Saya kepikiran ya… Baby blues/post-partum depression itu mudah nempel ke ibu karena memang dasarnya kehamilan itu ga enak.

Paling tidak 70-80% deh dari seluruh proses kehamilan itu nggak bisa dibilang menyenangkan. Muntah mual ga karuan di trimester pertama, badan membengkak di trimester kedua dan ketiga, belum lagi dengan kaki bengkak, varises, heartburn, paranoid setiap saat, pantangan makan, dan segala macem.

Si ibu selalu selalu selalu diingatkan supaya selalu sabar, selalu senang, dan yang saya sangat salut akhir-akhir ini, ajakan dan nasihat dari ibu-ibu lain bahwa NGGAK DOSA buat si ibu untuk membahagiakan diri dia sendiri terlebih dahulu sebelum membahagiakan suami dan anaknya. Malah sangat dianjurkan.

Nah, tapi apakah kehamilan itu menyenangkan? Ya memang sisa 20-30% itu ketika si bayi bergerak-gerak dalam perut yang membuat si ibu berpikir, “ada manusia di dalam badanku.”

Apabila dijalankan dengan benar dan baik, stresnya kehamilan bisa dilalui.

Kalau tidak (si ibu usianya masih terlalu dini dan belum siap mempunyai anak, kehamilan yang dipaksakan, dll), stresnya itu nempel terus bahkan sampe anak gede.

Jadi ga usah heran dengan berita ibu membuang anak.

Saya… Saya berusaha nggak kebawa perasaan, hahaha. Karena masih trimester pertama, memang masih mual begah ga karuan. Gampang banget untuk berpikir, “and why did I want this on the first place?” lalu jadi menyalahkan si janin.

Yang saya syukuri adalah saya dikelilingi teman-teman dan keluarga yang hebat dan mendukung sekali. Yang udah melek baby blues dan post-partum depression. Bikin saya sadar bahwa ini “hanya” salah satu proses dari sekian banyak proses di dunia dan hidup.

Terima kasih.

%d bloggers like this: