• Review: Fountain Pen Pilot VPen

    Disclaimer: Tulisan berikut ini merupakan murni pendapat saya pribadi dan bukan merupakan sponsor dari merek tertentu. Produk yang saya gunakan saya beli dengan uang sendiri dan bukan merupakan pemberian atau hadiah dari merek tertentu.

    Jadi udah beberapa hari ini, sejak saya memutuskan stop menggambar untuk Inktober tepatnya, saya penasaran dengan pen. Fountain pen, tepatnya. Beberapa ilustrator yang saya ikuti di Instagram menggunakan pen merek LAMY, dan ketika saya lihat harganya di toko buku… Mundur teratur.

    Kemarin saya iseng mampir ke Kinokuniya Suria KLCC, dan saya sedang melihat-lihat bagian spidol karena spidol saya sudah hampir habis tintanya, dan spidol saya satu lagi tintanya suka mbleber di kertas (?) lalu saya melihat pen ini, Pilot VPen.

    Saat saya buka tutupnya, eh ternyata ini fountain pen! Hahaha. Kaget sekaligus senang. Dan yang pentingnya lagi, harganya MURAH. RM 4.90. Jadi buat saya yang bener-bener baru belajar menggunakan pen, Pilot VPen ini lumayan lah ya untuk jadi “pen pertama” atau “pen latihan”.

    Saya baca-baca review di Google, banyak yang bilang pen ini bagus. Tintanya lancar, nggak gampang kering walopun tutup nggak dipasang, dan ya itu… Murah ?

    Tapi untuk berharap Pilot VPen ini hasilnya sama seperti fountain pen mahal yang tintanya bisa tebal tipis seperti kaligrafi, ya jelas nggak ya… ? Pilot VPen ini adalah “disposable fountain pen“; jadi kalo tintanya habis ya dibuang. Nggak ada isi ulangnya (eh, atau ada ya? Biasanya Pilot suka punya tinta isi ulang.)

    Nah, kesan saya setelah menggunakannya?

    Saya suka. Suka sekali. 

    Tintanya lancar, nggak macet, dan nyaman dipegang. Sama seperti fountain pen umumnya, Pilot VPen ini sistemnya nggak seperti ballpoint pen yang tintanya konstan mengalir walopun posisi menulis atau menggambar seaneh apapun. Posisi pen harus agak miring dan yang jelas nggak bisa ngegambar sambil tiduran kalo pake VPen ini, karena tinta langsung nggak keluar ? Tapi ini memang perbedaan utama antara ballpoint pen dan fountain pen, jadi ya emang dari sononya. Bukan sebuah kekurangan.

    Tintanya tebal, dan cepat kering di kertas. Jadi tangan nggak cepet kotor juga.

    Nah, pertanyaannya, apakah produk ini layak beli? Untuk saya, iya. Apalagi untuk yang masih pemula dalam menggunakan pen seperti saya. Saya malah kepikiran jadinya, hahaha. Pengen beli lagi.

    Sebagai kesimpulan, ini pro dan kontra untuk produk Pilot VPen.

    Pro.

    Murah. Enak dipegang/grip nyaman. Tinta lancar. Sesuai untuk pemula. Tersedia dalam tiga warna (hitam, biru, dan merah.) Tinta tidak cepat kering walaupun pen tidak ditutup.

    Kontra.

    Tidak bisa tebal dan tipis dalam satu tarikan garis. Pen sekali pakai lalu buang/disposable

    Buat yang sedang belajar menggambar menggunakan fountain pen, Pilot VPen ini bisa dicoba. Nggak terlalu mahal, cukup tahan banting, enak dipegang, dan tinta mengalir lancar. 

  • Dibuka! ‘Lapaknya Kapkap’

    Setelah beberapa lama coret-coret, saya memutuskan untuk membuat gambar saya dicetak di kaos, sarung bantal, ataupun tote bag. Siapa tahu berbuah hasil ya, hahaha.

    Untuk teman-teman yang ingin membeli produk-produk yang disebut di atas dengan gambar saya, silakan layari “toko” saya di website Tees: http://www.tees.co.id/store/Lapaknya-Kapkap

    Atau tinggal klik ‘Store’ di menu atas.

  • Coret-Coret #749572

    ‘Karena Kucing Adalah Koentji’ – 2015
    ‘Daydream’ – 2015

    Yang gambar kucing di atas itu juga saya kirim ke Linimasa. Semoga ditampilkan ?

    Oh iya, saya juga memasukkan desain gambar kucing itu ke Tees. Siapa tahu ada yang ingin punya kaos bergambar kucing di atas itu atau sarung bantal, silakan klik ‘Store’ di menu atas.

  • Disapa Adhitya Mulya

    Tadi pagi, selesai ngegambar ‘Ada Kue Pukis di Surga’, gambarnya saya foto lalu saya upload ke Path dan blog.

    Abis itu udah.

    Browsing lagi, nonton video Youtube, makan siang.

    Abis makan siang, mau mandi.

    Sebelum mandi, cek handphone dulu.

    Ada notifikasi. Komentar baru di entri ‘Kue Pukis’. Atas nama ‘adit’.

    Kirain Adit siapaaaa gitu ya.

    Adhitya Mulya. Penulis ‘Kue Pukis di Surga’ itu sendiri.

    Adhitya Mulya.

    Mulut langsung berseru, “ya Allah!”

    Lalu bengong.

    Otak nge-hang.

    Jari masih jalan. Ketaketiketaketik bales komentar. Entah isinya apa.

    Lalu jalan ke kamar mandi.

    Otak masih BSOD.

    Ambil shampoo.

    Buat sabun badan.

    Lalu merasa goblok.

    Sekian.

  • Next project: Intermediate Theme Developer

    I want to develop themes that sing praises for the 2000s. I always feel we could have a bit more 2000s-era whimsy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Post-Rock. Gregorian. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre. “Love is Love“.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com