• Pasukan Tumbang

    Halooooo, setelah beberapa minggu (?) tidak ada kabarnya — kecuali lewat foto-foto Instagram — akhirnya (“akhirnya?”) saya ngeblog lagi, hahaha.

    Dua hari ini saya dan Wira tumbang. Sebenernya diawali oleh saya di hari Senin kemarin; bangun pagi kepala dan perut terasa sakit sekali. Cek suhu badan — ya nggak terlalu tinggi juga sih — 38.5 derajat celcius. Tapi kepala pusingnya itu yang ga nahan, plus kalo demam emang rasanya mata pengennya merem terus dan tidur. Jadi lah yang dapet tugas antar jemput Wira adalah Ari.

    Wira pulang sekolah, masih keliatan biasa-biasa aja. Bahkan pagi harinya Ari sempet berpesan ke Wira, “ibu lagi sakit, jadi Wira ga rewel ya…” Sesiangan di rumah, Wira ternyata bener-bener ga mau “gangguin” saya. Dia biarin saya tidur sesiangan, dan ketika dia laper dan haus pun ga mau bangunin saya 😐 Baru ketika saya bangun dan bertanya, “Wira mau makan dan minum?” Dia mengangguk sambil nyaris menangis. APA GA PATAH HATI ITU RASANYAAAAAAAA.

    Jam setengah enam sore, Ari pulang kantor. Begitu dia pegang Wira, dia langsung nanya, “Sayang. Ini Wira kok… Panas ya?” Cek di termometer, suhu badan Wira mencapai 39 derajat Celcius. Langsung itu rasanya pusing kepala ditendang pergi sama paniknya saya *hadezig!* Wira lalu menangis keras — dan itu sebenernya jarang banget kejadian. Dia menangis sambil mengeluh, “sakit kepala… Sakit badan…” Langsung kita semua macem rombongan suporter bola melaju ke rumah sakit Gleneagles.

    Sampe di rumah sakit, Wira udah agak tenang. Dia masih mau makan snack Pocky dan minum Milo dingin. Sambil nunggu nomor urutan dipanggil, masih bercanda sama Ari dan saya. Melihat dia masih mau makan dan ga muntah, itu sebenernya yang masih bikin saya tenang.

    Ketika dicek dokter, dokter meresepkan obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Saya sempet khawatir, jangan sampe deh ini dengue atau typhus; tapi dokter menggeleng sambil berkata, “tak apa. Ni virus saja. It happens because the weather is changing. Hot then rain, hot then rain.”

    Kemarin, Wira ijin ga masuk sekolah. Jadi lah kami berdua seharian di rumah — dan itu bosennya bosen banget. Sama-sama sakit, jadi mau ngapa-ngapain juga level energi terbatas banget. Hanya saja, ketika pagi suhu badan dia agak mendingan (37-38 derajat celcius); nah ketika jam 3 sore, ngok, langsung 39.8 derajat celcius. Apa ga putus syaraf saya.

    Tadi pagi, demamnya sudah jauh lebih mendingan. Suhu badan sudah konstan di kisaran 36 derajat celcius — “paling tinggi” 36.8 derajat — tapi karena sakit, nafsu makan Wira, walaupun ada, menurun drastis. Makan nasi hanya sesuap, cookies (!) hanya dua gigit, coklat (COKLAT LHO, COKLAT) hanya sepotong kecil. Saya tanya ke dia, makan siang mau apa.

    Wira menjawab pelan, “Wira mau mie pake telor, boleh?”

    Mie instan emang bukan makanan paling sehat sedunia, tapi itu adalah comfort food nomer satu. Buat saya mah ya udah lah, yang penting anaknya mau makan dulu. Jadi saya buatkan mie instan Maggi rasa kari dengan telur rebus. Alhamdulillah makannya lahap sekali.

    IMG_3423

    Habis semangkuk, baru dia tidur siang yang sebelumnya minum susu dulu.

    Kalo dia lagi sakit begini, saya suka keinget saat Wira masih bayi. Kira-kira umur 10 bulan. Saat itu dia lagi demam tinggi mencapai 40 derajat celcius, dan saya berdua Wira naik taksi menuju rumah sakit — dan Ari sudah menunggu di sana (dia langsung ke rumah sakit dari kantor).

    Mungkin itu kali ya, rasanya jadi orangtua? Begitu anak sakit, rasanya melihat dia kembali menjadi bayi.

    Buat temen-temen pembaca, cuaca emang lagi ga menentu seperti ini — sebentar terik panas membara, sebentar hujan deras — jadi jangan lupa minum vitamin dan jaga kesehatan ya.

    PS. Sebenernya banyak banget yang pengen diceritain — jalan-jalan ke Zoo Negara dan tempat makan enak di area Ampang — tapi takut terlalu panjang jadinya, hahaha. Nanti saya tulis lagi πŸ˜€

  • Kue Ulang Tahun

    Insya Allah dalam waktu dekat ini Wira akan merayakan ulangtahunnya yang ke-tiga; Ari dan saya sama-sama setuju untuk mengadakannya di sekolah. Sebelumnya saya pernah melihat beberapa orangtua yang mengadakan perayaan ulangtahun anak mereka di sekolah, dan biasanya mereka membawa kue ulangtahun.

    Awalnya saya berpikir, “kue ulangtahun bisa beli saja kali ya?” tetapi saya… Salah besar.

    Iya, sebenernya bisa beli, hanya saja mungkin sedikit lebih rumit, hahaha.

    Jadi saat saya mengutarakan niat saya untuk merayakan ulangtahun Wira di sekolah, pihak sekolah memberikan saya surat informasi untuk perayaan ulangtahun Wira. Jadi nantinya akan diadakan “Culture Walk”, ketika guru dan/atau orangtua menjelaskan negara asal si anak — untuk Wira, Indonesia — ke teman-teman sekelas. Ada juga tiup lilin dan potong kue ulangtahun.

    Nah, untuk kue ulangtahun, ada beberapa spesifikasi:

    1. Less sugar. Pernah melihat anak-anak makan permen terlalu banyak? Nah, itu salah satu hal yang sebaiknya DIHINDARI. Jadi tertulis jelas di surat informasi bahwa kue ulangtahun sebaiknya nggak mengandung terlalu banyak gula ataupun permen.
    2. Krim segar untuk hiasan kue sangat dianjurkan. Karena lebih aman untuk anak-anak dibandingkan krim instan kalengan yang mungkin mengandung pengawet dan/atau pemanis.
    3. Tidak mengandung kacang. Untuk menghindari reaksi alergi kacang di antara anak-anak (apabila ada yang mempunyai alergi.)

    Masalahnya, kue ulangtahun itu biasanya ya… Errrr… Mengandung gula. Krimnya sendiri PASTI mengandung gula; dan tentu saja fondant.

    Bingung lah saya ini sebaiknya gimana, hahaha. Kalau beli, artinya saya bakal rewel luar biasa dengan spesifikasi macam-macam.

    Jadi cara paling “mudah” adalah memanggang kue sendiri, hahaha.

    Ini resep yang rencananya saya akan gunakan:

    Karena saya jarang sekali memanggang kue, saya memutuskan untuk latihan terlebih dahulu. Kemarin malam saya mencoba memanggang kue dengan hiasan krim dan buah peach. Hasilnya? Yaaaaaa, lumayan lah, hahaha.

    IMG_3111

    Jelas banyak hal yang perlu dibetulkan, tapi saya pribadi cukup senang πŸ™‚ Doakan saya semoga nanti hasilnya memuaskan dan enak ya, hahaha.

  • Mimpi

    Mimpi saat tidur itu bisa dibuat nggak ya?

    Maksud saya, bener-bener ngebuat mimpi. Jadi sebelum tidur secara spesifik berpikir “nanti harus mimpi kaya gini” atau ngeliat foto dan/atau video yang berhubungan dengan mimpi itu.

    Karena ada satu mimpi yang saya kangen sekali.

    Setahun yang lalu, saya bermimpi melihat langit malam penuh bintang galaksi Bimasakti (saya tahu betul itu setahun yang lalu karena tertera di app Timehop saya). Dan saya ingat betul perasaan saya ketika saya bangun: Bahagia. Lega.

    Dan saat ini saya butuh sekali mimpi itu. Saya sangat membutuhkannya.

    Featured image: One Big Photo

  • Suara dan Cahaya

    Sudah agak lama, beberapa minggu sebelum ini, kami sekeluarga sedang berjalan-jalan di Suria KLCC. Ketika sedang berjalan di lobby mall, ada anak laki-laki, kira-kira berumur 8-10 tahun, mendadak berteriak dengan kencang berkali-kali. Wira otomatis menoleh ke anak laki-laki itu (yang langsung dibawa pergi secara terburu-buru oleh orangtua dan saudaranya) dan bertanya, “kakak berteriak?”

    “Iya. Kakak berteriak.”

    “Kakak berisik?”

    Dan untuk saya, ini saat yang tepat untuk menjelaskan satu hal ke Wira: Autisme.

    “Iya, berteriak memang menimbulkan suara berisik. Tapi kakak berteriak karena sekitar dia berisik dan kakak merasa nggak nyaman dan ketakutan.”

    “Kakak takut?”

    “Iya. Ada beberapa kakak, adik, dan teman-teman Wira yang lebih sensitif terhadap cahaya dan suara. Beberapa dari mereka belum terbiasa dan suara-suara itu membuat mereka takut. Kalo Wira takut, Wira biasanya ngapain?”

    “Nangis.”

    “Nah itu. Kakak itu berteriak karena takut dan nggak nyaman.”

    “Kakak udah nggak apa-apa sekarang?”

    “Insya Allah kakak udah nggak apa-apa. Ayah ibunya si kakak dan adeknya si kakak itu hebat. Mereka tau gimana biar kakak ga takut lagi.”

    “Kakak juga hebat?”

    “Kakak juga hebat.”

    Sumber gambar: Wikihow – How to Reduce Sensory Overload: 8 Steps

    Links: 5 Autism Simulations to Help You Experience Sensory Overload

  • Potty Training

    Aaaaaaah, sudah lama sekali nggak update blog. Maafkan saya 😐

    “Sedikit” (“SEDIKIT”?) nggak mood karena dua minggu ini keadaan badan lagi nggak enak. Jadi pertama saya sariawan di pipi bagian dalam sebelah kiri karena nggak sengaja kegigit pas makan. Belum sariawan sembuh, eh gusi geraham belakang bengkak. Dan itu bengkaknya bengkak banget sampe impaksi (impact — ketika gusi membengkak sampe menutupi gigi dan otomatis tergigit gigi atas/bawah) dan itu asli sakitnya sakiiiit, huhuhu. Beberapa hari minum Panadol atau Ponstan, lalu perbanyak vitamin B dan C. Saya juga akhirnya memulai kebiasaan flossing (mengeluarkan sisa makanan dari sela-sela gigi menggunakan benang) — dan saya baru ngeh soal flossing ini.

    Di Indonesia, kayanya kebiasaan flossing ini jarang disosialisasikan ya? Seinget saya dari SD kalo ada penyuluhan mengenai kesehatan gigi dari rumah sakit ataupun sekolah, biasanya ya soal sikat gigi. Flossing “hanya” ada di buku-buku kesehatan atau poster di ruangan dokter gigi, itupun juga nggak dibahas.

    Padahal sikat gigi DAN flossing itu sama-sama penting. Sikat gigi membersihkan gigi dan gusi, flossing membersihkan sela-sela gigi yang bener-bener susah dijangkau. Beneran deh, jangan percaya sama iklan sikat gigi yang katanya bulu sikatnya tipis banget bisa ke sela-sela gigi. Mending flossing, beneran bersihin dan keangkat. Jadi udah semingguan ini saya berusaha membiasakan diri untuk combo sikat gigi, flossing, dan kumur-kumur dengan mouthwash pagi dan sore.

    Oke, walopun itu terdengar sangat payah, tapi percayalah bahwa yang namanya update blog itu ga ada kepengen-kepengennya kalo gusi bengkak yang sakitnya naudzubillah.

    Dan baru-baru ini, Wira sedang potty training. Iya, itu sangat memakan waktu, ahahaha. Jadi nggak bisa leyeh-leyeh juga karena harus selalu siap siaga.

    Jadi Wira ini Insya Allah akan menginjak umur 3 tahun dan dia masih pake, ahem, diapers. Iya, anak-anak itu berbeda-beda. Ada yang umur 1.5 tahun sudah “lulus” popok, ada yang umur 4 tahun baru belajar menggunakan toilet. Nggak usah lah menuding orangtuanya kaya gimana. Masing-masing ada caranya sendiri dan kita nggak tau kondisi mereka gimana. Karena potty training ini hubungannya erat banget sama kondisi psikologis si anak (dan orangtua.)

    Pertama, soal si anak. Potty training ini masalah mau dan gamau si anak. Maksudnya gimana? Ada anak yang sering liat orangtuanya ke toilet dan eh kok jadi tertarik. “Pengen kaya papa mama,” mungkin bilangnya. “Pengen bisa pipis dan pupup di toilet juga kaya ayah ibu,” mungkin ngomongnya. Kalo udah gitu, bisa dilatih. Apalagi kalo anaknya ngomong, “aku udah gede! Udah ga usah pake popok lagi! Anak-anak gede pake toilet, ga pake popok!” Insya Allah lebih gampang itu ngelatihnya.

    Nah, tapi ada juga anak kok yang kayanya selo-selo aja, alias nggak ngomong dia minat atau nggak. Kayanya kok masih cinta-cinta aja sama popok, hahaha. Nah, ini contohnya ya Wira. Iya, dia tau dan liat kok kalo orangtuanya ke toilet. Tapi belum pernah dia ada rasa minat untuk menggunakan toilet. Untuk anak-anak kaya gini, jujur, lebih susah untuk latian potty training. Anaknya diem-diem aja tuh.

    Kalo diem-diem aja, gimana dong taunya dia udah siap atau belum untuk potty training? Pertama, dia bisa lepas celana/rok sendiri. Karena ini penting, hahaha. Selain belajar “ini lho toilet buat kamu pipis dan pupup”, anak juga harus tau cara ke toilet sendiri — kalo-kalo pas dia mau ke toilet, orang dewasa di sekitar dia lagi sibuk atau ga nyadar. Dan ini PENTING juga buat diingat, wahai orangtua, untuk mulai mengajari anaknya mengenai batas-batas dalam tubuh mereka. Yang HANYA bisa melihat organ pribadi mereka hanyalah orangtua, pengasuh (kalau masih dimandikan — dan itu juga dibatasi aksesnya), guru (kalau sekolah (preschool) bersedia melakukan potty training juga — ini juga sama. TERBATAS SEKALI. Dan guru juga hanya guru yang dipercaya oleh orangtua dan anak. Orangtua harus menyatakan dengan jelas soal ini), dan dokter apabila sedang memeriksa dengan kehadiran orangtua. Kedua, dia ngerti toilet itu apa dan buat apa. Ini udah kaya kaset rekaman rusak dah. Diulang-ulang berkali-kali, “kalo pipis di toi..? Leeet. Kalo pupup di toi…? Leeet.” Ketiga, umur. Ini sebenernya ga jadi patokan secara pasti, tapi umumnya balita umur 18 bulan ke atas sudah bisa dilatih potty training karena mereka umumnya udah mengerti perintah-perintah pendek. Keempat, jadwal buang air lebih bisa diprediksi. Nggak seperti bayi yang rada sporadis, anak-anak yang sudah siap potty training biasanya kalo tidur malam ataupun tidur siang udah nggak buang air lagi (ditandai dengan popok yang kering).

    Masih soal anak, ada anak yang awalnya kok hayo-hayo aja dia potty training eh mendadak minggu depannya dia mogok. Padahal udah bisa nih pipis atau pupup di toilet sendiri, tapi kok mendadak kaya amnesia gitu kenapa ini? Ya namanya juga anak-anak. Mereka bisa mogok juga. Kadang karena ngerasa terlalu dipaksa atau ngerasa ini prosesnya terlalu cepet dan dia kangen popoknya dan kemudahan kalo pake popok (ya kalo pipis tinggal pipis aja gituh.) Selain itu, bisa jadi faktor eksternal yang berupa perubahan besar di hidup si anak. Pindah rumah, sekolah baru, punya adek baru, macem-macem. Wira ini juga tersendat-sendat potty training-nya karena pindah rumah plus negara dan sekolah baru. Jadi kalo mau potty training, pastiin ga ada situasi yang bikin “kaget” si anak. Lah kalo ada yang ujug-ujug kejadian? Misalnya si ayah tiba-tiba pulang kantor lalu ngomong, “kita pindah rumah bulan depan, ayah dipindahkan ke kantor cabang baru!” itu gimana? Ya siap-siap kalo anaknya mogok. Tarik nafas dalam-dalam, dan gapapa pake diapers lagi. Nggak bakal ada yang menghakimi. Kalopun ada yang menghakimi, ceburin aja ke Ciliwung. Sebelumnya tempeleng dulu kepalanya.

    Kedua, orangtuanya. Orangtuanya sih kayanya siap-siap aja ya untuk ngelatih potty training (apalagi harga diapers itu mihil bingits, hahahaha) tapi sesiap-siapnya orangtua, mesti lebih siap lagi satu hal: SABAR.

    Noh, udah caps lock, saya tebelin plus miringin plus garis bawah.

    Sabarnya itu sabar yang… Errr, gimana ya. Ya gitu deh.

    Saya? Saya orangnya bukan orang penyabar. Saya pemarah, emosian, dan gampang pundung.

    Entah berapa kali saya berteriak ke Wira karena saya JUENGKEL setengah mati. Ini anak udah dibilangin kalo mau pipis itu ya di toilet kok masih aja ngompol sih di ruang TV?? Padahal itu lantai BARU AJA DIPEL! TERUS ITU APA ITU KOK BERCECERAN MAINAN DIMANA-MANA HARRRRRGGGHHHH *jadi Hulk*

    Sampe ketika Senin lalu sekolahnya Wira libur untuk libur semester selama dua minggu dan saya ngebatin sendiri, “YAK. POTTY TRAINING INTENSIF KE WIRA SELAMA DUA MINGGU.” Selama di rumah, ga dipakein popok. Popok hanya dipake ketika tidur dan pergi ke luar rumah.

    Dan ada satu kunci yang saya genggam erat-erat di hati dan kepala saya: Zero expectations.

    Bener-bener nol.

    Saya nggak mau berharap apa-apa ke Wira. Saya nggak mau berharap anak umur tiga tahun dibilangin fungsi toilet langsung *tring* ngerti. Saya nggak mau berharap Wira nggak ngompol lagi begitu dibilangin “pipis di toilet. Pupup di toilet” sekali. Kasur, karpet, atau sofa kena pipis? Ya sudahlaaaaah. Ambil nafas dalam-dalam lalu hitung sampe sepuluh.

    Ngompol ya udah, kepaksa pupup di celana ya udah.

    Kesabaran dan spray disinfektan, hahahahaha. Saya bela-belain beli jadi kalo dia ngompol di lantai, tinggal saya semprot disinfektan dan saya lap, hahahahaha.

    Dan itu bikin saya jadi lebih… Apa ya, lebih tenang (?) Dan yang saya perhatikan, saya dan Wira malah jadi lebih dekat. Saya jadi ngeh reaksi Wira kalo dia nahan pipis — dan itu kocak banget. Lalu lari-lari ke toilet, berharap-harap semoga dia ga keburu ngompol, hahahaha.

    Sampe akhirnya hari Rabu kemarin, saya lagi nyetrika jemuran. Wira jalan bolak-balik deket saya. Awalnya saya kira dia cuma mau ngecek ibunya masih nyetrika atau nggak, tapi saya perhatiin ni anak kok narik-narik celananya melulu.

    “Wira mau pipis?”

    Dia ngeliat saya lalu sambil meringis menjawab, “iyaaaaa!”

    Nah, sebenernya saya skeptis. Karena sejak potty training, anak ini jadi paranoid luar biasa (mirip ibunya). Dia mau kentut aja pake ribut dulu karena dikiranya pupup. Tapi gapapa deh paranoid daripada bubar jalan di tengah jalan.

    Dan anak ini sebelumnya udah berkali-kali bilang “mau pipis!” dan bolak-balik pulalah saya ninggalin setrikaan untuk nemenin dia ke toilet yang berujung ternyata dia nggak pipis *krik krik krik*

    Jadi pas dia bilang dia mau pipis, saya cuma menjawab, “Wira, ibu lagi nyetrika pakaian nih, dan ga bisa ditinggal. Wira bisa ke toilet sendiri? Lepas celana lalu duduk di toilet?”

    “Bisa”

    Lalu lari lah dia ke toilet.

    Nggak lama, saya ngintip dari pintu dapur ke arah toilet. Anaknya lagi duduk di toilet. Liat saya, dia teriak, “ibuuuu! Udaaaah!”

    “Udah apanya?”

    “Udah pipisnya!”

    “… Wira beneran pipis?”

    “Iya!”

    Saya cek, bener ada air seni di dalam toilet. Jadi bener, anak ini ke toilet sendiri.

    Pernah ngerasain rasanya dipanggil guru ke depan kelas lalu dipuji karena menjadi murid teladan?

    Saya sih nggak, karena saya bukan murid teladan waktu masih sekolah.

    Tapi rasanya… Kira-kira begitu lah kayanya kali ya? Bangga luar biasa. Saya sampe berteriak senang, “WIRA HEBAAAAAT!” Anaknya saya peluk sampe dia berontak karena jengkel ibunya ini kenapa meluk dia kenceng banget sambil bersorak-sorai di telinga.

    Lalu apakah setelah itu selesai?

    NGGAK.

    Masih kok beberapa kecelakaan-kecelakaan kecil, hahaha. Namanya juga belajar, perlu beradaptasi. Ya anaknya, ya orangtuanya. Saya sering ngomong ke Wira, “Wira itu anak laki-laki hebat, jadi nggak perlu pake popok lagi.”

    Saran saya untuk sesama orangtua yang sedang menjalankan potty trainingReward yourself.

    Ngelatih anak ke toilet ini salah satu pekerjaan yang paling susah dan nyebelin. Saya ngerasa harusnya pemerintah Indonesia make isu potty training ini sebagai program KB aja sekalian. Si anak bisa jengkel, si orangtua bisa setengah sinting. Jadi cara supaya tetep waras ya itu… Sabar dan hadiah.

    Untuk setiap latihan toilet Wira yang sukses (dilakukan di toilet, nggak “kebobolan” di luar), saya suka bikin teh anget atau ngemil Cheetos. Aduh, nggak ada deh peduli-pedulinya sama gendut atau apapun itu. Saya seorang ibu, saya sedang potty training anak saya, dan cuma Tuhan yang tau level stres saya ngelatih anak saya pake toilet dan saya butuh hiburan plis deh ah. Kecuali kalo ada yang mau ngasih saya dana belanja pakaian, make-up, dan gadget secara tak terbatas.

    (Itu juga Cheetos saya sering banget dipajakin sama Wira. Paling nggak bisa deh dia liat cemilan di ruang TV.)

    Soal hadiah, saya juga ngasih iming-iming ke Wira. Kalo dia bisa menggunakan toilet dengan baik dan benar (tanpa kecelakaan di luar toilet), saya akan membelikan dia satu set kereta api Thomas The Tank Engine yang selama ini dia lirik-lirik setiap kami ke Toys R’ Us, hahaha. Tapi saya kepikir juga untuk “hadiah-hadiah kecil”, mungkin saya bisa kasih Wira stiker πŸ™‚

    Sok bijaknya saya nih, potty training ini kaya ngadepin kehidupan *tsaelah, Kap…*: Cheer and celebrate every small achievement and get yourself back up from every failure.

    Jadi untuk merangkum soal potty training, ini beberapa tips dan trik, hahaha (jie saya, ngomongnya kaya udah ahli masalah keluarga dan anak-anak gini, hahahaha)

    1. Lihat apakah si anak (dan orangtua) siap secara mental. Bisa dilihat dari minat si anak, pengertian si anak mengenai fungsi toilet, kemampuan anak melepas celana/rok (plus melatih anak mengenai batas-batas kesopanan dan bagian tubuh pribadi mereka), umur (18 bulan ke atas, dianggap sudah bisa untuk potty training. Kalo ternyata belum? Ya gapapa,) dan jadwal buang air yang sudah lebih teratur.
    2. Mogok itu biasa. Kalo terjadi, dan menggunakan popok dirasa masih perlu, ya sudah. Nggak apa-apa. Mogok biasa terjadi kalo: adaptasi transisi popok ke toilet membebani si anak dan perubahan besar terjadi di lingkungan keluarga (pindah rumah, pindah negara, kehadiran saudara kandung baru.) Paling pedihnya di duit buat beliΒ diapers, hahahaha. Sakitnya tuh di dompet.
    3. Sabar. Sabar. Sabar. Ini dateng dari saya, orang yang paling ga sabaran. Jadi ini penting. Sabar.
    4. Gimana biar bisa sabar?Β Zero expectations. Nggak perlu berharap macem-macem dulu. Ada anak yang dibilangin sekali langsung ngerti, tapi rata-rata anak perlu dibilangin berkali-kali. Nggak apa-apa. Mereka belum bisa bales, “ih, ayah ibu cerewet, ih!” πŸ˜›
    5. Siapkan disinfektan dan lap. Kalo mau sedikit lebih rajin, kain pel. Pernah sekali Wira ngompol agak banyak yang berujung saya ngepel satu unit apartemen dengan pemutih yang berujung apartemen kami baunya kaya episode pembunuhan di CSI atau Dexter ketika si pembunuh ngebersihin TKP dengan pemutih.
    6. Hadiahi diri sendiri (dan anak, kalo mau.) Penting untuk kejiwaan. Bisa makan coklat, atau minum teh, atau ngemil… Apapun.Β You have done a good job in potty-training your kid. You deserve a good reward. You earned it.

    Semoga membantu ya πŸ™‚ Untuk sesama orangtua yang sedang melatih anaknya potty training, semangat! Untuk yang belum, atau mungkin hanya iseng-iseng baca, anggaplah tambahan ilmu, hahaha, dan terima kasih banyak udah membaca πŸ™‚

    Sumber gambar: Huffington Post: Potty Training

  • Next project: Intermediate Theme Developer

    I want to develop themes that sing praises for the 2000s. I always feel we could have a bit more 2000s-era whimsy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Post-Rock. Gregorian. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre. “Love is Love“.

Read more about me here.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com