Salary bagus, jam kerja santai dan asik bgt (mother friendly), kerjaan rada gabut, still like it tho.
Salary ya okelah, jam kerja padat tapi sesuai passion.
Bakal ambil yang mana?
—
Banyak yang bilang “nomer 1“. Lalu ada yang nulis, “jadi berpikir berapa banyak ibu yang menyimpan passionnya demi anak-anak kemudian tanpa sadar menyodorkannya ke anak. Mungkin karena itu ya ada ibu2 yang maksa banget anak kudu jadi apa gedenya” dan “Ah, aku pun sekarang mengalah bekerja di bidang yg sama sekali bukan passionku. Mengalah demi bocah.”
Pertama, saya ga ada hak apapun untuk menjawab. Situasi saya sekarang ini ibu rumah tangga dengan ekonomi berkecukupan dan saya sesekali mengerjakan pekerjaan yang memang saya suka. I’m privileged.
Dan ini bikin saya berpikir: Berapa banyak wanita di luar sana yang mengorbankan apa yang dia benar-benar suka dan berkata, “gapapa. Demi anak“?
Dan berapa banyak wanita di luar sana yang mengejar impian dan keinginannya DAN orang sekitar dia mendesak “BURUAN NIKAH DAN PUNYA ANAK KARENA ITU KODRAT KAMU!”?
Once again, I’m privileged.
Saya pribadi nggak mau mempertanyakan kasih sayang seorang ibu ke anaknya. Sampe ada orang yang berani nanya gitu ke seorang ibu, saya putusin telinganya duluan.
Saya berharap, satu hari nanti masyarakat bisa menjaga mulutnya untuk nggak mempertanyakan keputusan seorang wanita berkarya. Untuk mengerti bahwa seorang ibu memang mempunyai tanggungjawab sebagai ibu, namun dia juga manusia yang punya hak sepenuhnya untuk berkarya dan mempunyai ambisi.
Jangan kau ambil dunia dari tangan si ibu namun di saat yang sama menuntut dunia darinya.
Hashtag #IndonesiaUnite muncul pertama kali di kisaran tahun 2009 saat terjadi bom Kuningan di Hotel JW Marriott. Saat itu Twitter masih “anak baru” di kalangan dunia online Indonesia, walaupun itu bukan pertama kalinya Twitter menjadi sumber penyebaran informasi saat tragedi terjadi. Ketika terjadi kebakaran di Depo Plumpang, salah satu pengguna Twitter di Indonesia yang kebetulan teman kami dan tinggal di dekat lokasi (saat ini dia sudah berdomisili di Filipina) mengabarkan melalui Twitter-nya situasi dan kondisi di lokasi rumahnya.
#IndonesiaUnite saat itu dicetuskan oleh salah seorang teman kami, Ismet, bersamaan dengan slogan “kami tidak takut.” Alasannya sederhana; teror disebarkan oleh beberapa kelompok tertentu untuk menimbulkan rasa takut dan adu domba di kalangan masyarakat. Satu kelompok mencurigai yang lain, tetangga yang satu menjauhi tetangga yang lain. #IndonesiaUnite muncul sebagai “balasan” terhadap pesan teror: Indonesia tetap bersatu, dan kami tidak takut.
Kemarin (14 Januari 2016), terjadi tragedi bom bunuh diri di area Sarinah, Jakarta. Sarinah adalah salah satu pusat perbelanjaan tertua di Jakarta, dibangun dan diberi nama ‘Sarinah’ oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, untuk mengenang pengasuh beliau yang bernama sama. Lokasinya berada di area Sudirman – Thamrin, area pusat bisnis Jakarta (CBD/Central Business District). Beberapa saksi mata mengatakan, terdapat dua ledakan bom — satu di Starbucks Sarinah, dan satu di pos polisi yang berlokasi di depan pusat perbelanjaan — dan baku tembak antara pelaku dan pihak polisi. Menurut laporan dari Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Republik Indonesia, pelaku berjumlah tujuh orang. Tiga telah tewas ditembak, empat berhasil dilumpuhkan dan ditangkap. Korban dari sipil dan polisi sendiri berjumlah 23 orang.
Saya yakin untuk berita mengenai kejadian bom ini sudah tersebar luas di media massa dan dibahas secara detil oleh media-media yang meliput, jadi saya toh nggak akan membahas lagi. Apalagi saya berada jauh dari Jakarta. Lokasi saya di Kuala Lumpur, Malaysia. Duduk nyaman di sofa sambil membaca status update teman-teman saya yang panik, bingung, dan ketakutan di Jakarta. Teman saya yang bingung karena kantornya terkena status lockdown sampai sore sehingga dia tidak bisa menjemput anaknya di sekolah — sementara anaknya juga khawatir dengan keadaan orangtuanya. Teman saya yang langsung menghubungi kakaknya yang dikabarkan sedang menuju Sarinah untuk wawancara. Teman saya yang kantornya berada PERSIS DI DEPAN lokasi kejadian.
Saya nggak bisa membayangkan rasanya bagaimana saat itu. Saya sebagai orang Indonesia hanya bisa marah dan mengutuk si pelaku: “INI NEGARAMU JUGA. INI BANGSAMU JUGA.”
Saya cukup setuju dengan teman-teman saya yang berkata “kami tidak takut” di akun media sosial mereka (walaupun tetap ada yang bercanda, “bok, kalo deket bom juga gw takut kali!“) karena bukannya takut, kami marah. Kami marah ke orang-orang yang menyakiti orang lain. Yang membunuh orang lain. Kami marah melihat beberapa keluarga yang kehilangan anggota keluarganya akibat serangan bom kemarin. Kami berduka dan meneteskan air mata saat mendengar berita korban meninggal. Kami sama-sama mengucap “Allahuakbar” saat bertakbir untuk shalat mendoakan para korban, rakyat, dan Indonesia.
Dan kami bangga melihat bagaimana rakyat Indonesia, dan warga Jakarta khususnya, tampil berani dan sigap menghadapi pelaku. Dalam waktu satu hari, pelaku telah ditangkap tanpa tambahan korban.
Dan jujur, kami bangga dengan bapak tukang sate ini.
This satay guy is my hero. Seriously.
Ada teman kami yang berseloroh, “kita bukannya takut sama bom — oke, bom emang menakutkan sih ya — tapi kita lebih takut lagi nggak bisa ngasih makan dan nafkah keluarga di rumah. Life must go on.“
Dan seperti yang dituliskan pihak Humas Polri.
Karena Jakarta kuat, tukang sate tetap awesome, dan polisi kita banyak yang ganteng.
Awalnya saya pengen nulis soal ini di buku jurnal saya, tapi saya lalu berpikir, “… Well, screw that,” jadi saya menulis ini di blog.
Dua hari ini saya rasanya… Apa ya, dibilang tertekan juga nggak. Dibilang apatis/bodo amat juga nggak. Tapi rasanya nggak ada semangat untuk melakukan aktifitas sehari-hari.
Kemarin, saya menerima kabar bahwa salah satu mahasiswa saya meninggal dunia. Dari yang saya dengar bahkan sejak berbulan-bulan lalu, mahasiswa saya ini bisa dibilang bekerja terlalu keras. Divisi tempat dia bekerja mempunyai jumlah staf yang sangat terbatas, dan berujung dia dan rekan-rekannya bekerja nggak kenal waktu. Akhirnya fisiknya tumbang, sakit, opname, sakit memburuk, lalu… Ya kemarin itu. Berita yang saya baca di bagian komentar di profil FB-nya. Di foto yang bergambar tulisan tangan dia yang berisi perasaan dia yang takut dan nggak tentu; tapi dia berusaha berani karena dia yakin bahwa kondisi akan menjadi lebih baik.
And it was.
Tapi tetap lah… Yang namanya sedih itu ada. Pengajar mana sih yang nggak pengen liat anak didiknya sukses sampai tua? Atau mengetahui bahwa mereka mempunyai kehidupan yang baik dan tenang. Lalu mendengar kabar bahwa seseorang yang masih muda sudah harus dipanggil pulang oleh Allah. Gone too young and gone too soon.
Lalu hari ini saya mendapati bahwa Wira menderita bronkitis. Wira sudah sebulan ini batuk-batuk, tapi seperti pasang surut. Kadang membaik, kadang kumat lagi. Dokter sendiri berkomentar bahwa hal itu dapat dipahami. “You got confused and thought it was just a common cold.“
Dokter telah memberikan resep dan pengingat untuk secara rutin membersihkan rumah dari debu (karena debu adalah penyebab utama dari bronkitisnya Wira) namun tetap saya khawatir.
Untuk saya, umur semuda Wira dengan badan yang masih mungil begitu terbatuk-batuk tak berhenti cukup membuat saya senewen.
Dan rasanya capeeeeeek sekali. Capek dan sedih.
Bismillah. Semoga esok hari lebih baik ya.
quick blurbs
Saw this site mentioned the other day on Slack: neocities.org.
Scroll down and you will see “Featured Sites”. Never knew it brings back early 2000s, and it makes me so, so happy.
Webmaster
Nindya. Kapkap.she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Animal Crossing: New Horizons. Lo-fi. Murder mysteries genre.