• Ngeblog di… Path? WordPress?

    Kadang saya bertanya-tanya kenapa yang namanya ngeblog itu kok ya malas sekali. Padahal dibilang “nggak nulis panjang-panjang lagi sejak ada Twitter LOL” itu ya nggak juga. Saya tetep nulis puanjang-puanjang di Path dan biasanya bikin saya sendiri ngebatin, “ahelah, sekalian aja ditaro blog, Kap…” Tapi yang bikin saya heran adalah, kenapa kalo nulis panjang di Path itu saya betah sedangkan nulis di WordPress app itu saya ga betah ya?

    Apa karena tampilannya kah… Sotoynya saya, karena font di Path itu lebih kecil — dan buat saya jadi lebih enakan dibaca (saya penggemar ukuran font kecil, hahaha) — dan warna merah. Oke, ini agak ajaib tapi… Entah ya, kalo di app WordPress itu tulisan font gede-gede, warna biru kalem malah bikin saya bingung mau nulis apa, hahaha.

    Sebenernya ada juga sih isu teknis yang bikin saya agak malas menggunakan app WordPress: uploading pictures. Memang lebih enak ya kalo ngeblog dari hape kalo pake foto karena kan kasarnya tinggal cekrek kamera lalu upload. Nah, masalah teknis di app WordPress ini, seringnya foto yang di-upload itu nanti dinyatakan/ada notifikasi ga ke-upload lalu kepaksa lah upload foto yang sama lagi dan pas cek di tab Media… Eng ing eng, nongol dong beberapa file foto yang sama. Kan kesel. Masalahnya, ini masalah udah ada dari lama dan udah sering diangkat di forum para pengguna tapi ya masih ada aja.

    Ya semoga aja nanti isu teknis ini bisa cepet diatasi. Untuk ngeblog, memang musti buka laptop ya, hahaha (lebih nyaman juga sih ngetik pake laptop, karena minim typo, hehe)

  • ‘Everything I Never Told You’ – Celeste Ng

    img_0476-1

    Kelupaan. Selesai dibaca (akhirnya!) pas mudik kemarin, di Jakarta.

    Ga pengen bilang “INI BUKU HARUS DIBACA SEMUA ORANG TUA” tapi… Bisa dibilang begitu sih. Topik utamanya itu tentang sebuah keluarga, dan dinamika dari orang tua ke anak dan sebaliknya itu tertulis jelas di sini. Bersama dengan ambisi dan harapan masing-masing karakter di cerita ini.

    Ya tapi kalo bukan orang tua juga tetep bagus dan gapapa baca buku ini ? Buku bagus lho *lho kok jadi promosi*

    Buat yang pernah baca atau nonton ‘Lovely Bones’, ini novelnya mirip-mirip lah nuansanya. Jadi ada satu karakter yang meninggal dan dicari tahu penyebabnya, tapi bukan dalam bentuk cerita detektif atau thriller. Lebih ke flashback yang lama-lama bikin kita ngerasa, “… Oh gitu…”

    Ada lima karakter utama di sini: ayah, ibu, dan tiga anak. Masing-masing dengan harapan, ambisi, ketakutan, dan jiwa masing-masing.

    Yang gw tertarik: karakter si ibu.

    Pertama, karena gw seorang ibu.

    Kedua, karena penulisnya, Celeste Ng, jago banget menangkap harapan dan problem yang dihadapi wanita pada tahun 1950-an; dan sedikit banyak, karakter ibu ini mengingatkan akan diri gw.

    Dan semua ketakutan dan ambisi karakter ibu ini mirip dengan gw; ketika gw melihat “kejatuhan” si ibu, rasanya itu seperti ditampar dan diingatkan, “ini yang bakal kejadian kalo lu ga ati-ati sama diri lu, Kap.

    Buku ini mengajarkan bahwa dua orang yang terluka jiwanya kemungkinan besar akan memproyeksikan itu ke anak-anaknya; dan membuat anak-anak itu bingung, takut, dan tidak bahagia.

    It reminds me of some wise words when Wira was still a baby.

    “Seperti anjuran keselamatan saat situasi darurat, Kap. Selamatkan diri lu dulu sebelum lu mau menyelamatkan orang lain. Orang tua aja dianjurkan untuk pake masker oksigen dulu baru pakein masker oksigen ke anaknya kalo di pesawat.

    You have to save yourself before you save your family.

    Untuk membentuk Wira sebagai pribadi yang utuh dan baik, gw harus bisa memperbaiki diri gw dulu.

    Dengan cara memaafkan diri gw.

    … And I hope I’m doing a good job on that…

  • #catatanemak. Trimester Kedua

    Hola~!

    Setelah sekian lama dijejali entri dari Instagram (dan menjadi amat sangat redundant apabila kalian mengikuti saya di Instagram juga), akhirnya saya menulis lagi, ngoahahahaha.

    Sedikit cerita soal kehamilan saya dan si adek ini (saya agak bingung mau manggil dia dengan “si adek” atau “Kunyil” tapi saya seringnya manggil dia ini “si adek” jadi yawdalahya…), sejauh ini Alhamdulillah berjalan lancar. Trimester pertama saya dihantam sinusitis super parah selama 2 bulan, bahkan sampai saat saya mudik ke Indonesia. Di Purwokerto, saya sempet terapi akupunktur (diajak mama saya) dan agak takjub karena sakit di pipi dan dahi (yang awam terjadi saat sinusitis) menghilang. Kembali ke KL, saya ke dokter THT (yang ternyata bergelar dato’ dan biaya periksanya mehel bener *kapkap dan dompet kraying bersama*) dan diberi obat antibiotik dan decongestant yang… Saya nggak abisin. Perut, tenggorokan, dan selera makan saya jadi amburadul gara-gara kombinasi dua itu dan salah satunya. Jadi cukup lah selama lima hari saja saya meminum antibiotik (dari resep 10 hari).

    Trimester kedua… Nah ini agak aneh. Sewaktu saya hamil Wira, nafsu makan saya itu ga terkontrol bukan main. Inhumane. Saya bisa lho ngabisin nasi sebakul beserta gurame goreng seekor SENDIRIAN. Langganan rumah makan Padang ‘Sederhana’ setiap dua hari sekali.

    Jadi saya mengira hal yang sama akan terjadi dengan kehamilan yang ini. Brace for impact, ceritanya.

    Kenyataannya… Lebih mirip suara jangkrik.

    Si adek ini… Apa ya… Cuek. Iya, saya laper, iya saya musti makan setiap dua jam tapi lebih karena saya dipaksa asam lambung yang memang menggila saat kehamilan ini. Si adek tetep lebih memilih makan sayur dan buah, menghindari SEMUA yang saya suka (gorengan, coklat, es krim, apapun yang berlemak dan kolesterol tinggi dan enaknya kaya dosa OMG *kraying*) tapi untuk nafsu makan menggila… Nggak terlalu. Malah kalo saya makan terlalu banyak berujung muntah.

    Ya sisi baiknya sih wasir saya nggak kumat.

    Kehamilan kali ini juga saya ingin lebih aktif. Terutamanya memang karena saya ga ada ART di sini, dan sekali lagi saya ga pengen berat badan naik sampe 20 kilo dan susah turunnya kecuali saat bulan Ramadhan. Lucunya, kadang saya ngerasa “perut gw gede yaaa, hamil banget keliatannya yaaa,” kadang saya juga ngerasa “why perut terlihat kempes why si adek baik-baik aja kan OMG nak mamakmu ini paranoid lho why why why.”

    Tapi ya sejauh ini Alhamdulillah baik-baik saja dan banyak teman-teman saya di grup WhatsApp #buibuksocmed menyemangati saya dan meyakinkan saya bahwa Insya Allah si adek baik-baik dan sehat-sehat saja. “Rahim sama, tapi tiap kehamilan pasti beda-beda.”

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap