• RM ‘Selera Nusantara’: Kangen Lontong Sayur di Tanah Seberang

    Sewaktu kami sekeluarga bersiap pindah ke Malaysia, saya sempet ngobrol dengan teman saya. Jujur, saya gugup sekali karena pindahan ini adalah pertama kalinya saya tinggal di luar negeri. Ari, yang sebelumnya pernah tinggal di Singapura selama 2 tahun, menenangkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi ya… *hahaha*

    Teman saya ini berkata satu hal yang saya ingat terus. “Kewarganegaraan itu cukup di dompet atau di tas aja, Kap. Untuk lidah, ikutin apa yang ada.

    Temen saya itu ngomong begitu bukannya tanpa alasan. Dia pernah tinggal di Swedia selama beberapa tahun dan dia bercerita bagaimana dia belajar mengenali rasa dan masakan khas Swedia yang, tentu saja, JAUH BANGET dari kuliner berbumbu khas negara tropis seperti Indonesia.

    Kalo gw ngikutin maunya gw sebagai orang Indo, gw keburu modar…

    Jadi ya maksudnya dia, cukuplah kebanggaan sebagai orang Indonesia itu tertera di paspor atau KTP di dompet atau tas. Jangan langsung ya sok gengsi nggak mau nyobain makanan negara lain — apalagi kalo kita emang berniat berdiam di negara itu untuk waktu yang lama. Rugi hidup.

    Itu lah yang saya pegang sampai sekarang. Apakah rasa masakan Malaysia berbeda? Oh ya tentu saja. Masakan Malaysia bergantung pada rasa bumbu dan nggak terlalu banyak menggunakan gula dan garam. Untuk sambal pun berbeda.

    Apakah saya menikmatinya? TENTU SAJAAAA, hahahaha. Favorit saya dalam kuliner Malaysia adalah makanan ala kopitiam. Terutamanya roti bakar/panggang dengan selai kaya dan butter, disambung teh tarik panas atau Milo ais. Sedaaaaap! Untuk seafood, aduh musti lah itu mampir ke kota-kota kecil di sepanjang garis pantai seperti Port Dickson, Kuantan, ataupun Kerteh. Jangan lupa obat anti alergi atau kolesterol, hahaha.

    Nah, tapi ya tentu saja lidah Indonesia punya rasa kangen dengan kuliner Indonesia, bukan? Menariknya, makanan ayam penyet khas Indonesia lagi menjamur di KL lho saat ini. Banyaaak restoran ayam penyet di sini. Dari ‘Ayam Penyet Best’ sampai ‘Ayam Penyet Nyet Nyet’. Jangan salah, restoran yang cukup beken di Bandung, ‘Cibiuk’, juga punya empat cabang di Malaysia.

    Salah satu masakan Indonesia yang Ari dan saya sama-sama kangen itu… Lontong sayur.

    Jadi ketika satu hari Ari melihat foto lontong sayur di grup WhatsApp dia yang beranggotakan orang Indonesia di KL, dia tertarik.

    “Di mana itu, oom?”

    “Di Selera Nusantara. Area Kampung Bahru.”

    Kampung Bahru ini lokasinya deket banget dengan Chow Kit yang notabene disebut sebagai ‘Kampung Indonesia’ karena, iya, banyak orang Indonesia di situ.

    Jadi minggu lalu dan barusan ini nih — iya, dua kali, hahaha — kami makan lontong sayur di ‘Selera Nusantara’.

    Tempat makannya lebih mirip warung kaki lima dengan menu sederhana: lontong sayur, mie bakso, soto mie, dan gorengan. Rata-rata tempat makan di deretan Kampung Bahru memang bentuknya seperti itu. Jadi ketika ingin berkunjug ke sini, harus sedikit lebih awas matanya untuk mencari tempat makan ini. Lokasinya persis berseberangan dengan Nuri’s Seafood.

    Ibu yang berjualan juga orang Indonesia. Beberapa kali saya dengar dia mengobrol dalam bahasa jawa. Tapi kalo ngobrol sama saya, entah kenapa logatnya berubah sedikit melayu, hahaha. Mungkin ibu ini memang sudah lama berdiam di Malaysia sehingga logatnya pun tercampur.

    Lontong sayur yang disajikan… Bagaimana ya, ini campur aduk antara perasaan kangen tanah air, nostalgia, dan “OMG LONTONG SAYUUUURRR! OMG TEH BOTOL DALEM BOTOL BENERAAAAN!” Hahaha. Jadi kalo ditanya enak atau tidak, jawaban anak rantau ini ya “ENAK SEKALI!” Hahaha. Favorit saya? Dan memang selalu menjadi favorit saya, adalah kerupuk yang sedikit terendam dalam kuah lontong sayur. Agak lembek namun masih ada bagian renyah yang terkena gurihnya kuah.

    Nah, namanya juga berdagang makanan di Malaysia ya, ada satu menu khusus yang memang nggak bisa ilang walaupun di tempat makan yang menyajikan makanan Indonesia sekalipun: Nasi lemak.

    Wira malah selalu memilih makan nasi lemak di sini, hahaha. Dia sangat suka dengan teri gorengnya. Kadang dia menyicipi lontong sayur dari piring saya, tapi dia lebih memilih nasi lemak — walaupun minumnya ya tetap: Teh Botol Sosro, hahaha.

    Selain lontong sayur, favorit kami adalah gorengannya. Ari memilih bala-bala/bakwan, saya memilih cempedak goreng.

    Bala-bala favorit Ari
    Cempedak goreng. Sedap!

    Bala-bala dimakan bersama dengan kuah lontong sayur, uiih, sedapnya! Lalu ditutup dengan Teh Botol Sosro dingin dan cempedak goreng masih hangat baru digoreng. Kenyaaaang, hahaha. Nggak kalah deh dengan sarapan gaya barat di deretan kafe di Bangsar.

    Jadi buat yang kangen makanan Indonesia, ‘Selera Nusantara’ ini patut lah dicoba.

    Selera Nusantara
    16-32, Jalan Raja Uda, Kampung Baru, 50300 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur
    017-233 3438

    Jam buka: Setiap hari 07:00 – 19:00

  • ‘Edgar Allan Poe’s Tales of Death and Dementia’ – illustrated by Gris Grimly

    Buat yang suka ngebaca karya klasik — terutama horor klasik — biasanya “kenal” dengan Edgar Allan Poe. Beliau ini adalah pengarang beberapa cerita horor klasik seperti ‘The Masque of Red Death’, ‘The Cask of Amontillado’, dan puisi ‘The Raven’.

    Dibilang horor supranatural ya nggak juga. Bukan horor macem ketemu vampir, jaelangkung, atau pocong. Lebih ke… Apa ya, horor yang disebabkan oleh pikiran kita sendiri.

    Banyak kritikus yang berspekulasi bahwa Poe sendiri mengalami gangguan mental seperti schizophrenia atau depresi, makanya karya-karyanya dia ya seperti itu; tema utamanya adalah kegilaan.

    And it’s pretty horrific, really.

    Saya menyukai karya-karya Edgar Allan Poe karena alasan itu: Horor yang kita alami sumbernya dari pikiran kita sendiri. The monster lies within us. Jadi ketika saya melihat novel grafis ini — eh, ini novel grafis bukan ya? Lebih ke novel dengan ilustrasi yang banyak sih. Err, buku bergambar? — saya langsung tertarik.

    Dan dari buku ini juga saya tertarik dengan ilustratornya: Gris Grimly.

    Mungkin, mungkin ya, kalau Poe masih hidup dan bertemu Gris, dia akan senang sekali, hahaha. Lukisan Gris Grimly itu… Ekspresif. Sangat ekspresif. Malah di beberapa karya, tampak sangat cute. Dia ini ilustrator yang SANGAT cocok untuk cerita-cerita dongeng klasik versi belum disensor Grimm Brothers, hahaha.

    Saya sebenernya pengen foto bagian dalam buku ini lebih banyak, tapi saya nggak nyaman dengan kemungkinan menyebarluaskan hak cipta tanpa ijin. Jadi seadanya ya.

    Di buku ini, karya-karya Poe yang diangkat adalah:

    1. The Tell-Tale Heart
    2. The System of Doctor Tart and Professor Fether
    3. The Oblong Box
    4. The Facts in the Case of M. Valdemar

    Saya sebenernya agak kecewa karena nggak ada cerita ‘The Cask of Amontillado’ dan ‘The Masque of Red Death’ — ‘The Cask of Amontillado’ sendiri saya baca pertama kali di majalah BOBO (kalo dipikir-pikir, morbid juga ya majalah anak-anak nerbitin cerpen orang ngebunuh dengan cara dikubur idup-idup…)

    Nah, tapi bukannya buku ini terus jadi buku yang saya nggak suka ya. Justru cerita yang saya suka banget itu ada dua: ‘The Oblong Box’ dan ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’. Sedikit bocoran, cerira ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’ ini saya rasa menginspirasikan film ‘Shutter Island’ yang dibintangi Leonardo DiCaprio.

    Ilustrasi Gris yang ekspresif dan tegas ini yang membuat saya menikmati karya Poe lima kali lipat. Apabila selama ini saya hanya bisa membayangkan seperti apa kejadian yang ditulis, ilustrasi Gris membantu saya membentuk visual horor yang saya selama ini nggak bisa bayangkan. Sangat direkomendasikan untuk pecinta karya-karya Edgar Allan Poe maupun pecinta buku bergambar dan novel grafis.

    The lunatics have most undoubtedly broken loose” — The System of Dr. Tarr and Professor Fether.

  • #catatanemak Perut Dipegang

    Jadi usia kehamilan saya saat ini sudah menginjak ke usia… Eeeh, 32 minggu? 33 minggu? Ya kisaran segitu lah. Mungkin udah 8 bulan ya itungannya? (lho kenapa jadi kamu yang nanya, Kap…)

    Ketika usia kandungan udah 7 bulan ke atas, biasanya perut hamil itu udah… Hamil banget. Maksudnya, udah keliatan hamil gitu. Nggak yang nanggung geje. Ya kecuali buat beberapa penumpang KRL Commuter Line atau Transjakarta yang langsung pura-pura tidur ya begitu liat ibu hamil atau manula naik kereta (heheh).

