Mentang-mentang WordPress baru saja update jadi versi 4.3 (“Billie”) langsung pengen ngeblog, hahaha.
Omong-omong, akhirnya kemarin saya kembali menggunakan Flickr. Jadi kan sempet ya tahun lalu (eh, atau dua tahun lalu? Time flies so fast ya…) Flickr menghebohkan jagat dunia maya dengan ngasih tau “LOL kita kasih 1TB GRATIS BUAT KALIAAAAN!” Macem Oprah aja; “you got 1TB! You got 1 TB! EVERYBODY GOT 1TB!”
Ya jelas saya ikutan heboh dong, gimanasik. Kapan lagi bisa backup foto dan video gapake mikir bayar sewa cloud storage? (ya selama ini juga saya selalu berusaha nyari yang gratisan sih, hahaha.)
Tapi ternyata ada satu masalah pas itu: Auto Uploader app Flickr di iOS itu BUAPUKNYA BUAPUK BANGET. Kadang ya bisa otomatis backup, seringnya sih nggak. Karena lebih sering mogok ketimbang lancar, jadi lah saya uninstall app Flickr for iOS dan bertahan menggunakan G+ Photos. Kabar baiknya, beberapa bulan lalu Google mengumumkan Google Photos dan mereka memberikan lahan penyimpanan tak terhingga secara gratis (free unlimited storage) tapi dengan satu kondisi — foto dan video yang disimpan ga bisa disimpan dalam kualitas maksimal alias diturunin “dikiiiiit aja” kata Google. Tapi ya daripada ga ada sih ya.
Nah terus ini kemarin iseng cek Flickr di laptop. Baca-baca artikel forum, kayanya sih masalah auto-upload yang suka mogok udah diselesaikan ya. Sempet sih ada beberapa topik forum yang nanyain “eh, Flickr down ya? Di lokasi saya (UK) down nih…” Tapi ya udah segitu aja. Akhirnya saya mutusin untuk install ulang app Flickr for iOS di handphone saya. Sejauh ini, ga ada masalah sih. Menyenangkan, malah (yaeyalah, 1TB bok…) Auto Uploader berjalan lancar dan user interface app Flickr ternyata udah dipermak abis-abisan menjadi lebih mudah. Enaknya lagi, udah bisa posting foto ke grup Flickr yang kita ikuti (soalnya sebelumnya nggak bisa — dan itu jadi salah satu protes utama para pengguna *kita mah protes mulu ya bawaannya*)
Tapi yang saya bingung ya, beberapa hari ini saya dapet follower baru di Flickr — dan mereka ini macem fotografer profesional yang follower-nya udah puluhan ribu. Kaya… Ngapain situ follow saya yang bukan siapa-siapa ini deh? ? Aku mah da apa atuh. Saya sih curiganya bot ya.
Yang mau berteman sama saya di Flickr, hayu lah cari saya dengan username @kapkapchan
BTW, kemarin saya barusan beli tanaman baru, hahaha. Tanaman English Ivy. Saya udah lama banget suka sama tanaman ini — soalnya cakep gitu, tanaman merambat. Tapi nyarinya yang setengah mati. Kemarin nemu di toko tanaman langganan di Cold Storage Suria KLCC, dan pas banget itu tanaman masuk sebelum jam makan siang. Saya udah wira-wiri di depan tokonya (untung belum ditangkep sekuriti mall coba ya…) dan pas saya liat dua pot English Ivy, saya langsung mutusin beli deh satu pot. YA KAPAN LAGI COBA YAAAAA.
Dari yang saya baca, English Ivy ini sebenernya beracun — masuk ke kategori Poison Ivy. Beracunnya itu getahnya atau daunnya gitu yang kalo dimakan gitu aja. Jadi kalo ada yang punya hewan peliharaan, harap berhati-hati. Kalo ada yang punya anak yang suka ngunyah atau ngegigit-gigit apapun, juga dibilangin si anak.
Perawatannya katanya sih mudah alias ga butuh banyak air. Sekarang kalo saya lagi nyari tanaman dalam rumah yang mudah perawatannya, saya suka nyari yang kategorinya masuk ke “dry soil” alias kalo mau nyiram itu tanaman, pastiin tanahnya bener-bener kering. English Ivy ini suka sama sinar matahari, tapi ga perlu sinar matahari langsung — bahkan lampu fluoresens juga bisa. Kalopun ga kena sinar juga gapapa, tapi warna daunnya jadi gelap banget.
Seperti biasa, jadi pengen beli tanaman lagi, hahahaha. Kalo sempet ke Suria KLCC lagi, liat-liat tanaman lagi deh.
P.S. BTW, saya baru liat foto English Ivy di atas itu yang saya embed dari web Flickr. Lucu juga ya, ada watermark otomatis begitu.
Tadi pagi saya berkunjung ke Galeri Petronas di Suria KLCC untuk melihat pameran TWINS karya Oliviero Rainaldi. Sebenernya saya tau soal pameran ini juga dari komentar di blog saya — mungkin ditulis oleh salah satu staf galeri (?) — yang berupa undangan untuk acara pembukaan pameran ini. Sayang sekali saya nggak bisa menghadiri acaranya, jadi ya saya bisa datengnya pagi ketika Ari bekerja dan Wira sekolah ?
Sesampainya di Galeri Petronas jam 10 pagi, rupanya saya pengunjung pertama, hahaha. Dan proses registrasinya ternyata sudah ganti jadi digital. Sebelumnya manual pake buku, tapi ternyata mereka sudah mengganti proses registrasi menjadi digital menggunakan iPad. Lebih mudah untuk masukin data yang jelas ya, ga ada resiko salah baca tulisan ? Staf galeri berkata bahwa saya pengunjung pertama untuk pameran ini dan pengunjung pertama juga yang pake sistem registrasi menggunakan iPad, hahaha. Bangga! ?
Pameran TWINS ini menarik. Untuk beberapa orang, kesannya minimalis banget. Tapi saya suka. Pencahayaannya juga nggak berlebihan dan malah memberikan efek dramatis yang pas. Teaterikal gitu *cie…*
Menurut FB Page Galeri Petronas, Rainaldi sendiri yang memasang instalasi karyanya di galeri. Kerasa sekali hasil karya yang ditampilkan nyambung dengan jiwa senimannya ya.
Konsep dari TWINS ini seperti dualitas. Serupa tapi tak sama. Ada beberapa yang mengingatkan saya dengan rasi bintang Gemini: Castor dan Pollux — seperti foto di bawah ini.
Satu lagi yang saya suka adalah karya yang berjudul ‘Argonauta’/’Argonaut’ (2011).
Saya sebenernya penasaran kenapa diberikan nama ‘Argonauta’/’Argonaut’ karena saya taunya Argonaut itu rombongan petualang yang dipimpin oleh Jason/Iason dalam legenda Yunani Kuno yang misinya adalah mencari bulu domba keemasan di Colchis. Nama ‘Argonaut’ diambil dari nama kapal mereka, Argo — yang merupakan nama pembuat kapal itu, Argus. Kira-kira ada delapan puluh lima kru kapal Argo, yang salah satunya adalah Hercules. Ada salah satu cerita petualangan yang terkenal di Argonaut; ketika mereka bertemu dengan para sirens — makhluk ajaib yang bersuara merdu untuk menarik para pelaut yang lengah sehingga menabrakkan kapal mereka ke karang-karang tajam. Salah satu kru Argo adalah Orpheus, pemusik kesayangan para dewa, terutama Apollo. Orpheus bernyanyi untuk menandingi nyanyian para sirens dan menghindari Argo menabrak karang.
Mungkin, mungkin karya Rainaldi di atas itu menggambarkan keseimbangan manusia dalam menghadapi masalah dan tantangan? Seperti kru Argonaut. Mungkin ya.
Berikutnya, ini juga favorit saya, adalah ‘Ymir’ (2011).
Menurut legenda Norse kuno, Ymir adalah… Dibilang raksasa juga bukan sih ya. Tapi lebih seperti entitas primal/awal di Bumi. Menurut mitos Norse, para dewa-dewa Norse: Odin, Vili, dan Vé — membentuk bumi dari dagingnya, membentuk lautan dari darahnya, membentuk langit dari tengkoraknya, dan membentuk pulau untuk manusia hidup dari alisnya.
Saya suka sekali karya ini karena menggambarkan betapa “kosong”-nya Ymir itu. Sebagai makhluk pertama yang nggak ada embel-embel apapun atau aksesoris apapun. Benar-benar seperti kanvas kosong.
Dan karya ini dibuat dari tembaga dan es.
Iya. Es. Saya ga ngerti gimana caranya. Saya juga ga mau nyolek-nyolek karya seni lah ya, ga etis. Tapi saya ga ngerti itu gimana bikinnya.
Nah, karena acara pameran ini juga disponsori oleh Maserati, mendadak aja di tengah-tengah galeri le wild Maserati appears.
Lalu di dekat situ ada karya Rainaldi yang berjudul ‘Neptune in The Wind’ (2015). Tampilannya sangat mengagumkan — dibuat dari marmer dan lampu LED. Apalagi di tengah-tengah ruangan kosong dan gelap. Kontras sekali dan super keren. Impressive.
Mungkin ‘Neptune in The Wind’ ini komisi dari Maserati ya, karena karakter Neptunus itu membawa trisula yang persis logo Maserati.
Ada juga karya yang saya sangat suka, berjudul ‘Ophelia’ (2007).
Saya nggak bisa nemu sudut yang pas untuk mengambil gambar objek ini, dan ini satu-satunya yang sudutnya agak mendingan untuk saya ?
Melihat karya ini, rasanya… Sedih. Karena nama Ophelia itu adalah nama karakter wanita di drama Shakespeare ‘Hamlet. Nasibnya tragis. Dia mencintai Hamlet tapi Hamlet sendiri terobsesi dengan pembunuhan ayahnya. Akhirnya Ophelia menjadi gila dan meninggal tenggelam di danau.
Karya ‘Ophelia’ ini menggunakan media kaca yang menurut saya sangat sesuai dengan kematian Ophelia di ‘Hamlet’ — karena kaca itu seperti air yang membeku/es. Samar-samar saya juga teringat dengan Snow White yang diletakkan di peti kaca saat tertidur karena memakan apel beracun.
Sebagai penutup, karya ‘Human Baptisms’ yang terbuat dari tembaga berlapis emas diletakkan terakhir.
Untuk teman-teman yang kebetulan berada di Kuala Lumpur, Malaysia dan ingin mengunjungi pameran TWINS ini, bisa datang ke Galeri Petronas di Suria KLCC pada hari kerja (Selasa – Minggu. 10:00 – 20:00). Harga tiket masuk gratis.
Ada Bung Karno dan Bung Hatta (duo proklamator). Cut Nyak Dien. Raden Ajeng Kartini. Pattimura. Imam Bonjol. Martha Christina Tiahahu. Bung Tomo. Pangeran Diponegoro. Sultan Hasanuddin.
Dan ada bonus Tan Malaka.
Dan kapal Phinisi serta pendaki gunung di bagian putih.
Tadi siang pertama kali saya menghadiri acara pernikahan di Malaysia. Sebenernya pernah dapet undangan pernikahan teman kantornya Ari, tapi bentrok dengan acara keluarga — dan itu pernikahan keluarga India! Jadi ga bisa ikutan joget kan, hahaha.
Yang menikah ini teman kantor Ari. Akad nikah sudah dilaksanakan hari Jumat lalu, baru hari ini resepsinya. Dan buat saya, pernikahan khas Malaysia ini menarik juga.
Pertama, SEMUA tamu perempuan memakai baju kurung dan berjilbab ? Jadi lah saya saja yang mengenakan rok “pendek”, itu pun di bawah lutut (termasuk sangat konservatif). Tapi pihak keluarga pengantin ga terlalu mempermasalahkan itu dan mereka jadi ngeh kalo kami bukan orang Malaysia ? Langsung disapa dengan bahasa Inggris, hahaha.
Catatan: lain kali kalo ada nikahan, pake baju kurung ya. Iya.
Kedua, tidak ada model pesta prasmanan/standing party. Malaysia SANGAT menjunjung sunnah Rasul, yaitu makan sambil duduk dan (diusahakan) langsung menggunakan tangan kanan. Ga hanya pesta pernikahan; acara sunatan sampe open house Idul Fitri sebisa mungkin pesta round table. Sekalinya prasmanan, itu juga kemarin saya lihat di acara open house Petronas yang pesertanya banyak sekali sehingga disediakan meja-meja tinggi untuk meletakkan piring dan makan. Sebenernya pesta dengan model meja kursi ini masih umum banget di kampung-kampung atau kota kecil di Indonesia. Kalo udah kota besar, apalagi Jakarta, rata-rata standing party. Jujur ya, lebih enak pesta model duduk di meja kursi begini, hahaha. Makanan lebih bisa dinikmati, anak-anak bisa duduk dan makan, dan lebih nyaman.
Ketiga, karena model pesta round table begitu, jumlah tamu yang datang juga ga membludak. Dan ini juga didukung dengan tata cara pesta pernikahan Malaysia ketika pasangan pengantin dan orangtua yang turun menghanpiri tamu-tamu; sedangkan kalo di Indonesia, terutama pesta adat Jawa, kan biasanya pengantin jadi “pajangan” di depan, ehuehe.
Keempat, ga ada signage atau tanda resepsi pernikahan di depan lokasi pernikahan, hahaha. Kalo pernikahan di Indonesia udah awam banget pake janur kuning di depan gedung resepsi karena menurut arti simbol (yang kembali ke jaman Hindu dahulu kala), janur kuning melambangkan cahaya pernikahan yang diharapkan selalu terang. Waktu kami ke lokasi, sempet ga sengaja kebablasan, hahaha. Saya komentar, “ga ada janur kuning ya?” *YA MENURUT LOOOEEEE?*
Kelima, budaya amplop berisikan uang untuk diberikan ke pengantin di sini rupanya nggak, atau belum, dikenal di sini. Ari sempet nanya ke temennya soal pemberian amplop ke pengantin dan apakah ada kotak amplop. Temannya Ari berkomentar bahwa mereka ga pernah tau yang kaya gitu dan balik nanya, “apa tu kotak amplop?” Kalo mau ngasih hadiah kado sih bisa, tapi itu juga ga wajib.
Menarik juga lho melihat acara pernikahan negara lain ? Sangat menyenangkan dan menambah wawasan.
Quick blurbs
I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.
My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.