• Terima kasih, Path

    Beritanya muncul kemarin, ketika ada screenshot notifikasi bahwa aplikasi media sosial Path akan ditutup pada bulan Oktober.

    Sempet ada gelombang panik di kalangan anak-anak Path.

    Ada yang berkomentar agak sinis di media sosial sebelah, “emangnya kenapa sih? Biasa aja kali. Path juga udah sepi gitu.”

    Sepi untukmu.

    Tapi belum tentu hal yang sama berlaku di orang lain kan?

    Sempat ada keraguan apakah screenshot yang beredar itu hoaks atau bukan. Seolah-olah sumber gambarnya hanya satu, pengguna Path lain kok belum terima, itu grammar-nya salah, ada gosip pihak Path memang mau membuka bisnis sampingan — entah memang sampingan atau Path akan dimatikan.

    Lalu tadi siang, muncul berita resminya. Tepatnya, muncul lah itu notifikasi Path menggantikan tab iklan yang biasanya ads.

    Huru-hara.

    Kenapa? Apa pentingnya Path ini buat gw?

    Dulu, ketika Twitter baru dimulai di Indonesia kisaran tahun 2007-2008, ada sekelompok pengguna Twitter Indonesia yang jumlahnya masih sangat terbatas saat itu. Lu lagi lu lagi, bisa dibilang begitu. Para early adopters. Ada beberapa lingkaran pertemanan walaupun masing-masing saling kenal lintas lingkaran, dan salah satunya adalah JTUG (Jakarta Twitter User Group). Namanya doang “Jakarta”, tapi isinya ada yang berdomisili di Kuwait, Singapura, hingga London. Selain JTUG, ada juga JogTUG, Jogjakarta Twitter User Group. Kumpulan-kumpulan para pengguna ini sering menjadi “pintu masuk” para pengguna baru.

    “Cek aja akun JTUG atau JogTUG kalo mau nyari temen di Twitter sini.”

    Dan dengan caranya sendiri, lingkaran pertemanan ini menjadi semakin kuat dan kompak.

    Twitter menjadi semakin ramai; untuk segala hal yang baik dan untuk segala hal yang buruk. Puncaknya di tahun 2014, ketika terjadi pemilu Presiden RI, mengakibatkan Twitter begitu riuh, berisik, dan beracun — membuat banyak anak-anak JTUG dan user group lainnya memilih diam, nonaktif akun, bahkan sampai menghapus akun.

    Pelan-pelan, mereka berpindah ke Path.

    Di Path, obrolan ringan kembali dimulai. Bercanda receh kembali bergelak. Kadang, berbagi rasa takut, rasa cemas, dan rasa sakit. Seperti biasa, semua orang siap dengan pelukan digital dan ucapan penyemangat.

    Persahabatan yang berjalan hampir 10 tahun dan masih akan berlanjut berakar kuat di Path. Terkadang bertambah teman baru, berbagi pengalaman dan ilmu.

    Untuk beberapa orang, malah, Path itu seperti ruang makan mereka. Tempat beristirahat, mengisi energi, sambil mengobrol. Seperti ruang TV, dapur, meja makan. Ngobrol sambil tertawa terbahak-bahak antar teman.

    Sehingga ketika ada kabar Path ditutup, rasanya seperti orang-orang hebat ini dicerabut secara paksa.

    Yang ada di pikiran hanya satu: “Jangan sampai komunikasi terputus.”

    Segala macam media sosial dijadikan pertimbangan berikut pro dan kontranya. Semua usul diberikan. Sampai ada permintaan, “kalian pada mau pergi ke manaaaa? Aku ikut yaaa!”

    Notifikasi update app paling sedih yang pernah gw liat.

    Terima kasih, Path. Terima kasih untuk 6 tahun belakangan ini.

  • Bandung (6-10 September 2018)

    Mood: ‘Fantastic Baby’ — BIGBANG

    Haloooo! Akhirnya ngeblog juga, hahaha. Kemarin mau ngeblog soal kandungan sulfat di shampoo tapi terus gw bingung sendiri saking banyaknya opini yang berseberangan, bahkan di antara para praktisi kimia dan kecantikan, jadi gw mutusin ga ngebahas itu dulu HAHAHA.

    Sedikit cerita ya, kalo mau main-main ke Malaysia pas lagi musim libur yang banyak keriaan dan diskon, gw saranin main-main ke sini bulan akhir Agustus – awal September. 31 Agustus itu Hari Kemerdekaan Malaysia, lalu 9 September lalu ulang tahun Sultan Muhammad V (Yang Dipertuan Agung) — cuma untuk ulang tahun Sultan memang berganti-ganti tanggalnya, tergantung Sultan yang sedang naik tahta saat itu.

    Karena Kuala Lumpur ini negara bagian federasi (federal territory) dan nggak punya keluarga kerajaan negara bagian, jadi liburnya cuma pas ulang tahun Sultan Yang Dipertuan Agung (king of the kings); tapi Kuala Lumpur punya Federal Territory Day. Macem nggak mau kalah dari negara bagian lain, hahaha. Kalo negara bagian lain yang punya keluarga kerajaan, kalo sultan negara bagian lagi ulang tahun ya negara bagian itu yang libur.

    Nah, udah nih minggu ini hari Senin dan Selasa lalu libur, minggu depan Insya Allah hari Senin LIBUR LAGIIIIJAHAHAHAHAHA. Libur Hari Malaysia/Malaysia Day. Nah, apa bedanya dengan Hari Kemerdekaan? Hari Malaysia itu memperingati bergabungnya Sabah dan Sarawak dengan (Semenanjung) Malaysia.

    Libur panjang lalu ini, kami mudik ke Indonesia — tepatnya ke Bandung. Berangkat hari Kamis minggu lalu, kembali ke Kuala Lumpur hari Senin kemarin (supaya hari Selasa bisa istirahat sebelum kembali beraktivitas di kantor.) Ke Bandung karena ada acara reuni ITB angkatan ‘98, angkatan suami gw.

    Sedikit cerita ya; dulu gw itu pas SMU ambisinya suka ga inget diri: Mau masuk ITB. Teknik Kimia.

    Hah gila kok bisa kepedean gitu? Soalnya gw kan suka banget Kimia pas SMU dulu. Bukan apa-apa, soalnya Sherlock Holmes suka dan jago Kimia. GW YA SEBAGAI STAN SHERLOCK HOLMES IKUTAN JAGO KIMIA DONG.

    Masalahnya satu: Secara akademis, gw bukan siswa yang, errrrrrrrr, cerdas cemerlang. Tapi di mata pelajaran Kimia itu gw emang jago banget. Sampe guru-guru gw ga percaya lho gw bisa dapet nilai Kimia tertinggi satu sekolah dan dites ulang. TAPI YA ITU. NILAI FISIKA DAN MATEMATIKA GW TIARAP KANDAS DIHEMPAS BUMI BERSAMA BADAI. Jadi pantes banget sih guru-guru gw pada kaget (kecuali guru Kimia, hahaha. Dia emang ngeh gw bisa dan paham. Dia juga tau gw suka Kimia karena Sherlock Holmes JADI YA PAKBAPAK DAN BUIBUK, KALO ANAK-ANAKNYA MENGIDOLAKAN TOKOH YANG MEMANG MEMBERI CONTOH BAIK (errrr, kecuali bagian gitingnya si Sherlock Holmes yang doyan ngobat) ITU DIDUKUNG YA.)

    Bokap gw sebagai sosok bokap yang… bokap, ya ngasih tau, “… kamu serius mau Teknik Kimia ITB? Aduh non, itu masuknya udah susah, keluarnya lebih susah lagi.”

    Jadi lah saya di BINUS jurusan Marketing, hahaha.

    Nggak, nggak ada niat dan nuansa merendahkan BINUS sama sekali; dan bukan berarti kuliah Marketing itu gampang. Tetep aja gw yang dulunya anak IPA (iya. IPA. Tapi nilai Matematika dan Fisika anjlok) ngos-ngosan ngelewatin kelas Akuntansi dan Finance. Tapi di kelas Business Math yang ada integral segala macem malah gw paham, wakakaka. Tapi kelas Business Statistics juga menggelepar sih.

    //jadi kamu ini pinternya di sebelah mana sih kap…

    Nah, ini kok ya ndilalah, suami lulusan Teknik Kimia ITB, wahahaha. Tetep kecipratan reuniannya lah ya, ehehe.

    Soal reuni ITB ini ya, asli, gw bingung. “Can’t relate,” gitu lah omongan anak-anak sekarang.

    REUNI KOK SERING BANGET.

    Anak BINUS itu bener-bener harus diojok-ojok sampe dikasih iming-iming makan gratis buat reunian. Itu juga ga semua dateng.

    ITB tuh ada reuni jurusan per angkatan, reuni jurusan, reuni angkatan, dan reuni akbar. Jadi tiap tahun bisa ada reuni.

    Kalo kata Ari, “alesan aja buat main ke kampus.”

    Jadi kami mudik lah dari Kuala Lumpur ke Jakarta dulu. Lho kok ke Jakarta? Bukannya ada penerbangan langsung ke Bandung dari KL?

    Ada siiiih. Tapi mahal. Asli. Mahal lho. Padahal penerbangan LCC (low cost carrier). Kami dari KL ke Jakarta pake Malaysian Airlines, yang full service, lalu ke Bandung naik KA Argo Parahyangan itu tetep jatuhnya lebih murah dibanding naik LCC. Bukan apa-apa, soalnya emang lagi libur panjang di KL kan. Kalo masa-masa libur panjang gitu emang tiket penerbangan LCC jadi mahal.

    Nah, dari KL ke Jakarta penerbangan pagi. Mendarat di Jakarta itu pukul 10 pagi. Dari Cengkareng, langsung ke Gambir untuk ngejar kereta api pukul setengah 1 siang. Emang rada ngos-ngosan jadinya, hahaha.

    Waktu mendarat di bandara, sebenernya gw kaget ngeliat kondisi langit dan udara Jakarta yang berkabut banget. Gw sampe ngira jangan-jangan ada kebakaran lahan di deket situ, soalnya kabut asapnya tebel. Ari ngomong, “emang gini kok sehari-hari di Jakarta.”

    ”Lah, itu kabut asap apaan?”

    ”Kendaraan.”

    Aduh, ngeri lho liatnya. Gw juga pake aplikasi monitor udara (Air Matters) kan di hape gw, itu AQI (Air Quality Index) Jakarta sering banget di atas 90, malah kadang bisa nyentuh 160. Itu tinggi lho, temans. Sebelum Asian Games Jakarta – Palembang 2018 itu kan Riau sempet ada karhutla dan jerebunya nyampe ke KL, itu jerebu udah tebel dan bikin sesak nafas, AQI di kisaran 90. Baru 90. Gw ga kebayang kalo 165.

    EF130391-41A9-4DC5-9A6D-5D3484DBB454
    Kuala Lumpur, 17 Agustus 2018 sehari sebelum Asian Games Jakarta – Palembang 2018. Kabut asap dari karhutla di Sumatra. Di foto nampak “terang”, aslinya kabut asapnya itu tebal dan ada bau terbakar.

    Bisa jadi di Jakarta nggak terlalu berasa karena masih ada angin (Jakarta lokasinya di antara gunung dan laut), sementara Kuala Lumpur itu seperti di tengah-tengah mangkuk dikelilingi bukit; tapi tetep ini AQI 165 itu berbahaya buat anak-anak, lansia, dan banyak orang terutama yang sensitif dengan kondisi udara.

    Inget beberapa tahun lalu kebakaran hebat di Riau dan Kalimantan? Sampe AQI di Palangkaraya nyentuh 500-1000? Nah, gara-gara jerebu itu, Wira kena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas.) Alhamdulillah anaknya udah sembuh (dokter resepin obat semprot hidung, obat serbuk untuk membersihkan saluran paru-paru, dan antihistamin,) dan Alhamdulillah banget banget udah beberapa tahun ini bebas jerebu di sini dan karhutla selalu dipantau dan ditanggulangi tim penjaga hutan dan BNPB. Cuma, ini AQI di Jakarta, gw kepikiran gimana anak-anak dan lansia. Waktu Wira sakit itu ya ngeliatnya ga tega, gimana dengan ortu lain yang liat anaknya sakit?

    Buat para temans di Jakarta, sehat-sehat selalu ya. Minum banyak air putih, kurangi kafein dan soda (karena sifatnya diuretik/membuat badan mengeluarkan banyak air), pake masker kalo perlu saat berada di luar rumah/beraktivitas di luar, banyak makan sayuran dan buah, serta kalo perlu semprot hidung dengan cairan garam (banyak dijual di apotek) supaya hidung selalu bersih.

    Nah, di Bandung, istirahat sebentar, malam harinya ketemu temen Twitter, pak dokter Ahmad Vesuvio yang sedang merambah dunia perbankan untuk menguasai dunia melebarkan sayap dan ilmu pengetahuan. Seru banget, nggak nyangka kalo dunia kedokteran dan perbankan itu bisa berkaitan erat dan malah ada yang mirip-mirip di beberapa hal.

    E3B77C30-29C4-4D3E-8B2E-FFA811CA71C1

    Nah, pas di Bandung ini kan kondisi Rey lagi bikin gw senewen ya. Sebenernya sehari sebelum berangkat itu anaknya sempet demam 38 derajat Celcius. Sebelum-sebelumnya itu yang badan sumeng/anget 37-37.5 derajat Celcius gitu lah. Ini gw sering bilang, “demam senewen.” Belum cukup tinggi atau mengkhawatirkan untuk dibawa ke dokter, tapi cukup bikin mamak parnoan kaya gw untuk cerewet dan khawatir sendiri.

    Vio ngeliat Rey sekilas, lalu ngomong, “gapapa banget kok Kap. Usia Rey berapa? Mau 2 tahun ya? Nggak apa-apa itu. Badan dia lagi ngebentuk antibodi dan ngatur basal temperature dia.”

    Gw juga dikasih tau kalo anak demam ringan tapi masih bisa main, ketawa, atau nangis itu ortu ga perlu khawatir sama sekali. “Anak yang menangis itu artinya sehat banget lho,” katanya. “Gw baru khawatir kalo si anak itu dieeeem aja. Digangguin pun diem. Ga nangis. Pasif gitu. Kalo itu kejadian, nah, bawa ke dokter.”

    Vio ngomong gitu, latar belakangnya Rey menjerit marah diganggu Wira.

    ”Nah itu masih ada energi buat ngamuk. Sehat dia mah, sehat.”

    (Gw jadi inget pas Wira batita juga pernah jatuh terguling dari tangga. Panik banget gila kami langsung melejit ke UGD. Di UGD, dokter ngecek sekilas dengan Wira ngamuk hebat karena dia nggak suka dipegang-pegang. “Sehat, bu. Gapapa dia. Tuh, dia masih ada energi buat berantem sama saya. Monitor aja dulu selama 48 jam ya.”)

    Vio ngelanjut, “Rey imunisasi lengkap kan? Sehat. Nggak ada resiko pneumonia atau rotavirus atau apapun yang mengancam jiwa.”

    TUH YA BUIBUK PAKBAPAK PENTINGNYA IMUNISASI DAN VAKSINASI YA. TUH. CATET.

    Nah, lalu besoknya ke kampus ITB untuk reunian.

    B22F5C7C-80B4-4EE6-954C-13312233D5A8

    Sedikit intermezzo: Gw baru ngeh lirik ‘Halo Halo Bandung’ itu “ibu kotaaaa periangan…” ITU MAKSUDNYA PRIANGAN. IBU KOTA PRIANGAN. PARAHYANGAN.

    GW SELAMA INI MIKIR, “APAKAH BANDUNG KOTA YANG RIANG?”

    C8FFFDC6-3ACF-4217-9804-01214190A2DC

    “Kenapa namanya Festival Reformasi?”

    ”Soalnya kan angkatan 1998. Tahun Reformasi.”

    Emang ya, beda gitu kalo alumni institut teknologi tertua di Indonesia. Ada semacam kesadaran sosial gitu lho. Keren.

    “Ini acaranya sampe jam berapa?”

    ”Sampe malem, tapi kita pulang jam 3 aja nanti.”

    ”Hue sampe malem. Ngapain aja?”

    ”Paling ada deklarasi gitu-gitu lah.”

    ”… … Deklarasi apaan anak BINUS can’t relate plis lah.”

    ”Itu laaaah, macam cita-cita untuk membangun bangsa dan negara gitu.”

    ”Ya Rabb. Wis lah, wis tuwek ngunu lho. BMI ga nembus overweight kuwi lho wis Alhamdulillah. Ini lagi membangun bangsa dan negara. Deklarasi Tensi Tidak Tinggi itu dulu lah.”

    Sebagai makhluk Tuhan yang boro-boro membangun negara, bangun pagi aja gelindingan dulu, memang begini lah kualitas saya sebagai manusia.

    //makanya kamu ga masuk ITB, Kap…

    C9319FCA-0CE3-4D92-93E7-3CB26105020F

    Di pintu masuk itu ada semacem… Gerbang (?) yang gambarnya pantat gajah; dan kata Ari emang ini ada artinya.

    ”Ini kaya waktu aku masuk ITB dulu. Masuknya lewat pantat gajah, keluarnya di mulut gajah. Harapannya, kamu yang bukan apa-apa, masuknya lewat pantat, bisa jadi seseorang yang berguna — keluar lewat mulut.”

    Anak BINUS? Dikasih target lulus di nomer induk mahasiswa, wahahaha. Gw masih inget nomer mahasiswa/NIM gw: 0600673923.

    06 itu artinya 2006. Yang artinya gw, masuk kuliah tahun 2002 (angkatan 2002), itu WAJIB LULUS tahun 2006. Gw masuk BINUS aja disebutnya BiNusian 2006, bukan BiNusian 2002 kok.

    Jadi kalo ditanya junior, “BiNusian berapa, kak?”

    ”2006.”

    ”WAAAH, UDAH MAU SKRIPSI DONG?”

    //efek kepala ditujes pedang

    Entah sekarang gimana sih, hahaha, masih pake sistem angkatan-tahun-lulus atau udah nggak.

    Oh ya, satu lagi yang anak BINUS (gw) can’t relate: KAMPUS ITB GEDE YA. BANYAK POHON.

    (Sebagai catatan, gw juga bereaksi yang sama ketika gw main ke UI. YA AMPUN, BANYAK LAPANGAN. YA AMPUN, GEDUNG REKTORAT TERPISAH. YA AMPUN, ADA DANAU. YA AMPUN, ADA HUTAN. YA AMPUN, ADA STASIUN SENDIRIIIIIII?)

    Ya gimana nasib kampusnya seciprit di tengah kota; kanan kiri mall. Yang ada uwit yukdahbabay. Sobat missqueen can relate yekan.

    Di situ, Wira sama Rey langsung main, hahaha. Bandung juga adem kan udaranya (tapi orang Bandung sendiri pada ngomel, “PANAS! INI BANDUNG LAGI PANAS!” Sementara gw yang terbiasa menggelepar di bawah sinar matahari Kuala Lumpur yang ada tujuh biji tiap hari bahagia banget nikmatin udara adem) jadi anak-anak juga hepi banget main.

    Wira sebenernya semangat banget pengen liat laboratorium anak-anak Kimia — “I LOVE LABORATORIES! It’s a place you can blow up things and go ka-boom!” (Efek kebanyakan nonton Mythbuster dan persis gw sih pas ditanya kenapa suka laboratorium Kimia (“bisa ngeledakin barang”)) — tapi sayangnya lagi pada tutup karena emang lagi musim ujian mahasiswa. Gw juga bolak-balik ngasih tau Rey supaya nggak ngrusuin kakak-kakak mahasiswa yang lagi belajar buat ujian. Tau sendiri itu bocah usilnya ga kira-kira.

    Acara reuninya menyenangkan! Karena di lapangan, jadi di goodie bag juga disediakan tikar dan botol minum. Santai banget duduk-duduk sambil dengerin MC-nya pada ngebanyol. Gw juga kenal beberapa teman-temannya Ari dan ada mbak Lita juga. Mbak Lita ini malah kenal duluan lewat Twitter dan blog, hahaha.

    https://www.instagram.com/p/BnjElLIjAPY/?utm_source=ig_web_copy_link

    Selepas acara reuni, kami meluncur ke Antapani menuju rumah keluarga The Babybirds. Sampe sana, Rey yang masih rada uring-uringan cemberuuut aja, hahaha. Tapi tentu saja namanya juga anak gw, gampang banget dibujuk pake apaaaa?

    Pake makanan.

    Nyanya ambil toples wafer yang isinya keripik singkong, lalu diketok-ketok. Rey yang awalnya kaya koala nemplok ke gw ga mau lepas, langsung aja ndlosot turun dan deketin Nyanya buat ngambil keripik singkong.

    Udah ambil keripik singkong? Ambil toplesnya.

    03F8E18F-9C8F-46EB-B7DA-D70D3D6DBD16
    Anak gw. Acara sekolah dengan makan siang buffet. Langsung ambil posisi persis sebelah meja. Makanan di piring abis, jalan ngiterin meja buffet macem tawaf dan nyomotin makanan di meja. Anteng dia mah kalo dikasih makanan.

    Wira main bareng Melon (Rinjani) nyiram-nyiram tanamannya Ing. Gw bilangin ke Ing, “berdayakan aja itu bocah. Jaman dulu juga orang beranak buat tenaga kerja bantu-bantu di sawah. Ini suruh siram tanaman pot mah cincay.” Udah mudik kok ga main-main.

    Processed with VSCO with c7 preset
    The Firmansyahs dan nona rumah

    Rumah Keluarga Burung cantik banget deh! Kaya rumah-rumah Pinterest gitu.

    (((RUMAH PINTEREST)))

    Mungil (Tiny House Nation FTW), apik, dan banyak tanaman, hahaha. Gw pengen juga punya tanaman dalam rumah (Kapkap mah anaknya kabita bener) tapi mengingat masih ada neng cilik yang segala macem samber di depan mata (gw udah pernah cerita di sini belum sih yang gw kepaksa beli rebung seberat 18 kilogram gara-garanya itu rebung (dan plastik pembungkusnya) digerigitin Rey pas dia ngikut gw ke grocery store? YA GIMANA MASA GW BIARIN REBUNG BEKAS DIGERIGITIN BOLA BEKEL BERNAFAS GINI? Kepaksa gw angkut dan akhirnya gw jadiin gule) jadi impian rumah dengan tanaman di dalam rumah musti ditunda dulu yes.

    Nah, karena di rumah Keluarga Burung si Rey ini udah malakin makanan orang, jadi lah sepulang dari sana anaknya cenghar seger bener, hahaha.

    ”Aduh, Nin, Rey bulet yaaa. Makan apa?”

    ”Makan makanan orang.”

    Besoknya, kami kembali ke Jakarta untuk semalam sebelum terbang kembali ke KL. Di Jakarta, nyobain restoran Indonesia yang nampaknya lagi ekspansi (soalnya gw sering liat seliweran namanya di timeline gw), yaitu Chop Buntut. Ari mesen Bakso Buntut Sumsum yang — kalo liat fotonya di menu — kan nampak normal ya.

    Pas dateng, Allahu…

    (Kata Ari, “ini aku dikasihnya udah bukan sendok, tapi centong!”)

    Terus mie-nya tebel lho. Bukan mie kuning biasa di mamang-mamang bakso. Ini mie tebel kaya udon atau mie tarik. Kemarin gw mesennya sup babat dan paru pake kuah susu. Itu punya Ari tampak menarik, hahaha. Insya Allah kalo mampir situ lagi mau pesen ah.

    Terima kasih, Bandung dan Jakarta!

  • Vaccinate. Yo. Kids.

    Kemarin di autobase Tubirfess, sempet ada diskusi mengenai vaksinasi dan imunisasi.

    Gw mungkin harus jelasin dulu apa itu autobase; jadi autobase di Twitter itu… Dibilang akun keroyokan juga bukan, walaupun memang dipegang oleh seorang atau beberapa admin, tergantung besarnya komunitas.

    Jadi autobase itu seperti message board; orang-orang boleh dan bisa bertanya atau melontarkan opini atau ngajak ribut (heuhe) secara anonim dengan cara mengirimkan DM/direct message ke akun autobase tersebut dengan hashtag khusus. DM dengan hashtag tersebut secara otomatis dipublikasikan di timeline si akun autobase itu, dan orang lain bisa menjawab/merespon dengan akun pribadi mereka. Autobase ini awalnya dari fanbase K-Pop, tempat para fans K-Pop bertukar informasi, gosip, bertanya, beropini, sampe, errrr, berantem. Makin lama, topik yang diangkat makin luas; isu-isu 18+, kecantikan, dan kehidupan sehari-hari.

    person using laptop computer during daytime
    Photo by picjumbo.com on Pexels.com

    Nah, di autobase Tubirfess ini, yang dibahas lebih beragam. Adminnya sendiri secara eksplisit menyatakan supaya jangan ada topik fanwar K-Pop, karena biasanya ya itu urusan rauwisuwis. Mayoritas pengikut, dan biasanya mereka aktif, di Tubirfess ini rata-rata masih sekolah atau baru bekerja. Sepertinya jarang, ada tapi nggak terlalu banyak, yang sudah menikah dan mempunyai keluarga inti sendiri. Tubirfess ini autobase kesukaan, hahaha. Banyak pembahasan dan diskusi yang bikin gw belajar banyak. Yang, “oh iya ya…” atau malah baru tau tentang banyak konsep. Seru lho, hahaha.

    Nah, balik ke soal diskusi imunisasi di Tubirfess.

    Gw kalo urusan imunisasi/vaksinasi dan para antivaxx, gampang dan langsung kesundut. Kalo Flat Earther, yaudah lah, kadang — err, banyak — yang ga ketolongan “logika”nya, dan secara umum mereka ga terlalu merugikan untuk khalayak ramai (ini nggak juga sebenernya. Dengan pola pikir instan mereka, ini sebenernya bahaya untuk anak-anak karena bikin anak-anak males mikir.) Malah kalo ga salah ada yang bilang Flat Earther ini sebenernya AWALNYA gerakan lucu-lucuan, macem Flying Spaghetti Monster (?) Tapi ditanggep serius, jadi ya gitu lah. Ya tetep sih kalo anak-anak gw bawa pacar dan ternyata si pacar itu Flat Earther ya gw tendang sebelum mereka sempet ngomong, “selamat malem, tante.”

    img_1373
    HIYAAAAAAAAAAAAAA!!

    Sementara antivaxx itu ya… Nyata-nyata teroris kesehatan publik kok buat gw. Secara sukarela memaparkan anak-anak mereka ke penyakit-penyakit berbahaya YANG SEHARUSNYA sudah tidak ada di muka Bumi ini, dengan alasan “nabi dulu ga gitu” dan “anak gw ga diimunisasi tetep sehat kok LOL”, dan juga memaparkan ANAK-ANAK ORANG LAIN BESERTA LINGKUNGAN MEREKA ke penyakit tersebut. Kaya… Tolol ada bentuknya gitu lho.

    Di Tubirfess, ditanya soal isu halal dan haram imunisasi dan vaksinasi.

    Ini sebenernya salah satu topik favorit para antivaxx, dan ini sebenernya memang strategi orang-orang macam begini (macam apa sih Kaaap? Macam itu laaaaah.)

    “HARAM! MASUK NERAKA!”

    ”BUATAN YAHUDI! HARAM! MASUK NERAKA!”

    img_1376

    Nah, percaya ga kalo gw bilang, di Amerika sono nooooooh, imunisasi/vaksinasi dibilang BIKINAN MUSLIM. Hayo? Percaya? Ahmasasih ahmasadong dorongdongdong naik odong odong?

    4F41FD9D-B6FA-4573-A2F0-809ADCF70DBA

    KESEL GA LU?

    DI SINIIIIIH DIBILANG VAKSIN BIKINAN YAHUDI. HARAM.

    DI SONOOOOOH DIBILANG VAKSIN BIKINAN ISLAM. HALAL. EH HARAM. EH HALAL. EH GATAULAH GW JUGA BINGUNG.

    Dan TOLONG YA, sentimen “bikinan Yahudi/bikinan muslim/bikinan nganu” itu sangat diskriminatif dan ga penting. UDAH BIAR BERES NIH YA, TUHAN YANG BIKIN ALAM SEMESTA, SISANYA MADE IN CHINA.

    Gw tau kalo gw ngomong di sini, ibaratnya menggarami air laut; cuma kalo memang ada yang masih ragu, sebelum gw “pait pait pait pait”-in kalian (karena gw dan Ari berprinsip, “jauh-jauh dari anak gw kalo anak lu ga diimunisasi”,) ada beberapa poin soal pentingnya imunisasi dan vaksinasi.

    Gini. Pertama-tama.

    Pernah denger nama penyakit polio? Cacar? Influenza?

    Pernah doooong, ya kan? Malah mungkin ada yang pernah kena cacar? Pernah liat kasusnya? Jarang?

    Berterima kasihlah kepada vaksin.

    Kenapa? Karena kita masih hidup sampe sekarang ya karena vaksin dan imunisasi.

    Penyakit yang kesannya “sepele” seperti cacar itu, dulu sebelum ada vaksin cacar, merenggut banyak korban anak-anak. Di catatan sejarah banyak tertulis, pelaut atau penjelajah, atau malah orang-orang biasa yang sehari-harinya hidup di darat, meninggal karena penyakit cacar. Cacar, jaman itu, menjadi epidemik, alias penyakit yang menular dengan cepat dan, dalam banyak kasus, merenggut banyak korban jiwa.

    Ada yang namanya rotavirus; rotavirus ini nyerang perut dan paling sering menjangkiti bayi. Jadi ya yang namanya angka kematian bayi jaman dulu itu tinggi banget gara-gara rotavirus. Rotavirus ini bikin si adek bayi diare, muntah, dan akhirnya meninggal. Gila lu. Kebayang ga tuh? BAYI, MEN. BAYI. BAPER GILA GW BAYANGIN ANAK BAYI SAKIT.

    Ada yang namanya tetanus. Ih, ini gw inget bangeeeet, gw pernah baca cerpen di perpustakaan SD gw, kisah seorang anak yang ayahnya meninggal karena kakinya kena paku berkarat. Si ayah terjangkit tetanus lalu meninggal. GW BACA ITU NANGIS MULU DUA HARI YA. MAKASIH.

    Nah, itu sedikit contoh dari banyaknya penyakit di sekitar kita yang bisa ditanggulangi dengan vaksinasi dan imunisasi. Jadi kalo kita liat sekeliling dan diri kita sendiri, “ih kok gw masih idup aja ya sampe sekarang,” berterima kasih lah kepada vaksinasi dan imunisasi. Badan lu cukup kuat untuk melawan dan menggempur penyakit-penyakit yang siap menyerang lu setiap harinya itu.

    Ada keraguan soal imunisasi dan vaksinasi yang buat gw masih, yaaaaa, oke lah, cukup dipahami, yaitu: “Imunisasi dan vaksinasi itu kan menyuntikkan kuman ke tubuh kita? Itu bukannya semacem misi bunuh diri?” Karena ya itu juga reaksi yang sama ketika gw SD dan guru Kesehatan gw ngomong kalo imunisasi itu, “nyuntikin kuman ke dalam tubuh kita.”

    Gini. Kuman yang disuntikkan ke tubuh kita itu kuman yang sudah lemah, sehingga kemungkinan untuk mempengaruhi kesehatan kita secara besar itu ga terlalu tinggi. Ketika itu kuman disuntik ke badan kita — jussss — gitu, badan langsung reaksi bikin antibodi untuk melawan kuman yang masuk. Ketika badan bertempur melawan kuman, biasanya kita jadi ngerasa agak demam (makanya biasanya adek-adek yang habis imunisasi itu kadang ada yang demam selama tiga hari karena ya badannya melawan kuman.) Saat akan imunisasi, biasanya dokter juga udah wanti-wanti, “jangan imunisasi atau vaksinasi kalo badan lagi ga sehat yaaa.” Soalnya ya badan musti dalam kondisi prima betul untuk melawan kuman yang masuk.

    Ketika kuman sudah berhasil dikalahkan, badan kita udah punya tentara baru dan keahlian baru untuk mengenali dan mengalahkan virus dan kuman yang menyerang badan.

    AADA27BF-8B00-4D0B-9E8C-EB34048EAD25
    Kira-kira gini lah bentukan sel pelindung badan kita //nggak — sumber: ?????? (Hataraku Saib?)

    Ada argumen yang bilang, “anak gw abis diimunisasi malah sakit parah!” Nah, itu musti dilihat kondisi kesehatan anak itu bagaimana sebelum dan saat diberikan imunisasi, atau apakah dia ada catatan kesehatan sebelumnya yang musti diperhatikan. Sedihnya gini soalnya, dibilang kalo imunisasi itu penyebab penyakit A, B, dan C. Padahal belum tentu. Bisa jadi ada faktor lain.

    Gw angkat deh; apakah vaksinasi menyebabkan autisme?

    Tidak.

    Kalo lu pernah denger teori itu, itu asalnya dari seorang mantan dokter (iya, mantan, karena dia udah dicopot secara tidak hormat dari posisinya dan dilarang berpraktek lagi) bernama Andrew Wakefield.

    Jadi dia ini bikin jurnal penelitian yang menyatakan kalo vaksinasi MMR (Mumps, Measles, dan Rubella) menyebabkan autisme dan penyakit perut pada tahun 1998.

    Gonjang-ganjing dong itu dunia medis; nah, di dunia akademis dan medis, ada yang namanya “replikasi jurnal”. Jadi lu ambil penelitian atau jurnal orang nih, lalu lu coba lakukan penelitian yang sama — biasanya untuk menguji validitas atau relevansi penelitian itu. Banyak mahasiswa gw yang pas skripsi juga replikasi jurnal karena selain untuk mencari topik skripsi lebih mudah, mereka juga pengen tau apakah teori yang diberikan di jurnal itu masih nyambung atau nggak dengan kondisi sekarang.

    Jadi itu jurnalnya Andrew direplikasi kan, dicek ulang. Hasilnya? Lhooo, kok ga ada hubungannya ya autisme dengan vaksinasi? Gimana ini? Apakah ada yang error? Apakah ada yang salah? Apakah salah gw? Salah temen-temen gw?

    //oke cukup

    Tahun 2004, diselidiki lah itu kan klaimnya Andrew. Ketauan dong, kalo dia menerima sejumlah besar uang sebagai pembayaran untuk melakukan “penelitian” dengan tujuan mendiskreditkan vaksinasi, belum lagi bukti kalau dia menyakiti anak-anak yang menjadi sampel penelitian dia itu.

    Nah, ini ada artikel dari website History of Vaccines (website ini dibentuk oleh The College of Physicians of Philadelphia) yang membahas dengan bahasa simpel mengenai vaksinasi dan autisme: Do Vaccines Cause Autism?

    Gw nggak divaksin, tapi gw sehat-sehat aja. Itu gimana tuh?

    Perkenalkan: HERD IMMUNITY.

    Apa itu “herd”? Dalam bahasa Indonesia, “herd” artinya kawanan. Sekelompok. Kita nih, manusia, hidup bersama dalam satu lingkungan, itu bisa dibilang sebagai kawanan. Kawanan tapi mesra.

    //BUKAN

    Immunity. Imunitas. Kekebalan terhadap sebuah pengaruh dari luar. Bukan, bukan soal osang aseng oseng yang lagi rame dibicarain netijen Indonesia. Ini kekebalan terhadap penyakit.

    Jadi simpelnya, herd immunity adalah kekebalan sebuah kawanan terhadap penyakit.

    Kenapa anak yang nggak divaksin masih bisa hidup?

    Karena dia dilindungi oleh teman-temannya yang divaksin.

    Ini ada gambar dari Wikipedia untuk menjelaskan ya.

    D90E04D0-7F2D-4649-A2CB-F2060CD446FC

    Kalo nggak ada yang diimunisasi, kaya contoh paling atas, begitu ada yang sakit, blaaaar, sakit lah langsung itu sak kampung sak kota sak negara. Ngeri yes? Ngeri.

    Tapi kalo semua, atau 95%, diimunisasi, kalo ada yang sakit, nggak terlalu menyebar — seperti di gambar ketiga. Kenapa? Karena yang diimunisasi itu badannya udah kebal, jadi dia nggak menjadi carrier alias tukang tular.

    Yang sekarang ada di banyak negara — ga cuma Indonesia, men. Di Malaysia, Amerika, dan banyak lagi yang rame antivaxx — itu yang kedua. Itu yang ngeri dan menyedihkan. Makin banyak yang nggak divaksin, jadi ketika ada yang sakit, menular, resiko kena ke orang lain juga gede. Yang divaksin biasanya sembuh dan kemungkinan bertahan hidup lebih besar. Yang nggak divaksin? Ya… Sakit.

    Ini kaya di Twitter, ada yang ngomong, “vaksinasi anak kita, guys. Biarin aja yang antivaxx yang anak-anaknya sakit. Anak kita jangan.”

    Gw paham dengan ajakan seperti itu, tapi itu ga sepenuhnya benar dan kurang simpatik. VAKSINASI SEMUA ANAK-ANAK. Jangan cuma anak kita aja. Kenapa? Walaupun anak kita divaksinasi, tetep ada resiko kena penyakit lho. Hanya saja, kesempatan sembuh dan hidup anak kita lebih besar. Tapi orang tua mana sih yang suka liat anaknya sakit? Nggak ada kan? Dan se… Apa ya, sekejam-kejamnya gw untuk ngebatin, “rasakno!” kalo liat ortu antivaxx panik ketika anaknya sakit, TIDAK ADA anak di muka bumi ini yang berhak menderita seperti itu. TIDAK ADA orang tua di muka bumi ini yang pantas melihat anaknya meninggal dalam kondisi mengenaskan akibat penyakit yang seharusnya bisa dihindari dan dihilangkan dengan vaksinasi dan imunisasi.

    Vaksinasi anak kita. Semuanya. Karena itu hal yang benar untuk dilakukan. Sama seperti buang sampah di tempatnya dan mengucapkan, “terima kasih,” “tolong,” dan “maaf.”

    Vaksin katanya mengandung babi? Haram dong?

    Oke. Ini mulai masuk ke ranah fiqh. Gw bukan ahli agama, apalagi ustadzah. Mungkin lu akan langsung nutup blog ini dan mendengus sebal karena gw ga ada kapasitas untuk menjelaskan dari sisi agama, tapi gw akan mencoba menjelaskan sebagai sesama muslim dan muslimah.

    MUI sudah menyatakan bahwa vaksin MR adalah mubah. Artinya boleh.

    Lho, kenapa? Kok mubah?

    Pertama, karena manfaatnya jauh lebih besar dari mudharat/kerugiannya. Ini urusan nyawa. Ya sama seperti banyak anjuran ustadz; misalnya nih, lu kelaparan di tengah hutan nggak ada makanan kecuali daging babi. Kalo lu nggak makan, lu mati. Jadi ya lu nggak apa-apa lho makan itu daging babi. Islam memang mengajarkan manusianya untuk ikhlas dan berjihad, tapi jangan bunuh diri. Ini memang ekstrim, tapi misalnya kalo lu makan itu daging babi yang cuma ada satu-satunya, dan lu bisa tetap hidup lalu berjihad (CATATAN PENTING: Jihad bukan berarti perang doang. Menuntut ilmu itu berjihad, hamil dan melahirkan itu berjihad, mencari nafkah halal untuk keluarga itu berjihad,) itu ya gapapa banget.

    Kedua, memang mengandung enzim babi, TAPI hanya saat proses pembuatannya. Enzim babi ini digunakan sebagai katalis dalam proses. Apa itu katalis? Katalis itu semacam pencepat reaksi. Jadi supaya sebuah senyawa bereaksi, kadang perlu dibantu oleh enzim atau protein. Kaya lu dipanas-panasin temen buat bolos gitu laaah. Lu itu senyawanya, temen lu yang panas-panasin itu katalisnya. Nah, enzim babi di sini ketika itu reaksi udah selesai, akan hilang ga bersisa. Jadi di vaksinnya sendiri ya ga ada kandungan enzim babi.

    Ini rame didebat di kalangan muslim karena referensi ke halal. Halal, menurut Islam, itu ga cuma di hasil akhir, tapi juga proses. Nasi halal kan? Tapi kalo lu beli nasinya pake uang korupsi, itungannya haram. Nah, ini pake enzim babi. Ga ada sisanya nih di hasil akhir, tapi di prosesnya pake enzim babi. Halal atau nggak nih? Itu yang masih didebat.

    Tapi karena ya manfaat jauh lebih besar dari mudharat, makanya masuk ke kategori “boleh”/mubah oleh MUI. Karena udah boleh dan bermanfaat, oke dooong? Ga ada alasan lagi dooonng?

    Nah, ini sebenernya bukan cerita baru. Tahun 2000-2001, sempet rame sekali itu berita mengenai sebuah produsen MSG yang saat prosesnya menggunakan enzim babi sebagai katalis. Persis kasus vaksin ini. Guru Kimia gw di sekolah — dan SMU gw itu SMU basis Islam. Al-Irsyad Al-Islamiyyah lho — ngejelasin lewat reaksi Kimia, seperti apa sih peran katalis dan bagaimana hasilnya. Pak Sigit, guru gw itu, ngomong, “ya sebenernya udah ga ada jejaknya lagi itu babi di produknya. Cuma memang masih didebat karena prosesnya itu.”

    Vaksin dan imunisasi mahal nggak?

    Untuk imunisasi wajib (anak-anak di bawah usia 2 tahun,) itu GRATIS di Puskesmas dan Posyandu. Kalo imunisasinya di rumah sakit, apalagi rumah sakit swasta yo ya musti mbayar. Ya kesel kan kalo ada yang ngomong, “ih, imunisasi kan bayar! Mahal pula! Saya di [rumah sakit swasta beken dengan spesialis lulusan luar negeri semua] itu bayar tuh!”

    AFC6C62C-2BE0-41EC-AF39-2B429BDDE2C6

    Kalo vaksinasi, terutama yang nggak wajib, itu memang musti bayar. Tapi banyak juga yang generik, jadi nggak mahal (iya, vaksinasi datang dengan berbagai merek juga kok. Coba tanya ke dokter atau tenaga medis untuk merek generik saja.) Malah beberapa vaksinasi yang akhirnya diwajibkan karena ada penyebaran penyakit bisa digratisin.

    Vaksin dan imunisasi bakal sama aja terus kaya gitu atau gimana?

    Oh, ndak.

    Vaksin dan imunisasi juga berkembang ngikutin jaman kok. Penyakit itu, kuman dan virus itu, bermutasi. Saat ini nggak ada, mungkin tahun depan ada. Yang absurd kaya flu burung, yang harusnya ngendong di ayam doang, eh kok ya ndilalah masuk kena manusia juga.

    Orang dewasa juga musti imunisasi dan vaksinasi; tergantung kebutuhannya.

    Untuk perempuan, jangan lupa vaksin HPV sebagai pencegahan kanker serviks/kanker leher rahim.

    Ada vaksin influenza; kalo ga salah, temen gw, Hafiz, musti vaksin influenza sebelum dia pergi ke Amerika. Kalo yang mau naik haji atau umroh, musti vaksin meningitis/penyakit otak.

    Gw bawel, bawel banget, soal vaksinasi ini karena buat gw, bukan soal “nanti lu kan punya anak!” Nggak. Nggak semua dari kalian bakal mau/ingin/berpikir/berniat/berkehendak punya anak kan?

    Tapi, gw yakin, SEMUA dari kalian ini bakal menjadi penerus Indonesia, duduk di pemerintahan, menjadi penentu keputusan/decision maker, menjadi aktivis/agent of change, menjadi tenaga pendidik, menjadi konselor.

    Kalian-kalian ini lah makanya musti tau pentingnya imunisasi dan vaksinasi. Pentingnya kesehatan pribadi dan kesehatan publik. Pentingnya komunitas guyub.

    Kebayang ga lu, orang-orang hebat dan penting begitu pada antivaxx?

    Sampe itu kejadian… Hhhhhhh. Naudzubillah.

    2E2B2BC4-2C1B-48D3-81F9-E6F5074A062B

    Siap tempur gw. Bodo amat udah jadi bude begini, udah jadi nenek ntar, umur lu ga menentukan apa yang lu perjuangkan. MERDEKA.

    TAPI PAS JAMAN NABI GA ADA VAKSIIIINNNN!!!!!111!!!SATUSATUSATU!!!!111

    347DA7FD-03FA-4345-8AFD-F5F80BBABE7A
    E99593EB-1A43-493A-ADC0-8933210468DB

    NAIK ONTA ATAU KAMBING AJA SONOH. KAGA USAH NAIK MOTOR. JAMAN NABI KAGA ADA TUH MOTOR.

    Heran gw, Nabi lah ini dijadiin alesan.

Nindya’s quick blurbs

  • A month too late, but I just stumbled upon IKEA France’s Tiktok video, hinting a possible collab with Animal Crossing. Unfortunately, no further information about this other than IGN picked up this news when the video was posted.

Latest snap