“Hidup tuh jangan kelamaan liat ke atas. Gampang kesandung nanti.”

Mungkin selama ini lingkungan pergaulan saya tergolong ‘atas’. Bukan berarti teman-teman saya lalu obnoxious nggak puguh ya, nggak sama sekali malah. Mereka semua teman-teman yang baik dan hebat-hebat. Saya merasa bersyukur sekali Alhamdulillah dapat kenal mereka semua.

Dari teman-teman yang hebat, datang pula tempat-tempat yang hebat.

“Minggu depan gw mau ke Singapura nih. Harus siap-siap…”

“Lagi ngurus visa ke Inggris. Semoga sukses.”

“Selamat pagi dari Swiss!”

… dan lain sebagainya.

Jangankan luar negeri, dalam negeri pun dijelajahi habis-habisan. Foto matahari terbit dari Bromo lah, foto pantai dari Bali, foto kuliner Surabaya, foto diving Lombok.

Dan itu menimbulkan bibit-bibit di hati saya yang mungkin bisa saya sebut sebagai rasa iri.

Minggu lalu, tiga teman saya di Instagram berada di Jepang. Tiga-tiganya tidak saling kenal, namun selama seminggu isi timeline saya berentetan penuh foto-foto objek wisata dan kuliner dari Jepang. Komplit dari Tokyo, Osaka, hingga Hokkaido.

Pergi ke Jepang adalah salah satu mimpi saya. Mimpinya udah pake banget. Pengennya pake banget. Saya rutin menonton acara milik NHK World ‘Begin Japanology’ di Youtube karena saya segitu inginnya ke Jepang.

Dan terbersit lah di hati saya perasaan iri dan pertanyaan, “kok gw nggak ya…?

Rasanya nelangsa juga, hahaha. Mau ngadu, tapi ya mbuh mau ngadu ke mana.

Nah, lalu berujung lah saya ke debat internal dalam hati.

Ih, kok lu ga bersyukur gitu sih Kap… Etapi kan namanya juga pengen. Ya gapapa dong… Tapi kalo iri kaya gitu kan juga ga bener… Ya masa sih nggak boleh punya rasa pengen, yakali siapa tau dikabulin… Tapi ya nggak gitu juga kali…

Saya sendiri sebenernya toh udah ‘bertualang’. Seorang warganegara Indonesia tinggal di Malaysia; merantau toh? Ke tanah seberang toh? Ke negeri jiran toh?

Temen saya, Dita, pernah berkomentar, “kalo emang Alam Semesta mengijinkan, semuanya akan dapat. Seperti masang puzzle aja. Begitu dapet satu potongan yang tepat, semuanya kepasang dengan rapi.

Berharap itu boleh, tapi bersyukur juga jangan lupa. Iya.

(Kap, hidupmu itu udah hidup mewah dan nggak kekurangan sama sekali. Berlebihan, malah. Jangan banyak bacot deh nyet.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: