• 02:58 PM. Halo Singapura!

    Awal April lalu (tanggal 2 dan 3 April) kami sekeluarga berkunjung ke Singapura untuk liburan. Akhir Maret – awal April itu sebenernya juga karena Wira sedang libur sekolah sampai dua minggu *krik krik krik* Plus, bulan Februari lalu sebenernya kami juga berencana ke Singapura namun batal karena saya dan Wira tumbang karena virus dan sakit tenggorokan.

    Ari sudah sangat familiar dengan Singapura. Saat kami masih pacaran, kami sempat menjalani hubungan jarak jauh dengan dia di Singapura dan saya di Jakarta. Paling tidak saat kami mampir ke sana, nggak buta-buta amat lah ya, hahaha.

    Satu-satunya hal yang familiar di saya mengenai Singapura adalah Merlion. Dan kotanya yang katanya super bersih. Saya juga penasaran dengan angkutan umumnya, karena bahkan warga Kuala Lumpur pernah berkomentar ke saya kalau angkutan umum di KL itu masih kalah jauh dibandingkan oleh Singapura.

    (Yang tentu saja saya terbengong-bengong dengernya. Untuk saya yang dari Jakarta ini, angkutan umum di KL itu SURGA. Kalau angkutan umum di KL dianggep bapuk, ya apakabar Transjakarta dan Commuter Line dong? *hiks*)

    Kami tiba di Singapura siang hari — dengan penerbangan pagi. Satu hal yang saya pertama sadari saat di Singapura — terutama di antrian imigrasi — adalah: Garis pembatas antrian tidak dibutuhkan. Secara otomatis orang akan mengantri di depan loket yang tersedia. Tapi untuk selebihnya, tetap ada garis antrian. Kalau boleh dibilang, namanya juga bekas negara kolonial InggrisIf one man stood still long enough, a queue would form behind him.

    Selama di Singapura, kami lebih sering menggunakan angkutan umum — terutama MRT. Saya sempet bingung apa bedanya MRT dan LRT, karena saya lebih sering menggunakan LRT di KL; dan buat saya, “lah dua-duanya sama-sama kereta kok…” Ternyata bedanya memang hanya di skala ukuran saja. MRT lebih besar, namanya juga “Mass Rapid Transit“; sedangkan LRT lebih kecil (Light Rapid Transit).

    Untitled

    Kesan pertama? Singapura itu.. Panas. Bener-bener PANAS.

    Saya kira saya sudah cukup tahan banting dengan panasnya Malaysia yang macam matahari ada tujuh di langit (ada becandaan orang Malaysia, kalo “here in Malaysia we have four seasons la: Hot, Really Hot, Damn Hot, and Fucking Hot“), tapi oh men, Singapura datang dengan gegap gempita macem nantangin, “SIAPA TADI YANG BILANG TAHAN PANAS HAH? SIAPA?

    Tips pertama: Bawa dan gunakan sunscreen/sunblock. Nggak usah tanya. Pokoknya iyain aja.

    Saya jadi kepikiran deh, hari ini Malaysia sedang heatwave begini gimana di Singapura ya…

    Nah, untungnya, Singapura juga punya banyak objek wisata dalam ruangan (indoor) berupa museum dan galeri seni yang rata-rata menggunakan AC, huhuy. Kalopun jalan-jalan di luar, banyak juga para uncle yang jualan es krim potong yang lehendaris itu. Harga masih sama, SNG$ 1. Kalau menggunakan roti, ditambah 20 sen. Sedap!

    Untitled
    Untitled

    Karena hanya dua hari satu malam, kami nggak banyak berkesempatan berkunjung ke banyak tempat. Untuk area Orchard Road, saya pribadi nggak tertarik (tepatnya, karena nggak ada duit). Kami berkesempatan berkunjung ke Universal Studio di Sentosa Island dan Asian Civilizations Museum.

    Untitled
    Untitled
    Untitled
    Untitled

    Sayang sekali saat di Asian Civilizations Museum, untuk sayap bagian Asia Tenggara sedang diadakan perbaikan; padahal saya penasaran sekali bagaimana kehidupan saat jaman pra-Sriwijaya.

    Untitled
    Untitled
    Untitled

    Yang saya perhatikan, banyak sekali karya seni yang dipajang di ruang publik di Singapura — terutama stasiun MRT. Salah satu favorit saya adalah karya keramik di stasiun MRT Esplanade yang bertemakan Youth Olympic Games 2010.

    Untitled
    Untitled

    Tentu saja, kunjungan ke Merlion adalah kunjungan wajib. Plus, saya mewakili WordPress di Singapura, hahahaha *hush!*

    Untitled
    Untitled
    Untitled
    Untitled
    Untitled

    Semoga saja dapat berkunjung kembali ke Singapura bila ada rejeki. Terima kasih, Singapura!

     

  • 01:50 PM. “Kok gw nggak?”

    “Hidup tuh jangan kelamaan liat ke atas. Gampang kesandung nanti.”

    Mungkin selama ini lingkungan pergaulan saya tergolong ‘atas’. Bukan berarti teman-teman saya lalu obnoxious nggak puguh ya, nggak sama sekali malah. Mereka semua teman-teman yang baik dan hebat-hebat. Saya merasa bersyukur sekali Alhamdulillah dapat kenal mereka semua.

    Dari teman-teman yang hebat, datang pula tempat-tempat yang hebat.

    “Minggu depan gw mau ke Singapura nih. Harus siap-siap…”

    “Lagi ngurus visa ke Inggris. Semoga sukses.”

    “Selamat pagi dari Swiss!”

    … dan lain sebagainya.

    Jangankan luar negeri, dalam negeri pun dijelajahi habis-habisan. Foto matahari terbit dari Bromo lah, foto pantai dari Bali, foto kuliner Surabaya, foto diving Lombok.

    Dan itu menimbulkan bibit-bibit di hati saya yang mungkin bisa saya sebut sebagai rasa iri.

    Minggu lalu, tiga teman saya di Instagram berada di Jepang. Tiga-tiganya tidak saling kenal, namun selama seminggu isi timeline saya berentetan penuh foto-foto objek wisata dan kuliner dari Jepang. Komplit dari Tokyo, Osaka, hingga Hokkaido.

    Pergi ke Jepang adalah salah satu mimpi saya. Mimpinya udah pake banget. Pengennya pake banget. Saya rutin menonton acara milik NHK World ‘Begin Japanology’ di Youtube karena saya segitu inginnya ke Jepang.

    Dan terbersit lah di hati saya perasaan iri dan pertanyaan, “kok gw nggak ya…?

    Rasanya nelangsa juga, hahaha. Mau ngadu, tapi ya mbuh mau ngadu ke mana.

    Nah, lalu berujung lah saya ke debat internal dalam hati.

    Ih, kok lu ga bersyukur gitu sih Kap… Etapi kan namanya juga pengen. Ya gapapa dong… Tapi kalo iri kaya gitu kan juga ga bener… Ya masa sih nggak boleh punya rasa pengen, yakali siapa tau dikabulin… Tapi ya nggak gitu juga kali…

    Saya sendiri sebenernya toh udah ‘bertualang’. Seorang warganegara Indonesia tinggal di Malaysia; merantau toh? Ke tanah seberang toh? Ke negeri jiran toh?

    Temen saya, Dita, pernah berkomentar, “kalo emang Alam Semesta mengijinkan, semuanya akan dapat. Seperti masang puzzle aja. Begitu dapet satu potongan yang tepat, semuanya kepasang dengan rapi.

    Berharap itu boleh, tapi bersyukur juga jangan lupa. Iya.

    (Kap, hidupmu itu udah hidup mewah dan nggak kekurangan sama sekali. Berlebihan, malah. Jangan banyak bacot deh nyet.)

  • Akhir-akhir ini, Wira selalu minta dipijat setiap malam sebelum tidur. Biasanya, yang memijat Wira adalah Ari — sementara sebelumnya saya yang mengajak sikat gigi dan membacakan cerita sebelum tidur.

    Tapi kadang-kadang Wira meminta saya yang memijat dia, dan berdalih, “ayah aja yang cuci piring!” (hahaha)

    Dan kadang, setiap memijat dia, saya suka tersadar sesuatu.

    Saya nggak bisa bilang bahwa semua ibu merasakan hal yang sama seperti saya; tetapi saya merasa cukup yakin bahwa perasaan saya ini muncul karena saya seorang ibu.

    Saya sering lupa kalau Wira itu manusia sendiri, individu sendiri, komplit dengan kepribadiannya sendiri dan wataknya sendiri.

    Saya, sebagai ibunya, secara otomatis sering merasa Wira itu seperti “perpanjangan tangan” saya. Seolah-olah dia itu adalah saya, hanya dalam ukuran tubuh yang lebih kecil dan lebih muda (“Mini Me” mungkin ungkapan yang lebih tepat) — dan itu membuat saya merasa bahwa “Wira seharusnya seperti saya!”

    Kenapa kamu nggak bisa seperti ibu sih?!

    Rasanya saya ini seperti anak bayi yang frustrasi, berusaha memasukkan kayu berbentuk trapesium melalui lubang yang berbentuk lingkaran. Kadang bisa, lebih sering nggak bisa. Lalu saya yang kesal sendiri, marah sendiri, dan capek sendiri.

    Ketika saya memijat Wira barusan (sekarang pukul 10:45 PM waktu Malaysia), saya memijat pundaknya sementara anaknya sedang berceloteh mengenai Thomas the Tank Engine — dan di situ rasanya seperti ada saklar lampu dinyalakan di dalam kepala saya.

    “Anak ini adalah individu sendiri. Manusia sendiri. Bukan saya.”

    Sambil memijat, saya menatap wajah Wira. Saya sudah melihat wajahnya dari lahir, tapi entah kenapa rasanya saat itu saya melihat wajah yang sama sekali baru untuk saya. Saya baru sadar bahwa anak ini mempunyai garis muka sendiri, bentuk mata sendiri, bentuk hidung sendiri — tentu saja ada garis muka keturunan dari Ari dan saya, tetapi anak ini mempunyai ciri-cirinya sendiri.

    Mungkin karena saat itu lah saya benar-benar melihat wajah anak saya, melihat jiwa anak saya.

    Dan saat itu saya berdoa agar saya tidak pernah lupa bahwa Wira adalah manusia dan individu yang berbeda dari saya; dan saya, sebagai orangtuanya, harus menghormati jiwanya sebagai manusia yang seutuhnya.

  • 01:30 AM

    Iseng hari ini saya baca-baca entri saya di akun social media, dan saya ngeliat bahwa banyak tulisan saya di Path yang panjang-panjang, bahkan bisa jadi entri blog sendiri.

    Saya jadi berpikir, “kenapa ini nggak gw taro di blog aja ya?” dan jujur, saya belum nemu jawabannya.

    Apakah karena blog itu harus sangat serius? (Jawabannya: nggak) Atau masalah interaksi?

    Interaksi di social media itu sangat cepat. Hitungan detik, atau menit. Opini, pendapat, bahkan foto taman deket komplek rumah bisa mendapatkan respon/feedback dari teman-teman kita. Kalaupun tidak ada komentar, ada emoji atau reaction buttons (“inovasi” Facebook yang sudah dimulai Path sejak bertahun-tahun lalu). Kita membuat suara kita didengar dan mendengar suara orang lain dalam waktu nyaris real-time.

    Mungkin itu sebabnya WordPress, yang menurut saya termasuk paling depan dalam dunia blogging, mempunyai “bau” social media — paling tidak di app-nya. Ada tombol ‘Follow’ dan ‘Like’. Blog yang kita ikuti/follow akan muncul dalam dashboard setiap ada entri baru. Bahkan kita bisa langsung menuliskan komentar atau respon dari dashboard kita. Semacam RSS reader yang lebih interaktif.

    Tapi saya rasa, WordPress juga nggak bisa mendorong diri mereka terlalu jauh. Dasarnya WordPress adalah blogging, bukan semacam platform untuk bite-sized updates dengan jumlah karakter terbatas atau sekedar dua kalimat atau tiga kalimat. Iya sih, bisa dibuat seperti itu, tetapi dari tab New Post tidak dikondisikan untuk ketak ketik ketak ketik lalu klik ‘Send‘.

    Apakah itu hal yang buruk? Ya tentu aja nggak. Memang itu bidang yang WordPress kuasai: blogging. Dan WordPress nggak bergantung di blogging saja. WordPress adalah content management system. Selama ada orang atau perusahaan membuat website baru, di situlah WordPress mempunyai potensi.

    Sebenernya sih intinya masalah saya rajin ngeblog atau nggak.

  • Steller

    Beberapa hari lalu, mamin Dita ngobrol soal app Steller dan mengajak kami-kami (jie, “kami-kami”… Anak mudah sekaleeee, hahaha) yang suka gambar-gambar, nulis-nulis, dan foto-foto untuk mendaftar dan membuka account di Steller.

    Jadi Steller ini seperti apa ya… Seperti fitur Stories di Google Photos (pengguna Google Photos pasti sudah tahu). Jadi foto-foto itu disusun atau dikumpulkan seperti dalam album. Bedanya, GPhotos mengumpulkan foto-foto itu secara otomatis berdasarkan geolocation dan tanggal foto-foto itu diambil (harus diakui, algoritma Google untuk mengenali penggunanya itu agak mengerikan dan George Orwell-ish) sedangkan Steller itu ya untuk konten tinggal kita yang pilih. Kasarnya, seperti album portfolio per project.

    Yang saya suka dari Steller adalah tampilannya yang hipster sekali, hahahaha. Gimana ya, sangat cantik gitu. Siapa sih yang nggak pengen hasil karyanya dipresentasikan dengan cantik? Nah, Steller mengakomodir keinginan itu.

    Sayangnya, app Steller baru bisa diunduh di beberapa App Store di negara-negara tertentu — dan Indonesia nggak termasuk (!) Setahu saya, baru bisa diunduh di App Store US, UK, dan Belanda. App Store Indonesia dan Malaysia belum ada. Saya bela-belain deh bikin akun iCloud baru untuk App Store US, hahaha. Untung kalau bikin akun iCloud baru, ada pilihan ‘None’ untuk metode pembayaran (saya nggak punya kartu kredit, hahaha)

    Saya sendiri jadi semangat banget menggambar, hahaha. Seneng bisa mendokumentasikan proses sekaligus pamer karya, apalagi saya barusan beli meja untuk menggambar (selama ini saya menggambar di lantai yang berujung punggung dan pinggang sakit, kaki pegal dan kesemutan, serta resiko gelas air kobokan kuas ketendang) jadi lebih nyaman menggambar.

  • I rarely saved post drafts when writing a blog post because I usually able to ramble in a short period of time, until today, I decided to write about how I designed this blog (sidebar, cute background, pixel-thingy, and the likes.) Suffice to say, it’s, uh, long. My dormant Happiness Engineer-soul came back in full force, hahahah!

    I’m still working on it. Hopefully, I can publish it by this evening (Malaysia timezone).

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer