• This Is What Depression Really Looks Like

    I’m glad that we finally able to accept and see that depression is there, you know. I’m glad that people now are able to talk about it and actually being helpful about it. I’m glad that some big websites such as Buzzfeed here are talking about this because this is important.

    Just yesterday I jotted a thought on my Path.

    Mendadak kepikiran.

    Selama ini Wira dilatih kalo menjawab pertanyaan, “how are you?” dengan jawaban, “I’m fine. Thank you.”

    Iya, itu sekedar basa-basi dan sopan santun saja.

    Tapi gw jadi kepikiran, kalo mungkin itu ngebikin jadi… Apa ya, meremehkan keadaan pikiran kita?

    “How are you?”

    “I’m fine.”

    Padahal mungkin nggak baik-baik aja. Bisa aja kita lagi sedih, lagi susah, lagi tertekan — tapi atas nama “sopan santun” kita menjawab “gw baik-baik saja” supaya orang lain ga perlu ikut merasa simpati.

    Dan gw rasa itu yang membuat orang-orang yang depresi jadi lebih tertekan.

    You are expected to answer “I’m fine” and be bloody fine with it. While you are not. You are not fine, for God sake. You feel trapped, dazed, sad, and you don’t know where to go. And you don’t know how to express it unless people will see you as “over-reacting”, “dramatic”, “gloomy”, or “emo”.

    Gw rasa gw harus ngerubah pertanyaan dan jawaban gw ke Wira. Gw belum tau apa dan gimana; tapi gw ga mau anak gw membohongi dirinya sendiri dengan kalimat, “I’m fine” hanya karena sedari kecil dia dilatih seperti robot untuk berkata begitu.

    If you feel really fine, that’s really nice. I hope you will enjoy the rest of your day.

    If you don’t feel fine and need somebody to talk to, hey, I’m here, all ears, and zero judgment.

  • Technical Update (?)

    Jadi kemarin saya install plugin WP-IG di blog saya ini (dan, ehem, ini buatan teman saya, Fikri Rasyid) yang fungsinya adalah sinkronisasi konten di Instagram saya dengan blog saya ini. Jadi ketika saya update akun Instagram saya, otomatis blog ini juga ter-update.

    Sebenernya sudah beberapa hari ini saya kepikiran untuk mengaktifkan kembali blog ini dan mulai “mundur” dari social media — paling-paling hanya Path dan Tumblr yang aktif. Saya sendiri di Twitter juga sudah nggak terlalu aktif dan Facebook juga hanya lihat-lihat. Saya beberapa kali mampir di blog-nya Matt (pendiri WordPress) dan saya lihat sepertinya dia menggunakan blog-nya seperti social media. Tapi saya akui, saya nggak tega kalau menghapus akun Instagram saya, hahaha. Ada saat ketika saya hanya ingin mengambil foto dan benar-benar malas untuk mengetik, hahaha. Jadi plugin WP-IG itu cukup menolong, dan kalo kalian melihat archive blog ini mendadak “meledak” sampai tahun 2012 (padahal saya baru menggunakan URL ini akhir tahun 2014), itu ya karena konten dari Instagram saya ada di blog ini.

    Dan seperti biasa saya rewel untuk urusan tampilan, jadi ganti lagi deh layout blog ini, hahaha. Sebenernya saya agak jengkel untuk urusan themes di WordPress karena beberapa yang kurang fleksibel. Ada yang secara warna dan layout itu bagus dan rapi, tapi font yang digunakan nggak pas. Saya pribadi sebenernya kurang suka dengan font yang tebal — saya lebih suka font yang tipis dan kecil (waktu saya masih nge-blog di tahun 2004an, saya paling suka pake font Verdana 8-9 px atau Verdana 7-8 pt) Semoga saja WordPress versi baru bisa integrasi dengan Google Font, hahaha. Jadi bisa pilih-pilih font sesuka hati dan sesuai selera.

    … Errr, dan saya baru nyadar kalo theme Typo ini nggak ada fitur Featured Image.

    Update. Ganti lagi ke theme Fictive.

  • We miss you already, Sir Terry

    “You’re Hell’s Angels, then? What chapter are you from?”

    “REVELATIONS. CHAPTER SIX.”

    Neil Gaiman and Terry Pratchett (‘Good Omens’)
  • NO H8

    Kemarin saya membaca sebuah artikel di Youtube mengenai seorang remaja transgender yang menjadi campaign girl untuk produk perawatan muka Clean & Clear.

    Trans Teen Jazz Jennings Is The New Clean & Clear Campaign Girl

    Untuk saya pribadi, ini adalah hal yang menggembirakan. Stigma LGBTQ (Lesbian Gay Bisexsual Transexual Queer) di masyarakat sudah cukup buruk dan kaum LGBTQ juga jarang ditampilkan di media ataupun film kecuali untuk lucu-lucuan atau bahan celaan. Seolah-olah menjadi gay adalah status manusia yang lebih rendah. Seolah-olah menjadi kaum banci/queer artinya nggak punya hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia.

    Tahun lalu sempet ada berita mengenai seorang wanita transeksual, (almarhumah) Mayang Prasetyo, yang dibunuh oleh pasangannya; dan entah kenapa banyak banget komentar sinis dan negatif soal almarhumah macem, “perempuan jadi-jadian sih! Pantes dibunuh!” atau “nikahin cewek beneran dong!”

    WHAT. THE. ACTUAL. FUCK.

    Hanya karena seorang manusia adalah transgender, TETEP nggak memberikan justifikasi bahwa “oh dia pantes aja dibunuh.”

    Atas dasar apa, manusia yang gendernya “bener” punya hak dan posisi lebih tinggi dari transeksual? Kasus Mayang Prasetyo BUKAN soal gender. Kasus Mayang Prasetyo adalah kasus kekerasan rumah tangga, karena si lelaki merasa dia bisa menguasai Mayang bahkan sampe membunuhnya. Media aja yang kampret bawa-bawa urusan gender.

    she was a woman in a relationship with a man who felt entitled to murder her

    THIS.

    Dan ini nggak hanya di kalangan wanita transeksual; tapi wanita secara umum. Banyak banget kasus kekerasan dan pelecehan terhadap wanita karena si lelaki merasa bahwa dia “memiliki” si wanita. Saya emosi kalo udah soal beginian, karena saya pernah dalam situasi seperti ini.

    Kadang saya heran dengan anggapan awam soal kaum LGBTQ ini. Saya sering perhatiin kalo di kelas, suka ada mahasiswa yang nyeletuk, “ih, lu gay! Hiiii, geli!” Yakalo gay kenapa sik? Do you honestly think he will even want to bang you? Pfffffft. Kege-eran.

    Memang ada pandangan konservatif, terutama dari agama, mengenai LGBTQ ini. Bahwa Allah menurunkan murka-Nya di kota Sodom dan Gomorrah karena penduduknya mempraktekkan ketertarikan seksual terhadap sesama jenis, dan LGBTQ dianggap tidak baik karena merupakan “hubungan yang tidak menghasilkan keturunan” — dan banyak agama yang menganjurkan supaya umatnya mempunyai keturunan untuk menyebarkan pemahaman agama tersebut. Ada orang yang tidak menyukai konsep LGBTQ, dan itu wajar.

    Tetapi bukan berarti kita bisa jadi menyingkirkan kaum LGBTQ dan menganggap mereka nggak ada kan?

    Mereka ada.

    Mereka juga bernafas kok, mereka juga hidup kok, mereka juga bekerja kok.

    Ya, saya bukan LGBTQ. Saya juga bukan aktivis HAM atau gerakan feminisme. Tetapi saya pribadi jengkel liat orang-orang yang menganggap LGBTQ itu lebih rendah. Mereka mempunyai hak yang sama untuk hidup dan dilindungi hidupnya dalam hukum dan undang-undang. They are paying taxes too, for God sake. Udah bayar pajak tapi malah dikemplang haknya apa nggak bikin emosi jiwa itu? Siapa kita berani-beraninya menganggap kaum LGBTQ lebih rendah, padahal Paus Francis sendiri menyatakan, “siapalah saya untuk menghakimi mereka (kaum LGBTQ)?” (PAUS FRANCIS, AKU PADAMU!)

    Kita bisa nggak setuju dengan konsep LGBTQ, tetapi jangan sampe kita memaksakan kehendak kita ke mereka juga. “WAH LU GAY, SINI GW SEMBUR PAKE AIR SAMBIL GW BACAIN AYAT KURSI BIAR SEMBUH” atau ditabok kitab suci… Ebuset, dikira LGBTQ itu kaya kerasukan setan apa gimana. Dengan kita memaksakan kehendak (“LGBTQ itu artinya lu rusak! Ga normal! Lu harus normal!”), itu malah ngebikin hidup orang lain (dan kita) menderita.

