• Oke, bukan #kapkapcommentary yang per adegan — karena kalo formatnya kaya gitu, artinya saya lagi nonton di laptop atau DVD — karena ini barusan nonton di bioskop TGV Cinema di Suria KLCC.

    //embedr.flickr.com/assets/client-code.js

    Secara garis besar, ‘Inside Out’ itu bisa dibilang kejadiannya begini:

    Fans Pixar: “Gue udah kebal nangis nonton film-film Pixar, bahkan ending Toy Story 3 aja udah ga ngaruh ke gw! I can handle this!”

    Pixar: “LOL you sweet summer child you have no fucking idea.”

    I practically bawled my eyes out, like, OH. MY. GOD. ‘Inside Out’ itu kaya… Cara Pixar menjelaskan 5 Stages of Grief dalam bentuk animasi tralalatrilili yang ratingnya Semua Umur.

    Karakter utama dalam Inside Out itu ada dua tipe: Emosi dan manusia. Untuk manusia, ada karakter anak perempuan berumur 11 tahun yang bernama Riley Andersen yang hidup bersama kedua orangtuanya. Karakter emosi, yang di dalam film mayoritas merupakan emosinya Riley, ada lima: Joy (Kebahagiaan), Sadness (Kesedihan), Anger (Kemarahan), Disgust (Rasa Jijik), dan Fear (Ketakutan). Lima emosi dasar manusia.

    Alur utamanya adalah proses perubahan emosi yang dialami Riley saat dia dan keluarganya pindah dari Minnesota ke San Fransisco. Dua kota yang sangat berbeda dengan perubahan yang drastis membuat perasaan Riley campur aduk. Di Minnesota, Riley aktif di tim hoki dan mempunyai teman baik bernama Meg. Alam Minnesota yang masih alami membuat Riley tumbuh menjadi gadis yang periang dan bebas — dengan Joy sebagai emosi utamanya.

    Ketika pindah ke San Fransisco — yang digambarkan mayoritas warna abu-abu oleh Pixar — Riley mendapati bahwa rumah mereka berada di tengah kota, kecil, bau (ada tikus mati — yang saya kok sempet ngerasa itu cameo Remy dari ‘Ratatouille’ ya, hahaha), dan barang-barang mereka di truk pindahan belum sampe-sampe juga ke San Fransisco karena truknya nyasar sampe Texas.

    Joy berusaha membuat situasi menjadi positif, tapi beberapa kali emosi Riley campur aduk karena campur tangan Sadness — dan Sadness sendiri juga ga ngerti kenapa dia utak-atik memori Riley. Masalah terjadi ketika lima memori utama Riley — memori yang membentuk kepribadian Riley sebagai Riley — hampir hilang gara-gara diperebutkan Joy dan Sadness. Joy dan Sadness terlempar ke bagian Memori Jangka Panjang yang berakibat kepala Riley diisi oleh Fear, Anger, dan Disgust. Tiga sekawan itu berusaha untuk “menjadi Joy” supaya Riley tetap ceria — namun seringnya sih gagal. Disgust berusaha menjadi Joy malah berujung sarkastik ?

    Joy dan Sadness akhirnya berusaha untuk kembali ke Headquarter (tempat emosi itu memainkan peranan penting) dan mengembalikan lima memori utama Riley agar Riley kembali menjadi gadis yang ceria.

    Konsep awalnya yang berkesan “sederhana” — “apa sih susahnya bikin film soal anak perempuan berumur 11 tahun pindah rumah?” — menjadi lebih kompleks karena memang berurusan dengan emosi yang dialami anak umur 11 tahun. Setelah menonton film itu, Ari bertanya ke saya, “waktu pindah dari Jakarta ke KL ngerasa gitu juga ga?”

    Saya menjawab, “Hmmm… Saat itu dominannya Joy, Fear, sama Sadness sih. Melankolis karena meninggalkan teman-teman di Indonesia, ketakutan karena ini pertama kali tinggal di negeri orang (dan jujur aja deh, hubungan Indonesia dengan Malaysia itu seringnya sinis-sinisan), tapi juga penasaran dan senang sekali.”

    Dan jujur, saya pun masih merasa sangat senang tinggal di Malaysia ini ?

    Dan yang sedikit menarik, film ini juga sempat menunjukkan cara seseorang melawan rasa putus asa/depresi. Ada adegan ketika Joy setengah mati berusaha kembali ke alam pikiran sadar Riley sambil berkali-kali menyanyikan lagu masa kecil Riley — dan itu bikin saya nangis setengah mati.

    Karena saya, dan saya yakin banyak temen-temen juga, tau rasanya berada di satu titik terendah dalam hidup namun entah gimana ada suara kecil di dalam hati yang bilang, “oke, lu tau? Lu lebih kuat dari ini. I won’t give up on you as long as you’re not giving up on yourself.” Kita mengulang-ulang sebuah lagu bodoh yang saking bodohnya itu bisa memberikan kita semangat dan percaya bahwa hari esok akan lebih baik.

    Film ini sangat menghibur. Luar biasa menghibur. Bahkan setelah menonton film saya masih merasa di awang-awang/spaced out, hahaha. Rasanya setiap orang yang saya lihat selepas keluar dari studio itu seperti punya karakter kecil-kecil di dalam kepala mereka, hahahaha.

    Teman saya, Galih, menyimpulkan ‘Inside Out’ ini sebagai film yang berkata, “it’s okay to feel sad; but remember to be happy.

    Can’t agree more.

    P.S. MUSIKNYA. MUSIKNYA. MICHAEL GIACCHINO ITU LUWARBIYASAK!

    P.P.S. Ketika ada adegan perjalanan keluarga Andersen dari Minnesota ke San Fransisco, sempet ada satu shot pendek yang saya yakin banget itu cameo burung-burung dari film pendek Pixar ‘For The Birds’.

    P.P.P.S. Nama supir bis di film ini namanya ‘Gary’. Saya langsung keinget karakter kakek yang pernah nongol di ‘Toy Story 2’ dan film pendek Pixar ‘Gary’s Game’. Tapi ini supir bisnya masih muda. Gary ketika muda, mungkin? Hahaha.

    P.P.P.P.S. Perhatikan baik-baik saat adegan Imagination Land. Ada board game bergambar clownfish dengan nama ‘Find Me!’. Ingat siapa? Yep. ‘Finding Nemo’.

    P.P.P.P.P.S. A113 dan John Ratzenberger udah lah ya, ga usah disebut lagi. Pasti ada lah itu, hahaha.

  • Post dari Path sebulan lalu:

    Ini bakal jadi tulisan panjang.

    Jadi sempet di Youtube ada Youtuber Jepang (dia orang Amerika bersuamikan orang Jepang dan tinggal di Jepang) ngebahas soal protes orang Asia-Amerika (spesifik: Japanese-American) mengenai sebuah museum yang sedang memamerkan karya seniman Jepang dan naro kimono di situ buat dipake pengunjung untuk foto-foto.

    Nah ini jadi dibahas karena: 1. Japanese-American pada protes, 2. Orang Jepang di Jepang sendiri ga masalah — malah seneng.

    Jadi lah kontra internal. Ada yang bilang “YA GABISAGITUDONG” dan ada yang bilang “butthurt banget jadi manusia, gampang tersinggung.”

    Jadi ini isu appreciation v. appropriation budaya.

    Gw sendiri orang Indonesia dan gw belum pernah ngerasa jadi minoritas “tertindas” di negara orang dan negara sendiri (what a fucking privilege, ya?)

    Tapi coba liat dari kacamata para pendatang itu di Amerika. Secara spesifik: African-American dan Asian-American.

    Mereka dihina-hina karena bawaan fisik ras mereka. Bibir dower lah, “ching-ching-chong”, atau “slanted eyes” lah. Belum lagi hak dan kesempatan mereka yang jauh lebih sedikit dibanding kulit putih (seperti Galih bilang, berapa banyak sih aktor dan aktris Asia di Hollywood?)

    Lalu para kulit putih ini mendadak menganggap budaya kulit hitam dan asia ini “eksotis”. Mereka bilang mereka “world citizen“. Mereka anggep cornrows atau kimono itu “misterius dan bergaya”. Mereka bilang henna dan bindi itu “sensual dan dipake buat summer festival.”

    Ini yang bikin banyak kaum POC (people of color) marah di Amerika. 

    You insult our physical appearances, our heritage, our beliefs, our religions, our cultures, yet you take bit of our cultures and trying to mystify it and reclaim it as your own

    Ini kaya, “ih orang India itu mah najis! Manusia kelas rendah!” tapi pamer-pamerin bindi kemana-mana dan menganggap diri sendiri “berbudaya”. Dan di Amerika sendiri isu rasisme masih kenceng banget.

    Ada beberapa orang POC yang ga ambil masalah; dan orang-orang di negara asal juga ga masalah — malah lebih santai (temen kampus gw sesama Cina malah saling menghina juga.)

    Tapi buat gw pribadi, lebih baik berhati-hati dalam melangkah. Menggunakan budaya orang lain buat kepentingan diri sendiri (apalagi kalo biasanya menghina-hina budaya dan kaum tersebut) buat gw sangat konyol — dan selain merendahkan orang lain, juga merendahkan diri sendiri.

    (Ngomel panjang pendek juga gw pas baca ini: https://opendemocracy.net/transformation/how-to-decolonize-your-yoga-practice — link dari Glenn)

    Dan ada lagi, dari bulan Juni 2015:

    Kapan gitu, gw pernah baca di forum online soal hiasan kepala Buddha di rumah-rumah.

    Kira-kira gini isinya.

    “Gw suka ga sreg kalo liat hiasan kepala Buddha yang lagi ngetren sekarang ini. Buat banyak orang, hiasan itu dianggep “religius” atau “berbudaya Timur LOL gw sangat bijaksana”.

    Hiasan kepala Buddha itu mulai ada di pasaran melalui sejarah yang rada kejam. Setiap ada gerakan militer atau konflik agama yang melibatkan pembunuhan para biksu Buddha — dan itu sering banget tercatat dari Asia Timur sampe Asia Tenggara — sering patung-patung Buddha di kuil atau vihara itu dipotong juga untuk menandai hancurnya kuil/vihara itu dan menandakan berkuasanya militer di tempat itu. Selain itu, patung-patung Buddha itu juga dihancurkan sebagai cara menghina para biksu, semacem “where’s your God now?

    Potongan kepala dari patung-patung itu biasanya berakhir di pasar loak atau pasar gelap berkilo-kilometer dari tragedi itu. Seperti barang jarahan. Dijual ke turis-turis yang ingin “berbudaya” dan membawa sepotong kebudayaan dari tanah yang mereka kunjungi untuk dipajang di ruang tamu mereka.

    Dan entah kapan mulai menjadi trend, sampai banyak sekali replika dan produksi massal kepala Buddha itu.

    Tapi gw rasa ga banyak juga yang tau sejarah yang rada ngeri dari hiasan interior rumah itu.”

  • Frederick Ashton’s The Dream is based on William Shakespeare’s A Midsummer Night’s Dream. The ballet had its premiere in 1964 as part of a Royal Ballet programme commemorating the 400th anniversary of Shakespeare’s birth.

    Badan dan kaki — terutama kaki — sakit semua, nafas hampir habis, dan harus tetap tersenyum.

  • Paling tidak, kita sudah berusaha untuk mengorangkan orang. Dalam bahasa Jawa, ada istilah “nguwongke wong”, atau memperlakukan manusia sebagaimana mestinya. Tantangan besar memang saat kita hanya melihat sedikit bagian dari orang lain itu, baik dalam bentuk gambar atau tulisan singkat. Tapi ingatlah selalu, bahwa ada jemari yang menulis dan nafas yang berhembus penuh harapan, bahkan di satu kata yang paling pendek pun: “Hai”.

    Maya atau Nyata, Manusia Ya Manusia | LINIMASA

    Dasarnya manusia itu baik, selama kita selalu ingat untuk “memanusiakan” mereka.

    Nguwongke uwong. Itu istilah dalam bahasa Jawa. Memanusiakan manusia. Nggak lebih tinggi dan nggak lebih rendah.

    Sama-sama manusia.

    P.S. Kalo lagi senggang, coba deh menyambangi website Linimasa ini. Bagus-bagus sekali isinya.

  • E-mail dan Kepercayaan

    Selewat aja nulis. Barusan saya bikin akun e-mail di Outlook — alasannya? Nggak ada. Rasanya pingin aja punya e-mail baru *kurang kerjaan* Dan beberapa kali denger temen ngomong kalo app Outlook for iOS itu lumayan keren.

    Dulu sih punya, tapi udah saya delete — karena username-nya yang kelewat alay, hahahaha *aren’t we all?*

    Terus jadi keinget, dulu jaman awal-awal ngeblog tahun 2004-2005 itu awam banget yang namanya naro e-mail di blog. Macem informasi kontak lah. Kalo mau menghubungi atau kenalan, bisa kirim e-mail ke alamat sebagai berikut *sok penting ya. Iya* Dan ga cuma e-mail; sampe ID Y!Messenger (iya, masih heits itu Yahoo!Messenger) juga dipasang. Segala macem lah kontak pribadi ditaro di ruang publik seperti blog.

    Kebiasaan naro alamat e-mail di blog mulai menurun di kalangan blogger ketika e-mail spam merajalela tahun 2005-2006 (pangeran Nigeria. Ingat?) Informasi yang tersebar di kalangan blogger bilang kalo crawler itu nyomotin e-mail kita dari e-mail yang terang-terangan dipasang dalam bentuk hyperlink. Jadi kalo mau “aman”, e-mail ditampilkan dalam bentuk gambar/banner atau seperti username [at] domain.

    Makin ke sini, makin meluas penggunaan Internet di orang banyak, makin sedikit informasi pribadi yang disajikan di blog atau di ruang publik manapun. Makin nyadar kalo orang baik itu banyak, orang jahat juga banyak. Apalagi tukang kuntit atau tukang neror. Sekarang naro e-mail di ranah publik mungkin masih awam, tapi nggak sesantai dulu. Biasanya murni untuk urusan profesional/pekerjaan — dan misalnyapun dapat e-mail dari orang yang mengetahui e-mail kita dari ranah publik, biasanya ditanggapi dengan sangat berhati-hati.

    Lucu ya, makin kita terekspos dengan dunia luar dan orang banyak, makin sulit percaya kita dengan orang banyak itu.

    Dan lebih lucu lagi, kita jadi berhati-hati dengan alamat e-mail kita, namun membuka diri kita lebar-lebar di ranah social media. Dari hobi, tontonan TV favorit, sampai foto tagihan beserta alamat rumah (iya, saya pernah liat seorang pengguna social media mengunggah foto tagihan listrik dia yang, celakanya, beserta alamat rumah pribadi) dipasang begitu saja. Ada juga saya pernah melihat di Instagram, seorang remaja dengan polosnya (atau… Ehem. ‘Kurang cerdasnya’? *saya berusaha sopan di sini ya. Iya*) mengunggah foto kartu kredit dia — American Express — dan terpampang jelas tiga digit terakhir kartu kredit dia.

    Teman saya, teh Nita, pernah berkomentar, “beras aja ada takarannya. Mbok ya kalo bodoh itu juga ditakar…”

    Tapi ya selalu ada dua sisi mata uang. Sama seperti HONY (Humans of New York) yang berhasil mengumpulkan uang lebih dari dua juta dolar Amerika dalam waktu kurang dari 12 jam untuk membantu seorang ibu aktivis kemanusiaan di Pakistan. Apakah para penyumbang dana kenal baik dengan si ibu? Nggak. Apakah mereka tau seluk beluk kehidupan pribadi Brandon, penggagas HONY? Nggak juga. Tapi mereka punya satu hal yang sama: Itikad baik. Percaya bahwa tiap manusia bisa berkontribusi, sekecil apapun, untuk hal yang lebih baik. Itu kepercayaan.

    Tapi seberapa jauh “kepercayaan” itu akan membawa kita untuk membuka data diri dan privasi kita lebar-lebar di ranah publik?

    Buat saya, Allah udah nutupin aib kita. Ya mosok kita sendiri manusia yang malah buka-buka aib.

  • Next project: Intermediate Theme Developer

    I want to develop themes that sing praises for the 2000s. I always feel we could have a bit more 2000s-era whimsy.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com
Status Cafe Profile
  • This week’s photodump (Java Jazz Festival 2026)
  • Entering the Months of Glorious Sunsets
  • April in pictures
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer