dikit macem ngetik atau nyediain tempat buat ngumpul…” Yang abis dia ngomong itu ditempeleng rame-rame sama anak-anak sekelas sambil dikata-katain “cumi” dan “setan alas” dan “lu ngomong lu ga pinter lagi gw tonjok mata lu.”
Jadiiii, sebenernya beberapa anak udah tau ya rumah Bams ini katanya ada hantunya. Bams dengan santenya ngomong, “iya. Ada sekeluarga kok di sini.” Saya sempet pasang muka ? karena ya males yaaaa kalo ampe beneran ada. Tapi pas itu saya mikirnya, “ah, gw ga mungkin kenapa-kenapa lah. Gw badak gini.“
Ternyata ga juga.
Kejadian pertama, TV nyala mendadak padahal remote TV ga ada yang sentuh. Saya yang lagi duduk deket TV sampe kaget. Ga lama, channel TV pindah sendiri. Remote TV tetep ga kesentuh.
“Eh, siapa itu yang ganti channel TV?”
“Bukan siapa-siapa, Nin. Paling yang nungguin.”
“… What. Gimana.”
“Iya. Biasa kok. Dia mah caper. Kalo ada anak-anak main ke sini, dia suka caper.”
?
Ngik.
Kejadian kedua.
Di ruang makan.
Jadi mbaknya Bams ini kata anak-anak jago banget masak nasi goreng sama mie goreng. Enak banget katanya. Entah beneran enak atau enak karena makan gratis. Saya curiga dua-duanya. Nah, kalo pada ngumpul-ngumpul, biasanya dimasakin nasi goreng.
Jadi lah kita berenam pada di ruang makan ya, ngambil kursi buat duduk.
Kecuali saya.
Saya berdiri, karena saya yakin banget kalo di ruangan itu ada tujuh orang termasuk saya. Dan nggak, mbaknya Bams ga keitung karena dia lagi di dapur.
Setiap mau duduk makan, saya selalu mastiin jumlah orang di ruangan jadi kalo ada kekurangan kursi, saya bisa antisipasi minta kursi duluan.
Nah, pas itu saya yakin banget ada tujuh orang di ruangan itu. Semuanya temen-temen saya dan saya.
Lalu salah satu temen saya nepok saya.
“Nin, duduk gih! Kok berdiri aja?”
“… Hah? Lho, ada kursi ya?”
“Lho, ada! Kan kursinya ada enam.”
“Lho, kok tadi gw liatnya kita bertujuh ya.”
“Masa sih? Dari tadi ya cuma kita yang ada di sini.”
“Ih bener, serius, makanya gw berdiri dari tadi. Gw ngitung ada tujuh orang di sini, makanya gw tadi niatnya mau minjem kursi ke belakang.”
Bambang, dengan santainya, ngomong, “oooh, iya. Suka gitu kok. Ada yang suka didobelin. Tadi yang lu liat beberapa kali itu siapa? Biasanya sih si Kere.”
What. The. Hell.
Saya bilang ke Bambang kalo lain kali kerja kelompok di rumah dia, tolong lain kali saya dikasih tau yang sering kejadian gaib di rumah dia itu apa aja ?
I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.
My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.
Part of blogroll.org