    There are millions of gay men married to women in China, academics believe. According to an estimate by Zhang Beichuan, one of the first Chinese scholars to study sexuality, China has 20 million male homosexuals of marriageable age—and 80% of them will marry a woman. In contrast, according to a 2010 Economist report, 15 to 20% of gay men in America have married heterosexual women.

    The women in these marriages are quietly becoming an unlikely force in China’s nascent gay-rights movement. If men are free to openly have relationships with other men, sham marriages like theirs will no longer happen, they say. Being “homosexual is not wrong,” said Qiu in an interview. “What’s wrong is to marry a heterosexual to make a tragedy.”

    China’s “homowives” are becoming unlikely champions for gay rights

    LGBTQ, buat saya, bukanlah sebuah keabnormalan.

    Karena pertanyaannya: Emang “normal” itu apaan sih?

  • Minggu lalu Ari ngasih tau saya kalo tanggal 14-15 Maret ini ada festival balon udara di Putrajaya, tepatnya di Monumen Alaf Baru Putrajaya. Karena inginnya hari Minggu itu di rumah dan beristirahat saja, jadi kami ke Putrajaya hari Sabtu kemarin.

    Awalnya kami datang jam 10:30 pagi, tapi ternyata kami terlambat — balon udara sudah mengudara tadi pagi jam 7 dan kalo siang hari udah terlalu panas. Tetapi kami datang nggak sia-sia juga karena vendor makanan masih banyak dan karena lokasinya memang di ruang terbuka, kami bisa sekalian piknik 🙂

    Salah satu vendor yang rame adalah giant bubbles; dengan biaya RM 5, pengunjung dapet satu wadah gelembung sabun plus tangkai bulatan untuk membuat gelembung sabun. Seru banget liat banyak anak-anak dan orang dewasa mainan gelembung sabun 😀

    Selain tempat piknik, lokasi monumen Alaf Baru juga berada tepat di sebelah danau. Jadi pengunjung bisa piknik, tidur-tiduran di bawah pohon, berkeliling menyusuri danau naik sepeda sewaan, atau wisata danau menggunakan perahu. Panitia juga menyediakan atraksi menumpang helikopter dengan biaya RM 130 (?) untuk 5 menit menaiki helikopter dan berkeliling. Tapi tiketnya sudah habis, huhuhu.

    Karena lapar, walopun belum jam makan siang, kami memutuskan beli paket sandwich; sandwich, salad kentang, telur, dan sosis.

    Dan karena cuaca panas, apa yang lebih enak daripada es krim? 😀 Dan ada stand makanan yang menjual flower pot ice cream. Es krim di dalam pot bunga yang tampilannya bener-bener mirip seperti tanah, hahahaha.

    Mirip banget sama tanah ya? Hahaha. Isinya itu sereal cornflakes, es krim vanilla, dan taburan biskuit Oreo yang dihancurin dan Milo bubuk. Manis dan dingin 😀

    Pas jam makan siang, kami pulang karena cuaca makin panas. Tapi masih penasaran juga dengan balon udara, jadi Ari ngajakin balik ke lokasi saat sore hari.

    Jadi nama acaranya itu Night Glow dan, errr, kami kira balon udaranya bakal terbang di langit… Dan ternyata nggak.

    Jadi memang balon udaranya menyala dan mengikuti lagu, tapi tetep di darat, hahaha. Tapi tetap menyenangkan dan menghibur 🙂

    Karena Wira udah ngantuk, kami bersiap pulang. Pas pulang, eh pas kembang api dinyalakan.

    Semoga masih berkesempatan mengikuti festival balon udara tahun depan, dan datengnya pagi-pagi aja biar bisa liat balon udara mengudara, hihi.

    Omong-omong, saya lagi mulai membiasakan menaruh watermark di foto-foto, dan ternyata hasilnya kok gede banget ya? Hahahaha. Saya edit di handphone saya, menggunakan aplikasi LINE Camera. Rasa-rasanya kalo di layar handphone lebih kecil dari benerannya, hahaha *ya iya lah Kap…*

  • I’ve been noticing some blogs that I frequently visit that they have update logs on it. Something like “added page XYZ on (date)”, and so on.

    My FOMO has been screaming for me to follow suit, hahah.

Nindya. Kapkap. she/her. Indonesian in Malaysia. Millennial. Lo-fi. Animal Crossing: New Horizons. Murder mystery genre.

Currently feeling:

The current mood of retnonindya at www.imood.com

Part of blogroll.org

  • April in pictures
  • Red onions
  • Urban rainbow
  • “Abdijiwo” by Retno Widya
  • “The Maid” by Nita Prose
  • The Liebermann Papers on BBCPlayer