Ini ditulis saat saya sedang menemani Wira tidur di kamarnya sendiri.
Salah satu tantangan menjadi orangtua adalah manajemen waktu. Bukan soal manajemen waktu bekerja, hiburan, dan lain-lain saja. Manajemen waktu untuk siap waktu “diambil” anak, hahaha. Salah satunya soal tidur.
Sejak lahir, Wira sudah tidur bersama kami di satu tempat tidur/co-sleeping. Salah satu enaknya untuk saya adalah kemudahan menyusui dia saat dia masih minum ASI.
Nah, sekarang, dengan berat dan tinggi badan jelas sudah mendekati anak-anak plus gaya tidur yang makin aneh, yang namanya tidur sudah jadi lebih mirip medan perang perebutan lahan (dan selimut. Dan guling. Dan bantal) ketimbang tidur normal selayaknya orang lain.
Jadi sudah sebulan ini Wira kami latih untuk tidur sendiri.
Dan itu bukan hal yang mudah. Sama sekali nggak.
Sama seperti balita dan anak-anak lainnya, alasannya BERJUTA-JUTA.
Mau makan kue.
Mau pegang Lego.
Mau sama teddy bear.
Mau pake selimut.
Mau minum air putih.
Mau minum susu hangat.
Mau minum Milo hangat. Nggak ada? Ya udah, air putih lagi.
Mau cari ayah.
Mau cari ibu.
Tapi yang namanya tidur sendiri ini nggak cuma anaknya yang panik lho. Orangtuanya juga, hahaha. Saya rasanya seperti kembali ke masa Wira baru lahir. Yang “tidur” cuma mata, tapi syaraf dan segala indra perasa terjaga. Begitu bunyi “krek” atau “ngek” dikit, saya langsung buka mata. Bahkan setelah saya yakin anaknya tidur nyenyak pun, saya masih nggak bisa tidur.
Wira juga belum bisa tidur semalaman penuh di kamarnya. Sebelum tidur masih harus ditemani sampai dia benar-benar tidur dan sering jam 3-4 pagi dia terbangun dan sambil merengek dan membawa bantalnya dan boneka beruangnya dia pindah ke kamar saya dan Ari.
Tapi mungkin itu serunya menjadi orangtua kali ya? Hahaha.
Saya sendiri merasa, saat ini saya masih bisa mengendus-endus dan memeluk Wira, bahkan memang diminta, sebelum dia tidur.
Awal minggu kemarin, kami di KL mendapatkan hari libur dua hari (Senin dan Selasa) karena ada dua event: Federal Territory Day dan Thaipusam.
Long weekend kemarin jadi kami gunakan untuk berjalan-jalan. Pertama, ke Legoland di Johor.
Dibuka pada tahun 2010-2011 (?), Legoland memang masih tergolong theme park yang sangat baru, dan lokasinya juga lumayan jauh dari pusat kota Johor Baharu. Sesuai namanya, Legoland menampilkan diorama bangunan dan kota terkenal yang dibangun menggunakan Lego dan dua toko Lego; The Big Store dan The Brick Store. Ada juga Science Center untuk anak-anak belajar robotik dan Lego.
Salah satu lokasi favorit kami adalah Star Wars Miniland 😀 Star Wars adalah salah satu merek yang cukup menjual di Lego, dan ga heran melihat pasukan Imperial dan para pemberontak ikut pameran, hahaha.
Di Star Wars Miniland, pengunjung menonton film animasi pendek mengenai Star Wars Bombad Bounty, parodi oleh Lego mengenai Star Wars IV sampai VI yang diganggu habis-habisan oleh Jar Jar Binks. Videonya juga tersedia di Youtube 😀
Selepas menonton filmnya, pengunjung memasuki ruang pameran yang menampilkan beberapa adegan dalam film Star Wars dari I sampai VI plus keterangan mengenai beberapa karakter dan planet yang dipasang di dinding. Beberapa dapat bergerak dan pengunjung bisa menekan tombol untuk membuat, misalnya, Milennium Falcon lepas landas 😀
Untuk yang ingin berkunjung ke Legoland, berikut sedikit informasinya.
Harga masuk Legoland agak mahal; RM 160. Mungkin kalau ikut tur wisata bisa sedikit lebih murah ya. Anak-anak berumur di bawah 3 tahun gratis tiket masuk. Harga berbeda untuk warga Malaysia dan pengunjung asing.
Legoland adalah theme park yang masih sangat baru, sehingga pepohonan yang ada juga belum terlalu rimbun. Namun pihak taman menyediakan banyak kursi dan tempat berteduh, sehingga tetap nyaman untuk berjalan-jalan. Stroller anak-anak juga disediakan untuk para pengunjung cilik yang kelelahan.
Ingat, ini Malaysia, negara tropis. Yang namanya panas pasti ada. Yang namanya hujan juga ada. Nggak perlu mengeluh. Siapkan saja: sunblock (SPF 50 kalau bisa), handuk kecil, botol air minum, topi, dan apabila datang saat musim hujan, bisa bawa payung lipat — walaupun banyak merchant di dalam taman yang juga menjual payung. Berpakaianlah yang nyaman dan mengenakan sepatu olahraga karena banyak berjalan. Tidak perlu khawatir soal tempat istirahat; Legoland mempunyai banyak tempat beristirahat dan makan. Di Science Center (sebelah Star Wars Miniland) ada kursi pijat otomatis dengan biaya RM 5.
Dan yang terakhir, bersenang-senanglah. Ngapain ke theme park kalo hanya berujung merengut dan cemberut sambil mengeluh “panas” padahal sudah tau ini di Malaysia yang jelas-jelas negara tropis? Kalo mau dingin, ke Greenland saja sana.
Selepas dari Legoland di Johor Baharu, kami mampir ke Malaka. Malaka adalah salah satu kota kesukaan saya karena sejarahnya yang merupakan gabungan antara India, Cina, Portugis, dan Belanda. Kota Malaka bisa dengan rapinya menjalin hubungan antara dunia modern dan kota lama, dan itu sangat keren untuk saya 🙂
Di Malaka, kami berjalan-jalan menyusuri sungai Malaka di malam hari. Ada beberapa pengamen jalanan dan kafe-kafe yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pengunjung.
Kami juga mengunjungi museum Samudera dan Maritim yang terletak di dekat sungai Malaka. Museum Samudera dan Maritim adalah dua museum yang saling bersebelahan dan dalam bentuk kapal. Isinya menceritakan mengenai perjuangan dan kehidupan orang Malaka di masa lampau beserta beberapa pahlawan dunia maritim. Salah satunya Henry si Hitam (Henry the Black), salah seorang staf dari tanah Asia yang ikut menemani Magellan mengelilingi dunia sehingga disebut sebagai “Magellan dari Asia”.
Masih berjalan-jalan sepanjang sungai Malaka, ada kedai cendol di Stadhuys (dekat jam kota) yang menjual berbagai macam cendol. Dari cendol biasa, cendol durian, sampai ABC (ais batu campur) spesial yang menggunakan es krim 😀 Enak rasanya panas-panas minum cendol yang segar dan dingin. Ari memesan ABC spesial dan saya memesan cendol durian, hahaha.
Kami juga berjalan-jalan di Jonker Street. Saat malam hari, Jonker Street biasanya terlarang untuk kendaraan dan ramai sekali. Saat siang, sedikit lebih sepi tapi ya tetap ramai, hahaha.
Kami juga menaiki Malaka River Cruise, yaitu wisata mengarungi sungai Malaka menggunakan kapal penumpang beserta penjelasan mengenai tempat-tempat bersejarah yang berada di tepi sungai Malaka.
Salah satu favorit saya adalag Kampung Morten. Dibangun pada tahun 1920-an oleh JF Morten, Kampung Morten adalah salah satu kampung perintis yang dibangun di atas rawa di Malaka. Di masa lalu, penghuninya rata-rata bekerja sebagai nelayan dan nahkoda kapal tandu yang bertugas memandu kapal-kapal besar milik pedagang yang ingin memasuki Malaka. Kampung Morten masih ada sampai sekarang dan tetap berpenghuni. Cantik sekali kampung itu berhiaskan lampu-lampu untuk menerangi tepi sungai.
Kalau melihat Malaka, rasanya sedih. Jadi ingat Jakarta.
Jakarta mempunyai potensi yang sama dengan Malaka di Sungai Ciliwung dan area Kota Tua (Fatahillah). Hanya sayang sekali keadaannya masih tidak teratur dan tidak terawat. Semoga saja pemerintah kota dapat memperbaiki Jakarta menjadi kota metropolitan yang maju dan kental dengan nuansa sejarahnya yang cantik dan kaya 🙂
Beberapa hari lalu, saya membeli sebuah buku yang sudah cukup lama saya incar.
‘The Code Book’ membahas kriptografi (seni sandi dan kode) dan menariknya, membahas juga mengenai sejarah.
Saya diperkenalkan buku ini melalui salah satu atasan saya saat saya masih bekerja di universitas. Pak Erwin, namanya. Saat ini beliau sedang melanjutkan studi S3 di Australia.
“Kamu kan suka sejarah, kayanya kamu bakal suka buku ini.”
“Kriptografi, pak? Itu materinya Computer Science dan IT bukan?” (Saya agak ragu karena saya lulusan Marketing Management, hahaha)
“Iya. Tapi unsur sejarah di sini juga sangat kental. Dan bahasanya gampang dimengerti.”
Dan memang benar. Membahas penggunaan sandi dan kode dari jaman Mesir Kuno (sekedar intermezzo: orang Sparta jaman dulu menyimpan pesan rahasia di kepala. Jadi mereka menggunduli kepala si pembawa pesan, menuliskan pesan, menunggu sampai rambutnya tumbuh, barulah pesan dibawa dengan resiko minimum akan digeledah di kota musuh) sampai Alan Turing. Dan memang, buku ini memang sangat menarik.
Dalam buku ini, ada satu bagian favorit saya.
Islam demands justice in all spheres of human activity, and achieving this requires knowledge, or ilm
Ini adalah salah satu isu fundamental — mungkin bukan “salah satu” lagi, tapi isu fundamental dalam Islam dan agama-agama lain, dan tetap relevan sampai sekarang.
Umat manusia wajib berilmu.
Dan jujur saja, kalimat itu merupakan motivasi saya 🙂
Saya nggak bisa tidur, dan setelah menghabiskan waktu di Path, Candy Crush Soda (berhenti di level 125 *le sigh*), dan Tumblr (sangat senang karena beberapa blog Tumblr yang saya follow sedang spam keluarga kerajaan Jepang), akhirnya saya memutuskan melakukan kegiatan yang orang normal biasanya lakukan: Ngeblog.
Jadi inget Nita yang kalo malem-malem ga bisa tidur biasanya masak atau manggang kue, haha.
Karena ini ngetik lewat tengah malem, pake touchscreen pula (di iPad), jadi mohon maaf kalo ada salah ngetik dan mulai ngelantur.
Sudah tiga minggu Wira sekolah, dan jujur aja, perkembangannya lumayan terlihat. Dari hari pertama yang nangis seharian (“IBU MANA? IBU MANA?”) sampe akhirnya saya tega ninggalin dia sendirian di sekolah di hari kedua sekolah dan minggu kedua dia masih cemberut sambil bilang, “Wira ga mau sekolah!” Dan berujung di minggu ketiga dia udah lari-lari masuk kelas nggak inget peluk cium ibunya lagi, boro-boro ngomong “I love you, ibuuuuu!” Heuh.
Satu hal yang saya belajar dari pengalaman Wira sekolah ini adalah kerelaan saya untuk “melepas” dia. Ini penyakitnya ibu-ibu; ketika bersama anak, rasanya setiap menit membatin, “aduh ini kapan gw bisa me-time sendiri? Kapan gw bisa santai ga pake diganggu anak?!” Tapi sekalinya beneran dapet kesempatan sendiri, ke salon misalnya, kepikiran terus sama anak di rumah sampe buru-buru pulang, hahaha. Hayo ngaku siapa yang seperti itu juga
Soal “melepas”. Ga secara fisik aja, tapi juga secara mental. Saya adalah ibu yang cerewet dan tukang ngomel. Wira jago ngomong “no!” dan “tidak!” karena ya asalnya siapa lagi kalau bukan saya. Sebelum Wira mulai sekolah, apa-apa saya yang ngurusin. Cuci tangan, cuci kaki, makan kadang disuapin, minum diambilin, sampe sendal dipakein.
Saat Wira sekolah, di hari pertama saya menunggui dia selama seharian (satu lagi bukti saya ibu-ibu susah move on, hahaha) dan saya, jujur aja, kaget.
Anak-anak yang bahkan lebih kecil dari Hobbit sudah bisa mengenakan dan melepas sendal dan sepatu mereka sendiri. Nggak pake ditemani guru, mereka masuk kelas setelah melepas sendal/sepatu, meletakkan alas kaki dan tas di rak, lalu mencuci tangan. SENDIRIAN.
Makan siang semuanya dengan rapi duduk di ruang makan dan makan sendiri dengan tenang. Selesai makan, mereka meletakkan piring kotor dan sisa makanan dengan rapi. SENDIRIAN.
Saya adalah orang dewasa yang menganggap remeh anak-anak. “Emang mereka bisa apa sih? Masih kecil kok!” Dan saat saya melihat itu, saya kaget. Memang, pekerjaan “mudah” seperti makan, melepas alas kaki, dan cuci tangan. Tapi dilakukan oleh anak-anak balita (yang saya panggil dengan penuh kasih sayang sebagai “mini-Hobbit yang mukanya terdiri 95% pipi”) itu adalah hal yang hebat.
Berapa kali kita melihat raja dan ratu cilik, yang apa-apa semuanya harus dilayani, bahkan makan?
Saat saya mengobrol dengan staf sekolah, dia berkata satu hal yang membuat saya berpikir lama selama beberapa hari.
“They are well-functioned human being. Yes, they are still small. They are toddlers and small children with their limitations. But they are human being who able to think and act.
To “accept” them as invalid — as in, unable to do anything by themselves — is insulting for them. Just give them some room to grow and explore.
And keep your expectation low. In fact, don’t expect at all. They are human beings with their own characteristics and life. Their goal is not to meet your expectation. Their goal is to be the best human being for their generation.”
Banyak saat ketika saya merasa tahu dan mengenal Wira, tapi ternyata saya belum kenal dan belum tahu. Saya rasa karena saya memang berharap ke dia. Saya mempunyai impian-impian dan bayangan masa depan dia di kepala saya.
Tetapi itu di diri saya. Bukan di diri Wira. Sedangkan, apakah saya peduli akan impian dia pribadi? Mungkin nggak, karena saya ngomel terus sepanjang jalan kenangan.
Sebagai ibu, memang sudah ada di insting untuk senantiasa maju ke depan dengan gagah berani melindungi si anak dari apapun yang terjadi.
Tetapi sebagai ibu, penting juga rasanya membiarkan si anak mengepakkan sayap untuk menjelajah dunia baru. Tendang ke luar sarang, kalau perlu.
Pinterest ini seperti… Mood board, kalo kata adik saya. Nggak harus mood board juga, tapi bisa inspiration board dan papan-papan lainnya. Dan baru-baru ini, ada istilah yang namanya ‘Pinterest Stress’ (dan kalo ga salah ada juga yang namanya ‘Mason Jar Syndrome’). Biasanya menjangkiti para pengguna Pinterest yang merasa “kurang kreatif dan kurang cakap dalam kerajinan, rumah, dan masak”. Ini seperti membaca majalah wanita bulanan. Isinya tips dan trik untuk tampil lebih cantik, lebih seksi, lebih keren, dan lebih-lebih lainnya. Ditambah dengan banyaknya iklan di majalah yang menggambarkan status sosial dan merek-merek mahal, cukup untuk sedikit menggoncang rasa percaya diri. Seperti yang dituliskan si penulis, Rachel, di artikel Buzzfeed-nya.
Then I discovered Pinterest’s “most popular” page, which is essentially a collage of white girls with impossibly great hair, superhuman nail art skills, and apparently enough free time to create a tidy basket of “postpartum supplies” for “every bathroom” in the house.
Seolah-olah Disney nggak cukup untuk membuat kita semua para wanita berharap terlalu tinggi untuk mempunyai rambut seperti para Disney princesses.
Seriously. CAN YOU BEAT THAT? CAN YOU?
Untuk saya pribadi, Pinterest cukup berguna untuk hobi menggambar saya. Di Pinterest banyak sekali referensi menggambar karakter, pose, anatomi tubuh (ya, saya masih terobsesi dengan menggambar hidung dan mata), sampai teori warna.
Ini yang baru-baru saja saya temukan dan langsung menjadi favorit saya.
Biasanya kalau lagi santai, saya suka buka-buka lagi tips dan trik yang saya kumpulkan untuk mengingat-ingat dan memperbaiki kemampuan saya, haha. Dan kalau dilihat-lihat, masih banyak kesalahan saya yang sebenernya merupakan kesalahan amatir 😐
Pinterest, untuk saya, seperti bookmark app, namun untuk visual. Biasanya untuk artikel saya menggunakan Pocket karena berbasis teks.
Banyak artikel yang menyatakan bahwa Pinterest ini membuat ketagihan, dan Washington Post menuliskan Pinterest sebagai “digital crack for women“. Apakah saya juga ketagihan?
Bisa ya, bisa nggak.
Yang jelas, Candy Crush Soda Saga masih lebih menyebalkan *stuck di level 120 dan susah bukan main*
Find me on Pinterest here *shameless self-promo. LOL*
Quick blurbs
I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.
My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.