    Nah, soal perut hamil ini… Saya ini punya, err, apa ya bahasa Indonesianya? “Ketidaknyamanan”? Bahasa Inggrisnya itu “pet peeve“… Jadi saya itu paling geuleuh kalo ada orang nggak dikenal secara baik, bahkan keluarga — kalo saya nggak kenal baik (alias bukan keluarga inti ataupun keluarga yang saya sering temui,) tiba-tiba megang perut saya lalu mengusap-usap perut saya sambil bilang, “waah, hamil nih yaaa…”

    Like, what is your problem? Kenapa mendadak perut saya kaya jadi hak milik publik? Kenapa nggak pada pegang perut sendiri aja? GENDUTNYA SAMA KOK *eh* *NGGAK GITU JUGA KAP* Kenapa harus menyentuh perut saya? IYA SAYA HAMIL. KENAPA HARUS PEGANG PERUT SAYA? KENAPA? KENAPAAAAHHHHHH?

    Iya sih, ada ibu hamil dan orang-orang yang nyaman dengan kontak fisik kaya gitu. Saya pribadi… Nggak. Saya sebagai individu aja kurang nyaman dengan kontak fisik mendadak. Jaman ngekos dulu, kadang temen kos saya kalo lagi ngobrol terus ketawa-ketawa suka tiba-tiba menepuk lengan saya, saya bisa kaget sampe ngeloncat menghindar. Atau tiba-tiba ada temen menggandeng saya, “eh, ke kantin yuk!” AYO KE KANTIN, TAPI JANGAN MENDADAK GANDENG SAYA BEGITU DONG. KAGET IJK.

    Nah, kebetulan ya selama saya di KL nggak pernah kaya begitu sih ya. Maksud saya, walaupun saya kenal baik dengan auntie yang jadi staf promosi di supermarket langganan saya, dia juga nggak yang ujug-ujug pegang perut saya. Tapi ya saya keinget dulu pas masih hamil Wira, usia kandungan udah 7 bulan, saya lagi di toilet di sebuah mall di Jakarta. Lalu salah satu stafnya mendadak jalan mendekati saya, *PLOK* naro tangan dia di perut saya, lalu BARU NGOMONG, “saya minta ijin pegang perut ibu ya…”

    MBAK. MBAK INI TANGANNYA UDAH PEGANG PERUT SAYA DULUAN BARU MINTA IJIN. NGGAK KEBALIK, MBAK?

    #ngeeeeng

    Ya saya gimana lagi selain diem kaget. Stafnya itu lalu kaya berdoa sedikit, mungkin mbaknya juga lagi berusaha hamil ya… Saya juga nggak tau. Ya… Saya juga bersimpati sih.

    Tapi… Pegang perut dulu baru minta ijin… *kraying*

    Terus lanjut dengan isu klasik ibu hamil yang udah usia kandungan 7 bulan ke atas.

    Kaki kram.

    Saya masih nggak apa-apa deh kalo kaki kram siang-siang pas saya lagi baca komik atau cuwawakan di grup WhatsApp gitu. Nggak apa-apa.

    Kalo tengah malem atau kebangun pagi-pagi gara-gara kram kaki, apa rasanya nggak pengen bunuh orang itu.

    Dan ini emang masalah klasik. Cara penanganannya adalah dengan konsumsi kalsium dan minum air putih secara teratur. Tapi ya tetep aja.

    Udalah saya sebagai ibu hamil itu kalo balik badan pas tidur udah kaya paus terdampar, pas balik badan mendadak *NGEK* urat kaki ketarik sakit minta ampun.

    *kray*

    Pernah sekali, urat kaki ketarik pas saya sedang shalat. Gusti Allah nu agung, rasanya nggak usah deh ditakut-takutin siksa api neraka. Bilangin aja, “kaki kram tujuh turunan selama di Neraka” udah dijamin pada tobat semua.

    Selain itu ada juga hal yang udah dijamin ada ketika hamil besar.

    Gampang banget pipis. Ngedip mata aja *bresss* ke toilet.

    Plus, janin di perut juga udah makin gede. Selain makin gede, makin seneng main pula. Saya suka curiga si adek ini nganggep kandung kemih emaknya jadi bola. Karena ada saat-saat ketika dia bergerak-gerak, lalu mendadak bagian kandung kemih saya terasa kencang, dan saya musti buru-buru ke toilet.

    Temen saya bilang kalo dia sampe menggunakan popok dewasa saat kandungan dia sudah di atas 7 bulan; ya saking seringnya bolak-balik ke toilet. “Gw batuk aja langsung kebelet, Kap…”

    Yaaa, Insya Allah kira-kira satu setengah bulan lagi lah ya si adek lahiran, hahaha. Kemarin saya tes gestational diabetes, Alhamdulillah hasilnya normal. Ihiy. Semoga si adek juga sehat terus sampe hari lahir nanti ya dek.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap