Author: Nindya

  • Mudik 2014

    Mudik 2014

    HAAAAAALLLLLLOOOOOOOO!

    Sebenernya saya masih lumayan cape, tapi karena saya mau ngapus-ngapusin foto di hape saya jadi saya mutusin ngeblog aja, hahaha.

    Anu, hubungannya foto sama blog itu… Gini. Jadi saya Desember 2014 kemarin kan mudik ke Indonesia selama 2-3 minggu ya. Foto-foto yang ada di hape saya biasanya otomatis backup di Google Plus saya setiap ada sambungan WiFi. Cuma ya pas mudik itu agak susah nemu koneksi WiFi, dan saya ga mau backup pake koneksi data GSM. Selain, errrr, lelet, agak mahal juga, hahaha. Jadi lah foto dan video numpuk di hape sampe storage hape saya cuma nyisa 80 MB kemarin itu.

    Hubungannya blog sama foto di hape adalah, kalo ini foto-foto saya delete, agak repot kalo saya ngeblog sambil download ulang foto dari G+ saya. Ya sekalian aja deh ngeblog dan setelah selesai ya saya hapus foto-fotonya. Saya sendiri lebih seneng ngeblog lewa hape karena lebih mudah upload foto langsung ketimbang transfer foto dulu ke komputer atau laptop. Jadi mohon maaf kalau ada salah ketik atau apa, haha.

    Soal mudik, iya emang lama. Jalan-jalannya lebih banyak di Bali dan Purwokerto. Bali, karena udah direncanain dari jauh hari, dan Purwokerto karena itu kota tempat tinggal orangtua saya dan Wira sunat.

    Waktu di Bali sebenernya kita juga ga banyak jalan-jalan. Lebih sering di pantai dekat hotel. Saya dan Ari kebetulan bukan tipe yang harus wajib ngejelajah satu pulau kalo jalan-jalan, hahaha sebenernya karena faktor umur sih

    IMG_1390.JPG

    IMG_1386.JPG

    IMG_1382.JPG

    Di Bali, hanya mampir ke dua objek wisata; Bali Safari and Marine Park dan Tanah Lot.

    Foto di bawah ini saat para staf melakukan pertunjukan dan pengenalan untuk menyambut para pengunjung. Lumayan keren pas ada elang terbang dari arah belakang penonton ke tengah panggung 😀

    IMG_1432.JPG

    Bali Safari and Marine Park ini salah satu dari beberapa safari yang dimiliki oleh pihak Taman Safari 🙂 Bedanya dengan Taman Safari Cisarua, Bali Safari menyediakan angkutan khusus untuk para pengunjung berkeliling taman safari (sedangkan di safari Cisarua para pengunjung berkeliling dengan mobil pribadi — kecuali saat safari malam.) Salah satu favorit saya adalah saat menonton gajah yang sedang dimandikan karena baik gajahnya dan pelatihnya sama-sama lucu dan senang bermain-main 😀

    IMG_1439.JPG

    Selain itu, kesukaan saya adalah bagian petting zoo (kebun binatang cilik — biasanya hewan-hewannya sangat jinak dan bisa disentuh atau diberi makan pengunjung sesuai arahan dari pelatih.) Saya sukanya karena papan-papan peringatannya kalimatnya lucu-lucu, hahaha.

    Saat saya bertanya soal tulisan di atas itu, salah satu stafnya bercanda bilang, “iya, buayanya itu menghindari bentuk material duniawi dan menginginkan zen dalam kehidupannya yang fana ini.” Hahaha.

    Di area petting zoo juga ada kolam ikan koi yang sangat adem dan nyaman untuk beristirahat.

    IMG_1444.JPG

    Dan yang terakhir, favorit saya adalah produksi poo paper. Bener-bener artinya “kertas kotoran”. Kertas yang dibuat dari kotoran hewan herbivora.

    Jadi kotoran hewan herbivora itu kan masih banyak banget mengandung serat tumbuhan yang nggak bisa dicerna, serat-serat itu lalu dibersihkan (dan saya yakin banget deh dikasih disinfektan) lalu dijemur dan dibuat menjadi bubur kertas untuk akhirnya dicetak jadi kertas.

    IMG_1452.JPG
    IMG_1454.JPG

    Setelah Bali Safari and Marine Park, kami juga mengunjungi Tanah Lot. Selama ini saya mengira Tanah Lot itu seperti pura yang lokasinya terpencil gitu dan harus hiking (maklum, saya belum pernah ke Bali, hahaha) tapi ternyata eh rame juga, hahaha.

    IMG_1491.JPG

    Saat kami tiba di Bali, sebenarnya saat itu sedang ada perayaan Galungan; jadi banyaaaaak sekali orang lokal Bali yang juga mengunjungi tempat wisata (Bali Safari and Marine Park memberi diskon 50% untuk tiket masuk bagi pengunjung dengan KTP Bali) dan di Tanah Lot juga nggak terkecuali. Karena berupa komplek pura, kami sering berpapasan dengan rombongan umat Hindu yang sedang beribadah. Dan saya baru tahu bahwa saat Galungan itu para umat Hindu mengunjungi pura sebanyak yang dia mampu dalam waktu satu hari. Wow banget. Itu luar biasa lho, berkeliling ke banyak pura di Bali. Jadi banyak orang Bali yang kami temui sering berkata, “hari ini Bali rame oleh warga lokal.” Hahaha, kami malah seneng karena bisa bertemu banyak orang lokal sehingga bisa nambah info soal Bali.

    IMG_1518.JPG

    Saya ga foto umat Hindu yang sedang beribadah karena saya nggak pengen mengganggu mereka — dan juga pengunjung biasa dilarang masuk pura. Saya kebayangnya kalo saya yang sedang shalat di masjid lalu ada yang foto-foto ceklak-ceklik depan belakang kanan kiri. Risih rasanya. Jadi saya hanya foto mereka saat mereka berjalan menuju pura lain, dan juga dari belakang sehingga muka mereka tidak perlu terlihat.

    Salah satu pura di Tanah Lot yang terkenal (kata Ari, “yang ada di uang kertas itu lho”) itu yang berada di laut, namanya pura Tanah Lot. Lokasinya di laut dan merupakan tempat pemujaan dewa-dewa laut.

    IMG_1497.JPG
    IMG_1507.JPG

    Sebenernya ada satu lagi pura yang lokasinya di tebing menjorok ke laut, namun mohon maaf sekali saya lupa namanya apa. Pura ini juga cantik sekali.

    IMG_1521.JPG

    Setelah dari Bali, kami menuju Purwokerto. Kami berangkat ke Purwokerto dari Jakarta menggunakan KA Argo Dwipangga dari stasiun Gambir. Saya sendiri seneng banget kami naik kereta, hahaha. Saya suka kereta api soalnya.

    IMG_1651.JPG

    IMG_1621.JPG

    Di Purwokerto, kami sedikit berwisata kuliner dengan mengunjungi Bakso Pekih dan Es Krim Brasil.

    IMG_1686.JPG

    IMG_1687.JPG

    Es krim Brasil ini es krim buatan sendiri dengan rasa tempoe doeloe alias jadul, hihi. Saya pribadi lebih senang dengan es krim jadul begini, karena rasanya lebih ringan; nggak terlalu berkrim dan nggak terlalu manis.

    Dan harganya jauh lebih murah, hahaha.

    Di Es Krim Brasil, kami memesan banana split untuk dibagi bertiga. Kalau banana split biasanya menggunakan rasa es krim neapolitan (vanilla, strawberry, dan coklat,) banana split Brasil menggunakan rasa strawberry, anggur, dan coklat.

    Es krim Brasil ini untuk saya enak karena memori 🙂 Saat saya besar di Cilacap, saya dan sodara sepupu saya beserta para om tante pakde bude (rameeee, hahaha) suka ngumpul di rumah akung uti saya. Biasanya kami dibelikan es krim, ya es krim Brasil itu (saya besar di era saat awal-awal Wall’s baru masuk ke Indonesia). Karena para cucu rata-rata masih kecil, biasanya kami dibelikan es mambo (es dalam wadah plastik panjang) karena lebih mudah dipegang. Itu pun dipotong setengah, jadi satu anak dapet setengah es mambo.

    Untuk para om tante dan pakde bude, mereka biasanya dapet es krim di cone. Dan es krim cone itu UENAK BANGET. Ada rasa jeruk, strawberry, dan coklat. Dan buat kami para cucu yang masih kecil dan ingusan, es krim cone itu seperti simbol status, hahahaha. Kalo sudah makan es krim cone sendirian, artinya sudah besar.

    Jadi ketika saya sudah cukup besar untuk bisa memakan es krim cone tanpa belepotan dan berantakan, itu rasanya saya jadi anak paling keren sedunia, hahahaha.

    Dan sampe sekarang pun saya masih beranggepan begitu, hahahahahaha. Tetep lah es krim cone Brasil itu favorit saya kemana-mana.

    Saat di Purwokerto, kami juga memutuskan untuk mengkhitan Wira. Alasan utamanya karena memang dianjurkan dokter — bahkan sejak dia bayi. Wira mengalami fimosis yang berujung infeksi saluran kencing, dan dokter sudah menyarakan agar Wira dikhitan saja agar infeksinya cepat sembuh. Pengaruh infeksi ini ke tubuh si anak besar sekali lho. Karena infeksi, makanan yang dicerna lebih banyak digunakan tubuh untuk melawan kuman di infeksi itu. Sisa-sisanya baru digunakan untuk tumbuh. Makanya biasanya kalo si anak terkena infeksi saluran kencing (dan infeksi ini biasanya terjadi di anak laki-laki) biasanya mudah sakit dan susah besar badannya. Dengan dikhitan, Insya Allah infeksinya bisa dihilangkan dan makanan yang dicerna bisa 100% diserap tubuh dengan baik.

    Dan saya juga jawab, “mumpung anaknya belum bisa minta Playstation atau sepeda, hahaha. Kalo dikhitannya pas SD atau SMP, susah nanti, jangan-jangan malah minta motor Ducati, hahahaha.”

    Proses khitannya… Dramatis, haha. Namanya juga anak-anak, sangat wajar untuk merasa takut dan khawatir. Sehingga yang namanya menangis pasti ada. Saya sebagai orangtua juga ikut khawatir awalnya.

    Namun karena ilmu medis dalam khitan sudah makin maju, Alhamdulillah dokter bisa memberikan estimasi kapan lukanya kering dan sembuh. Nggak terlalu lama juga. 3-5 hari. Selain itu kami juga diberi antibiotik (untuk mengobati infeksi), anti radang, dan paracetamol untuk penghilang rasa sakit.

    Saat Wira dikhitan, saya dan Ari sama-sama setuju bahwa kami NGGAK mau yang namanya bikin acara gede-gedean. Jadi kami memutuskan untuk membuat nasi boks saja untuk dibagikan ke tetangga sekitar rumah orangtua saya.

    Untuk kami sekeluarga, orangtua saya mengadakan bakar ikan bareng-bareng. Ayah saya mempunyai kolam ikan di belakang rumah dan pas sedang panen ikan. Alhamdulillah jadi bisa makan ikan rame-rame 😀

    IMG_1702.JPG

    IMG_1696.JPG

    IMG_1709.JPG

    IMG_1703.JPG

    IMG_1694.JPG

    IMG_1705.JPG

    Selain Purwokerto, kami juga mengunjungi Sokaraja untuk membeli batik. Biasanya mas Ari membeli kemeja batik untuk ngantor. Jadi duta bangsa Indonesia di Malaysia melalui batik, haha.

    Di toko batik ini (nama tokonya “Batik Anto Djamil”) harga batiknya nggak terlalu mahal. Untuk batik yang paling mewah (sutra dan lukisan tangan) harganya paling mahal itu mendekati 2 juta.

    Itu termasuk murah karena kami pernah melihat batik di mall Grand Indonesia, Jakarta, yang harganya… 17 juta.

    Wira sendiri senang sekali kalo kami mampir di toko batik. Selain banyak warna dan motif yang dia bisa lihat, ruangan toko batik biasanya luas dan lapang (untuk para calon pembeli duduk dan melihat kain batiknya dibuka untuk melihat motifnya) jadi dia bisa berkeliaran melihat-lihat.

    IMG_1744.JPG
    IMG_1742.JPG
    IMG_1748.JPG
    IMG_1746.JPG

    Kami kembali ke Kuala Lumpur tanggal 31 Desember kemarin, tepat sehari sebelum Tahun Baru karena kami penasaran Tahun Baru di Malaysia itu seperti apa 😀

    Sebenarnya sama saja, tetapi tahun ini rasanya perayaannya sedikit lebih tenang karena baik Malaysia dan Indonesia sedang diuji. Indonesia diuji dengan tragedi pesawat Air Asia QZ 8501 yang mengalami kecelakaan saat melakukan penerbangan dari Surabaya menuju Singapura dan Malaysia sendiri sampai saat ini sedang dihantam bencana alam berupa banjir yang melanda area pantai Timur yaitu Kelantan, Pahang, dan sekitarnya. Bahkan tragedi QZ 8501 pun membuat Malaysia merasa terpukul karena Air Asia adalah perusahaan Malaysia dan Air Asia Indonesia sudah seperti adik sendiri.

    Semoga saja kita semua senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan serta hati yang murni dan bijak dalam menghadapi hidup, baik dari tahun 2014, di tahun 2015, dan tahun-tahun berikutnya. Bismillahirrahmanirrahim.

  • string lights on a book

    Bakmi Ayam Acang

    Bakmi Ayam Acang ini salah satu tempat makan langganan sewaktu masih tinggal di Serpong. Saya lupa tepatnya gimana, tapi satu hari Ari pernah bilang kalo Bakmi Ayam Acang ini salah satu bakmi ayam terenak di BSD.

    Sewaktu kami masih tinggal di BSD, kami rutin ke Bakmi Acang setiap akhir pekan setelah berbelanja di Pasar Modern BSD 😀 Sudah penat berbelanja, sarapan dengan bakmi ayam, hahaha.

    Hari Selasa kemarin, kami mampir ke sana 🙂 Iya, saat ini saya berada di Indonesia dalam rangka mudik.

    Bakmi Ayam Acang ini menggunakan kaldu dan daging dari ayam kampung. Koh Santo (anaknya koh Acang yang buka kedai Bakmi Ayam Acang pertama di Grogol) adalah pemilik Bakmi Ayam Acang di BSD, dan sewaktu Wira masih bayi, koh Santo suka ngasih kami semangkuk kaldu ayam untuk campuran bubur Wira 🙂

    IMG_1331.JPG
    IMG_1335.JPG

    Porsi bakmi ayam Acang ini gede. Banget. Dijamin kenyaaang. Kalo ke sini, sebaiknya pas laper berat, hahaha. Kalo mau porsinya pas, pesen setengah porsi aja dulu 😀 Potongan ayamnya juga sepotong gede. Bisa dipesan bersama bakso dan pangsit udang.

    IMG_1338.JPG

    Sama seperti kedai bakmi umumnya, tempat makan Bakmi Acang ini ga mewah. Tapi rasanya hal itu yang bikin enak makanan ya? 😀

    IMG_1333.JPG

    Untuk harga, bakmi ayam Acang ini agak mahal. Seporsi harganya Rp 27,000. Kalo ditambah bakso dan pangsit, sebutir bakso atau sebutir pangsit harganya Rp 3000. Tapi… Enak, hahaha. Dan kenyang banget. Ini yang bikin galau, emang. Jadi saya rasa, harga memang agak mahal tapi rasa dan kenyang juga ada 🙂

    Kalo ingin mampir, Bakmi Ayam Acang buka setiap hari kecuali Senin, dari pukul 6 pagi sampai 1 siang. Lokasinya di deretan komplek ruko sebelah Pasar Modern BSD.

    IMG_1340.JPG
  • string lights on a book

    Nasi Beriani Ipoh

    Minggu lalu saya dan Wira diajak Ari jalan-jalan ke Putrajaya. Seperti biasa, Ari kerja, saya dan Wira main-main, hahaha.

    Sebelum berangkat, kami makan siang dulu di Nasi Beriani Ipoh. Seperti Indonesia, variasi nasi di Malaysia juga rada banyak. Indonesia punya nasi liwet, nasi kuning, nasi bakar, dan macem-macemnya. Malaysia punya nasi lemak, nasi kandar, dan nasi biryani (dalam bahasa Malaysia, “beriani.”) Nasi biryani sendiri adalah nasi khas India. Biasanya dihidangkan dengan kari ayam ataupun kari kambing. Di Indonesia, nasi biryani biasanya banyak ditemukan di Sumatra. Ya ga heran juga karena lokasinya juga mepet ke Semenanjung Malaysia 🙂

    Di Malaysia, tempat makan nasi beriani ataupun nasi kandar ini mungkin mirip dengan warteg atau rumah makan Padang. Kita dikasih nasi, dan kita bisa ambil sendiri/milih lauk yang disediain. Biasanya ada kerupuk khas India yang namanya papadam disediain gratis.

    IMG_1115.JPG

    Nasi Beriani Ipoh ini berlokasi dekat Kuala Lumpur International School. Karena tempatnya di lantai dua, kita bisa makan sambil melihat pemandangan pemukiman di bukit sekitar (KL dikelilingi oleh perbukitan.)

    IMG_1112.JPG
    IMG_1111.JPG
    IMG_1117.JPG
    IMG_1118.JPG

    Seperti biasa, pesan tea ais 😀

    IMG_1114.JPG

    Dan papadam adalah salah satu cemilan kesukaan Wira 😀

    IMG_1113.JPG

    Selain papadam, Nasi Beriani Ipoh juga menggratiskan hati dan ampela ayam goreng! Hohoh, saya sangat suka ampela, jadi ini rasanya seperti dapet durian runtuh, hahaha.

    IMG_1116.JPG

    Saya coba cari di Google untuk alamat lengkapnya, sayang sekali nggak nemu 🙁 Tapi untuk panduan lokasi, lokasi Beriani Ipoh ini sejalan dengan Kuala Lumpur International School. Jadi kira-kira di area itu. Nanti saya tanyakan ke Ari.

    IMG_1120.JPG
  • string lights on a book

    Chee Cheong Fun dan Tangyuan

    Gara-gara post blog beberapa hari lalu soal makanan Malaysia, saya jadi kepengen banget makan chee cheong fun sama tangyuan, hahaha.

    Hari ini abis nganter Wira ke klub gym anak-anak, nyempetin makan siang di Miss Kwan KLCC 🙂

    Ini chee cheong fun dengan saus kari. Harganya RM 4.90. Ada dua menu, sebenernya: sebagai side dish (dengan saus kari) dan sebagai menu utama (dengan kari ayam.) Menu utama harganya sedikit lebih mahal (kira-kira RM 16)

    IMG_1082.JPG

    Rasanya khas kari. Gurih pedas dan ada sedikit rasa saus kacang 😀 Taburan bawang goreng dan wijennya enak banget.

    Tampilannya agak membosankan tapi ini enak lho! 😀 Bulatan-bulatan itu kue mochi isi pasta kacang hitam. Biasanya dikasih gula Malaka cair biar lebih manis. Tangyuan ini bisa dimakan hangat atau dingin.

    Kalo sedang berkunjung ke KLCC, bisa dicoba mendatangi Miss Kwan di Suria KLCC lantai 4 🙂 Kalo bisa datengnya sebelum jam makan siang (jam 11 siang) karena tempat ini rame banget kalo jam makan siang, hahaha.

  • string lights on a book

    Makan (Nyaris Tengah) Malam di KL Junction, Ampang

    Semalam Ari mendadak lapar dan mengajak jalan-jalan cari makanan. Sebenernya inginnya ke area Damai karena kita ngerasa di area itu ada yang jual sate khas Indonesia, tapi waktu mampir ke sana ternyata tempatnya tutup. Mungkin tutup pada hari Minggu ya.

    Sempet kepikiran juga ke area Kampung Indonesia di Jalan Tuanku Abdul Rahman (seringnya disingkat menjadi “TAR”) atau Chow Kit (Tanah Abang-nya Kuala Lumpur, hahaha) tapi keinget ada food court 24 jam di area KL Junction yang lebih deket rumah jadi kita muter balik ke arah Ampang.

    Omong-omong Kampung Indonesia, area ini seperti Pecinan atau Little India. Banyak sekali orang Indonesia di sini dan bahkan ada Grapari Telkomsel! Kapan-kapan saya foto ya 😀

    IMG_1047.JPG
    IMG_1048.JPG

    Walopun 24 jam, yang masih buka sebenernya agak terbatas. Yang jelas lebih rame kalo siang-siang 🙂 Tapi malem-malem pun pilihan makanannya juga lumayan banyak. Ada rojak, roti naan dan roti canai, nasi goreng, char kuey teow (kwetiaw goreng), dan stand khusus minuman.

    Seperti biasa, memesan ais tea 😀

    Saya memesan rojak sotong dan Ari memesan roti naan.

    IMG_1055.JPG

    Potongan sotongnya besar-besar! Dan baunya agak amis sedikit, khas makanan laut. Tapi ketika dimakan, nggak kerasa amis sama sekali 😀 Makan rojak sebaiknya jangan terlalu sering — walaupun suka, hahaha — karena banyak gorengan dan bumbu kacang. Ingat-ingat kolesterol, haha.

    IMG_1057.JPG

    Waktu makan, Wira mendadak minta makan nasi. Jadi kita pesen nasi goreng kampung untuk Wira — sayang ga sempet foto.

    Dan baru ngeh saat itu kalo Wira ini selalu merasa lapar, haha. Kalo diliat-liat, anak ini lapar setiap 3 jam sekali. Selama dia aktif bergerak, saya sama sekali ga masalah 🙂 Saatnya mengatur pola makan ulang dan menu makan dan snack dia.

    Kapan-kapan jalan-jalan lagi cari makanan di KL 😀

  • string lights on a book

    Sekilas Kuliner Malaysia

    Baru sadar kalo saya lama nggak nulis di sini.

    Jadi nostalgia (halah) kalo jaman awal nge-blog itu semuanya ditulis. Apa aja ditulis. Cerita di kuliah, kegiatan klub, sampe curhat ga jelas sendiri. Kadang sehari bisa nulis sampe 2-3 entri, hahaha.

    Mungkin karena saat itu kegiatan memang masih banyak-banyaknya ya 🙂 Sedangkan saat ini saya sudah jadi ibu rumah tangga, jadi ya tergolong biasa-biasa saja hidupnya, hehe. Mau bercerita soal Kuala Lumpur juga sebenarnya nggak banyak karena saya jarang sekali jalan-jalan. Paling-paling ke KLCC saja. Nggak berani berjalan-jalan yang terlalu jauh karena Wira biasanya sudah ngantuk jam 1-2 siang. Masalahnya gendong-gendong dia itu sambil naik LRT atau bis itu lho, hahaha. Mungkin ketika dia sudah berumur 3 tahun dan sedikit lebih besar, bisa berjalan-jalan 🙂

    Ngomong-ngomong Kuala Lumpur, saya agak kangen dengan sate Indonesia. Sate di Malaysia ini biasanya sudah direndam dalam bumbu (marinated) baru dibakar/dipanggang. Sedangkan sate Indonesia kan masih daging mentah, diolesi bumbu kecap, lalu dibakar. Rasa “mentah”nya masih ada, begitu lho 😀 Bukan mentah juga sih ya, hahaha. Tapi masih terasa rasa dagingnya.

    Saya juga sampe sekarang belum pernah lho kesampaian makan sate klathak khas Jogja itu. Selama ini saya kalo denger nama “sate klathak” itu selalu ngerasanya kalo makan sate-nya itu bunyi “klathak-klathak” di mulut, hahaha. Sebenernya nggak sama sekali. Sate klathak biasanya menggunakan jeruji besi ban sepeda — sedangkan sate biasanya menggunakan tusuk lidi/bambu — dan (katanya sih) bumbunya pake bumbu gule. Mengingat kuliner Jogja yang sedap, kayanya enak sekali itu 😀

    Makanan di Malaysia ini nggak menggunakan terlalu banyak garam ataupun gula. Apalagi gula deh. Kalo garam, masih ada rasa asin dan gurih, terutama di makanan India. Tetapi untuk makanan kalengan/makanan instan, yang namanya MSG dan gula sudah dikurangi bahkan nggak ada sama sekali. Untuk sereal Nestle seperti Koko Krunch aja ga terlalu manis dibandingkan Indonesia.

    Tapi bukan berarti orang Malaysia nggak suka manis. Dosen saya pernah bercerita; saat beliau masih menjabat di Nestle, para eksekutif Nestle mengadakan meeting dan salah satu hal yang dibahas adalah pertanyaan “kenapa penjualan Milo di Malaysia sangat tinggi?” Kabarnya sih, penjualan Milo di Malaysia itu paling tinggi sedunia. Itu kira-kira tahun 1990-an. Entah kalau sekarang ya. Nah, melihat dari berbagai menu yang biasanya ada di mamak/kopitiam (cafe), sepertinya sih ketauan kenapa penjualan Milo sangat tinggi di Malaysia, hehe. Soalnya mereka punya minuman khas yang namanya Milo Dinosaurus. Seingat saya, beberapa kopitiam di Jakarta juga punya menu Milo Dinosaurus. Cobain deh. Dan Milo Dinosaurus itu memang kaya Milo on steroid. Udah ya satu gelas gede Milo dingin, ditaburi Milo bubuk pula. Kadang dikasih es krim Milo atau krim. Kalo minum Milo Dinosaurus, jauh-jauh dari timbangan, haha.

    Selain minuman, orang Malaysia juga SANGAT SUKA snack — terutama yang ada durian. Saya rasa ini khas negara-negara di Asia Tenggara (kecuali Singapura, hahaha) bahwa orang-orangnya sangat suka durian. Dulu saya pernah nonton acara TV Fear Factor saat para kontestannya harus makan durian. Saya dan adik saya malah ribut iri setengah mati (“ITU DURIAN BANGKOK ASTAGA YA AMPUN MAU DONG IH UDAH DIKUPASIN TINGGAL DIMAMAM DOANG”) Dan orang Malaysia ga terkecuali. Kalo udah urusan sama durian, cepet habisnya. Pancake durian, es krim durian, dodol durian… Yang biasanya di mall itu dilarang membawa makanan atau benda berbau tajam seperti durian, malah ada counter yang jualan pancake durian, hahaha.

    Untuk kuliner Malaysia, biasanya campuran antara kuliner dalam negeri, kuliner India, dan kuliner Cina. Untuk kuliner Cina, biasanya non-halal. Namun saya liat, udah banyak juga restoran Cina yang halal. Yang menarik, mulai masuk juga kuliner Thailand. Biasanya di tempat-tempat makan, walaupun jualan nasi lemak sekalipun, PASTI ADA tom yam. Saya rasa ada hubungannya dengan makin banyaknya imigran dan turis dari Thailand.

     

     

     

    Di Malaysia, sangat mudah menemukan restoran India yang cukup otentik. Jujur, restoran India yang bener-bener enak itu rada susah dicari di Jakarta. Saya cuma tau dua tempat: Ganesha ek Sanskriti dan Queen Tandoor. Saya pernah sekali makan roti naan dan chicken tikka masala (kari ayam) di satu tempat di Kemang, dan itu… Mengecewakan 😐 Saya ngomel panjang pendek di Instagram saya. Bukan apa-apa, kebanyakan juru masak Indonesia yang mencoba memasak masakan India cenderung menambahkan terlalu banyak saus tomat (!) dan kurang atau nyaris nggak pake garam masala. Sedangkan di Malaysia ini, karena banyak sekali imigran dan warga keturunan India, sangat mudah menemukan restoran India yang benar-benar enak walaupun di pinggir jalan sekalipun. Minimal menemukan roti naan dan kari 😀

    Ada juga yang namanya kuliner peranakan di Malaysia ini. Biasanya ditemui di kota pusat perdagangan seperti Melaka/Malaka. Kuliner peranakan adalah kuliner gabungan Melayu dengan Cina. Biasanya rasanya gurih dan pedas. Indonesia juga sangat familiar dengan kuliner peranakan karena kami juga mempunyai sejarah yang mirip sebagai pusat perdagangan jaman kolonial.

    Ini salah satu kesukaan saya: Tea Ais Tiga Warna (Es Teh Tiga Warna) Sebenarnya sama saja seperti tea ais (es teh — catatan: Kalo memesan minuman es teh di Malaysia, harus spesifik bilang “tea ais kosong” (es teh kosong). Kalo mesennya cuma bilang “tea ais”, otomatis pake susu) cuma di bagian bawah itu adalah gula merah/gula Malaka. Jadi urutan dari atas: Teh, susu, dan gula Malaka. Kadang ada variasi gula Malaka diganti sirup.

     

     

    Orang Malaysia juga kadang absurd bikin menu. Kedai es krim Swensen’s di sini mempunyai menu es krim nasi lemak. Isinya itu es krim kelapa yang dikasih taburan sambal dan ikan asin (ikan bilis). Jangan tanya ke saya rasanya gimana karena saya sendiri belum pernah coba, hahaha. Masih nggak berani nyobain. Tapi keabsurdan ini cukup saya sukai sih. Artinya mereka bangga dong dengan makanan khas Malaysia, yaitu nasi lemak 😀

     

     

    Salah satu makanan favorit saya di Malaysia ini adalah chee cheong fun dengan saus kari ayam. Kadang-kadang disajikan dengan kecap. Selain itu saya juga suka tangyuan — mirip lah dengan wedang ronde, haha. Tapi ini isinya mochi semua dengan kuah susu kedelai dan gula merah.

    Ada juga kesukaan saya yaitu foo chok, yaitu kembang tahu 😀 Di foto ini, saya makan mie kari dengan kembang tahu goreng.

     

     

    Dan ROJAK! Di Indonesia, namanya rujak. Bedanya dengan Indonesia yang biasanya rujak itu rujak buah, rujak di Malaysia itu ada dua jenis: Rujak buah (dan dicampur sotong) atau rujak, er, gorengan. Isinya itu gorengan kue cucur, bakso ikan, kue ikan, dan kue kelapa disiram saus kacang ringan. Saya pengen pasang fotonya di sini, tapi entah kenapa embed URL Instagram ke WP untuk foto yang ini rada ngaco 😐

    Satu hal yang perlu diingat saat mampir ke Malaysia adalah, porsi makanan mereka itu GEDE BANGET. Pernah sekali waktu saya dan Ari makan di restoran, lalu memilih menu gulai ikan dengan pertimbangan “kayanya porsinya ga gede nih. Cuma setengah ikan.” LHO YANG DATENG MALAH SATU IKAN PENUH. Gede banget pula. Pengen protes rasanya, hahaha. “Ini kok porsinya gede banget?! Ga kaya gambar di menu?!” Biasanya orang komplen kalo ukuran sebenarnya lebih kecil, ini kami malah bingung kenapa kok ukuran sebenarnya gede banget.

    Ngomongin makanan malah jadi laper… 😀

  • “Cameo Lover” — Kimbra

    “Cameo Lover” — Kimbra

    Kimbra ini salah satu penyanyi favorit saya.

    Pertama kali mendengar dia di lagu “Somebody I Used To Know” Gotye dan saya sempat mengira Kimbra itu Katy Perry, hahah!

    Ini salah satu lagu kesukaan saya juga: “Cameo Lover”

    Sumber featured image: Guy Franklin, Filmmaker and Music Director

  • string lights on a book

    Commission — Batik Pekalongan

    Agak sedikit berbeda dengan sketsa kemarin, kali ini adalah pesanan sungguhan, hahaha.

    Teman saya yang memesan gambar dengan tema batik Pekalongan menanyakan apabila saya berkenan membuat satu gambar untuk dicetak dan dibingkai untuk dicek di tempatnya (kebetulan dia meminta jasa saya untuk membuat beberapa lukisan di sebuah tempat yang dimiliki keluarganya — and I can’t be more honored than that!)

    Tema batik selalu membuat saya gugup. Bahkan saat saya MAU menggambar pun saya sudah ketakutan duluan — apalagi saat saya menggores sketsa 😐

    Kenapa? Karena batik adalah salah satu budaya kesayangan Indonesia. Fans fanatiknya banyak sekali, hahaha, dan saya mempunyai teman yang mengoleksi batik dan tahu betul arti dari pola batik dan daerah asal batik tersebut. Stres rasanya membayangkan kalau saya sampai salah gambar.

    Saya harap gambar saya ini cukup, er, berkenan.

    Selamat hari Jum’at, semua 🙂 Selamat berakhir pekan.

  • string lights on a book

    Sketch Time! — Indonesian Batik: Batik Pekalongan

    Halo!

    Setelah Inktober, saya sempet bingung akun Youtube saya mau diapakan, hahaha. Rasanya agak sayang kalau dibiarkan menganggur lagi setelah sudah beberapa video saya upload. Jadi saya memutuskan untuk mengaktifkan akun Youtube saya terus dengan video timelapse sketsa saya 😀

    Ini adalah sketsa dari salah satu pesanan teman saya. Dia meminta tema berupa batik Pekalongan.

    Karena ini sketsa, jadi belum versi final ya, hahaha. Rencananya akan saya gambar ulang di kertas yang lebih besar 🙂

    Ini pertama kali saya menggambar batik dan tangan sedang membatik. Saya baru tau lho kalau cara memegang canting itu berbeda sekali dengan cara memegang pena atau pensil. Mungkin karena di canting itu ada wadah untuk menampung tinta malam kali ya? Sehingga harus hati-hati juga.

    Iseng saya coba praktekin cara memegang canting sambil memegang pensil saya, dan sepertinya sih cara memegang canting itu membuat tangan seniman batiknya jadi lebih luwes dan halus dalam membatik. Makanya motif batik seringnya melingkar-lingkar ya? XD

    Selamat hari Kamis, semua 🙂