Ini kejadian kemarin.

Sebenernya udah bermula dari hari Rabu.

Jadi hari Rabu lalu, teman Ari dan saya — Alderina (a.k.a. Popon) — mampir ke Kuala Lumpur dalam rangka transit perjalanan dia menuju Amerika Serikat (le Poponita memang heits™️) Karena Ari sedang di kantor dan saya nggak bisa nyetir mobil (ihik…) jadi saya berencana menjemput Popon di stasiun LRT Ampang Park sambil berjalan kaki; toh stasiunnya juga nggak begitu jauh (hanya sekilo dari rumah) dan Popon juga bisa melihat-lihat bazaar Ramadhan (semacam pasar jualan makanan berbuka puasa yang biasanya ada saat bulan Ramadhan) yang rutin diadakan di mall Ampang Park.

Sore, saya bersiap menjemput Popon. Wira sedang terkantuk-kantuk baru bangun tidur.

Saya: “Wira, jemput tante Popon yok!”

Wira: “Hah?” *masih ngantuk*

Saya: “Jemput tante Popon di Ampang Park. Sama ibu. Yuk!”

Wira: “Nggak mau

Saya: “Hah?”

Wira: “Wira nggak mau”

Saya: “Lho tapi ibu harus jemput tante Popon…”

Wira: “Ya ibu aja yang jemput. Wira di rumah. Nanti Wira bisa main iPad sambil nunggu ibu”

Saya: “AMPANG PARK, Wira. AMPANG. PARK. Ibu ke AMPANG PARK” *gemes*

Wira: “Iya Wira tauuuuu. Wira nggak mau ikut. Ibu aja.”

… Dan begitulah. As dangerous as it looks and sounds and feels, I left my 4-year old son alone in our apartment unit while I walked to Ampang Park.

Sekembalinya di rumah, Wira tampak biasa-biasa aja (dia malah keliatan seneng menyambut saya) dan rumah masih utuh.

Nah, kejadian serupa terjadi hari Sabtu kemarin.

Ari dan saya bersiap-siap akan pergi ke bazaar Ramadhan untuk membeli makanan berbuka puasa/ta’jil.

Dan anaknya, dengan santainya bilang, “Wira nggak mau ikut.”

“Ayah dan ibu mau pergi. Wira ikut”

“Wira. Nggak. Mau.”

Saya sering komentar kalau keluarga kami ini Firstborn Club. Ari ya anak sulung di keluarganya, saya ya juga anak sulung di keluarga saya, Wira juga ya Insya Allah anak sulung di keluarga (😅)

Ciri-ciri utama anak sulung? Keras kepala.

Jadi ketebak dong gimana kesetrumnya kami bertiga.

Yang berujung Wira dorong-dorong saya dan Ari sambil mengoceh, “ayah dan ibu aja sana yang pergi. Go, go, go.

Kami didorong sampe ke luar unit apartemen, lalu nutup pintu DAN MENGUNCI PINTU APARTEMEN tepat di muka kami (iya. Anaknya sudah bisa mengoperasikan kunci pintu rumah…)

Dan hari itu adalah hari beli ta’jil paling ga sante buat kami berdua.

Biasanya: “liat-liat dulu yoook, ih itu kayanya enak deeeh… Mikir dulu deh mau beli apa…”

Saat itu: “Kamu mau apa? Kwetiaw? Oke. Aku nasi kukus dan ayam. Beli. Pulang. Buruan.”

Saya sempet bercerita soal kejadian ini ke teman-teman saya di Path; dan teman-teman saya banyak memberikan masukan yang berguna untuk saya. Mbak Nuke dan Ismet menyarankan untuk kami menjelaskan mengenai health and safety issue ke Wira. Apapun yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan itu nggak bisa diganggu gugat; termasuk Wira HARUS ikut orang tuanya ke manapun mengingat umur dia masih terlalu muda untuk ditinggal sendiri.

Mamin Dita ikut memberikan informasi kalau pemerintah Amerika Serikat (dia berdomisili di NYC) memberikan himbauan ke para orang tua mengenai batasan umur minimum anak bisa ditinggal sendiri di rumah (usia 7-8 tahun) dan itu pun tetap ada batasan-batasannya (tidak ditinggal lebih dari 2-3 jam, misalnya.)

Nah, kemarin juga saya ajak Wira mengobrol. Saya bilang ke dia, bahwa apa yang ayahnya dan ibunya lakukan itu salah: meninggalkan dia sendirian di apartemen. Padahal resiko dan bahaya juga ada (kepleset, terluka, gas, listrik, orang asing mengetuk pintu.)

Anaknya menjawab, “… Tapi Wira mau tutup pintu terus ayah ibu pulaaaang…”

Ah.

Jadi itu rupanya.

Sebenernya yang dicari itu sensasi dia menyambut orang tuanya pulang ke rumah.

Ari akhirnya menyarankan untuk mengambil jalan tengah. “Kalo kita pulang jalan-jalan, Wira bisa masuk duluan lalu bukain pintu untuk ayah ibu deh…”

Selanjutnya saya jelaskan mengenai health and safety issue dan dijawab oleh anaknya dengan “iyaaaaaaaa…” panjang sambil ngeloyor ke luar kamar (Ismet berkomentar, “itu bagornya anak Betawi banget. Salahin si Ari aja, itu kelakuan anak Betawi banget, hahahaha” 😂)

Kadang saya suka bingung anak ini umur 4 tahun atau 14 tahun… *heuh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: