Halo, Ipoh!

Ihiy, prestasi ini, tadi siang ke Ipoh, sorenya sudah update blog, hahaha.

Jadi kami di Malaysia mendapat┬álong weekend (di Indonesia juga) karena tanggal 1 Mei yang merupakan Hari Buruh Internasional jatuh pada hari Jumat kemarin. Setelah cukup beristirahat beberapa hari pasca tumbangnya saya dan Wira gara-gara virus, tadi pagi kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke Ipoh. Saya ga tau persisnya kenapa mendadak pengen ke Ipoh, tapi Ari bilang, “EH KE IPOH YUK!” yang tentu aja dijawab dengan “HAYUK!”, hahaha.

Ipoh cukup terkenal di kalangan penggemar kopi di Malaysia dengan sebutan “Ipoh White Coffee”. Kalo ga salah, kalo ga salah ya ni, salah satu ‘motor’ white coffee di Malaysia itu sebuah jaringan kopitiam (cafe) bernama Old Town yang mempunyai kantor pusat di Ipoh, Perak. Selain white coffee, Ipoh juga terkenal dengan mi kari-nya yang super berbumbu.

Jarak dari Kuala Lumpur ke Ipoh kira-kira 177 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Kami berangkat pukul 10 pagi — setelah beres-beres rumah yang nyaris seperti kapal pecah karena tidak sempat saya urus selama saya sakit — dan sampai di Ipoh pukul 12 siang.

Ipoh ini mempunyai sisi “kota tua” yang baru-baru ini dipercantik oleh pihak Dewan Bandaraya Ipoh dan mempunyai beberapa mural. Mural di Ipoh ini dilukis oleh Ernest Zacharevic, artis mural yang juga melukis mural-mural yang terkenal di Georgetown, Penang.

Begitu tiba di Ipoh, tentu saja kami langsung menuju Old Town White Coffee cafe di Jalan Tun Sambanthan┬áuntuk makan siang, hahaha.┬áOld Town cafe ini yang beken dengan mural “An Old Uncle Drinking Coffee”.

DSC_0427

DSC_0430

Oke, saya harus jujur nih ya, awalnya —┬áAWALNYA — saya kira “wah Old Town ini pasti bakal rame banget soalnya ya pasti beken lah ya dengan muralnya dan pasti turis pada numplek blek di sini” yang ternyata… Saya agak salah, hahahaha. Rame, iya. Soalnya jam makan siang. Standar lah. Tapi selain turis, banyak juga warga lokal yang makan siang di situ selepas pertandingan olahraga di lapangan yang terletak persis di depan Old Town. Jadi suasananya memang nyaman banget dan ga terlalu sumpek. Untuk rasa, saya pribadi suka banget sama Old Town karena selain enak (ADUH SAYA MAH NGE-FANS BANGET SAMA MIE TELUR-NYA SAMA CHICKEN CHOP-NYAAAAAA) harganya juga muraaaaaaaaaaahhhhh, hahahaha.

DSC_0432

DSC_0440

Sambil menikmati tea ais (khas Malaysia banget! Teh di Malaysia biasanya disajikan dengan susu. Untuk orang Indonesia yang mungkin agak kaget dengan campuran teh dan susu ini, bisa minta “teh o” alias teh aja — ga dicampur susu), Wira rupanya penasaran dengan kamera yang saya bawa (Nikon D5100) dan dia pengen juga belajar motret, hahaha. Jadi beberapa foto ini diambil dari sudut pandang anak umur tiga tahun, hahaha.

DSC_0433

DSC_0434

Selepas makan siang (yang Wira dari awalnya pengen kwetiaw mendadak pengen mie punya Ari karena mienya Ari pake telor) kami pengennya sih jalan-jalan melihat mural (ada tujuh mural di Ipoh) — tapi karena┬ákami memang dateng ke sini pas siang hari dan matahari super terik (kalo kata temen saya, Ing, matahari di Malaysia ini kaya bawa temen-temennya. Segambreng, hahaha), kami hanya sempet melihat dua mural — “An Old Uncle Drinking Coffee” dan “A Paper Plane”.┬áMemang nih harus lebih siap dengan topi dan┬ásunblock.

Tapi saya rasa ini mah pertanda bahwa harus dateng ke Ipoh lagi ini *HUAHAHAHAHAHAHAHA*

DSC_0441

DSC_0443

Tapi kami sempet berjalan-jalan di area kota tua (“old town”) dan ada satu bangunan restoran di dekat situ yang menarik perhatian saya. Namanya Roquette Cafe.

DSC_0447

Saya sangat suka dengan bagian kota tua di setiap kota. Senang sekali rasanya kalo melihat bangunan-bangunan tua yang umurnya sudah puluhan bahkan ratusan tahun masih terawat dan malah tetap digunakan untuk kafe, toko, atau kantor. Menunjukkan bahwa warga kota dan pemerintah kota sangat sayang dengan kotanya ­čÖé

DSC_0449

Kami juga sempet berkunjung ke Tugu Peringatan Birch (Birch Memorial). Dibuka untuk umum pada tahun 1909, Birch Memorial ini dibangun oleh pihak Inggris untuk memperingati J.W.W. Birch, penduduk Inggris pertama di Perak. Menara ini punya lonceng jam dan di sekelilingnya digambar 44 tokoh utama sejarah dunia. Ada empat patung terakota di tiap sudutnya untuk menggambarkan empat nilai utama dalam kejayaan Inggris: Kesetiaan, Keadilan, Kesabaran, dan Ketabahan.

DSC_0451

Sayangnya (atau untungnya?) tepat di sebelah Birch Memorial sedang ada proyek renovasi dan pembangunan oleh pemerintah kota untuk mempercantik situs-situs bersejarah kota Ipoh. Memang jadinya agak “terganggu” karena ada bangunan proyek, tapi artinya situs-situs bersejarah di Ipoh pasti bakal makin keren nantinya, hahaha.

DSC_0454

Ga jauh dari situ, ada stasiun kereta api Ipoh. Saya sebenernya pengen banget masuk ke stasiun, tapi udah siang dan udah pada kepanasan dan kecapean, akhirnya kami hanya foto-foto bagian luarnya.

DSC_0457

DSC_0459

Sambil berjalan menuju tempat parkir mobil, kami juga melewati kantor Dewan Bandaraya Ipoh yang dibangun pada tahun 1914 dan merupakah salah satu objek Heritage Trail Ipoh.

DSC_0461

DSC_0458

Kalo liat gedung-gedung tua seperti ini rasanya pengen banget ngegambar, hahaha. Memang nih harus main ke Ipoh lagi XD

Sebelum pulang, kami sempet mampir ke Kellie’s Castle yang terletak di Batu Gajah, 20 menit perjalanan dari Ipoh. Kellie’s Castle ini adalah reruntuhan dari istana dan rumah mewah yang belum selesai (!) yang dibangun pada tahun 1909 oleh William Kellie Smith. Entah rumah dan istana ini dimaksudkan untuk istrinya, Agnes, atau untuk anaknya, Anthony. Semua marmer dan batu bata di rumah dan istana itu diimpor dari India, dan rumah itu rencananya akan mempunyai 6 lantai dan sistem lift/elevator pertama di Malaysia.

Di dekat Kellie’s Castle ini, menariknya, ada kuil India — yang asal muasalnya karena penyakit flu Spanyol (Spanish flu) yang melanda para pekerja yang membangun istana dan rumah itu. Para pekerja itu meminta ke Kellie untuk membangun kuil di dekat situ dan Kellie langsung setuju. Kabarnya, di kuil itu terdapat patung William Kellie sebagai ungkapan terima kasih para pekerja itu — dan di rumah itu memang ada terowongan bawah tanah yang menghubungkan rumah tersebut dengan kuil.

William Kellie meninggal pada usia 56 tahun karena pneunomia saat dia berkunjung ke Portugis. Istrinya, patah hati, memutuskan untuk kembali ke Skotlandia tanpa niat untuk menyelesaikan rumah itu dan menjual rumah tersebut ke sebuah perusahaan Inggris, Harrisons and Crosfield.

DSC_0470

DSC_0472

DSC_0474

DSC_0475

DSC_0478

DSC_0480

Kabarnya, reruntuhan itu berhantu.

Dihantui oleh William Kellie yang masih ingin menjaga rumah dan istananya.

I don’t know if it’s my romantic side or what.┬áEntah kenapa rasanya saya ingin mempercayai hal itu┬á­čÖé┬áSaya ingin percaya bahwa hantu William Kellie masih ada di reruntuhan itu. Paling tidak, dia tahu bahwa rumah dan istananya masih ada dan dijaga oleh pemerintah Malaysia. Dan mungkin, mungkin ya, walaupun kalo siang hari reruntuhan ini ramai oleh para turis yang datang, pada malam hari reruntuhan ini dimiliki oleh Kellie yang sedang berjalan-jalan di lorong reruntuhan.

Fun fact: Reruntuhan ini pernah dijadikan┬ásetting film ‘Anna and The King’ (1999).

Perjalanan pulang kami dari Ipoh ke Kuala Lumpur ditemani oleh hujan. Rasanya cukup menyegarkan setelah seharian menikmati matahari terik.

DSC_0485

Terima kasih, Ipoh! Saya akan kembali untuk menikmati mural, Heritage Trail, Gunung Lang, (lebih lama lagi di) Kellie’s Castle, dan menikmati makanan khas Ipoh ­čśÇ

Related links:

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s