• Kap’s Indoor Plants

    Beberapa hari ini saya tertarik dengan tanaman dalam rumah (indoor plants) karena Snapchat teman saya yang beberapa kali menunjukkan tanaman di apartemennya.

    Masalahnya, saya itu nggak bakat nanam tanaman ? Udah lah beberapa kali ngebunuh tanaman herba, ini lagi pake pengen punya taneman lagi segala.

    Tapi temen saya bilang kalo taneman indoor itu ada banyak yang gampang banget perawatannya (“pada susah mati kok”) dan ga butuh banyak air — nah ini salah satu faktor yang bikin saya kepikiran. Saya kepikirnya gimana kalo saya mudik ke Indonesia untuk beberapa minggu? Gimana ngasih air ke tanamannya? (sementara Hafiz dengan semangatnya ngomong, “pake robot, Kap! PAKE ROBOT!”)

    Cari-cari informasi di Internet, nemu banyak. Ada beberapa tanaman yang saya suka. Dan ketika minggu lalu ke IKEA di Damansara, saya sempet beli tanaman lidah mertua (mother-in-law-tongue) *namanya ga enak banget ya, hahaha*

    Satu hal yang saya sayangkan, tanaman ini ga terawat di IKEA. Iya sih, tanaman ini tanaman yang perawatannya super mudah (tahan banting, ga butuh banyak air), tapi tetep namanya juga makhluk hidup ya, pasti bisa sakit. Dan tanaman ini bisa kena penyakit jamur — dan yang saya beli ini ada jamurnya ? Saya berusaha supaya jamurnya ga nyebar dengan cara menyemprotkan area yang terkena jamur dengan larutan air dan pembersih alami (serai wangi). Lumayan berhasil sih. Tapi ada juga yang ga ketolong dan jamurnya nyebar. Kepaksa daunnya saya potong pake pisau. Hiks.

    Bahkan kalau dilihat di foto, ada bercak coklat di daun bagian bawah, nah itu jamurnya. Menyebalkan. Semoga tanaman ini cepat sembuh ya. Amiiin.

    Nah, barusan hari ini saya membeli tanaman lagi, namanya jade plant. Kata temen saya juga, tanaman ini juga yang susah matinya.

    Yang saya suka, tanaman ini sudah terawat sejak di toko. Saya sering liat staf toko membersihkan dan mengelap daun-daun tanaman yang dijual. Jadi memang tanamannya keliatan bagus dan sehat.

    Jade plant ini termasuk succulent, alias sodaranya kaktus. Jadi memang menyiramnya ga boleh sering-sering. Kata ibu penjual tanaman, “dua kali seminggu.”

    Sudah terpikir ingin membeli tanaman lagi, hahaha. Belum tahu sih mau beli tanaman apa.

  • “Lu ga pernah cuci piring, gw malu kalo ada orang dateng ke rumah!”

    “ORANG DATENG KE RUMAH BUAT DIBUNUH JUGA”

    “Vampir ga cuci piring.”

    Ini film baru mulai kok udah ngeselin gini sih =)))

    #kapkapcommentary

    Tetep film horor sih, cuma nyambungin ke humor ala Inggris yang absurd jadinya krik krik krik banget

    #kapkapcommentary

    REFERENSI KE PAC-MAN. BANGKEK =))))

    #kapkapcommentary

    “We don’t smell our own crotches. We smell each other’s crotches. And it’s like… Uh… A greeting.”

    Ketika vampir hina-hinaan sama werewolves. Ini apa pula banget.

    #kapkapcommentary

    “Sebisa mungkin jangan sampe ada lebih banyak polisi dateng, apalagi kalo mereka Kristen”

    =))))

    #kapkapcommentary

    “Just leave me to do my dark bidding on the Internet!”

    “What are you biding on?”

    “I’m biding on a table.”

    … … Iya.

    #kapkapcommentary

    Petyr is quite adorable though

    #kapkapcommentary

    I always love it when a movie or series talking about being immortal and what it goes along with — watching your loved ones die and such.

    #kapkapcommentary

  • ELIZABETH SAYS “NO”, COLLINS. WHICH PART OF “NO” YOU DON’T UNDERSTAND YOU DIM CABBAGE HEAD. YET YOU HAVE THE WIT TO THINK THAT IT’S “ELEGANT FEMALES” WAY TO “INCREASE THE LOVE AND ADMIRATION” OF GENTLEMEN. NO MEANS NO. OH MY GOODNESS.

    #kapkapcommentary

    “Your mother will not speak to you if you don’t marrying Mr. Collins.

    I will not speak to you if you do.”

    YAAAAS MR. BENNET. YAAAAAAAASSSSSSSSS.

    #kapkapcommentary

    Loooove Keira Knightley. She always have that twinkle in her eyes and that goofy yet mischievous wide grin. Suka liatnya ?

    #kapkapcommentary

    “I love you.

    Most ardently.”

    And now it’s time for us girls to shriek and fangirling mode.

    ?????

    TAPI PERLU YA BAWA-BAWA STATUS KELUARGA HAH DARCY?

    #kapkapcommentary

    Anjaaaay lu ngehina-hina sekeluarga plus kekurangan harta keluarga tersebut terus masih nyoba ngelamar si gadis?? =)))

    #kapkapcommentary

    AAAAW GEORGIANA IS SOOOOOOO CUUTTTEEEEEE

    THAT’S A WINGLADY FOR YOU, DARCY

    #kapkapcommentary

    Is it okay if I just punch Mrs. Bennet on her face? ? EVEN NO THANK-YOU TO MR. GARDINER.

    #kapkapcommentary

    OK. Darcy might not really far off on his opinions about the Bennets.

    Itu adek-adeknya Lizzie sama ibunya mengsle semua itu kayanya ?

    #kapkapcommentary

    “Yes. A thousand times, yes.”

    SAAAAAAAH

    #eh

    #salahya

    #kapkapcommentary

    “You must know. Surely you must know. It’s all for you.”

    Aaaaaw.

    Sekarang cuma bisa berharap kalo Darcy ngomelin tantenya abis-abisan.

    #kapkapcommentary

    “Mrs. Darcy.”

    That’s it. Now I can die happily.

    #kapkapcommentary

  • Praktis

    Kapan hari saya dan Ari sedang menonton TV. Acara TV saat itu membahas tentang acara jalan-jalan dan kuliner di Jepang, terutamanya di Tokyo.

    Salah satu tempat tujuan mereka itu di sebuah restoran ramen (mie) — si pengunjung bisa memesan ramen melalui vending machine, membawa selembar kertas untuk konfirmasi pesanan, diberikan ke pelayan, dan pelayan tinggal datang membawa ramen yang dipesan. Tempatnya sendiri terdiri dari kubikel-kubikel kecil (seperti di kantor) yang hanya bisa muat untuk satu orang. Selain itu, si pembawa acara juga ditunjukkan beberapa vending machine yang menjual berbagai macam produk dari makanan sampai pakaian dalam (untuk orang-orang yang terpaksa menginap di capsule hotel karena tidak sempat mengejar kereta terakhir di malam hari). Salah satu bintang tamu yang merupakan orang Inggris yang tinggal dan bekerja di Jepang berkata bahwa efisiensi dan kepraktisan sangat dijunjung tinggi di Jepang.

    Sepintas, rasanya memang canggih ya. Serba praktis, apa-apa bisa dibeli tanpa harus masuk ke toko dan antri membayar. Tinggal datang, pesan, lalu mendapatkan barang yang diminta — tanpa harus bertemu muka dengan orang lain.

    “… Tapi kok rasanya ga ada interaksi manusianya ya,” komentar Ari.

    Saya setuju.

    Rasanya… Gimana ya. Dingin? Bertemu muka aja nggak, apalagi ngobrol. Sedangkan kalo kita di kampung-kampung masih bertemu orang saat jajan ke warung, bahkan sampe ngobrol dengan ibu atau bapak penjual di warung. Dengan kepraktisan dan teknologi modern, kadang malah jadi alasan manusia untuk ga berkomunikasi.

    Memang sih, enak dan mudah. Modern sekali, malah. Gampang banget kan, kalo haus bisa beli di vending machine yang beroperasi 24 jam. Kalo mau beli makanan tinggal ngasih slip kertas yang berisikan konfirmasi lalu pesanan makanan langsung datang.

    Tapi kita juga jangan lupa dengan warung-warung kecil atau toko-toko kelontong yang setiap saat bisa kita sapa dan ngobrol dengan si bapak atau ibu penjual ?

  • Digital Kidnapping

    Kapan kamu tahu bahwa kamu sudah tua?

    Saat kamu ngebatin, “duh, sadis amat ya…” saat menonton trailer film Deadpool (2016) di Youtube. Soalnya udah terbiasa nonton Disney Junior.

    Omong-omong, semalam saya sempat membaca artikel mengenai digital kidnapping. Digital kidnapping adalah menggunakan foto bayi/anak orang lain yang diakui sebagai anak sendiri — jadi si anak masih bersama orangtuanya, tapi foto anak tersebut bisa jadi ada di akun Instagram atau FB orang lain dan dibilang “itu anak saya!” (link: http://www.digitaltrends.com/mobile/baby-role-play-virtual-kidnapping/)

    Jadi ya tentu saja saya ngeri sendiri ya. Saya sendiri lumayan membatasi untuk foto anak di akun social media saya — kalau di akun yang terbuka untuk publik, foto anak saya biasanya dari belakang atau tidak tampak jelas mukanya — tapi itu juga saya ngerasa bahwa saya masih keterlaluan bebasnya.

    Dan beberapa hari ini saya melihat beberapa teman saya di FB memasang foto anak mereka sedang mandi ataupun dalam keadaan telanjang.

    … Saya kok jengah ya? ?

    Usil, memang. Tapi saya yang risi dan khawatir jadinya. Bagaimana kalau foto-foto anak-anak itu dilihat oleh pedofil? Kebayang nggak sih, para pedofil itu kaya gimana sama foto-foto anak-anak, apalagi kalau yang setengah telanjang atau benar-benar telanjang?

    Pernah sih, saya tanya, “mbak, gapapa itu foto anaknya yang lucu sedang telanjang gitu ditaro di FB?”

    Dijawabnya sih, “gapapa laaaah. Temen-temen gue ini doang yang liat kok. Kaya bakal nyebar gimana…”

    … … … ?

    Ya… Ya gimana ya.

    Ya namanya juga menjaga anak-anak, itu “lahan kekuasaan” orangtua.

    Not only did the individual claim that she was the mother of the child (and renamed him), but she’d also added some truly alarming captions, like “Someone kidnapped Liam, they have him tied up in their car.” Dana continued, “Other role-play accounts would jump in with comments like ‘I found the car, I’m following them.’”

    Sejauh ini untuk saran-saran yang saya lihat mengenai pencegahan digital kidnapping adalah mengatur setting akun social media menjadi “private” atau menambahkan watermark. Agak repot, memang, dan set akun private belum tentu cocok untuk semua orang. Yang bisa dilakukan saat ini adalah memang pinter-pinternya ambil angle foto anak supaya wajahnya nggak terlalu terlihat. Atau memang menahan diri untuk nggak sering memasang foto anak di akun social media publik.

  • Next project: Intermediate Theme Developer

    I want to develop themes that sing praises for the 2000s. I always feel we could have a bit more 2000s-era whimsy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com
Status Cafe Profile
  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer